Sebenarnya pertemuan kami tidak disengaja. Saya diundang oleh bekas teman kuliah saya untuk bersantai semalam di sebuah pulau pribadi keluarganya di wilayah Kepulauan Seribu.

Kami berdelapan (dengan empat wanita) dan seekor anjing Papillon kecil yang cerewet bernama Tania, kemudian berjanji untuk bertemu di galangan Marina Ancol pada hari Sabtu pagi itu.

Teman saya Elena, kemudian datang bersama pembantu setianya (yang hendak kami uji kehandalan memasaknya) beserta satu orang supercute yang sebelumnya ternyata sempat “mengacak” jambulnya seperti Delon dalam Indonesian Idol.

Pria itu berwajah oriental dan berdandan necis seperti layaknya warga New York City yang hendak berlibur dan bersantai di daerah ekslusif the Hamptons atau Long Island.

“Joko, ini kenalin adek kelas gue waktu masih SMA..”
“Halo, Kristo..” ujarnya singkat sembari memperkenalkan namanya.
“Hi, Joko.. Teman kuliah Elena dulu di DC” saya menjawab

Gayanya fresh sekali Kristo ini. Wajah putih bersih dengan senyum yang menawan.

“Joko, karena kamu yang paling sabar.. Aku minta kamu nanti banyak nemenin si Kristo ini ya.. Maklum sudah sepuluh tahun di London dan baru saja kembali ke tanah air, jadi bahasa Indonesianya harus dilatih kembali ya..” ujar Elena kecentilan dengan gaya socialite muda Jakarta layaknya.

Entah mengapa saya tidak berkeberatan mendapat tugas mulia itu.

Separuh tamu yang diundang itu belum saya kenal. Dan seperti biasa yang saya duga, teman-teman Elena ini tentu saja berasal dari keluarga-keluarga yang berpengaruh di bilantika Ibukota ini (oke, mungkin termasuk saya sendiri juga sih).

Perjalanan ke pulau yang memakan waktu sekitar empat jam ini kami isi dengan canda tawa dan catching up bersama teman-teman yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kristo nampaknya agak bingung mengikuti pembicaraan awal kami karena keterbatasan bahasa-nya, keningnya mengerut setiap kali ia menemukan kalimat yang tidak begitu ia pahami. Selanjutnya kami memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dalam bahasa campur-campur (alias mix Indo-English) agar pembicaraan tetap renyah tetapi tetap dapat diikuti oleh Kristo.

Setengah perjalanan berlalu Kristo kemudian bangkit dan beranjak ke buritan yacht kecil itu. Dengan gugup ia menggenggam pagar pelindung sembari nampak kesulitan bernafas.

“You okay Kris?” saya memutuskan untuk menemaninya setelah beberapa saat memperhatikannya dari area duduk.
“Um, not really, I got sea sick so easily.. Apa itu istilahnya.. Mabuk laut?”
“Oh saya kira kamu ngga bisa berenang sehingga tampangmu pucat ketakutan begitu..”

Ia berusaha tersenyum kecut menahan rasa mualnya.

“Sebentar saya ambilkan obat ya..”
“Okay..”

Kemudian saya menyerahkan obat dan jemari kami bersentuhan sejenak ketika gelas air dingin itu berpindah tangan. Ia tersenyum kecil yang membuat saya blingsatan dengan aura yang ia pancarkan. Damn, apa maksudnya itu?

Untunglah ia tidak sempat muntah karena mabuk laut ketika kami merapat di pulau yang hanya diisi satu bungalow itu. Wajahnya segera berseri karena penderitaannya sudah usai.

Makan siang ayam bakar kecap begitu nikmat sekali disajikan oleh Mbak Yusi diselingi buaian ombak dan musik lounge yang menghiasi ruang santai bungalow itu. Kami memutuskan untuk berleyeh-leyehan selama dua jam dengan bermain kartu sebelum memutuskan untuk berenang di air bening yang berwarna biru cerah itu. Suasana sangat tenang tanpa terganggu suara motorboat dari manapun juga.

Tiba-tiba pandangan saya terpatri pada Kristo yang menghampiri saya dengan hanya mengenakan sebuah celana basket tipis berwarna putih (seperti celana renang remaja Amerika). Aduh, ngaco sudah pikiran saya. Mengapa terlihat sexy sekali dia? Tubuhnya putih bersih dengan keringat yang membuat perutnya yang six-pack itu berkilauan cahaya mentari.

Dan ketika ia melambaikan tangannya ke arah ujung dok dimana saya sedang memancing itu, rokok yang menggantung di ujung bibir saya hampir saja terjatuh. Bebuluan hitam kelam yang lebat terlihat sangat kontras pada tubuhnya yang sangat putih itu. Ah, putingnya yang berwarna merah muda itu seakan siap saya santap sebagai hidangan penutup. (Ya ampun, berilah aku kekuatan untuk bertahan)

Tiba-tiba wajahnya berubah nakal, saya tahu maksud seringai serigalanya itu. Baru saja ketika saya siap untuk berdiri, ia kemudian berlari menghantam punggung saya, mengalungkan kedua lenggannya dari punggung saya dan dengan beban tubuhnya mengayun kami berdua terjun bebas dari dok kayu tersebut.

“Sialan Kristoo!!” aku berteriak terkejut.

Untung saja dompet dan HP-ku sudah aku tinggal di bungalow tadi. Para tamu lainnya ikut berlari ke arah tempat saya memancing tadi dan mereka kini terpingkal-pingkal menyaksikan adegan tadi yang membuat saya kini sudah berada di laut yang tenang itu bersama si imut (tetapi sialan) Kristo.

Tidak berapa lama kemudian saya merasakan seseorang memeluk pinggang saya dan berusaha menenggelamkan saya. Oh, belum selesai rupanya kejutan Kristo tadi? Mau main fisik, oke lah saya balas sekarang.

Beberapa menit berlalu dengan suara kecipak air yang ramai karena kami berusaha saling menenggelamkan satu sama lainnya sampai kami sendiri kehabisan nafas. Tamu-tamu lainnya sudah mulai mengolesi sun-screen pada tubuh “dewa-dewi” mereka sebagai asuransi dari sengatan mentari yang dapat merusak “kecantikan” mereka.

“Look at them..” saya mengarahkan pandangan Kristo
“Katanya mau ke Pulau tapi ga ada yang mau basah, gimana sih?” lanjutku.

Kristo kemudian menghampiriku dan (sekali lagi) memelukku sambil berbisik di telingaku, “Oke bagaimana kalau kita ambush saja mereka dan kita lempar mereka ke air?”

Wajahnya hampir menempel pada wajahku. Hembusan nafasnya yang masih terengah-engah menyeka kulit pipiku. Aku hanya bisa tersenyum saja memandang wajah manis itu.

“Oke, kita sok santai-santai saja berenang ke tangga dok itu..”
“Naik dan kemudian kita kejutkan mereka?” lanjutnya bertanya.

Ketika saya hendak beranjak berenang ke arah dok, pelukannya belum mau ia lepas dari tubuh basahku ini.

“Tunggu.. Sehabis itu we’ll make them..” ia kembali membisiki telingaku.

But wait a minute. Apa itu? Saya merasakan batang zakarnya mulai mengeras pada permukaan paha kiri saya. Apalagi dengan terombang-ambingnya kami pada permukaan air yang menyebabkan tubuh kami harus saling menggesek.

“Oke-oke, buruan dong, sekarang?” saya mulai risih pada kedekatan tubuh kami yang entah mengapa sepertinya sangat menggoda birahiku.
“Oke go!” ia mendorong saya.

Sialan (sekali lagi). Tangan kanannya ternyata sempat menggenggam celana renang saya dari belakang sehingga ketika saya bertolak menjauh. Lepas sudah celana renang Speedo ala cowo-cowo Japonaise yang memang hanya selebar daun kelor itu.

Sumpah, antara malu dan ingin cuek. Saya sekarang tidak mengenakan sehelai benangpun di perairan yang jernih itu!

Kristo segera berenang menjauh sembari melambai-lambaikan Speedo saya sebagai tanda kemenangannya. Hal ini tentu saja dinikmati dengan seksama terutama oleh wanita-wanita sok jaim tersebut. Mereka mulai berdiri di pinggir dok mengamati apa yang akan saya ataupun Kristo lakukan selanjutnya.

“Ok, kalau ini yang ia inginkan. Let it be dah!” Ujar saya dalam hati.

Dengan santai saya meneruskan perjalanan saya hingga ke dok kayu itu. Saya rasakan seluruh tatapan mata menelanjangi tubuh saya (yang memang sudah telanjang itu) yang kini berusaha menaiki tangga tersebut.

Mungkin tubuh saya yang kecoklatan dan boleh dibilang kekar ini terlihat seperti jelmaan putra dewa laut sehingga mata-mata itu terbelalak dan tidak beranjak dari tubuhku.

Dengan santai aku berjalan ke arah mereka. Aku rasakan kepala zakarku yang sebesar buah tomat itu (walaupun masih “tertidur”) mengayun seiring langkahku ke arah mereka. Dan ketika aku sampai pada area mereka berjemur itu, (seperti yang aku harapkan), seluruh pandangan terpusat pada wilayah kelelakian saya.

“Oke, puas?” Tanya saya pada mereka sembari melebarkan kedua lengan seperti si Jack dalam film Titanic.
“Wow, Joko, umm, I didn’t know yours are soo.. Ehm, big” balas Wanda, si empunya Tania yang juga ikut menatap tubuh telanjang saya.
“Aduh, jeng, elo emang ketinggalan zaman. Masak ga pernah denger sih tentang
“Legenda Joko” yang santer seantero Jakarta itu?” timpal Ana, kawan saya yang lain.
“Lho emang kamu udah pernah tidur dengan Joko?” tanya Wanda
“Aduh dasar kuper, Joko ini playboy kelas wahid yang hobinya gonta-ganti pacar model atau pramugari Jeng..”
“Shh.. STOP.. STOP..! Orangnya masih di sini udah digosipin. Dasar ibu-ibu arisan!” teriak saya.

Mereka semua tergelak dengan riuh rendahnya. Perlahan-lahan pandangan para tamu pria mulai beranjak dari tubuh saya dan mereka mulai melanjutkan pembicaraannya masing-masing. Mungkin ada yang menjadi minder setelah menikmati pemandangan indah “size does matter” tadi.

“Dasar sombong kamu Ko.. Nih, pake.. Biar ga masuk angin..” seru Elena sembari melempar selembar sarung ke arah saya.

Tiba-tiba Kristo sudah berdiri dibelakang mereka dan seketika memberi kode kepada saya untuk mulai mendorong tamu-tamu malas itu ke arah air.

“Waa” dok itu menjadi ramai sekali sampai habis mereka kami dorong semua ke laut.
“Sukurin loe pada!!” teriak saya.
“Sorry guys, ini ide dia!” lanjut Kristo berteriak sembari menunjuk ke arahku.
“Enak aja loe!!” saya mencoba mendorong Kristo masuk ke laut lagi.