Sekedar Kisah Porno III

“ Ma… aku ikut ya..? “
“ Mana bisa sayang, masa Fei mesti bolos sekolah sih. “

Jawab Mama sambil memasukan tumpukan baju kedalam kopor.

“ Lagian mama juga ga bakalan lama di Jakarta nya, paling lama tiga hari, Minggu juga udah pulang lagi.”
“ Tapi aku ga mau sendirian Ma…”
“ Lha…!? Kan ada Koko yang nemenin.”
“ Iya fei tau, tapi fei pengen ikut….”
“ Ya Tuhan … Ferry, kamu ini jangan kaya anak kecil ya! Mama sama Papa itu ke Jakarta bukan buat maen, tapi nengok Bibi kamu yang lagi sakit !! “
“ Tapi … aku ga mau ditemenin sama Koko… “
“ Ferry !! Jangan bikin pusing Mama deh, pokoknya Fei dirumah sama Koko, titik! “

Mama kembali memasukan baju kedalam kopor, Ferry hanya bisa menundukan kepala lalu pergi masuk kekamarnya. Ia tahu, percuma melawan keputusan Mama bila sudah seperti itu. Tidak lama kemudian Mama masuk kedalam kamar Ferry.

“ Fei… Mama berangkat dulu ya, jangan nakal dirumah.”

Ferry berdiri dan mengantarkan kedua orangtuanya hingga kehalaman, disana Koko sudah berdiri dekat mobil, ikut mengantar kepergian orangtua Ferry. Setelah keduanya masuk, mobilpun berangkat, Ferry melambaikan tangan. Setelah menutup pagar Koko menghampiri Ferry dan mengajaknya masuk kedalam rumah…

……….

……….

……….

……….

Ferry merasa bahunya diguncang-guncang perlahan.

“Fei… Bangun, dah siang nih, mandi sana, nanti kesiangan.”

Dengan enggan ia membuka matanya, sambil menggeliat…

“ Uuh… Jam berapa sekarang? “
“ Masih jam enam lewat lima, mandi gih, tuh sarapan udah Koko bikinin. “

Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi Ferry  menyantap sarapan paginya.

“ Jam berapa pulang sekolah hari ini? “ Tanya Koko pada ferry yang tengah asik mengunyah makanan.

“ Jam setengah satu.”
“ Jangan maen dulu, langsung pulang yah. “
“ Ok. “

Setelah selesai sarapan, Ferry langsung berangkat sekolah…

……….

……….

……….

……….

Siang itu cuaca panas menyengat, Ferry melangkah gontai menuju pintu rumahnya. Sesampainya didalam, ia buka sepatu, kaos kaki dan langsung menuju kamar  untuk mengganti baju. Saat hendak menuju kamar, ia lihat Koko tengah menonton tv diruang tengah.

“ Dah pulang Fei… “ tanya Koko.
“ Yup. “ balas Ferry singkat sambil tersenyum, lalu melangkah menuju kamar.
“ Abis ganti baju makan dulu Fei.”
“ Iyaa..” Jawab  ferry dari dalam kamar.

……….

……….

Ferry yang tengah berbaring disofa melirik jam dinding, jam tiga…. Ia lirik Koko yang tengah duduk dilantai berkarpet masih asik menonton acara tv. Ia menghela nafas panjang berusaha menutupi kebosanannya.

“ Fei… “
“ uh.. iya ? “
“ Disini tiduran nya “ Ajak Koko.

Ferry beranjak dari sofa lalu pindah berbaring di karpet dengan kepala bersandar di paha Koko. Dengan lembut Koko membelai rambut Ferry.

“ Fei, tau ga…?”
“ Tau apa ? “
“ Koko tuh sayang banget ama Fei. “

Ferry hanya diam saja, berusaha berkonsentrai melihat acara tv, Koko membungkukan badannya lalu mencium kening Ferry, Ferry melirik.

“ Kok nyium.. ?”
“ Kan tandanya Koko sayang ama Fei, bolehkan sayang… ? “

Koko tidak menunggu jawaban Ferry, ia kembali mencium kening dan kedua pipi anak itu, Ferry hanya diam saja, dalam hatinya ia kebingungan harus bersikap dan bertindak apa, maka itu dia diam saja. Ia juga diam saat bibir Koko menyentuh bibirnya, tapi jantungnya berdebar semakin kencang…

Koko bergeser, dan membaringkan kepala ferry dilantai, lalu ia merebahkan dirinya sejajar dengan Ferry, lalu kemudian kembali menciumi Ferry. Bibirnya melumat bibir Ferry yang mungil dan berwarna merah muda, ia hisap satu persatu, lalu perlahan ia selipkan lidahnya kedalam mulut Ferry.

Ferry hanya diam dan membiarkan lidah koko menelurusuri setiap relung-relung rongga mulutnya, ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, disatu sisi ia merasa ketakutan yang amat sangat, disisi yang lain ia menikmati kelembutan perlakuan Koko terhadap dirinya. Tak berapa lama kemudian…

“ Fei… kita pindah dikamar yuk.. disinikan ubin, keras, nanti punggung Fei sakit. “ ucap Koko sambil berdiri dan mengulurkan tangan pada ferry, mengajaknya untuk bangun.

Ferry meraih tangan Koko lalu bengkit berdiri, Koko meraih kedua tangan Ferry dan menyimpan mereka dipundaknya lalu ia membungkuk dan memangku Ferry seperti seorang anak kecil. Ferry mulanya menolak, tapi ahirnya mengikuti kemauan Koko. Ia merebahkan kepalanya dibahu koko saat mereka berjalan menuju kamar, dan Koko  mengusap-usap punggung ferry dengan tangan yang satunya.

Didalam kamar koko menutup tirai jendela membuat suasana kamar menjadi remang-remang ditimpa cahaya matahari yang tembus lewat tirai jendela. Lalu ia menurunkan Ferry disisi ranjang, dan ia duduk ditepinya, perlahan tangan koko menarik badan Ferry agar menjadi lebih dekat, Fery melangkah sedikit, lalu tangan Koko mendorong kepalanya agar membungkuk dan mencium Koko.

Dengann sedikit bingung Ferry berusaha membungkukan badan dan mencium Koko, ia lakukan hal yang sama seperti saat Koko menciumnya tadi dan Koko pun membalas ciuman Ferry. Sambil Koko menciumi Ferry, tangan nya perlahan menarik baju Ferry. Ciuman mereka terhenti sesaat saat Koko menarik kaos melalui kepala Ferry, setelah itu ia memberi tanda agar Ferry menciumnya lagi dan Ferry pun kembali mendekat dan mencium Koko.

Tak berapa lama Koko melepas ciumannya, dan dengan lembut ia mulai menciumi muka Ferry… menjilati kupingnya… lehernya… pundaknya … Koko memberi tanda agar Ferry mengangkat kedua tangannya keatas, perlahan ia jilati tangan Ferry lalu turun diketiaknya. Ferry menggeliat dan agak terkikik saat Koko mejilati ketiaknya yang masih belum berbulu…

Koko merosot turun berjongkok dilantai, perlahan kedua tangan Koko memeluknya, dan Koko kini menjilat dan menghisapi puting susu Ferry, terasa geli, tapi masih lebih geli saat ketiaknya dihisap dan dijilat, ia hanya sesekali menggeliatkan badannya saat puting susunya Koko hisap satu persatu, terkadang Koko menggigit perlahan putting susu Ferry yang menonjol keras…

Perlahan jilatan Koko turun kearah perut, perlahan ia jilati pusar ferry sambil terkadang menghisap nya kuat-kuat, Ferry tergelak menahan tawa saat  Koko melakukan itu. Sekarang tangan Koko mulai menarik celana Ferry, Herry hanya terdiam, tak tahu apa yang harus ia perbuat. Kesempatan itu Koko manfaatkan untuk terus menarik turun celana sekaligus celana dalam Ferry, hingga lepas, menampakan kemaluan ferry yang masih lemas terkulai…

Sesaat Koko terdiam, memperhatikan bentuk penis anak kelas lima sd yang masih mulus tak ada bulu selembarpun, warnanya masih sewarna dengan kulit Ferry yang putih, kantung zakarnya menggantung berisikan dua pelir yang kecil dan masih belum turun yang terkadang bergerak naik turun terkena udara luar. Kaki Ferry gemetar, saat tangan kiri Koko mengusap pantatnya yang bundar dan tangan kanannya menyentuh kantung zakarnya….

Koko mendongakan kepalnya menatap Ferry, sementara ferry tidak berani melihat mata Koko, ia hanya melihat kearah lain. Ia agak terkejut saat Koko mengesekan pipinya di penis Ferry, yang kemudian mulai menghisap penis nya yang lemas…

Kehangatan menyelimuti penisnya, pelahan-lahan penis itu kini mengeras dan mulai berdenyut-denyut. Bibir Koko menekan dengan lembut kulit kulup yang menyelimuti kepala penis itu, dan dengan perlahan lidahnya ia gesekan dikepala penis itu, membuat kaki ferry seakan lemas tak bertenaga menahan rasa linu diujung kemaluannya yang menjalari sekujur tubuh.

Setelah beberapa lama,Koko melepaskan hisapannya lalu membuka bajunya dan ia membimbing ferry agar rebah ditepi ranjang, Ferry menurut. Setelah ia membaringkan diri diranjang dengan kedua kaki menjuntai ditepinya, Koko mulai melepaskan celananya lalu menyimpannya dekat ranjang, dan ia mulai menjilati satu persatu paha Ferry.

Sambil ia menjilati kedua paha Ferry, satu persatu kaki ferry ia naikan keatas ranjang hingga sekarang kedua kaki Ferry melipat diatas. Setelah itu ia mulai menjilati kantung zakar Ferry yang berwarna coklat muda. Ferry hanya mendesah kecil saat lidah koko bergesekan dengan kulit kantung zakarnya, sementara satu tangan koko memainkan kulit kulupnya turun naik mengesek kepala penisnya yang sudah menjadi basah oleh air liur koko dan berwarna kemerahan.

Jilatan Koko kini turun kearah belahan pantat Ferry yang kini merekah menampakan anus ferry yang berwarna merah muda, dengan lembut ia usapkan lidahnya dianus itu, setiap jilatan Koko membuat Ferry menggeliat menahan rasa geli dan satu rasa baru yang ia dapatkan. Kemudian Koko menempelkan bibirnya dianus Ferry yang sudah basah dan menghisapnya perlahan, seluruh badan ferry mengejang dan gemetaran jadinya.

“ Uu..h… aa..hh.. “ tanpa sadar Ferry merintih.

Mendengar rintihan ferry, Koko memperkuat hisapannya, dan tangan nya menggenggam erat penis ferry yang kecil mungil namun keras…

“ Hhhppp…! “ Ferry menarik nafas saat ia merasakan sesuatu memasuki anusnya dengan paksa…

Ia menggeliatkan badan berusaha melepaskan diri, namun tangan koko dengan kuat menahan kedua kakinya yang terlipat, ia pun pasrah… hisapan demi hisapan ia terima dengan gelinjangan badannya…

Mata ferry masih terpejam saat koko mengakhiri hisapan dianusnya, nafasnya tersengal sengal, butiran keringat keluar dari seluruh pori-pori di sekujur badannya. Kini ia hanya terdiam saja saat Koko menyelipkan jarinya disela-sela lipatan pantatnya, yang terkadang jari itu diputar-putar dipermukaan anusnya. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh permukaan anusnya, dan jari Koko berusaha menekan masuk kedalam lobang anusnya.

“ Koko!!” Ferry berusaha untuk bangun, namun Koko menahannya…
“ Shh.. ga apa-apa sayang, tiduran aja yah, nanti kerasa enak…”

Ferry kembali merebahkan kepalanya, sementara Koko sibuk mengoleskan sesuatu yang dingin dan kini terasa agak lengket di anusnya, sambil terkadang sedikit memasukan ujung jarinya kedalam lobang anus ferry.

“ Kaki sama pahanya di lemesin ya sayang….” Ucap koko sambil perlahan-lahan menekan jarinya di permukaan lobang anus ferry.

Ferry yang sudah pasrah, kini merasakan tekanan lembut dari jari koko di lobang anusnya, pelan-pelan jari itu sedikit measuk kedalam anusnya…. Ia menahan nafas… jari itu terus memasukin lobang anus Ferry yang sempit, terasa sekali gesekan kulit nya di dalam anus Ferry. Ia merasa sekarang lobang anusnya penuh sesak oleh jari Koko, lalu kini jari itu mulai Koko gerakan keluar masuk dalam anusnya…. Ferry hanya terdiam… gemetar.. menahan rasa takut…..

Entah berapa lama Koko melakukan hal itu dilobang anusnya, terkadang ia berhenti sesaat, lalu menambahkan benda dingin itu kedalam anus Ferry dan kembali memasukan jarinya lalu menggerakannya kembali. Ferry hanya diam saja….

Tak berapa lama kemudian Koko berdiri dengan dengkulnya di tepian ranjang dan memperbaiki posisis badan ferri lalu mengankat kaki ferry hingga dengkul kaki itu hampir menyentuh bahu ferry, …

Kini posisi koko berada bawah pantatnya, tak lama… Ferry merasakan satu benda yang lebih besar dari jari tangan koko menekan lobang anusnya, berusaha untuk masuk….

“Ah!! Ko… Ko… Jangan!!!! “

Koko tidak menjawab, ia hamnya meneruskan tekanannya di lobang anus ferry, Ferrry berusaha menahan benda itu agar tidak masuk kedalam anusnya, tapi ia tidak bisa sebab lobang anusnya kini jadi licin. Perlahan lahan benda itu mulai membuka lubang anus Ferry yang mungil.

“AH! AH! Sssakit!”

Ferry merasa lobang anusnya semakin melebar dan otot-otot nya terasa seperti ditarik, semakin berusaha ia menahan dorongan benda itu, semakin sakit lobang anusnya terasa…

“ Udah Ko… sakit… sakit..”

Tapi Koko tidak menggubris rengekan Ferry yang kini mulai meneteskan airmata, ia bahkan menambah tekanan pinggulnya.  Lobang anus Ferrry semakin melebar dan ferry merasakan bahawa sekarang anusnya sudah dimasuki dan di penuhi oleh benda itu… ia hanya bisa pasrah dan berusaha melemaskan otot-otot di pantatnya..

Beberapa menit berlalu, seakan-akan bertahun tahun lamanya bagi Ferry. Tiba-tiba koko menghentikan tekanannya… sesaat kemudian ia menarik sedikit pinggulnya kearah luar, dan benda didalam anus ferry pun ikut tertarik keluar hingga terlepas….

Sebentar ya sayang…. “
“ Ngga.. Aku ga mau lagi.. sakit “
“ Nanti ga sakit koq, tahan ya.. Koko kan sayang Ferry… apa Ferry ga sayang sama Koko..? “

Ferry terdiam, ia lalu melirik benda itu… ternyata penis koko yang hitam lanjang dan besar… Ia terhenyak. Penis koko yang panjang itu membesar dibagian tengah nya, kini berdenyut denyut turun naik.

“ Tahan ya sayang, tadi kepalanya baru setengah yang masuk….”

Ferry memalingkan muka sambil meneteskan air mata…. Koko kembali mengangkat kedua kaki ferry dan mengarahkan penisnya di lobang anus ferry. Pelahan ia menekankan penis itu kedalam anus ferry. Ferry kini merasakan kepala penis itu sekaran meluncur perlahan didalam anusnya lalu tiba-tiba otot anusnya terasa sakit, panas…

“A..H! “
“ Shh.. than sedikit ya sayang biar masuk semua kepalanya, sedeikit lagi.. “

Koko kembali menekan penis itu  ferry merasa tekanan yang amat kuat membuat anusnya terasa makin panas dan berdenyut-denyut, rasa sakit yang tajam mendera anusnya, ia menggigit bibirnya menahan rasa sakit, saat tiba tiba, anus nya teras sangat penuh lebih penuh dari pertama tadi.

“ Nah sekarang udah masuk semua kepalanya…. Tahan ya, lemesin pantatnya….” Ucap koko sambil dengan lembut menghapus airmata dari pipi Ferry. “ Tahan ya sayang… koko sayang sama Ferry”

Rasa penuh, otot yang meregang, panas, dan rasa sakit yang tajam menjalar disekujur badan ferry membuat ia gemetar. Perlahan lalu Koko muai mengerakan ppinggul nya kedepan dan kebelakang. Kepala penis koko bergerak keluar masuk dianus Ferry, gerakan itu lambat laun bertambah kecepatannya diikut desahan yang keluar dari mulut Koko, Butiran keringat pun kini membasahi tubuh mereka berdua.

Setiap dorongan, sedikit demi sedikit membuat penis Koko yang besar semakin melesak masuk kedalam anus kecil itu, membuat Ferry harus menahan rasa sakit yang mendera anusnya. Koko memberikan tanda pada Ferry agar melebarkan kedua kakinya dan menahan mereka dengan tangan nya, sementara itu ia tidak memperlambat gerakannya malah gerakan itu semakin cepat dan penis nya terasa semakin dalam, menusuk anus anak itu.

Detik demi detik berlalu, badan Ferry yang kecil ikut begerak keatas dan kebawah saat koko menggerakan pinggulnya. Makin lama makin cepat, lobang anus ferry semakin terasa perih walaupun kini ototnya sudah tidak setegang tadi, tapi tetap saja ukuran penis orang dewasa itu terasa sangat menyakitkan. Tiba-tiba Koko kecepatan goyangannya lalu mendorong dalam-dalam pinggulnya sehingga terasa penis itu melesak masuk semakin dalam.

“ Aaah….! “ Koko melenguh sambil melengkungkan badan.

Sementara penisnya melesak didalam anus Ferry masuk, hampir seperempat dari panjangnya, Ferry merasakan aliran hangat didalam anusnya. Semakin lama terasa semakin hangat dan menjalar kebagian terdalam dirongga anusnya. Setiap kali Koko menyemprotkan air mani semakin dalam koko berusaha menekan penisnya. Ferry hanya bisa menahan sakit dibagian selangkangannya.

“ aah… a..ah…” erangan koko seakan menggema memenuhi ruangan kamar. Nafasnya kini terengah engah. Kini Koko diam tak bergerak, sementara penisnya masih berdenyut denyut menyemprotkan sisa air mani didalam anus ferry, walau tidak sekencang awal tadi. Tangannya menumpu berat badannya  yang membungkuk diatas tubuh Ferry, matanya terpejam…

Ferry berusaha memperbaiki posisinya dan lalu menekan sikut nya agar ia bisa melihat apa yang telah terjadi diselangkangannya. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas, seperempat penis Koko yang menancap dalam anusnya, bulu yang hitam dan lebat menyelimuti penis itu, urat-uratnya terlihat mengelembung dibalik kulit.

Perlahan Koko mencabut penisnya, seiring dengan keluarnya kepala penis itu, Ferry merasa ada cairan hangat mengalir dari anusnya. Lobang itu kini terasa lembut seperti busa basah, sementara air mani koko terus merembes keluar dari lobang itu tanpa ia bise hentikan. Koko lalu mengangkat badan Ferry ketengah ranjang, lalu mengganjal pinggul Ferry dengan selimut hingga posisi pinggul Ferry sedikit lebih tinggi dari kepalanya dan kemudian merentangkan kedua kaki anak itu.

Ferry, walaupun ia merasa takut tapi kini seakan ia tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Koko terhadap dirinya, ia tidak meronta saat Koko merapatkan badannya diatas badan Ferry, ia tidak melawan saat tangan koko membimbing kakinya agar membelit pinggul Koko, ia bahkan tidak bergerak saat kedua tangan koko diselipkan dipunggungnya hingga sekarang koko mendekap badannya. Perlahan lalu Koko mulai mengarahkan penisnya yang masih tegang ke anus Ferry yang sudah basah dan licin oleh air maninya sendiri, ferry hanya diam, air matanya sudah kering, ia kini sudah tidak lagi mau melawan…

Tak lama, Ferry merasakan ujung kepala penis itu sekarang sudah menempel dilobang anusnya lagi, sedikit demi sedikit Koko menekan pinggulnya agar penis itu masuk. Tanpa kesulitan kepala penis itu kini menerobos masuk, lobang anus ferry terasa sedikit lebih longgar dibandingkan saat pertama tadi, lalu dorongan itu terhenti saat lobang anus anak itu tidak lagi bisa merenggang lebih lebar. Koko lalu menjilati leher ferry, sambil terus mendekapnya erat erat, Ferry hanya menggeliat sedikit menyesuaikan posisi pinggulnya agar lobang anusnya tidak begitu tegang.

Koko mulai menggerakan pinggulnya maju dan mundur, tak lama ia mengghentikan gerakannya, lalu perlahan ia menekan pinggulnya agar batang penisnya bisa melesak masuk lebih dalam, Ferry menahan nafasnya, rasa sakit akibat otot anusnya yang semakin meregang kini muncul kembali, penis itu sedikit demi sedikit masuk…. Lebih dalam …
Sesaat Koko berhenti, untuk menarik sedikit penisnya keluar, lalu menekannya kembali lebih dalam, ia lakukan itu terus menerus, berulang kali, Ferry hanya terdiam…

Hingga suatu saat, penis itu tidak bisa bergerak masuk lebih dalam lagi, dan lalu koko menariknya sedikit… dan mendorongnya kuat kuat…!

“ AAA..! “
Ferry menjerit, tapi tangan Koko membekap mulutnya, Ia meronta berusaha melepaskan diri, tapi  posisi badan koko yang mendekap badannya membuat ia sulit bergerak, dan koko mempererat pelukannya didada Ferry, membuat anak itu kesulitan untuk bernafas. Lalu dengan satu tekanan yang kuat, koko mendorong semua batang penisnya kedalam lobang anus ferry

“ Hffmm..MMMM!!! FFFFFFFFHHHHMMPPPPP!!!” teriakan Ferry disela sela bekapan tangan Koko….

Badan Ferry berguncang hebat disela himpitan badan Koko, Ia merasakan sakit yang demikian hebat diselangkangannya, rasa sakit yang tajam mendera perutnya, perih yang tak terkira menjalar kesekujur tubuhnya, semakin badan Ferry berguncang, semakin kuat Koko mendekap dadanya dan semakin dalam pula ia menancapkan penisnya.

Penis itu kini masuk hampir semuanya, Ferry sekarang bisa merasakan bulu kemaluan Koko menyentuh kantung zakar dan penisnya yang kini terkulai lemah. Lubang anusnya terasa perih dan panas didalam anusnya terasa penuh, rasa ingin buang air besar muncul, mulas….

Koko menarik penisnya keluar dan lalu mendorongnya kembali kedalam, rasa perih semakin hebat dianus ferry bila koko menggerakan penisnya keluar masuk. Semakin dalam dalam penis koko masuk, Ferry merasa perutnya mulas, tanpa ia sadari setiap penis koko masuk semakin dalam, sesuatu mengalir dari penisnya membasahi badan mereka berdua … rasa basah panas dan perih mengalir dari anus nya. Koko terus menggerakan pinggulnya hingga suatu saat, koko tidak lagi bisa mendorong batang penisnya lebih dalam… ia berhenti sejenak lalu koko menggerakan pinggulnya lagi kedepan dan kebelakang sebih cepat…

Ferry hanya bisa merintih dan merintih …

“ Ma..ma…”

Mata Ferry yang berair, badannya yang gemetar, rasa sakit yang mendera dan bertubi tubi membuat pandangannya gelap… suara erangan dan desahan nafas koko yang memburu menjadi bergema, warna warni kelap kelip bermunculan dalam pandangan anak itu lalu semua gelap… ia masih bisa berasakan badannya berguncang guncang, ia masih bisa merasakan hempasan hempasan di pantatnya saat koko bergerak, namun semuanya menjadi samar….

……….

……….

……….

Ferry yang masih tergolek diatas ranjang dengan tubuh telanjang membuka matanya, badannya serasa remuk, selangkanganya terasa perih, sakit dan basah. Ia berusaha bangkit dan duduk, namun rasa sakit di selangkangannya membuat ia kembali terhenyak diatas kasur, dengan badan menggigil

Ia lihat disekeliling kamar, Koko sudah tidak ada, diluar sudah gelap, hanya cahaya lampu dari ruang tengah yang remang remang menerangi kamarnya. Dari ruang tengah terdengar suara Koko tengah berbincang-bincang dengan seseorang, tak lama kemudian pintu kamar terbuka dua sosok orang dewasa masuk kedalam kamarnya dan lampu menyala …

“ Ya Tuhan!! Gila kamu Ko!!! “ Orang itu berkata. “ EDAN LU!!!”
“ Tolonglah ‘XX’ “ jawab Koko “ Aku khilaf… aku lupadiri… tolonglah keponakan ku”
“ Gua tolong lu kali ini, setelah itu gua ga mau nolong lu lagi laen kali…” Jawab orang itu dengan ketus.
“ Bawa handuk dan air hangat diember, aku mau bersihin dia, lalu kamu beresin bekas kamu “

Orang itu kemudian mendekat dan membelai rambut Ferry dengan lemah lembut, Ferry tak kuasa menahan tangisnya yang kemudian meledak tak terbendung, orang itu mendekap Ferry erat-erat…Tak lama Koko kembali kekamar dengan membawa sebaskom air hangat dan beberapa handuk.

“Ferry…” ucap orang itu lembut. “ Aku sekarang mau ngobatin kamu dulu ya sayang, tahan sedikit ya..”

Ferry hanya terdiam…

Orang itu kemudian merentangkan kaki ferry dan menguakan lipanan pantatnya, terasa olehnya sesuatu yang hangat merembes mengalir keluar dari dalam lobang anusnya. Orang itu lalu mengambil kapas dan mengoleskanya dianusnya, Ferry melirik bekas kapas tadi, ia lihat kapas putih itu berubah menjadi merah… darah. Ia semakin tersadar, lalu ia lihat ranjang tempatnya berbaring, terlihat disana beberapa bercak tetesan darah dan rembesan kekuningan bercampur sedikit gumpalan darah.

“ Tahan sedikit sayang… “ orang itu berkata setelah mengoleskan sesuatu yang dingin dianusnya.

Terasa ada benda yang menusuk anusnya dan anusnya terasa agak membengkak, lalu tiba-tiba semua rasa sakitnya hilang, lalu orang itu seperti menyentuh-nyentuh anusnya, Ferry tidak tahu apa yang ia perbuat, setelah agak lama ia menyumpalkan segumpal kecil kapas di lipatan pantat Ferry. Setelah itu selesai ia mendudukan Ferry ditepi ranjang dan mulai mengambil handuk kecil dan membersihkan badan ferry. Setelah semua selesai, kemudian ia membuka lemari pakaian dan mengambil baju lalu memakaikannya.

Ferry kemudian dipangkunya, lalu mereka duduk diruang tengah, sementara Koko sibuk membereskan kamar Ferry dan mencuci kain sprei. Ferry hanya duduk dan merebahkan kepalanya dipundak orang itu. Tak lama kamarnya semua sudah rapih seperti semula, orang itu memberikan beberapa buah pil padanya untuk diminum, ferry langsung meminumnya, lalu ia dibawa dan ditidurkan dikamarnya….

TAMAT

Terimakasih untuk Ari kekasihku tercinta yang sudah bersusah payah menuangkan idenya untuk menulis kisahku ini. Kami mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak pantas dan kurang berkenan dihati. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.

Kejadian ini semua terjadi saat aku kelas lima sd, di akhir cerita ternyata Koko menghubungi temannya untuk mengobati luka di pantat ku, sampai hari ini aku masih kadang kadang suka berpapasan dengan orang itu, aku berterimakasih banyak padanya karena sudah mengobati aku dan memperbaiki pantat ku😀.

Terimakasih atas waktu dan kesediaannya untuk singgah dan membaca kisah ini.