Saat beberapa bulan menyelesaikan kuliah di Yogyakarta aku mengenalnya dari Rendy anak bapak kostku yang masih sekolah di kelas satu SMP, umurnya waktu itu baru 13 tahun namanya Roby. Rumahnya berdekatan dengan rumah tempat kostku. Bermula dari kebiasaanku beronani atau ngocok, akhirnya aku mengajari dia untuk mengenal seks lebih jauh di usianya yang masih muda.

Pintu kamar biasanya tidak kukunci, suatu hari waktu tidur siang aku terbangun karena suara anak-anak yang ribut depan kamar. Aku bangkit dari tempat tidur dan pintu kamar sudah sedikit terbuka lalu aku tengok keluar ternyata anak laki-laki dari bapak kostku dan temannya sedang sedang bermain-main didepan kamarku, dengan sedikit jengkel kubilang pada mereka supaya jangan berisik lalu pintu kututup kembali dan aku masuk untuk meneruskan tidur siangku.

Rasanya belumlah terlalu lama, aku mendengar suara bisik-bisik dan aku terjaga, kulihat anak-anak itu sudah ada didalam kamarku dengan buku-buku pelajaran sekolahnya. Kulihat mereka sedang membaca buku pelajaran sekolahnya lalu kubilang supaya jangan berisik kalau sedang belajar. Antara setengah terjaga aku merasa anak-anak itu memperhatikan aku yang sedang tidur. Mulanya aku tidak sadar apa yang sedang mereka lakukan. Lalu kuingat-ingat, kalau tidur aku paling tidak suka memakai celana dalam, kebiasaanku dari dirumah jika sejak dari kecil tidak pernah menyukai untuk memakai celana dalam, apa anak-anak itu mengintip kontolku selagi tertidur tadi?

Karena terkadang celana yang kupakai sangat pendek sekali, jadi kalau pada posisi tertentu terkadang jembutku yang lebat mengintip keluar terkadang pula peler atau kepala kontolku. Banyak temanku yang penasaran ingin tahu seberapa lebat jembutku kalau mereka melihat sekujur kakiku yang dipenuhi dengan bulu waktu aku memakai celana pendek, jika begitu aku cuma tersenyum.

Kuraba selangkanganku, ternyata celana yang kupakai tersingkap sampai ke pangkal paha dan kontolku dengan bebas keluar lalu kuturunkan dan aku tertidur lagi. Tidak berapa lama aku rasakan ujung celana pendekku disingkap sampai e pangkal paha, dengan setengah penasaran dan berpura-pura masih tertidur aku rasakan kontolku disentuh oleh jari tangan, lalu jembut kontolku diusap-usap. Rasanya asing waktu itu, tapi karena penasaran kubiarkan lalu kututup mukaku dengan bantal dan kuintip ke arah bawah, ternyata anak-anak itu sedang iseng mengintip kontolku. Setengah penasaran aku merasa ada perasaan enak diusap dan disentuh pada batang kontolku oleh jari anak-anak itu. Sedikit demi sedikit aku terangsang juga, kontolku yang tadinya lemas mulai tegang dan jari anak-anak itu mulai memegang batang kontolku dan diremas-remasnya hingga batang kontol aku tegang sepenuhnya sepanjang 18 cm. Aku pura-pura masih tertidur hingga kudengar ada suara yang memanggil anak-anak itu. Lalu mereka keluar kamar lalu kubetulkan celanaku yang disingkapkan mereka.

Beberapa hari kemudian, sesampai di tempat kost usai pulang kuliah aku ingin beristirahat tidur siang karena semalam aku lembur menyelesaikan tugas. Aku mandi dan ganti pakaian dengan celana pendek dan kaus singlet, lalu aku membereskan kamar yang berantakan.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk dan kubuka ternyata anak bapak kostku dan temannya bilang padaku ingin belajar didalam kamarku. Ku bilang boleh saja yang penting jangan berisik karena aku mau tidur, lalu setelah kamar kubereskan kusuruh mereka masuk kedalam dan aku naik ke tempat tidur. Mereka duduk samping tempat tidur, aku perhatikan mereka mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya. Ada yang menarik waktu itu, aku perhatikan celana pendek anak-anak itu sangat tipis dan lubang kakinya lebar sehingga waktu mereka duduk dilantai aku bisa melihat kontol mereka dari samping mengintip keluar.

Batang kontolnya masih belum disunat dan belum ada rambutnya tapi biji pelirnya sudah terbentuk bulat menggantung. Iseng aku merayap ke sisi tempat tidur lalu kuulurkan tangan meremas-remas batang kontol dan pelir anak itu, dia kaget dan tertawa. Dia bilang kegelian, lalu kulepas pegaganku, mukanya berubah merah, mungkin malu lalu kakinya diselonjorkan sambil membetulkan celananya.

Waktu itu aku jadi tidak bisa tidur, ingin ngisengi anak-anak itu. Roby, temannya waktu itu berbaring dengan kaki dibawah kolong tempat tidur. Aku lihat gundukan kecil batang kontolnya disela selangkangan celananya. Perlahan secara tiba-tiba kupegang batang kontol anak itu dari balik luar celananya dan langsung kukocok-kocokan. Dia kaget, selagi kukocok-kocokan batang kontolnya aku merasakan batang kontolnya cepat menegang. Dia diam saja lalu kutanya “Keenakan ya?”, dia diam saja sambil tersenyum, mukanya memerah dan kemudian tertawa.

Aku bilang “Lihat!”, lalu dia menyingkapkan lubang kaki celananya dan memperlihatkan kontolnya yang masih polos belum ditumbuhi jembut sedang tegak berdiri, warnanya hitam seperti kulitnyapanjangnya kurang lebih 7 cm dan biji pelirnya lebih besar dari pada Rendy anak bapak kost. Aku ingat kejadian beberapa hari lalu dan aku tanya pada mereka, “waktu itu kamu ngintip kontol ku ya?”, mereka tertawa.

Lalu aku bilang pada mereka “Mau lihat lagi?”, anak-anak itu menyahut “Lihat mas!”

Kukeluarkan kontolku dan pelirnya yang masih lemas dan kusingkapkan rambut kontolku yang lebat dari batang kontolku sampai menutupi kedua biji pelirku. Kumainkan batang kontolku dan kukocok-kocok. Setengah tegang aku bilang pada anak-anak “Ada yang mau pegang?” Roby, teman anak bapak kost dengan cepat memegang batang kontolku. Di remas-remasnya dengan keras, aku mengaduh, “Jangan keras-keras!”, mereka tertawa. Aku tanya pada mereka “Sudah tahu ngocok belum?”, mereka jawab tidak tahu.

“Mimpi basah?”, tidak tahu juga. Aku jelaskan tentang mimpi basah kalau waktu bangun tidur di celana mereka rasanya basah tapi bukannya karena ngompol dan soal ngocok, kalau kontol yang tegang di pegang dan dikocok-kocok bisa keluar cairan sperma. Mereka masih belum mengerti dan aku maklum.

Lalu aku turun dan duduk di bawah, diatas lantai, kukocok-kocok perlahan kontolku. Aku bilang “Ini namanya ngocok!” Mereka bertanya lagi “Kalau sperma?”. Aku jawab “Kalau terus dikocok nanti keluar spermanya!”. Mereka tambah penasaran “Lihat mas!”. Aku bilang pada mereka boleh saja asal jangan bilang-bilang pada siapapun dan mereka mengiyakan. Kukocok kontolku sekarang lebih cepat lagi sementara mereka memperhatikannya. Tidak berapa lama rasanya aku mau ejakulasi, kubilang pada mereka untuk mengocok batang kontolku.

Dengan cepat kedua tangan anak itu mengocok batang kontol aku dan rasanya yang paling enak sewaktu tangan itu menyentuh kepala batang kontolku. Mereka mengocok batang kontolku dengan tidak beraturan tapi rasanya nikmat sekali hingga sampai waktunya aku mengulurkan telapak tangan aku ke kepala batang kontolku dan saatnya ejakulasi cairan spermaku yang menyembur keluar banyak sekali mengenai telapak tangan dan tangan anak-anak itu. Kontolku masih dikocok-kocok oleh mereka yang berlumuran sperma menambah rasa geli. Sambil menahan rasa geli dan tertawa kubilang pada meraka untuk berhenti. Aku mengambil kain sarung diatas tempat tidur dan mengusap satu-persatu tangan anak-anak itu sambil menjelaskan pada mereka kalau cairan yang keluar dari batang kontol yang dikocok-kocok itu namanya sperma. Kemudian dengan badan yang terasa lemas aku bilang kalau mau tidur sementara mereka kembali mencari buku-buku yang sudah tergelatak diatas lantai kamar.

Dari pengalaman pertama bersama anak-anak itu masih berlanjut. Satu waktu di sore hari, Roby teman anak bapak kost itu datang pada saat keluarga bapak kostku pergi keluar kota, jadi cuma aku sendiri yang ada di rumah. Dia mengetuk pintu samping dan menanyakan Rendy. Kubuka pintunya sedikit dan kubilang kalau semuanya sedang pergi keluar kota beberapa hari. Cuma

“Ooh…” jawabannya. Kutanya dia masuk kedalam rumah atau tidak. Dia mengiyakan dan bilang “Sebentar sajalah mas!”. Waktu itu aku habis mandi dan cuma melilitkan handuk dipinggang, dia mengikutiku dibelakang. Kubilang padanya untuk menunggu sebentar. Aku masuk ke kamarku untuk mengenakan pakaian, tiba-tiba dia langsung membuka pintu kamarku waktu aku sedang ganti pakaian dengan kaus singlet sementara aku belum memakai celana. Kami sama-sama kaget tapi tak lama, dia melihat ke arah selangkangan aku terus. dia bilang “habis ngocok ya mas?” aku jawab tidak, habis mandi. Aku balik tanya pada anak itu “kamu sudah bisa ngocok?”, dia jawab belum.

“Mau ngocok bareng?”, tanyaku.

“Malu mas, kecil…”, jawabnya.

“Nggak masalah kalau ngocok, kamu ngocok kontolku dan aku ngocok kantol kamu mau?”, lanjutku.

“Jangan bilang siapa-siapa ya mas?” lanjutnya.

“Iya, beres…”, jawabku.

Aku berdiri di depannya setelah pintu kamar kututup. Dia menurunkan celana pendeknya sampai batas lutut dan ternyata kontolnya sudah tegang, tangan kanannya langsung memegang batang kontolku. Ditarik-tariknya kontolku yang masih lemas sementara tanganku meremas-remas kontol dan pelirnya. Kulup di kepala kontolnya kutarik kebelakang hingga terlihat kepala kontolnya yang merah. Bau yang khas tercium di hidungku, lalu kukocok-kocok kulup di kepala batangnya. Kontolnya dengan panjang 7 cm itu kukocok perlahan dengan lima jari lalu kuludahi kontolnya dengan air liurku dan kukocok lagi dengan agak cepat karena sudah licin. Sekarang kontolku sudah tegang sekali, ditarik-tariknya, lalu ku ludahi juga dengan air liurku supaya licin.

Rasanya enak sekali dikocok dengan cara ditarik-tarik oleh tangan anak itu. Kurenggangkan kedua belah kakiku dan menyorongkan pantatku kedepannya dan meraih tangan kiri anak itu untuk meremas-remas kedua belah pantatku. Aku pegang telapak tangannya lalu kuremas-remaskan di pantatku. Jari-jari tangannya meremas-remas pantatku dan sesekali menyentuh lubang anusku, kadang ditarik-tariknya bulu-bulu halus disekitar lubang anus ku. Aku bilang

“Jarinya masukin…”, pelan-pelan jari telunjuknya dimasukan kedalam anusku, rasanya seret lalu kuberi air ludah supaya licin, nikmat sekali waktu jari anak itu keluar masuk lubang anusku…

Tidak berapa lama anak itu mulai mengerang-erang waktu aku mengocok-ngocok kontolnya lebih cepat, tangannya yang tadi meremas-remas pantat aku sekarang merangkul pinggangku dan dipeluknya sehingga kocokan tangannya di batang kontol aku terhenti. Kepalanya mendekap di dada ku. Aku merasa anak ini akan mulai ejakulasi. Celananya dilepaskan sampai dikaki lalu direnggangkannya kakinya sambil memundurkan pantatnya hingga tanganku lebih leluasa mengocoknya.

Dengan tiba-tiba kulepas kocokan tanganku lalu aku jongkok dan mengulum kontolnya. Dia kaget sambil mengerang perlahan ketika aku sedot kontolnya yang 7 cm itu dengan mulut aku dan hanya berselang beberapa detik kontolnya mulai mengeluarkan sperma didalam mulutku, tegang sekali tubuhnya waktu itu dapat aku rasakan dari kedua belah tanganku yang memegangi pantatnya. Aku sedot kuat-kuat batang kontolnya didalam mulutku dan kedua tangannya meremas-remas dengan kuat kepala dan rambut aku agar tertekan lebih dalam lagi.

Setelah agak lama aku lepas batang kontolnya, aku berdiri dan meludahkan spermanya dari mulutku ke telapak tangan lalu kuoleskan di batang kontolku dan kukocok lagi kontolku yang hampir ejakulasi. Aku peluk dia dan dia memeluk aku dengan erat sementara kontol yang aku kocok aku tempelkan dikontolnya yang sudah lemas dan tak lama batang kontolku menyemburkan keluar sperma yang banyak sekali tepat mengenai kontolnya. Masih sambil berpelukan aku mengusap-usapkan cairan spermaku di kontolnya, pantat, dan lubang luar anusnya. Dia memeluk pinggangku dengan erat sambil kepalanya diusap-usapkan di dadaku…

Beberapa kali jika ada kesempatan, aku mengajak dia untuk mengulangi lagi. Rasanya hubunganku dengan Roby seperti antara kakak dan adik jika dilihat dari umur dan fisik kami. Selagi ada waktu luang aku sering mengajak dia keluar untuk jalan-jalan dengan sepeda motorku, makan atau nonton dan didalamnya kami berdua punya kesenangan tersendiri yang sama tanpa sepengetahuan orang lain.

Kurang lebih selama enam bulan kami berteman “khusus”, meski jarang melakukannya tapi sehari sebelum aku meninggalkan Yogya setelah lulus kuliah untuk kembali di Jakarta dia menangis memelukku. Dia bilang kalau aku sudah seperti kakaknya sendiri karena sikapku yang selalu melindungi dan memperhatikan dia. Aku minta maaf padanya jika selama “berteman” aku pernah mengecewakannya.

Dan saat itu seolah aku yang merasa kecewa karena akan meninggalkannya ketika dia bercerita tentang kakaknya yang seumur denganku. Dia bilang jika selama ini dirumahnya sejak kecil tidur satu kamar dengan kakaknya dan hampir tiap malam sebelum dia mengenal seks sering melihat kakaknya dan temannya ngocok setiap akan tidur tapi karena kakaknya galak dia tidak berani bertanya tapi mendapatkan jawabannya dariku…