Setiap hari sabtu disekolahku melaksanakan acara ekskul. Aku biasa dipanggil Kaze oleh teman-temanku, umurku 17 tahun aku bersekolah disalah satu SMA terbaik di Bandung. Seperti biasa aku mengikuti ekskulku yaitu breakdance.

Tapi hari sabtu ini beda, aku tertarik pada anak kelas satu. Dia membuatku penasaran, namanya Bian, tubuhnya cukup bagus dan wajahnyapun lumayan campuran anatara sunda dan Chinese. Aku tahu karena aku pernah melihatnya waktu dia SMP.

Tanpa sadar aku terus melihatnya yang sedang berlatih beladiri tenaga dalam. “Ze, oy! Ngapain ?” Tanya temanku namanya Robin. “weits…. Ga liat lo? Liatin yang beladiri… “, “oh… ya udah”. Sebenarnya sih Robin cukup ganteng, aku juga pernah tidur sambil dipeluknya tapi dia belum tahu bahwa aku suka juga sama dia.

Gak lama latihannya selesai, akupun harus mengikuti ekskul lain. Dalam hati aku berniat pada hari itu juga harus kenal dengan bian!

Setibanya aku di ruang bahasa jepang, aku harus membimbing satu junior, senior lain mendapatkan partner lawan jenis, dan aku… Lucky! Ternyata partnerku Bian. Betapa berdebarnya hatiku tingginya hampir menyamaiku, suaranya yang berat membuatku makin tertarik padanya.

Sekilas tentang Bian, dia cukup manis, pintar, wawasannya luas. walaupun dia jarang olah raga, tubuhnya cukup well-builded. dan menariknya lagi dia terkesan pemalu, tapi bila sudah berpidato atau semacamnya di cukup hebat. bukannya aku memuji Bian, tapi itulah dia.

Entah hari ini aku beruntung atau tidak, dalam pembimbingan ini aku harus menggenggam tangannya, aku mulai berkeringat dingin, sekilas aku melihat Robin. aku dan Robin memang memilih ekskul yang sama. tapi kali ini tatapannya aneh.

Kegiatan ekskul masih berlanjut, hingga saat kegiatan akhir tiba, sang senior dan sang junior harus meletakkan tangannya di dada sang partner bila sesame jenis kalo berbeda jenis cukup merunduk memberi hormat satu sama lain. “Oh lord… What should I do?” pikirku dalam hati. tiba-tiba Robin menghampiri dan memintaku untuk bertukar partner. Aku dengan Robin, Bian dengan junior yang tadi dibimbing Robin tadi. entah lega atau kecewa yang kurasakan.

Dengan cepat Robin menempelkan tangannya di dadaku, akupun melakukan hal yang sama, tapi kali ini wajahnya tak seperti biasanya. dia terlihat serius, “Ze, kayaknya Lo suka ma bian ya?” bisiknya. aku panik mendengar ucapannya. “ga apa-apa kok! Jujur aja lo gay kan?”. Aku tambah panik mendengarnya, tapi dia tersenyum kecil “tenang, gue juga kok dan… ”. Aku bingung sekaligus senang, entah apa yang akan Robin bilang ke gue selanjutnya. “gu… gue mmh… suka ama lo…”. Kalimatnya mungkin hanya bisa terdengar olehku, karena tanpa sadar kelas sudah kosong.

Entah apa yang harus kulakukan, karena aku suka Robin tapi aku juga suka Bian. Tanpa piker-pikir lagi aku langsung memeluk Robin .“Ze… jadi lo terima gue?”. “Pikir lo apa rob?”. Robin langsung menciumku, akupun mulai menikmatinya… dan yang selanjutnya adalah rahasia karena ini adalah my first time…

Cerita ini gak lama kutulis setelah kejadian itu berlangsung, gue juga sebenernya sih masih suka sama Bian, makanya hue lagi selidik-selidik tu orang dulu, Robin juga udah maklum kok ^_^

Ya klo ada kritik, saran dan pengen kenalan ^^ e-mail aja burga_dumon@plasa.co