Tulisan ini fiktif dan segala kesamaan yang timbul baik dalam bentuk nama, tempat, ataupun penokohannya adalah kebetulan semata. Mimpi Dimas Dimas terbangun pagi itu dengan keengganan yang sangat. Pagi Sabtu itu cerah sekali, langit begitu biru bersih karena hujan yang turun semalam seolah mencuci dan membersihkannya dari awan-awan hitam yang memuramkan angkasa. Hujan membuat warna biru tampak begitu seronok dan rancak. Burung Jalak peliharaan Daddy beriuh kicau semarakkan hangat sinar yang menyelusup ke dalam kamar dari celah tirai yang tak tertutup rapat. Duh sayangnya, kenikmatan bangun pagi yang biasanya begitu membahagiakan hati tidak terasakan oleh Dimas di hari itu. Setidaknya akhir-akhir ini Dimas merasakan bangun pagi sebagai suatu siksaan karena ia selalu diganggu oleh mimpi yang membuatnya terbangun di tengah malam dan sulit sekali untuk dapat memicingkan mata sesudahnya. Tetapi, suara dering telepon tidak memungkinkan Dimas memanjakan keengganannya itu. Ia pun terbangun dan mengangkat telepon, suara Alif. Alif, sahabatnya, Sabtu pagi itu akan menikah. Alif yang dulu teman sepermainan dan sesekolahnya akan meninggalkan masa lajang. Alif, sahabat terdekat Dimas. Alif yang wajahnya merupakan pahatan sempurna seorang Melayu dengan kulit sawo matang, tinggi seratus delapan puluh dua sentimeter, alis tebal kelam, perawakannya yang tegap, rambut yang halus dan agak berombak dan kelebihan utamanya, tatapan mata yang tajam serupa elang mengincar mangsa. Tak heran, banyak yang bilang wajahnya meyerupai Marlon Brando muda ketika bermain pertama kali dalam filem klasik A Street Car Named Desire. Tiga puluh tiga tahun usia mereka, sepantasnya memang pernikahan menjadi pilihan selanjutnya dalam perjalanan hidup. Tapi itulah sumber keengganan Dimas hadir dalam upacara pernikahan tersebut, rasa yang selalu muncul setiap kali ia dihadapkan pada keadaan untuk menghadiri acara-acara sosial yang mempertemukannya dengan sanak dan teman. Terbayang akan pertanyaaan yang kerap terlontar setiap kali mereka berjumpa Dimas, pertanyaan yang dari itu ke itu dan selama beberapa tahun terakhir semakin acap didendangkan oleh mereka yang, katanya, peduli. Apalagi sekarang ketika Alif akhirnya memutuskan untuk mengikrarkan ijab kabul kepada Deana, kekasihnya selama empat tahun terakhir dan kebetulan merupakan sepupu Dimas sendiri. Keputusan ini menghadapkan Dimas pada kenyataan bahwa ‘he’s become the last of the Mohicans’. Dialah satu-satunya orang di tengah keluarga besar Morgan, his Daddy, dan Suryohadikusumo, Bundanya, bahkan di antara teman-teman dekat kuliahnya dulu yang masih belum menikah. Jangankan menampakkan kemungkinan untuk menikah, saat ini tak satupun gadis yang memiliki hubungan dekat dan khusus dengan Dimas. Padahal apa sih kurangnya Dimas. Dengan tinggi seratus delapan puluh empat sentimeter, perawakan yang sangat proporsional dengan dada yang bidang dan kaki yang panjang dan kokoh, kulit yang putih susu bersemu merah, rahang yang persegi melebar di bawah telinga dengan dekik pembelah dagu dan alis serupa dua iringan semut-semut hitam. Karakter-karakter fisik yang diturunkan sang Daddy, seorang Amerika yang ahli budaya Jawa dan jatuh cinta pada seorang puteri keraton Yogyakarta, anak pemilik perkebunan tebu terluas di Jawa. Daddy, yang empat puluh tahun silam menikahi Bunda dan memutuskan untuk memilih Nusantara sebagai tanah air barunya. Sedang dari sang Bunda, Dimas memperoleh rambut hitam kelam dan warna mata yang coklat muda, dengan jari-jari panjang, halus namun kuat dan teguh yang membuatnya mampu memainkan Concerto for Piano No.3 milik Rachmaninoff sama baiknya dengan kepalan tangannya yang di masa kuliah dulu menjadikannya atlet karate terbaik di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional. Dimas Morgan, lelaki yang tidak pernah kurang pemuja dan pengagum dari masa sekolah hingga sekarang, di tempat ia sebagai salah seorang pembaca berita dan reporter di salah satu televisi swasta. Didi, panggilan kecilnya, yang perpaduan darah Kaukasia dan Asianya sering digambarkan seperti Ricky Martin yang latin itu. Dimas yang ramah, supel, cerdas, humoris, elegan, dan memiliki aura misterius yang membuat siapapun selalu ingin lebih dekat dan mengenalnya lebih jauh. Kenyataan bahwa ia adalah putera satu-satunya dari puteri seorang tuan tanah kaya berdarah biru dan seorang cendikiawan yang keahliannya dihormati di Indonesia dan negara manca, membuat Dimas sering dianggap tidak memiliki satu kekurangan berarti sebagai seorang manusia. Kecuali, mungkin, satu hal yang tidak pernah diketahui dan disadari siapapun, Dimas adalah seseorang yang pengharapan seksualnya berada di luar norma masyarakat pada umumnya. Pencerahan akan ‘the real object of Dimas’ affection’ itu sendiri datang belum lama dalam tiga dan tiga puluh tahun perjalanan hidupnya. Yang ia tahu, selama ini ada sesuatu yang salah dengan diri dan pengharapannya terhadap seksualitas dan pengejawantahannya, karena berseberangan dengan nilai dan moral sosial yang selama ini terinternalisasi dalam dirinya. Bertahun sudah hasrat itu diredam dan dipendam sedalam mampunya, tanpa keberanian untuk belajar menerima kenyataan ataupun menepiskannya sama sekali. Dimas tumbuh menjadi seseorang yang apatis terhadap seksualitas dirinya, ia merasa tidak berdaya melawan pertentangan moral dan nilai-nilai yang dianutnya. Lebih jauh, keapatisan seksualnya meluas dan mengkontaminasi berbagai aspek hidupnya, termasuk pandangan akan masa depannya. Dimas wants to settle down someday. Tetapi ia selalu merasa ragu dan bimbang setiap kali ia menjalin hubungan dengan gadis manapun dan lari menjauh ketika dihadapkan pada pilihan untuk meningkatkan hubungannya ke tahapan yang selama ini menjadi momok dan monster yang menghantui tidurnya, pernikahan. Dan semalam, mimpi itu datang lagi. Mungkin, mimpi itu sendiri merupakan wahana pelepasan tekanan yang ia tahu harus dihadapi esok harinya. Ia tak mengerti, yang pasti mimpi itu telah mengganggunya dua minggu terakhir ini. Menjelang pernikahan Alif, mimpi itu sering datang dan menghambarkan tidur Dimas dan membuatnya terjaga dan baru bisa terlelap larut menjelang fajar. Akibatnya, ia selalu bangun dengan kondisi fisik dan emosi yang letih. Mimpi itu tidak pernah berubah. Ia bermimpi bahwa ia sedang melaksanakan upacara pernikahannya sendiri. Ia akan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya, Ayu, puteri pemilik pabrik gula yang selama ini menjadi tempat pemasokan hasil tebu dari perkebunan keluarga mereka. Satu pernikahan yang akan memiliki nilai ekonomi sangat tinggi karena merupakan perpaduan antara dua keluarga yang memiliki akar bisnis yang sama. Penguasaan dari hulu ke hilir yang akan memperkaya kerajaan bisnis keduanya. Mimpi itu selalu dimulai dengan situasi yang sama. Dimas sedang menggenggam tangan Ayah Ayu dan hendak mengucapkan ikrar ijab. Ia tampak gagah dengan setelan jas putih dengan kopiah berwarna senada. Sementara Ayu duduk bersimpuh di sebelahnya, sangat cantik dengan kebaya putih dan kain batik melilit tubuh dan ronce melati menghias rambut. Selendang putih panjang tersampir menautkan bahu dan kepala mereka. Bunda terdengar terisak dan Daddy merangkulnya tepat di belakang mereka berdua seraya menghapus air matanya. Ruang tengah di rumah keluarga Hadisasono di Cinere yang besar dan megah telah disesaki oleh handai dan kawan yang tampak hanyut dalam kesakralan upacara pernikahan. Tapi suasana itu tiba-tiba terusik dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba berteriak, “Berhenti, Dimas tidak boleh menikah dengan Ayu!”. Semua tatap nanar ke arah datangnya suara yang mengganggu itu. “Alif?!”, seru Dimas terkejut. Tanpa berkata sepatah jua Alif masuk ke ruang tengah tempat upacara akad nikah sedang berlangsung dan dengan tenang merenggut tangan Dimas dari genggaman tangan sang kadi, dan bagai kerbau dicucuk hidung, Dimas bangkit dari silanya dan mengikuti Alif menuju pintu depan. Semua orang hanya mampu memandang keduanya, tergugu, tanpa mampu berbuat apa karena kejutan yang tak disangka itu melumpuhkan mereka sesaat. Di luar, motor Harley milik Alif telah menanti dan mereka pun naik berboncengan dan melaju cepat meninggalkan Hadisasononan. Alif mengarahkan motor besarnya menuju Bogor dan terus ke puncak. Sepanjang perjalanan keduanya diam tak bertukar sapa. Hanya ada satu rasa yang meraja di dalam hati Dimas, ia merasa beruntung telah diselamatkan dari satu kesalahan yang mungkin akan ia perbuat, menikahi seseorang yang tidak ia cintai. Mereka tiba di villa keluarga Morgan di daerah Ciawi sana. Hari masih cukup pagi, matahari sepenggalah di timur memberi hangat tak menyengat. Udara puncak yang sejuk memberi keteduhan di hati Dimas. Alif memarkir motornya tepat di depan pintu villa dan melangkah ke menuju pintu gerbang dan memberi isyarat tangan kepada Dimas untuk mengikutinya. Keduanya berjalan ke arah perkebunan teh tempat mereka biasa bermain sejak masa kanak-kanak. Suasana hening terasa di tengah lautan daun teh muda yang belum layak petik. Tak tampak sesosok pun sejauh mata memandang. Hanya rumpun-rumpun teh menghampari bukit. Hijau. Ada dangau di puncak bukit tertinggi tepat di belakang villa mereka. Dangau tempat para pemetik teh biasa membuang penat di musim petik. Mereka berjalan ke sana menyusuri jalan setapak yang memisahkan satu petak lahan teh dengan yang lainnya. Jalan condong meninggi empat puluh lima derajat sejauh lima ratus meter untuk mencapai dangau. Mereka berjalan dalam diam. Mereka berdua tetap terdiam ketika sampai di dangau kayu yang mulai lapuk karena usia. Akhirnya, Alif memecah keheningan dengan berkata, “Di, maaf, aku tidak bisa membiarkan kamu menikah dengan Ayu karena aku tahu kamu tidak mencintainya”. Dimas diam dan tak menjawab akan tetapi segenap hatinya mengamini perkataan sahabatnya itu. Alif melanjutkan pebicaraan, “Dan aku tahu, di hatimu ada orang lain yang kamu cintai, aku”. Dimas memalingkan kepalanya dan menatap tajam mata Alif yang sedang memandang ke arahnya dengan bibir tersenyum dan matanya berbinar menggoda. Dimas tersenyum dan mengangguk. Mereka pun terdiam lagi, hanyut dalam pikiran masing-masing. Bimbang tak tentu ke arah mana percakapan mereka akan menuju. Mereka duduk berdampingan dengan kaki menjuntai di bibir lantai dangau, setengah meter di atas tanah. Berdekatan. Tiba-tiba Alif tersentak oleh erangan Dimas yang tiba-tiba terisak dan kedua tangannya menutup wajahnya dan berulang-ulang berseru di tengah isaknya, “Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang sudah aku lakukan?”. Alif meletakkan jemarinya di atas kepala Dimas, melepas kopiahnya dan membelai rambut Dimas yang legam, “Maafkan aku Di. Aku tidak…” Belum selesai Alif menyelesaikan perkataannya Dimas menengadahkan kepalanya dan tidak memberi kesempatan bagi Alif untuk menyelesaikan kalimat karena bibir Dimas telah menekan bibirnya, lembut. Alif tersentak tetapi membalas sentuhan itu dengan menekankan bibirnya, mengecup bibir bawah Dimas. Mereka ulangi berulang kali, bergantian. Atas, bawah, semakin cepat dan keras kecupan itu berubah menjadi pagutan seolah keduanya ingin menelan bibir masing-masing. Hangat. Tubuh keduanya bergetar karena sensasi yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Jemari keduanya saling menyentuh dan membelai wajah masing-masing seraya menjaga agar persebibiran itu tak terpisahkan. Udara yang mereka hirup dan hembus menerpa wajah menimbulkan suara desah yang berpadu dengan semilir angin. Bibir mereka jadi satu. Bibir mereka basah oleh saliva dan air mata Dimas. Lidah mereka bersentuhan dan bertaut merasakan asin namun memberi kesegaran yang manis bagi jiwa mereka yang dahaga karena damba yang tak terpenuhi selama ini. Lembut dan lambat, Alif membaringkan Dimas di lantai dangau. Bibir mereka tak juga lepas berpagut. Lidah mereka enggan berhenti bertaut. Napas mereka semakin memburu, desah mereka tak kunjung reda, tubuh mereka semakin menghangat ketika tubuh Alif berada penuh di atas dan menekan tubuh Dimas. Jari-jari Alif menyentuh lembut dada Dimas dan perlahan membuka kancing paling atas kemeja Dimas. Tangan Dimas membelai rambut Alif dan perlahan turun menyentuh punggung Alif yang keras dan hanya terbalut oleh sehelai kaos oblong. Satu demi satu kancing kemeja Dimas terbuka dan menampakkan kulitnya yang putih namun semakin memerah karena jantung yang berdegup begitu cepat memaksa darah mengaliri tubuh dengan cepat pula. Puting dada Dimas tampak menegak dan mengeras karena sensasi yang membuatnya terbangun dari lelap. Alif membelai kedua puting itu dengan kedua ibu jarinya, memutari daerah melingkar sekitarnya yang membuat Dimas memejamkan mata menikmati rasa yang belum terbiasa. Alif mengecup kedua puting itu dan menjilatnya. Bergantian, kanan, kiri. Dan perlahan bibirnya turun mengecup perlahan sepanjang garis tengah tubuh Dimas hingga ke pusar. Sementara jemari Alif tak henti menari di sekitar puting Dimas. Sensasi geli yang nikmat menjalari seluruh raga Dimas. Tapi mimpi itu selalu berakhir di sana, di saat Dimas sedang merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, matanya mendadak terbuka dan nanar menatap langit-langit kamarnya. Dimas terbangun, setengah tiga pagi. Rasa letih dan kesal melanda diri karena mimpi yang tak terselesaikan. Dan selalu, Dimas merasakan sekujur tubuhnya membara dan basah oleh keringat karena desakan rasa yang tak tersalurkan. Dimas dapat merasakan kalau di balik katun segitiga penutup daerah tengah tubuhnya, ketegangan itu tak terkendalikan. Aliran darah begitu cepat mengaliri batang kenikmatannya yang mendesak dan menyesaki ruang sempit diantaranya. Tangan dan jemari Dimas perlahan merayapi tubuhnya, dari dada perlahan membelai turun menyusuri lekukan dadanya yang membusung dan abdomennya yang datar sampai menyentuh karet yang jadi penghalang antara jemari dan penisnya. Tangan kiri Dimas menurunkan karet itu hingga jari-jari tangan kanannya leluasa menyentuh monumen kejantanannya yang telah tegak berdiri. Dimas membelai perlahan dari atas ke bawah menyusuri setiap lekuknya, merasakan ketegangan dan denyut urat yang seolah membentuk satu ukiran penghias monumen itu. Ia pejamkan matanya dan membayangkan jemari Alif lah yang membelai kelelakiannya. Dimas bangkit dan berdiri di tepi tempat tidur. Dengan satu sorongan tangan ia melepas celana dalamnya. Dimas memang biasanya tidur dengan hanya mengenakan penutup auratnya saja, dan juga di malam itu. Kemudian Dimas berjalan menuju lemari yang terletak sepanjang sisi kamarnya yang berhadapan dengan tempat tidurnya. Di atas salah satu raknya ada fotonya bersama Alif sedang saling berpelukan dan tertawa. Saat-saat bahagia mereka ketika kuliah di New York dulu. Dimas memejamkan matanya dan membayangkan wajah Alif yang tertawa dan saat-saat mereka hidup bersama dalam satu apartemen di West Street dekat dengan tempat kuliah mereka di University of Columbia. Betapa ingin ia kembali ke masa dulu dan betapa tidak relanya ia karena Alif akan menikah pagi itu. Dan Alif terus merajai alam khayal. Tangan Dimas menyentuh kembali tunas jantan yang masih tegak tak kunjung layu. Dimas memainkan jemari kedua tangan di sekitar genitalnya. Jari-jari kanannya menyelimuti tunas itu dan perlahan naik dan turun. Jemari kiri Dimas menari di tengah rambut-rambut ikal yang merimbun di pangkal penisnya dan berganti turun menyusuri pangkal paha ke arah kedua kantung benih di bawah batang yang sudah penuh, matang dan siap dituai. Sesekali Dimas mengalihkan tangannya untuk membelai kedua putingnya dan mencubitnya dengan lembut. Jari-jari kanan Dimas semakin meningkatkan intensitas gerakannya, ke atas, ke bawah dan sesekali bermain di sekitar cendawan dan ujung atas di bagian bawah yang merupakan batas lipatan bekas dikhitan dulu. Tangan kiri Dimas kemudian turun setelah puas memainkan putingnya dan turun lagi membelai daerah antara kantung-kantung menggelantung dan lubang pembuangannya dengan ujung-ujung jarinya. Menggelitik, menggairahkan. Namun lama kelamaan Dimas semakin sulit menahan desakan yang semakin kuat. Jari-jari Dimas meresponnya dengan mempercepat gerakannya, atas, bawah, semakin cepat dan cepat. Wajah Alif terus membayang sementara nafas Dimas semakin memburu menahan tekanan yang ia rasakan dari bawah buah pelirnya terus ke batang kejantanannya dan menjalar ke seluruh badan. Menggetarkan, merangsang. Dimas tidak mampu lagi menahan dan membiarkan benih-benih itu mencari jalannya keluar ke alam persemaian. Dengan erangan yang tertahan Dimas melepas beban dan dari penisnya memancarkan cairan mani, tinggi, dan sebagian jatuh di badan dan lantai kamarnya. Semburan itu berulang beberapa kali dan di kali terakhir Dimas menghembuskan nafas panjang seolah letih sehabis kerja sehari penuh. Pukul tiga pagi. Dimas membaringkan tubuhnya di atas pembaringan dan memicingkan matanya dan mencoba untuk tidur kembali. Sulit sekali rasanya. Menjelang pukul lima ia baru bisa terlelap. Namun tiba-tiba telepon di samping tempat tidurnya berdering dan dengan terkejut Dimas mengangkat gagangnya setelah bunyi ketiga sembari duduk di atas kasur. Telanjang. Halo, sahutnya, dan ternyata di ujung sana terdengar suara Alif yang menelepon untuk membangunkannya dan meminta ia untuk datang secepat mungkin. Hari menjelang pukul setengah enam pagi, Dimas bangkit dari tempat tidurnya, berpakaian dan membawa setelan jas yang akan dikenakannya nanti ke mobil. Ia tidak mandi terlebih dulu karena sekarang pun ia sudah terlambat dari jadwal yang direncanakan. Pertama ia harus mengantarkan kedua orang tuanya ke rumah Pakde Haryo Suryohadikusumo, satu-satunya saudara laki-laki Bundanya dan salah seorang Dirjen di Departemen Kesehatan, di Jalan Sekolah Duta Raya Pondok Indah, lalu pergi ke rumah Alif. Ya sudah, mandi di tempat Alif saja pikirnya. Ia memang telah berjanji akan menemani Alif berangkat bersama menuju tempat upacara pernikahan di kediaman keluarga Suryohadikusumo, karena itu Alif menelpon sepagi itu untuk mengingatkannya. Alif bilang di saat-saat terakhirnya sebagai seorang lajang, ia takut dan ia ingin ditemani oleh Dimas, sahabatnya sejak kecil, agar ia merasa lebih tenang dan siap mengayunkan langkah kaki ke dalam satu kehidupan baru. Pagi itu sejuk dan segar sekali. Mobil BMW 520i warna hijau daun metalik milik Dimas meluncur tenang di jalan sepi. Seandainya setiap hari jalan-jalan di Jakarta selalu sesepi ini maka alangkah senangnya berkendara di ibukota. Hanya lima belas menit saja waktu yang dibutuhkan Dimas untuk sampai di Pondok Indah dari kediamannya di Jalan Mangunsarkoro, Menteng. Tidak lama setelah kedua orang tuanya turun di rumah calon mempelai wanita, sepupunya, Dimas mengarahkan mobilnya ke arah Kuningan, rumah sahabatnya Alif, calon mempelai pria. Sepuluh menit kemudian Dimas tiba di rumah besar di Jalan Klungkung dan memarkir mobilnya di pinggir jalan depan rumah. Pintu pagar terbuka lebar dan tampak kesibukan di kediaman keluarga Rahman, urang awak yang pengusaha pemilik jaringan pasar swalayan ini sudah mulai terasa karena hari sudah menjelang pukul enam pagi. Dua orang supir keluarga sibuk membersihkan kendaraan-kendaraan yang akan digunakan. Dimas masuk dari pintu belakang yang melewati dapur. Tampak kesibukan mempersiapkan sarapan pagi terasa di sana. Bagi keluarga Rahman, ia sudah dianggap sebagai anggota keluarga dan karenanya Dimas tidak merasa canggung di rumah itu. Dua puluh delapan tahun sudah Alif bersahabat dengan Dimas, sejak mereka sama-sama bermain di TK Mini Pak Kasur di Jalan Kebun Binatang Cikini dulu. Kini mereka berdua sudah jadi lelaki dewasa yang membanggakan kedua keluarga. Dan persaudaraan mereka akan bertambah kental karena Alif akan menikah dengan Deana, sepupu Dimas. Dimas menyapa setiap anggota keluarga yang dijumpainya dan melangkah menaiki tangga ke atas menuju kamar Alif. Dia menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh Alif saat ini. Bersambung ke bagian dua: Keraguan Alif Catatan: – Frase ‘tunas jantan’ dikutip dari novel ‘Saman’ karya Ayu Utami di halaman 193 For someone in Bandung, you know who you are, I just want to say that you’ve become my inspiration and motivation that have made me finally able to sit down in front of my PC, and write all the things I wanted to say about being what we are enduring right now. You are absolutely right, it was an interesting and harmless way of releasing the tension, I might do it again. And perhaps, it can be, somehow, a therapy for me. So my dear friend, thank you. Thank you for the suggestions, for keeping me on the right track of the story, for believing me, for helping me deal with all of my dilemmas, for everything. You’re the best. Silakan layangkan saran dan kritik anda ke alamat dimasalif@hotmail.com. Terima kasih atas perhatiannya.