hanurapta@astaga.com

Pada suatu hari aku mendapatkan kesempatan ke Jakarta untuk mengadakan perjalanan dengan beberapa teman kantor, dan malamnya kami menginap di salah satu hotel yang tidak jauh dari Mall Taman Anggrek, setelah mandi karena seharian harus keliling kota untuk mengikuti tour. Maka kami putuskan untuk mencari makan malam di Mall Taman Anggrek, setelah keliling-keliling sambil melihat-lihat barang di etalase toko yang ada di sana, akhirnya sampailah kami ke food court di lantai 4, setelah lihat sana lihat sini akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di restoran Jepang Hoka-Hoka Bento. Kami bertiga masuk ke rumah makan tersebut dan mengambil nampan yang tersedia di sudut ruangan untuk memilih menu makanan yang diinginkan.

Pada saat aku mengambil nampan itu, tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang nyerobot mengambil nampan, setelah kutengok ternyata ada sepasang pria dan wanita yang juga ingin makan malam di tempat itu. Pada mulanya aku merasa panas juga dengan sikap orang yang tak aturan dan tak tahu tata krama dalam antrian, akan tetapi aku masih bisa menahan diri dari pada ribut-ribut di tempat umum. Kubiarkan mereka memesan makanan yang menjadi pilihannya terlebih dulu dan aku harus sabar menunggu di belakangnya, dan terakhir sampai membayar di kasir. Demikian juga dengan aku juga memesan makanan yang menjadi favoritku dan membayarnya di kasir sedangkan kedua temanku masih memilih menu makanannya di belakangku. Akhirnya aku mengambil salah satu tempat duduk yang masih kosong dan terus saja makan dengan santainya, hingga akhirnya aku tertumbuk pada seraut wajah yang lumayan ganteng dan simpatik, sedang memakai baju lengan panjang warna biru muda yang dipadu dengan celana warna gelap, setelah kuamati ternyata dia tadi yang telah nyerobot mendahuluiku.

Kutatap terus wajahnya yang calm itu sehingga lama kelamaan aku akhirnya mengaguminya dan kulihat dari penampilannya mereka berdua, aku mengira bahwa mereka adalah karyawan yang kebetulan sedang makan malam di sini dan si cewek itu tentunya hanya teman kerja saja karena dari sikapnya si cowok itu begitu kaku dalam pembicaraan tidak sebagaimana dengan kekasihnya. Setelah beberapa saat aku mengamatinya. Akhirnya dia merasa kalau sedang diawasi oleh seseorang, maka dia pun menoleh ke arah sumber mata yang sedang mengawasinya yaitu kearah mataku, sehingga aku jadi salah tingkah dan tidak sempat mengalihkan pandanganku dari wajahnya sehingga aku tertangkap basah sedang mengawasinya. Dia senyum dan aduh maak senyumnya begitu menawan, sambil matanya mengedip padaku penuh dengan arti. Aku tak tahu apa arti kedipan matanya itu, merupakan ajakan, perkenalan atau..?

Akhirnya kami berdua saling mencuri pandang setiap ada kesempatan, aku berusaha untuk mencuri pandang melihat wajahnya ketika dia tidak melihatku demikian juga dengannya selalu berusaha untuk mencuri pandang melihat ke arahku sambil kadang-kadang bercakap-cakap dengan teman ceweknya. Sampai akhirnya dia selesai dengan makan malamnya dan dia beranjak dari tempat duduknya untuk menuju toilet yang berada tidak jauh dari tempat itu, aku pun berusaha untuk memburunya dengan berpamitan pada dua orang temanku yang tidak mengetahui akan maksudku.

“Eh, bentar yaa, gua mau ke toilet.”
“Makan belom selesai udah mau ke toilet,” kata temanku.
“Iya, nih, lagi ngebet pengin pipis,” kataku lagi.
Aku masih sempat melihat si dia yang menjadi incaranku berbelok masuk ke toilet, aku segera mempercepat langkahku untuk menyusulnya.

Ketika sampai di dalam toilet, keadaan di dalamnya sedang sepi, tidak ada pengunjung lainnya, hanya dia seorang diri sedang “ngecur” sambil matanya melihat ke arah pintu masuk ketika terdengar bunyi pintu dibuka orang. Aku segera mengambil tempat di sebelahnya dan juga ikut-ikutan “ngecur” sambil berusaha melirik batang kemaluannya yang masih mengeluarkan air kencing. Tanpa terasa batang kemaluanku yang lagi kencing dan sedang kupegangi akhirnya jadi tegang melihat batang kemaluannya itu. Dan dia pun juga kulihat sedang melirik batang kemaluanku yang sudah mulai tegang itu dan kulihat batang kemaluannya juga ikut-ikutan mulai membesar dan menegang walaupun dia sudah selesai dan tuntas dengan kencingnya, akan tetapi masih dipegangnya dan diangguk-anggukkannya. Dengan tanpa berbicara sepatah katapun, kuberanikan tanganku menjulur untuk memegang batang kemaluannya yang sedang tegang itu, dia diam saja dan hanya tersenyum manis melihat ulah tingkahku itu.

Karena suasana di ruang kencing yang terbuka tersebut tidak mengijinkan untuk berasyik ria, bagaimana seandainya sewaktu-waktu ada orang yang masuk ke ruang itu, wah bisa blingsatan nanti. Maka segera kudorong dia ke dalam ruang WC yang ada kuncinya dan dia pun mengerti akan maksudnya, setelah masuk ke dalam WC dan aku pun juga mengikutinya dari belakang, maka segera kukunci pintu WC itu dan aku langsung duduk di atas closed WC itu dan dia tetap dalam keadaan berdiri maka segera kupelorot celana panjangnya dan juga CD-nya sampai ke lututnya dan mulai aku mencubui batang kemaluannya yang agak mengempis bila dibandingkan pada saat kupegang di tempat kencing tadi.

Setelah kukocok-kocok sebentar dan mulai mengeras lagi maka tanpa ba-bi-bu segera kusedot itu batang kemaluan yang lumayan besar, putih dan kepalanya membesar kemerahan seperti jamur yang masih kuncup. Kudengar desisan dari mulutnya dan desahan nafas yang makin lama makin memburu karena aku makin cepat memasuk-keluarkan batang kemaluannya dari mulutku, dan kurasakan batang kemaluannya makin menegang dan mengeras di dalam rongga mulutku, hingga.. “Uuuh, uuh, uu..” Dan kurasakan ada cairan yang keluar menyemprot rongga mulutku dengan amat kerasnya, dan aku sempat meliriknya, ternyata dia sedang menggigit bibirnya agar tidak bersuara dengan keras pada saat dia mencapai puncaknya tadi.

Aku membersihkan tangan dan mulutku dengan air keran yang ada di WC itu dan dia pun juga mencuci batang kemaluannya yang masih ada leleran spermanya. Setelah dia merapikan diri demikian juga dengan aku, maka dengan hati-hati kubuka pintu WC sambil melihat-lihat kalau ada orang lain yang ada di dalam toilet itu. Setelah aku merasa aman segera aku keluar dari WC diikuti olehnya dan segera kutinggalkan dia sendirian di toilet itu segera kuhampiri temanku yang masih duduk di meja seperti tadi.

“Kok lama bener sih ke toiletnya?”
“Yupp, be’ol,” jawabku sekenanya.
Tidak berapa lama kemudian kulihat dia juga berjalan ke arah tempat temannya sedang menunggu di rumah makan itu, dan kelihatannya temannya juga tanya bahwa kenapa lama benar ke toiletnya. Akhirnya dia segera cabut dengan teman ceweknya itu sambil mengerlingkan matanya padaku. Dan tinggal aku yang terbengong-bengong sendiri karena tidak tahu namanya, tidak tahu alamatnya juga tidak tahu nomor teleponnya. Maka dari itu kenangan manis itu hanya sampai di situ saja dan tidak mungkin akan berlanjut kecuali kalau ada jodoh untuk dapat bertemu kembali dalam kesempatan langka yang tidak tahu kapan akan menjadi kenyataan.

TAMAT