Kami memutuskan untuk menikmati pemandangan duniawi yang disajikan oleh sebuah tongkrongan roti bakar terkenal di wilayah selatan Jakarta karena kami berdua tidak terkejar waktu untuk pergi kemanapun jua malam itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11:07, tetapi kawasan warung campur-campur itu malah semakin ramai oleh para tamu yang berdandan rapi dan sepertinya siap bergaul ke tempat lainnya lagi.

Kristo tampaknya sengaja memarkirkan A3 rombakan berwarna biru tua itu tepat di depan jalan masuk wilayah tongkrongan tadi. Sambil membuka jendela ia menyalakan sebatang rokok dan memutuskan untuk makan di mobil saja (tidak biasa-biasanya ini, pikirku).

Salah satu dari pegawai berseragam kaos senada (yang sometimes ditandatangani oleh orang terkenal) menghampiri kami. Badannya yang kekar dan pahanya yang kokoh itu nampak sexy sekali diselimuti jeans belelnya yang super ketat.

“Mas satu sate ayam, satu nasi goreng, sama satu roti bakar coklat keju yah.”
“Minumnya?”
“Aqua dua deh.. Dingin ya.. Makasih Mas..”

Rupanya wajah imut Kristo mulai menarik gadis-gadis belia yang nampaknya masih belum selesai sekolah itu. Mungkin dikira salah satu calon VJ MTV dengan gaya sok funky-nya itu.

Tidak berapa lama kemudian segerombolan pemuda tanggung dengan kendaraan-kendaraan modifikasinya mulai berdatangan sembari melirik ke arah saya dan Kristo. Salah satu di antara mereka (dengan cukup mengejutkan) menghampiri jendela mobil Kristo yang terbuka.

“Sorry Mas, gila peleg-nya keren abis.. Udah di modi-kan? Ini pake yang tujuh belas atau yang delapan belas Mas?”
“Actually gua pake sembilan belas sih..” jawab Kristo antusias.
“Gila kaga mentok tuh kena vendernya?
“Ngga juga sih, kan kaki-kaki and body kit-nya juga udah ganti, biar semua masuk dengan sempurna..”
“Wah, pantes A3-nya ngga seperti yang saya liat di majalah ya Mas! Keren abis sumpe! Nggak dilombain aja Mas?”
“Nggak lah, lagian ini kan baru minor change aja, belum drastis lah..”
“Oke deh Mas, saya udah ditungguin temen-temen tuh ntar kita ngobrol-ngobrol lagi ya.. Boleh tuh share kontak bengkel-bengkel modi-nya. Semoga ntar Mas belum pulang..”
“Oke sip!” balas Kristo singkat.

Baru saja ia menoleh ke arahku, sang pemuda sok gaul tadi-dengan rambut botak ala Sammy Eiffel I’m in Love-kembali lagi.

“Umm, sorry sekali lagi Mas. Abis ini kita pada mau ke (ia menyebutkan nama sebuah club yang relatif baru di bilangan Dharmawangsa Sq.), mungkin kalo Mas-Mas ini gak ada acara kita bisa lanjutin ngobrolnya di sana?”
“Gimana Kang?” tanya Kristo.
“Aku sih oke-oke aja..”
“Oke guys see you there! Bilang aja tamunya Dino, I’m on the list” timpal pemuda itu kemudian.
“Yeah, see you there then! Gue Kristo, I’m on the list juga.”
“Ya ampun.., Kristo yang baru balik dari London? Temennya (ia menyebutkan nama salah satu owner tempat hiburan itu) khan?”
“Yup, that’s me!”

Aha. Aku menjadi teringat ketika aku seumuran Dino dulu (yah kira-kira delapan tahun yang lalu lah), Gayaku waktu itu sok dikenal sana-sini persis seperti pemuda tadi. Sok berpengaruh dan yang pasti sok bergaul. But he seemed nice enough lah, ngga sepa’ seperti beberapa konco gaul-ku pada saat itu. Dan kalau instingku tidak salah, ia sepertinya lebih tertarik kepada Kristo daripada kedok modifikasi mobil “aneh”-nya itu.

“Kang, kok diem.. Udah, ga usah cemburu sama brondong gitu deh.. Haha..”
“Ngga, aku ngga cemburu, malah aku lagi mikirin apakah dia bisa kita ajak threesome apa engga..” aku menjelaskan kepada Kristo.
“Yang bener Kang? He’s hot isn’t he?”
“Well, not exactly hot, but he’s cute.. Umur berapa ya kira-kira?”
“Alah paling baru lulus SMA.. Hmm, ya udah ntar kita liat aja..”

Tidak lama kemudian makanan kami datang dan Kristo sudah mulai sibuk menyiapkan berbagai tissue sehingga mengurangi kemungkinan kotornya interior mobilnya yang super kinclong itu.

“Gila ya di sini, surga banget. Tamunya lucu-lucu.. Sayang rata-rata pada bawa cewe-nya masing-masing..” lanjut Kristo sembari menikmati nasi gorengnya.
“Makanannya sih biasa aja, masih enakan di Lembang aku bilang, cuman emang pemandangannya ruarr biasa! Haha.. Liat deh.. Pegawainya aja cakep-cakep gitu.. Mana badannya keker-keker pula.. Ini sebenarnya juragannya lulusan akademi militer mungkin kali ya? Nyari pegawai yang seger-seger banget gini!” ujarku.
“Ah, si Akang nih emang napsu gede aja..”
“Eh, ngaca dong. Inget ga yang pas yang aku lagi capek banget itu? Karena udah ga tahan satpam baru apartemenku juga kamu lahap khan waktu itu?”
“Ya abis gimana dong, orang istilahnya knalpot udah kudu masuk bengkel gitu Mas.. Mana masih muda dan cakep gitu.. Kebutuhan prioritas haha..”
“Masuk bengkel aja terus!” balasku. Sok cemburu
“Ya tapi kan setidaknya ketika satpamnya udah tepar, Akang juga langsung menjebol keperawanannya tanpa perlawanan yang berarti dari si korban”
“Iya deh.. Impas-impas..”
“Aku tau kok, kalo aku nggak nginep di situ kan dia pagi-pagi sok rajin bawain koran sama kopi buat nyogok Akang kan? Udah ketagihan dia, sama seperti aku!”
“Hehe.. Kok kamu tau?”
“Lha dia sendiri yang cerita..”
“Oh ya?”
“Iya, katanya dia pengen pada suatu hari kalo ada kesempatan, dia ingin ditempok Akang ketika dia lagi ngentotin aku, coba!”
“Hmm, interesting, boleh jadi bahan pemikiran.”
“Norak ah, tinggal telepon security aja nyari si Rahman gitu lho!”
“Mas.. Tadi jadi berapa?” tanya Kristo sembari memanggil pegawai kekar tadi.
“Makannya apa aja Mas?” ia bertanya balik.

Kristo menyebutkan hidangan dan minuman yang kami santap. Sepertinya pegawai ini tergolong orang baru di sini sehingga agak lama menghitungnya.

“Maaf Mas, minjem bentar ya..” lanjutnya sembari menarik secarik kertas dan pensil untuk menghitung ‘belanjaan’ kami di atas atap kendaraan Kristo.

Dan seperti dengan sengaja ia ‘meletakkan’ paket onggokan depan celana jeans-nya yang ternyata lumayan menarik itu tepat pada tepian jendela yang sedang terbuka. Sejenak Kristo melirik ke arahku seakan meminta persetujuan ide nakal yang sedang ia pikirkan.

Perlahan tapi pasti ia meletakkan jemarinya mendekati wilayah terlarang pegawai itu. Agar tidak terlalu mencolok para tamu lainnya dengan sigap ia berpura-pura tidak sengaja menyapu tepian jendela itu tepat di atas gundukan celana jeans itu.

Setelah sekiranya ia mengetahui duduk posisi tidur kemaluan pegawai itu, dengan sengaja Kristo menggenggam batang pria naas itu, Sang empunya zakar kontan terkejut dan wajahnya segera terlihat di bukaan jendela kami.

Dengan santai Kristo berkata, “Wah gede juga Mas burungnya. Kapan tuh terakhir diservis?”

Pegawai lugu yang ternyata baru datang dari Jawa itu kemudian memerah wajahnya dan dengan grogi ia menjawab..

“Mm, sebenarnya saya masih perjaka Mas, jadi ya.. Belum pernah di.. servis..” jawabnya dengan logat yang kental.
“Lho emang umur berapa Mas?”
“Duapuluh empat..”
“Wah, masak udah umur duapuluh empat cuman dipake buat kencing doang, sayang lho barang segede itu..”
“Sama sapa Mas, orang cewek aja ndak punya..”
“Mau diservis?” tanya Kristo spontan. Benar-benar nekad kekasih saya ini.
“Mm, Ah, yang bener aja Mas.. Masak Mas juragan gini mau nyervis saya yang dari kampung begini?”
“Udah tutup mata aja, servis gue pasti lebih hebat daripada cewek manapun juga deh! Justru yang masih lugu kayak kamu ini yang menarik, Sapa namanya Mas?”
“Joni”
“Sumpe lu? Gaya banget..”
“Iya ndak tau Mami saya waktu itu mungkin lagi sontak”
“Taelah Mami..” ujar saya tersenyum dalam hati.
“Ya udah Mas Joni, kapan nih mau diservisnya?”
“Ah ini beneran Mas? Bukan bercanda kan?”
“Bener, masak saya bercandain kamu sih?”
“Aku sih jadwal kerjanya harusnya udah selesai, jadi tinggal nungguin Mas berdua aja sebenarnya..”
“Ya udah pamit sana sama si Bos, kita tungguin di ujung jalan sana ya!”
“Bener Mas?”
“Iya cepetan sana lho!” balas Kristo.

Ketika Joni sudah menjauh, giliran aku yang bertanya pada Kristo.

“Lho To, bukannya kita mau ketemu Dino di club?”
“Ah, perjaka gitu paling bentar juga udah muncrat Kang, mumpung ada proyek baru yang ampir seganteng si Akang ini lho..” pujinya seraya meminta izin dariku.
“Terus mau main di mana?”
“Udah di mobil aja sembari jalan.”
“Yah curang dong.. Kamu asik-asikan sama Joni..”
“Ntar Akang dapet giliran duluan deh sama si Dino..”
“Ya kalau dia suka cowo..”
“Ga liat gimana tadi dia nelanjangin aku dengan pandangannya? Kalaupun dia gak suka cowo, pasti nanti malem jadi suka!” jawabnya yakin.

Kami berganti posisi dan sekarang aku memegang kendali dan menepikan mobil hatch-back itu pada ujung jalan yang relatif sepi. Kristo kemudian beranjak ke kursi belakang. Tak lama kemudian Joni muncul setelah mengganti kaos kebangsaan warung roti bakar itu dengan secarik kaos pribadinya.

“Lalu pacar Mas ndak Papa nih kalau saya main dengan Mas?” ia membuka pembicaraan setelah masuk ke area jok belakang.
“Nanti dia dapet jatahnya sendiri, yang penting malam ini Mas Joni adalah jatah saya!”
“Lalu saya harus ngapain sekarang?”
“Udah sante aja, sini lho duduknya deketan dikit lah”

Kendaraan itu kemudian kujalankan melewati daerah perumahan yang sepi. Dari kaca spion aku melihat tangan Kristo mulai meraba-raba perut keras Joni.

“Jon, kamu suka fitness apa gimana sih, perutnya keras sekali.. Hmm.. Kayak batu bata deh..” ungkap Kristo seraya menyingkap kaos tersebut.
“Iya di rumah aja saya bikin barbel sendiri dari bekas kaleng cat yang saya isi semen. Terus saya juga suka karate dulu pas di kampung.”
“Ga bakal bisa sekeras ini kalo ngga pull-up Mas.. Saya aja masih dalam proses ga dapet-dapet perut sekeras gini..” Kristo membawa tangan Joni ke arah perutnya sendiri.
“Oh kalau itu aku pakai kusen pintu Mas.”
“Kusen pintu?”
“Iya, kan mahal kalo latihan di fitness segala, jadi saya gelantungan aja di kusen pintu rumah saya.”
“Emang kuat kusennya?”
“Sampai sekarang sih masih belum masalah kayaknya” jawabnya sembari tersenyum.

Gundukannya terlihat semakin menggunung. Dengan cekatan Kristo memposisikan wajahnya di antara selangkangan Joni dan segera memerosotkan celana jeans berikut celana dalam pemuda itu yang karetnya memang sudah terlihat mengendur.

“Wah asli, wanginya seger abis Mas.. Langsung aja ya..”

Dengan itu Kristo langsung menelan peluru besar kecoklatan yang sudah setengah bangkit itu. Bibirnya menyapu bebuluan kasar di pangkal kemaluan Joni.

“Hahh..” Joni terkejut sekaligus terpesona dengan keahlian Kristo dalam memanjakan penis pria manapun juga.
“Umm, Uenak banget Kang, punya si Joni ampir segede punya Akang lho..”
“Oh ya?” ujarku iri dari kursi pengemudi.
“Mm.. Mas.. Mas.. Kalo kayak begini kayaknya sebentar lagi aku bakal..”
“Oh udah tau kalo bakalan enak bentar lagi ya Mas?”
“Iya lah, walaupun aku ndak punya cewek kan bisa ngocok sendiri..”
“Enakan mana sama ngocok sendiri Jon?” tanyaku dari depan.
“Ya enakan dilayani sama Mas ini dong..” ujarnya tersenyum penuh birahi.

Seperti layaknya para pemula lainnya, ia terkesan tergesa-gesa menikmati keahlian sang maestro Kristo. Kepala Kristo sudah ia tahan dengan kedua belah tangannya. Buah pantatnya mulai terlihat maju mundur memperkosa rongga mulut Kristo dengan kasarnya. Tetapi kartu As Kristo belum ia turunkan.

“Oke, oke stop dulu, kalo begini caranya, kapan gue ngerasain kontolmu Jon?” potong Kristo di tengah jalan.
“Lho emang mau bagaimana lagi Mas?”
“Gini lho..”

Kristo segera membuka ikat pinggangnya dan memerosotkan celananya hingga sebatas paha. Kemudian ia mengarahkan kedua belah tangan Joni hingga seakan menahan dan membuka kedua belahan pantatnya yang putih mulus dan bundar kenyal itu lebar-lebar.

“Lho, mau gimana tho Mas?”
“Udah sekarang lu anggep lobang pantat gue itu memek paling idaman lu dah.. Mulus kan?”
“I.. Iya Mas.. Putih banget kayak ratu keraton..”
“Sekarang kamu kuak lebar-lebar bukaan bokongku karena sebentar lagi aku akan duduk nyaman di atas pangkuanmu..”
“Gimana nyaman Mas, orang burung saya sedang tegang begi..”

Bless. Seluruh batang zakarnya sudah tertanam dalam anus Kristo yang selalu haus servis itu.

“Sekarang lu diem aja. Biar gue yang kerja ya..”

Joni yang sedang merasakan dahsyatnya kuluman maut jonjot anus Kristo hanya terdiam menikmati kehangatan sejati itu. Perlahan-lahan Kristo yang duduk membelakangi Joni itu menaik turunkan posisi duduknya.

“Enak kan Jon?”

Joni tidak dapat berkata apapun juga. Kedua tangannya sudah memeluk dada Kristo dari belakang. Wajahnya ia benamkan pada punggung Kristo yang masih berkemeja itu. Tangannya mulai berbagi kasih dengan ikut memasturbasi penis Kristo yang mulai menegang.

“Ah, uenak tenann Mas.. Ayo Mas.. Dikit lagi..” Teriak Joni tanpa malu-malu.

Walaupun sudah dilarang, tetapi bagaikan anjing jantan pada musim kawin, Joni mulai kasar menggagahi Kristo yang sedang memejamkan matanya mencoba menikmati permainan Joni yang amatiran. Tiba-tiba tubuh Joni menegang, menggelinjang sesaat sebelum terkapar pada jok belakang dengan peluh memenuhi tubuh dan keningnya.

“Lho kok langsung nembak Jon?” candaku.
“Akuh.. Akuh.. Udah ga bisa nahan lagi Mas..”

Seketika Kristo langsung bangkit mencabut batang zakar pria itu dengan paksa sehingga lelehan-lelehan madu kenikmatannya masih dapat terlihat mengalir dari lubang kemaluan Joni.

“Ahh.. Ah.. Ahh..” Joni mengerang kecil, tubuhnya kembali terguncang-guncang tanpa kendali lagi.

Tanpa permisi rupanya Kristo sudah mengulum batang keperkasaan Joni dan sembari jemarinya memeras habis sisa persedian ‘bulog’ kantung kelelakian Joni. Pria lugu itu mendapatkan orgasme keduanya dengan segera.

“Ahh.. Aduh.. Ahh..”

Setiap semburan yang ditembakkan Joni langsung ke dalam kerongkongan Kristo ditelan bagaikan seorang drakula yang haus darah. Joni yang kini nampak seperti layaknya seseorang yang pingsan tak sadar diri hanya bisa merasakan mulut Kristo yang membersihkan setiap tetesan birahi yang telah ia semburkan tadi baik pada seluruh tubuh penis perawan itu ataupun yang berceceran pada jembut Joni yang beraroma sangat khas itu. Perlahan Kristo mengenakan kembali celana dalam dan celana jeans pria experimental-nya itu.

“Enak kan Jon? Nih, gue kasih kartu nama gue. Nama gue Kristo, dan Mas ganteng yang di depan itu Joko, pacar saya. Ntar kalo butuh servis lagi, tinggal telepon aja ya.. Ga usah repot cari-cari yang lain.. Kalo mau coba ngisep kontol super gede, Mas yang di depan itu rela kok meluangkan waktunya. Okeh?” ujar Kristo sembari menyelipkan kartu namanya pada saku celana ketat Joni. Tak lupa ia menyelipkan selembar uang seratus ribuan di sana sebagai balas jasa servis knalpot dadakan yang ia kehendaki.

“Udah ya, makasih banget Jon..” lanjut Kristo.
“Kita masih ada janji mau ketemu orang di club depan situ.. Lu turun di sini aja ya..”

Aku menghentikan kendaraan di samping taman kecil yang sepi itu. Kemudian kami berdua terpaksa memapah Joni yang masih terkulai lemas keluar dari kendaraan dan kami dudukkan di dudukan pagar perbelanjaan yang mulai sepi malam itu. Joni mencoba berdiri, tetapi kemudian ia terjatuh lagi dan menyenderkan kepalanya kepada tiang yang terdekat. Kami pamit padanya dan meninggalkan ia sendiri di sana.

“Gimana To? Asik?”
“Lumayan lah, walaupun masih amatiran gitu.. Kalo udah kena servis aku pasti besok-besok nagih lagi deh.. Hahaha.. Ntar aku ajarin pelan-pelan biar dia bisa jadi pecinta yang hebat! Kan nanti kalau istrinya puas aku juga bangga ikut serta dalam pendidikan percintaannya. Taelah haha..”

Samar-samar plaza kecil itu mulai terlihat pada pandangan kami. Kristo masih terkesan ribet membenahi pakaiannya seraya tidak kalah sibuknya segera membersihkan interior mobilnya yang kini sudah terkotori lelehan birahi Joni.

“Duh jorok banget sih si Joni tea’! Muncrat ampe kemana-mana gini..” lanjutnya membersihkan tanpa menghiraukan kekehan tertawaku.