Baru saja kuperhatikan bahwa sepasang mata itu mengawasi gerak-gerikku. Entah sudah berapa lama ia melakukan hal itu. Kebetulan saat ini pembicaraan Kristo dan teman-teman barunya, Dino and the gangs tentang otomotif tidak begitu menarik perhatian saya. Kali ini kutatap balik pandangan matanya yang kuat tetapi teduh itu ke arah meja bar dalam club itu.

“Guys, gue ke bar dulu ya..” ujarku permisi pada mereka.

Si empunya mata segera menegurku ramah, “Malem Mas, mau minum apa?”
“Terserah deh, racikin aja yang asik..”

Ia kembali dengan segelas mixed drink yang nampaknya belum pernah kucoba sebelumnya.

“Gimana, enak?”
“Gile nendang abis.. Apa neh namanya?”
“Gua kasih judul, Bimo’s Curiosity. Mumpung bos ga ada, gue tambahin takerannya khusus buat Mas”
“Wohoo, nice man. But hold on, let me guess, you are Bimo?”
“In person Sir..” jawabnya sembari menampakkan sederetan gigi yang putih dan tertata rapih.
“So Bimo, kalau saya boleh tau, why was Bimo so curious tonight?”

I had to ask. Sumpe, perawakannya maskulin sekali sehingga saya tidak bisa menebak orientasi seksualnya.

“Oh gak papa, iseng aja, cuman mengagumi kok..”
“Mengagumi apaan?” tanyaku menggoda
“Mengagumi..” dentuman speaker ramuan Mr. DJ menghantam ruangan penuh sesak itu.
“Kenapa?” tanyaku berteriak mendekatkan wajahku pada parasnya yang tampan

Ia mendekatkan bibirnya di telingaku, “Lu tipe gue abis..” ujarnya singkat.
Kini giliranku berbisik ditelinganya, “Sori man, I belong to that guy over there..” jawabku sembari menunjuk ke arah Kristo yang kemudian tersenyum melihat polahku.

“Cute.. Yah, too bad lah.. Mas namanya sapa?”
“Haha.. Usahaa terus..”
“Boleh dong..”
“Joko”
“Simpel dan gampang diinget. Fitnes di mana Mas? Nice biceps!”
“Hey, thanks man. Kebetulan di kompleks gedung gue ada fasilitasnya jadi ga repot kapan aja bisa. Anyway, loe sendiri juga not bad at all!”
“Thanks.”

Aku membisikinya lagi, “You got some seriously nice ass over there!”
Kemudian ia berbalik membisikiku, “Mangkanya this ass needs to be taken care off. Mas, please bentar aja yuk..” pintanya memberi kode.
“You sure?”
“Dari pertama ngeliat Mas masuk, gue langsung horny abis..”
“Bentar ya..” aku mengetik sederetan pesan singkat kepada Kristo.
“Gila, loe, kok ngasih tau dia segala?”
“Oh, he’s okay with this..” jawabku yang membuatnya bengong.

Setelah menemukan seseorang untuk menggantikan posisinya di bar ia kemudian menarik lenganku masuk kedalam labyrinth internal perusahaan itu. Dengan sepucuk kunci ia berhasil membuka gudang di bawah tanah itu dan menyalakan sebuah lampu kecil. Dentuman speaker masih terasa di ruang penyimpanan ini. Bimo segera menutup pintu dan menurunkan celanaku. Batang zakarku yang masih lunglai itu ia genggam dengan kedua tangannya dengan mesra.

“Gila, gede banget Mas.. Ah ga salah deh tebakan gue malem ini!”

Jemarinya segera bermain di atas kepala penisku yang mulai bereaksi atas suguhan menarik malam itu.

“Bim..”

Bulat-bulat benda tumpul itu ia telan ke dalam kerongkongannya dan menimbulkan sensasi kenikmatan yang segera kurasakan. Permainannya yang tak kalah cantik dengan Kristo membuatku semakin bergairah dengan bartender gagah ini. Ia menggenggam zakarku yang sudah mengeras itu dan memandanginya seperti sebuah hasil seni adikarya.

“Ini yang aku sebut sebagai kontol yang sempurna Mas.. Besar, padat, berotot, dan kepalanya yang sebesar buah tomat ini, mm..”

Ia kembali bekerja dan mengulum kepala penisku yang seakan tercipta untuk menaklukkan kebutuhan siapapun juga. Ia mulai membuka sabuk pinggangnya dan menurunkan celananya. Perlahan ia berdiri membelakangiku dan menempelkan bokong kenyalnya secara strategis pada batang kerasku sehingga kini menara itu berdiri tegak memandangi perutku atas himpitan pantatnya tadi.

“Ah, gila Bim, bokong lu napsuin banget, udah keringetan gini..” ujarku seraya meremas-remas bokong bundar Bimo. Sekilas aku melihat sehelai tali hitam melewati wilayah terlarang tadi.
“Hey, nice G-String..”
“Iya bawaan dari dulu ampe sekarang masih kepake. Tadinya sebelum ini gue jadi stripper!”
“Really? Ayo coba praktekin dong..”
“Beneran neh?” Aku menggangguk memberinya persetujuan.

Kemudian ia melepaskan celana pendeknya. Tanpa melepaskan kaos hitam tanpa lengannya dan membiarkan G-string minimalis itu bertengger di pinggangnya, ia menaiki sebuah meja di tengah-tengah gudang itu.

Aku menanggalkan seluruh pakaianku, penisku yang sudah super tegang saat itu mengayun dengan beratnya ke atas dan ke bawah menahan napsu birahi yang sedang melanda. Kutarik sebuah kursi lipat yang tersedia untuk dapat menikmati tubuhnya lebih dekat dari samping meja tadi. Cairan mazi yang bening mulai menetes ke lantai gudang.

Bimo mulai meliuk-liukkan tubuhnya sesuai irama dance hall yang menggema hingga ke ruang sempit itu. Nampaknya ia sendiripun sudah mulai menimbulkan gundukan menarik di bagian depan cawat minim itu. Keringat tubuhnya menjadikannya manusia keemasan diterpa cahaya lampu temaram tadi.

“Gila, sexy banget loe Bimo!” teriakku sembari bertepuk tangan mengikuti irama.

Lama-kelamaan tariannya mulai mengarah dan menonjolkan keelokan bokong supersexy-nya. Ah, benar-benar tayangan VIP rupanya. Sekilas lubang anusnya yang polos itu mencuri pandang dan mengerling ke arahku. Ia melipat tubuhnya sedemikian rupa sembari berdiri sehingga lubang itu terlihat lebih jelas dari balik tali cawat yang melintasi gerbang cinta itu. Dengan piawai ia mengendur-kencangkan otot-otot cincin anusnya sehingga bibir bawahnya itu terlihat sedang bercakap-cakap denganku.

Perlahan ia berlutut di atas meja itu dan menyuguhkan bokongnya tepat di hadapan wajahku sembari terus menari dan merangsang indra penglihatanku. Bimo berhenti ketika lubang panas itu menyentuh ujung batang hidungku.

Dengan geram kugenggam kedua belah pantatnya dan merekatkan wajahku pada belahan pantatnya yang bersih dan merangsang itu. Tali sialan penghalang pandanganku itu kutahan dengan jemariku sehingga akses penciumanku pada lubang nikmat itu kini tak terhalang lagi. Ah, wangi sekali aroma di sekitar liang anus lelaki itu. Kuusapkan hidungku langsung dari atas hingga sisi bawah belahan pantatnya itu dan mengendus-endus bagaikan anjing pada musim kawin.

“Ahh, enak Mas..” Rupanya hawa panas nafasku menambah birahi nakalnya.

Lidahku-pun mulai tidak mau kalah untuk mencicipi ‘donat’ hangat itu. Aku gunakan jemariku untuk menguak lebih lebar bukaan liang gelap itu sehingga lidahku dapat lebih mudah memperkosa dinding empuk yang nikmat tadi. Bimo tetap menari sehingga sodokan lidahku jatuh pada berbagai tempat yang lebih dalam untuk ia nikmati. Cairan anusnya mulai terproduksi dan terdeteksi oleh lidahku.

“Sumpah Mas, gue napsu banget..”

Ia kemudian membalikkan tubuhnya sehingga punggungnya menyentuh daun meja itu. Kutarik bokongnya hingga menyentuh pinggiran meja tadi dan kunaikkan kedua kaki berbulunya pada pundakku. Aku melirik kebawah. Sial, pandai sekali ia memainkan bibir anus itu seakan menghisap dan mengundang ujung kepala penisku untuk menembus lebih dalam.

Kugenggam kencang batang super-besarku itu dan perlahan kuperhatikan bagaimana bibir anusnya menerima si kepala tomat dengan sempurna. Ketika kepala itu sudah terselubungi secara total dapat kurasakan bibir anusnya yang terkontrol dengan rapih layaknya bibir manusia itu menyusui dan membasahi seluruh permukaannya. Sengaja kumainkan kepala penisku saja pada liang anusnya yang sempit ini dengan cara memaju-mundurkan dengan aksi kecil-kecilan.

“Ayo dong Mas.. Aku udah gatel nih ampe ke dalem-dalem..” protes Bimo.

Protes itu kuladeni dengan segera dan tanpa permisi lagi kuhabisi semua batang penisku sehingga kulit bokongnya yang empuk segera menyambut bebuluan jembutku.

Seperti yang sudah kuduga, Bimo tidak bisa berkata apapun juga, keterkejutannya atas serangan mendadak ini hanya ditandai dengan terbelalaknya matanya dan sekejap habisnya nafas dalam dadanya.

Segera kujilati putingnya yang mengkilap dan sudah mengeras, kumandikan dengan lidahku satu persatu untuk menambah kenikmatannya. Bimo mengerang lagi.

Permainanku makin kasar dan dahsyat. Kalau saja meja itu tidak kuat mungkin sudah roboh dengan pekerjaan berat yang harus ia tanggung. Kaki meja itu mulai berbunyi seiring gesekan dengan lantai.

Penis Bimo sudah sangat menegang dalam genggamanku. Sejenak kutarik diri untuk menikmati penisnya yang sudah menunggu belaian lembut bibirku. Entah karena permainanku yang terlalu ganas ataupun memang Bimo yang sudah terlalu bernafsu, tak lama kemudian ia memuntahkan cairan kelelakiannya dalam mulutku. Lelehan asin dan kental yang nikmat itu kutelan sebelum sebagian kukembalikan melalui sebuah ciuman kepada empunya.

Kubiarkan Bimo menikmati pancaran aura kenikmatan itu sesaat hingga batang kelelakiannya melemas sebelum sekali lagi aku menembus lubang hangat di bagian belakang tubuh pria tampan itu.

Aku menggumuli Bimo mungkin lebih dari tigapuluh menit sebelum rasa nikmat tak tertahankan itu muncul dan memaksaku untuk memompa liang anusnya dengan lebih hebat lagi. Aliran mani nan hangat mulai kusalurkan dari lubang kontolku untuk ditampung ke dalam anusnya yang rakus itu.

Akhirnya kujatuhkan rangka tubuhku yang besar ini di atas tubuhnya yang lemas akibat permainan nakal kami. Penisku masih tertanam dengan manis dalam rongga sempitnya itu. Sesekali masih kurasakan tremor kenikmatan tadi, sesekali masih kusemburkan cairan cinta yang tersisa dalam kantung zakarku.

Tiba-tiba pintu gudang tadi terbuka..

“Shit”, respons-nya seketika.
“Hello guys, having fun here?” suara Kristo terdengar di telingaku sembari perlahan aku berbalik dan melihat para tamu yang datang melalui pintu gudang itu.
“Hi guys, what’s up?” jawabku santai sembari melepaskan diri dari dekapan Bimo.

Penisku yang masih setengah tegang dan berlumuran sperma yang menetes-netes tentu saja menjadi perhatian Dino dan kawan-kawannya yang ternyata mengikuti Kristo hingga ke ruangan ini.

“Bimo, kenalin ini cowo gue, Kristo dan itu teman-temannya, Dino, Agus dan Tommy!”

Kedua teman Dino rupanya tidak tahan melihat posisi ‘baru saja diperkosa’ Bimo yang masih mengangkang dengan lelehan mani yang menetes dari lubang adiperkasa itu.

Agus dan Tommy segera melucuti pakaian masing-masing dan bergegas menuju ke arah Bimo yang masih lemas dengan pemuasan syahwatku tadi. Baguslah pikirku, pemuda tanggung seusia mereka pasti dapat meladeni Bimo dengan lebih rakus lagi.

Tanpa permisi, Agus langsung menancapkan penis mudanya ke dalam liang Bimo yang sudah kulumasi sebelumnya, sembari Tommy menyodorkan penisnya yang tidak disunat itu ke dalam mulut Bimo.

Sementara itu pandangan Dino tidak beranjak dari penisku yang tak kunjung beristirahat ini.

“Bener kan Din.. Gede banget kan punya si Mas Joko ini?”
“He eh..” jawab Dino mengiyakan
“Udah sosor aja..” timpal Kristo
“Boleh Mas?”
“Tunggu gue duduk dulu, gila cape banget sama si Bimo tadi..”

Aku duduk di kursi lipat yang tersedia tadi sebelum bibir Dino melumati seluruh batang penisku dan membersihkan ceceran mani yang tersisa di sana.

Sementara itu Kristo mulai menurunkan celana Dino sehingga bokong remaja itu ter-ekspose dengan indahnya.

Dari posisi dudukku aku melebarkan kedua belahan pantat Dino hingga akses Kristo untuk melumati liang remaja itu makin luas.

“Honey, I’m preparing your dinner here!” teriak Kristo sembari mengerling ke arahku.

Bebuluan halus dapat kurasakan pada jemariku yang merebakkan belahan pantat Dino untuk pemanasan Kristo. Jeritan-jeritan kecil mulai dapat terdengar dari meja tempat Bimo, Agus dan Tommy bergumul. Dinopun mulai dapat menerima hantaman jemari Kristo yang membuka lahan untuk dimasuki ‘traktor’ monsterku ini.

Aku dan Kristo kemudian menarik Dino ke lantai untuk dapat kami rangsang lebih lanjut. Sementara Kristo sibuk melayani daerah kelamin pemuda tanggung itu, aku memandikan puting dan ketiak Dino dengan lidahku yang hangat. Berkali-kali Dino menggelinjang dalam permainan kami.

Ketika batang perkasaku sudah merasa siap untuk bertempur lagi, aku menarik punggung Dino, membuka belahan pantatnya dan perlahan aku menembus raganya dari belakang. Aku berbaik hati dengan bermain penuh perasaan pada remaja yang masih belum pernah dicoblos ini. Kristopun ikut berbaik hati dengan tetap mengulum dan menjelajahi wilayah kelamin Dino.

Tak lama ketika Dino sudah mulai terbiasa dengan benda asing nan raksasa yang menembus relung anusnya, Kristopun mendekat dan memposisikan dirinya sehingga Dino dapat menyelipkan penis remajanya dalam liang professional Kristo.

Di lantai itu kami bertiga baris berbaris saling menyetubuhi-saling bercinta dalam waktu yang bersamaan. Kristo meminta pasangan trio di atas meja untuk turun mendekati kami di lantai gudang sempit itu.

Sembari menerima hantaman kasar Agus pada lubang pantatnya dan sibuk melayani benda tumpul Tommy dalam mulutnya, kini Bimo-pun dapat merasakan kedahsyatan permainan kuluman maut Kristo yang sudah terbukti itu.

Bimolah yang pertama kali menyerah dengan memberikan seluruh jiwa dan raganya bersama semburan hangat cairan maninya ke dalam mulut Kristo. Orgasme luar biasa yang ia nikmati dengan segera dirasakan Agus pada jepitan anus Bimo yang menyebabkan iapun turut dengan segera melakukan deposito indah ke dalam lubang itu. Tommy mulai berteriak penuh nafsu ketika pada akhirnya lidah Bimo berhasil menghantarkannya pada titik klimaks.

Setelah mereka beristirahat sejenak, perhatian berubah fokus kepada group trio kami. Penis Kristo yang bertengger hangat dalam mulut Bimo tak lama kemudian menyemburkan kenikmatan duniawi itu langsung ke dalam liang tenggorokan Bimo. Dan gesekan bertubi-tubi dalam anus Kristo tak mampu menahan jebolnya bendungan mani Dino segera setelah itu.

Kemudian mereka merapikan diri. Bimo permisi untuk kembali bekerja lagi. Tommy, Agus, dan Kristo permisi untuk kembali ke atas lagi.

“Lha gue gimana?” tanya Dino terengah-engah karena masih dengan asyiknya kusetubuhi.
“Udah, lu di sini sama gue dulu” ujarku tersenyum penuh birahi
“Apa gue bilang.. Lama kalo main sama Mas Joko! Bener kan?” timpal Kristo.

Ruangan itu mendadak hening sepeninggal empat mahluk penuh nafsu tadi.

Tanpa melepaskan tancapan mautku dalam anusnya, kami berdua perlahan berdiri dan berjalan perlahan ke arah meja tadi. Aku mainkan putingnya dari belakang, kuremas buah dadanya yang keras, dan perlahan kuarahkan Dino pada tepi meja itu.

Setelah tangannya dapat menahan beban kami pada daun meja itu, perlahan-lahan kulanjutkan kembali tugas mulia yang belum selesai tadi. Kasihan juga aku pada bokong pemuda itu yang belum terlatih menerima arus liar keperkasaanku ini. Oh well, apa boleh buat, dia yang minta, yah dia harus bertanggung jawab.

Dari lorong gang lokasi gudang tadi, kernyitan suara meja itu mulai sayup-sayup terdengar kembali. Bimo yang pada saat itu sedang berada diujung lorong hanya tersenyum mengeleng-gelengkan kepalanya.