Namaku Adiet umur 18 belas tahun, ini pengalamanku sebagai murid SMU kelas 2. Aku menyukai salah satu temanku yang sangat tampan dan manis, namanya Arifin, aku sama sekali tidak berani berterus terang bahwa aku menyukainya, dan setelah kejadian gila sebulan yang lalu ketika kami memperkosa salah satu teman kami, dia sahabat terdekatku, George. Aku merasakan sedikit sakit hati melihat Arifin begitu menikmati menjamahi wajah George dengan ciuman dan jilatannya itu. Sampai kini aku masih berharap bahwa aku akan menyampaikan perasaan sukaku padanya.

Pada saat bel pelajaran dimulai, aku melihat Arifin melintas hendak masuk ke kelasnya, dia sejenak melirik ke dalam kelasku dan tersenyum padaku dan George yang duduk di sebelahku. Kami pun membalas senyumannya. Guru pun datang memasuki kelas kami. Selama pelajaran aku tidak bisa berpikir jernih, aku ingin sekali meminta pendapat apa aku harus lakukan sebaiknya, aku berpikir tidak mungkin aku meminta pendapat pada George meskipun dia sahabat terdekatku, karena aku tidak bisa menceritakan alasannya karena ini berhubungan dengan kejadian malam diperkemahan ketika kami telah menjamah dia dengan paksa, itu akan membangkitkan kenangan yang buruk bagi George. Aku berpikir aku akan meminta pendapat pada Rifandi, mungkin dia bisa memberikan anjuran yang baik padaku.

Pada saat bel istirahat berbunyi, aku langsung bergegas berdiri, George menarik tanganku geh kemana Dit? Mo ke kantin? Bareng yuk.h, dengan cepat tanggap aku menjawab geh nggak aku mau ke WC dulu, kamu duluan aja, nanti aku nyusul.h, gOk deh.h George tersenyum lalu dia keluar kelas dahulu dan berjalan menuju kantin, aku pun bergegas menuju kelas Rifandi. Sialnya aku bertemu dengan Arifin yang baru keluar dari kelasnya, dia menyapaku gEh dit! Mo kemana loe? Ke kantin yuk!!h Arifin mengajakku, aku pun kebingungan geh.. aku..akucaku mau ke WC duluch, Arifin terlihat kebingungan gcWC kan arahnya berlawananch Arifin menatapku dengan aneh, aku panik gcehcitucanucaku mau minta obat sakit perut dulu di klinik sekolahch, ganeh loe, mustinya kamu ke WC dulu kalo dah sakit gitu terus ke klinik bawa obat, daripada nahan-nahan sakit gituc ya udah gue tunggu di kantin ya.h Arifin pun berlalu, kemudian aku tiba di kelas Rifandi, ternyata Rifandi sudah tidak ada di kelas, aku bertanya pada teman sekelasnya yang sedang berkumpul di meja sambil bergosip dan tertawa-tawa geh sorry ganggu, liat Rifandi gak?h aku bertanya, salah seorang cewe menjawab gdia dah keluar dari tadi.h, ggue kira dia barengan ma loe, biasanya dia ke kebun belakang sekolah kan bareng-bareng ma loe?h kata salah seorang cewe yang memakai kacamata, aku pun berpikir sepertinya aku tidak pernah ke kebun belakang sekolah bersama dia, itu kan daerah yang sepi gc ya udah, thanks ya!h aku pun segera pergi dan gerombolan cewe itu kembali bergosip.

Setiba di taman belakang sekolah, aku mencari Rifandi, disana sangat sepi sekali karena agak jauh dari tempat-tempat murid berada. Aku tidak melihat sosok Rifandi disana, aku pun diam tak bergeming, aku berpikir untuk kembali lagi, esrek..f tiba-tiba aku mendengar bunyi dari balik semak-semak, aku berpikir, mungkin Rifandi memang ada disini. Pelan-pelan aku mendekati semak-semak, kemudian aku mengintip, ternyata Rifandi memang ada disana dia sedang sendirian duduk bersandar di pohon kecil. Aku sedikit terkejut, ternyata Rifandi sedang melakukan onani! Celana seragam sekolah dan celana dalamnya dia pelorotkan setengah kakinya, dia sedang asyiknya mengocok kontolnya yang sudah menegang sambil mencubit-cubit dadanya sendiri, aku pun terdiam tidak bisa bergeming melihat Rifandi ber-onani. ghah…hahchahch aku bisa mendengar desah nafsu Rifandi dengan jelas karena disana sangat sepi sekali, aku menelan ludahku melihat Rifandi begitu bergairah, dan kemudian aku tersadar begitu aku merasakan kontolku juga sudah mengeras. Perlahan-lahan aku meninggalkan semak belukar itu dan meninggalkan Rifandi yang sedang melakukan fantasy sex-nya itu. Aku meninggalkan taman belakang sekolah dengan perasaan bingung, aku berpikir tidak mungkin aku bisa meminta pendapat pada Rifandi yang suka ber-fantasy sex itu. Bisa-bisa nanti aku disuruh bermain fantasy sex seperti dia juga. Aku pun duduk termenung di depan lapangan sekolah, kemudian tak lama seseorang menepuk bahuku, aku menengok ke belakang. Sosok tubuh yang tinggi berkulit sawo matang dan agak kurus, seorang yang mempunyai mata yang dalam dan sangat tajam, ber-alis tebal, hidung mancung dan berbibir agak tipis dan seksi. Ternyata dia si orang Arab yang tampan itu, Sharif. geh ngapain loe disini sendirian? Ditunggu-tunggu di kantin dari tadi.h Kata Sharif, aku menghela nafas panjang gcah nggakch jawabku singkat. Sharif pun duduk disebelahku gnapa sich? Kayanya loe bingung gitu.h, gmasa sich? Ga ada apa-apa kok.h, gah loe ngibul ya, ngaku aja, gue tau lagi loe lagi bingung. Mikirin masalah apa sich?h Tanya Sharif, aku pun terdiam sejenak gcmasalahnya rumit Rif.. ceritanya panjang lagich, gya udah, ga apa-apa, certain aja, tapi ga sekarang lho, waktu kita mepet nich, tar siang loe ke rumah gue aja ya? Kali aja gue bisa Bantu loe.h Kata Sharif sambil mengusap-usap punggungku memberi semangat, gok deh Rif, tar siang aku ke rumah kamuch akhirnya aku sedikit menghela nafas lega karena masih ada Sharif yang mungkin bisa menolongku.

Siang hari setelah aku pulang ke rumah, aku pergi mandi sebentar dan setelah berganti pakaian aku makan sedikit cemilan yang ada di meja makan, kemudian aku bertemu dengan Viena adik perempuanku, gmo kemana kak?h dia bertanya karena aku sudah memakai baju rapi. gmo ke rumah Sharif, bilangin mama aku mungkin pulang agak maleman, mo maen dulu.h Kataku, gsip, bawa oleh-oleh ya!h seru Viena, gok aku bawain buah kurma dari Arab ya, hehe.h Viena pun cemberut mendengarnya. Setiba di rumah Sharif, Sharif sendiri yang membukakan pintu, dia terlihat cuek sekali, hanya memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek, dia tersenyum lalu mempersilahkan aku masuk, rumah Sharif besar sekali karena keluarga Sharif adalah keluarga yang cukup terpandang dan kaya, dan aroma ciri khas bau rumah Sharif sangat berbeda sekali, itu mungkin karena ibunya Sharif senang membuat wangi-wangian dari buah dan bunga yang dikeringkan, sejenak aku merasakan perasaan yang sangat enak sekali mencium bau yang harum itu, gngobrolnya di kamarku aja yuk, biar gak ke ganggu ama salesman yang suka pada dateng siang-siang begini.h, kami pun masuk kedalam dan menaiki tangga, aku sama sekali tidak melihat ada siapa-siapa dirumahnya dan sangat sunyi sekali, gRif.. kok sepi, pada kemana?h, gpada nginep kerumah nenek, besok baru pulang, gue sich ga ikut, males. Pembantu lagi pada sakit lagi, ach bodo, sehari ini Cuma aku doank kok ga perlu apa-apa yang musti dikerjain pembantu, masak kan gue sendiri bisa.h Kata Sharif menuju ke arah kamarnya, aku hanya diam tidak berkomentar melihat sekeliling yang terlihat sangat sepi, Sharif dan aku masuk ke dalam kamarnya.

Kamar Sharif pun terlihat sangat rapi dan bersih, kemudian Sharif duduk di kursi meja computernya, dan aku pun duduk di atas kasurnya Sharif, sejenak aku melihat sesuatu di atas kasur Sharif, aku melihatnya kembali untuk memastikannya, ternyata aku melihat celana dalam Sharif yang besar sekali tergeletak di atas kasur, kuperhatikan di celana dalamnya terdapat beberapa helai bulu keriting dan panjang menempel begitu saja. gEh! Sorry gue lupa naro sembarangan.h Sharif pun memungut celana dalamnya dan melemparkannya begitu saja kedalam kamar mandi. Dia tersenyum malu-malu, lalu tiba-tiba bel pintu berbunyi gaduh sapa sich?h Sharif berjalan menuju teras kamar dia dan melihat kebawah, Sharif pun berbicara pada orang yang dibawah gWoi mas!! Mau ketemu siapa?…..Hah!?…..oh nggak-nggak, lagi pada ga ada di rumah!… nggak-nggak!.. gue lagi belajar nich, sorry ga bisa diganggu!..h kemudian Sharif kembali dan menutup pintu kaca teras kamar dia dan menguncinya, gsiapa?h tanyaku, gbiasa salesman, kalo pada liat rumah gede pasti mereka pada iseng nyoba-nyoba nawarin barang mereka.h Sharif kembali duduk di kursinya. gOk, certain masalah loe.h, aku menarik nafas panjang dan menceritakan semuanya pada Sharif panjang lebar . Sharif termenung melihat pada diriku gcmenurut gue, mendingan loe bicara terus-terang dech ma Arifin.h, gMauku emang begitu Rif, tapi aku ragu-ragu, aku takut, aku masih ga bisa ngelupain kelakuan Arifin pada George waktu itu, aku jadi agak trauma takut tidak dipedulikan oleh dia.h Dadaku serasa sesak dan rasanya ingin meledak-ledak, rasanya aku ingin sekali menangis. Sharif hanya terdiam saja, kemudian dia mendekati dan duduk disebelahku gudah deh, jangan sedih, kamu musti PeDe dong Dit, bicara aja ama Arifin, gue yakin loe bisa.h, aku sudah tidak bisa menahan lagi, aku menangis di depan Sharif g..tapi aku takut..h, Sharif pun memegang pundakku dan berusaha menenangkan diriku gudah jangan takut, gue yakin Arifin bisa ngerti elo. Udah jangan nangis.h Sharif memeluk diriku sangat erat berusaha menenangkan aku. Lama kemudian kami berdiam tak bicara, dan aku pun sudah bisa menghentikan tangisku, Sharif melepaskan pelukannya, dia memandangku, lalu dengan mata yang masih berair aku pun memandang dia, kami saling berpandangan, aku menatap mata Sharif yang tajam dan dalam itu. Sharif pun menghapus air mataku yang mengalir di pipiku dengan tangannya, kemudian perlahan dia mendekatkan wajahnya dan menciumku, aku merasa nyaman ketika dia menciumku, lama sekali dia menciumku kemudian dia melepas ciumannya dan kembali menatap mataku dalam jarak dekat, karena dia bertubuh tinggi dari aku, dia menatapku kebawah dan aku pun harus sedikit mendongkakkan wajahku untuk menatap dia.

Aku mencium nafas Sharif yang sangat wangi dari mulutnya, ghahchahc..hahc.h nafasnya terdengar sangat berat dan lembut, setiap dia mengembuskan nafasnya aku menghirupnya, rasanya sungguh nyaman sekali, begitu meresapi kepalaku dan dapat menghilangkan rasa sedihku, aku pun terhipnotis oleh nafasnya itu. Dan akhirnya aku mendorongkan wajahku dan mencium dia kembali, bau aroma nafas Sharif bercampur aduk masuk kedalam mulutku dan aku pun semakin tergoda dengan aromanya. Aku dapat merasakan Sharif mengulum lidahku dan air liurnya berkumpul dan tumpah pada mulutku, aku segera mengambil air liur itu dengan lidahku dan menelannya, rasanya sungguh bergairah sekali ketika menelan air liur dia dan hawa nafsuku pun langsung menjulang tinggi, aku mendorong Sharif ke atas kasur dan menindih tubuhnya sambil ciuman kami masih berlangsung, meskipun Sharif gelisah agak sulit bernafas karena aku tidak memberi dia kesempatan untuk menarik nafas g..nnnghc.nnnnghc.h Sharif berusaha memalingkan mukanya sebentar untuk mengambil nafas tapi aku tetap terus menciumi dan mengulum bibir Sharif, dengan paksa Sharif sedikit mendorong tubuhku dan dia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya agak sedikit lega, hembusan nafas Sharif sangat besar dan aku pun tetap mengirup nafasnya itu, Sharif menatapku dari bawah, aku pun menatap dia dengan mulutku yang terbuka, kemudian air liurku pun mengalir dengan deras membasahi wajah Sharif, Sharif sedikit terkejut ketika wajahnya terkena air liurku, dia menutup mata secara reflek. Aku pun semakin tidak bisa mengontrol diriku, aku menjilati wajah Sharif yang tampan itu seperti dulu Arifin menjilati wajah George, aku menjilati semua air liurku yang tertumpah pada wajah Sharif. Sharif hanya diam bernafas dengan berat karena dia merasa geli dan terangsang dengan jilatanku pada wajahnya. Aku menjelajahi wajah Sharif dengan lidahku, aku sedikit mengigit-gigit pipi dan bibir Sharif. Kemudian aku pun menarik baju oblong Sharif dan melepaskannya, Sharif terlihat sangat pasrah, aku pun turun meremas-remas tubuh Sharif dan mencium-cium tubuh Sharif, kujilati putingnya yang terdapat beberapa helai bulu menempel, kuelus-elus dadanya yang mulus itu, begitu kucium dadanya, aku mencium wangi tubuh Sharif yang sungguh enak sekali. Kemudian aku baru menyadari, bahwa sejak tadi pahaku bergesekan dengan kontolnya Sharif yang sudah mengeras.

Aku pun teringat kembali ketika waktu perkemahan dulu, aku melihat kontol Sharif yang sungguh besar dan membuat semua orang bergairah, kini aku dapat menyentuhnya! Aku mulai turun dan mataku tertuju pada celana pendek Sharif, karena Sharif memakai celana karet, dengan mudah dan perlahan aku membukanya, desah nafasku agak tersendat-sendat karena aku agak gugup dan ingin menikmati munculnya kejantanan Sharif dengan perlahan, begitu bulu keriting bermunculan, jantungku semakin berdegub kencang, turun pada bijinya yang tiga kali lebih besar dari bijiku. Sampai akhirnya kini aku dapat melihat kontol Sharif yang 25cm dan sangat besar sekali itu di hadapanku, aku pun terpaku lemas, dan sedikit gemetaran, rasa nafsu dan takut bercampur aduk tak karuan, aku pun menyentuh kontolnya yang hangat itu, dan menghirup baunya yang sama wanginya dengan tubuh Sharif, dengan rasa canggung dan gugup, aku mulai menjilat dan mengulumnya, gaaah..aaaahch kudengar Sharif mendesah lemah, suaranya yang lemah dan agak serak itu membuat telingaku geli, rasanya aku ingin kembali mencium bibirnya tetapi aku tidak ingin lepas dari kontolnya itu. Aku tidak bisa mengulumnya semakin dalam karena kontol Sharif terlalu besar dan panjang, mulutku serasa semakin melebar tidak karuan karena kontolnya terlalu tebal. Sharif menggengam erat seprei kasurnya karena merasa agak geli. Lama-lama dia mulai berkeringat dan aku pun dapat mencium bau keringatnya itu dan terasa sangat jantan sekali.

gaah, aah, aah, AAAH!!h Sharif berteriak kesakitan, aku pun teringat kejadian perkemahan dulu ketika George pun bereaksi sama eSrrt!f kontol Sharif menembakan spermanya kedalam tenggorokanku, tetapi aku tidak tersedak seperti dulu lagi, aku menyimpannya terus sampai Sharif mengeluarkannya beberapa kali, aku mengumpulkan sperma Sharif di dalam mulutku, kemudian aku pun naik ke atas tubuh Sharif kembali dan melihat wajah Sharif yang berkeringat dan terengah-engah, aku pun menyerang bibir Sharif dan menciumnya sampai semua Sperma Sharif, air liurku dan air liur dia bercampur aduk. Sharif merasa agak mual karena dia menelan sperma dia sendiri dan agak tersiksa, kini aku menjadi cowo yang paling jorok sekali jika dibandingkan apa yang dilakukan dengan teman-temanku dan Sharif pada George dulu. gAahcaaaahch Sharif melepaskan diri dari ciumanku dan kulihat mulutnya sudah tidak karuan karena penuh dengan sperma kental miliknya sendiri, kemudian dia menutup mulutnya dan menelan ludahnya, gUhuk! Uhuk!!h ternyata mulut Sharif terlalu penuh dengan spermanya sendiri, oleh karena itu dia tidak bisa meneguk semuanya langsung, dia terbatuk-batuk dan spermanya pun bersemburan dan berceceran di kasur. Dia kembali menelan ludah dan akhirnya dia bisa menelan semua sisa spermanya yang di mulutnya dia itu.

Tapi dia masih tetap terbatuk-batuk, aku pun mendekap dia dan mengelus-ngelus rambutnya sampai dia berhenti dari batuknya. Nafasnya tersengal-sengal, aku pun menikmati desah suara nafasnya itu, terdengar sangat merdu sekali di gendang telingaku. Sharif menggenggam lenganku, kemudian dia menahanku dan kini dia menindih badanku dengan badan dia, meskipun dia agak kurus tapi dia berat sekali sampai aku tidak bisa bergerak, aku melihat wajahnya yang agak memerah, dengan nafas tersengal-sengal keringatnya menetes di wajahku. Dia menciumiku, aku begitu bernafsu ketika Sharif menciumiku, aku pun dapat merasakan celana dalamku sudah basah karena aku mengeluarkan air maniku karena saking menikmatinya. Sharif melepaskan tangan kiriku, kemudian tangan kanannya menyentuh celana ku, dengan sebelah tangan dia membuka kancing dan resleting celanaku, aku merasa sangat gugup dan takut, aku melepaskan ciumanku dan berusaha menahan tangan Sharif untuk tidak melorotkan celanaku, Sharif pun mulai memaksa, dia menepis tanganku dan berusaha melorotkan kembali celanaku, aku kembali menahannya, dengan sangat nafsunya Sharif menggenggam kedua tanganku ke atas kepalaku dan dia menggenggam kedua tanganku yang lebih kecil dari tangan dia dengan hanya sebelah tangan saja, aku tidak berdaya.

Sharif melorotkan celanaku dan celana dalamku, aku panik dan ketakutan karena aku teringat George yang dulu kesakitan dan berdarah karena di sodomi oleh Sharif. gSharif jangan! aku takut!h suaraku bergetar pelan karena ketakutan, gShhhch Sharif menyuruhku untuk diam tetapi aku semakin ketakutan. Sharif mulai menaikan satu kakiku pada pundak dia, perlahan-lahan dia memasukan kontolnya pada pantatku, aku merasakan pantatku seperti di masuki benda aneh yang sangat panas, kulihat wajah Sharif yang dekat denganku dengan ekspresi agak menahan, gcnnncNnnnnnngh!!!..

h Sharif mendorong kontolnya penuh memasuki pantatku, gaaa! AAAAAH!!h aku mengerang kesakitan, rasanya pantatku seperti merobek dengan lebar, gaaah, aaah. Sharif sakitch aku memelas pada Sharif. Sharif hanya diam dan bernafas berat di dekat hidungku , Sharif menarik kontolnya, aku menahan rasa perih ketika Sharif menariknya dengan pelan-pelan, aku merasa agak lega karena Sharif mengampuni aku. Tetapi tiba-tiba cengkraman Sharif semakin kuat, mukanya memerah kemudian dia mendorong kontolnya lagi sekaligus dengan cepat, gAAAAH!! Sharif!! Udah!! SAKIIIT!!!h aku memohon dan menangis karena rasanya sungguh sakit sekali. Tetapi Sharif sungguh bernafsu sekali, nafasnya terdengar lebih berat lagi dan keringatnya menetes-netes di wajahku, dia mulai mendorong mundur maju kontolnya, aku sudah mengeluh kesakitan padanya dan menutup mataku gaaaduh!! Udaaaah!! Sakiiiiiit!! Sharif!! Shariiiiiiif!!!

h Sharif tidak memperdulikan kata-kataku dia terus melampiaskan nafsunya, karena aku terus-terusan mengeluh, lalu dia mengulum bibirku dengan nafsunya sampai aku tidak bisa berteriak lagi. Setiap dorongan, Sharif mendengus sangat keras dan nafasnya memanasi wajahku sampai wajahku berkeringat, aku mulai merasa agak tenang dan menahan sakit karena aku menghirup nafasnya yang wangi itu. Lama-lama aku merasakan kenikmatan di seling rasa sakitnya itu, tetapi tetap saja rasa sakit yang luar biasa itu melebihi dari rasa kenikmatannya itu. Aku tetap mengerang kesakitan, tanpa sadar aku terus memanggil nama Sharif berulang-ulang karena rasa sakitnya itu. Tentu saja Sharif semakin bersemangat karena aku terus memanggil namanya itu. Lama kemudian, gerakan Sharif melambat, aku akhirnya membuka mataku dan melihat ekspresi wajah Sharif.

Sharif terlihat kesakitan gaahcaaaaah!…AAAAAAAAH!!h tiba-tiba aku merasakan kontol Sharif berguncang-guncang dan rasanya semakin membesar, rasa sakit yang dashyat pun mulai kembali gaduh, aduh, aduh!! Aah..AAH!!..h aku kesakitan, tiba-tiba tangan Sharif membungkam mulutku, gNGGGGGGHHHH!! NNNGGGGGHHH!!haku pun menjerit dalam bungkaman tangan Sharif karena kesakitan karena guncangannya semakin dashyat dan terus membengkak, rasanya ada sesuatu yang panas menyembur dalam pantatku dan masuk kedalam sekitar perutku gAAAAAAAAAH!!! AAAAAAAAAAAAH!!! AAAAAAAAAAH!!!h Sharif berteriak lebih keras lagi seiring spermanya muncrat keluar dari kontolnya di dalam pantatku gAAAH! AAAH!! AAAH! AAAAAH!! PERIH!! PERIIIH!!!! AAAAAAAH!! AAAAAAH!!!

h Sharif berteriak keras sekali, wajahnya benar-benar merah seperti terbakar, tangannya gemetaran, keringat bercucuran dimana-mana. Aku melihat air liur dan air mata Sharif mengalir karena menahan sakit. Rasanya aku melemas mendengar teriakan Sharif lebih keras meskipun aku merasakan sakit yang luar biasa sekali. Meskipun Sharif perkasa dan kuat, tapi dia tetap seorang pemuda 18 tahun yang hanya baru sekali melakukan sex sebelumnya hanya dengan George, ini yang kedua kalinya bagi dia dan dia hanya tahu merasakan enaknya tetapi tidak tahan dengan rasa sakit dan perihnya pada saat orgasmenya memuncak. Diseling rasa sakitku, aku menangis melihat wajah Sharif yang begitu tersiksa.

gaaahcaahc.haahchaaah..haaahch teriakan Sharif pun mereda, tetapi nafasnya masih tersengal-sengal, dia membuka matanya, matanya terlihat berair dan jernih sekali, aku pun merasakan sesuatu yang cukup aku risaukan ketika aku melihat matanya, sepertinya aku merasa menyukai Sharif!! tangan Sharif masih gemetaran, dia menghapus air mataku, kemudian dia menarik tubuhku dan menyenderkan pada senderan kasurnya. Perlahan Sharif menarik kontolnya dari pantatku, aku menyaksikan sesuatu yang sangat mengerikan, aku melihat kontol Sharif dan pantatku bersimbah sperma dan darah. Meskpiun aku merasakan agak perih karena lecet-lecet, tetapi aku merasa sedikit agak puas dan lega karena akhirnya selesai juga. Sharif terduduk lemas, jantungku berdegub kencang sekali, sekarang Sharif sungguh terlihat sangat jantan dan tampan sekali dihadapanku, pikiranku terhadap Arifin sudah agak buyar karenanya. Sharif pun mendekati aku gmasih sakit?h, aku menganggukan kepalaku, gmaaf yach Sharif meminta maaf padaku, kini wajahnya terlihat sangat imut sekali ketika dia berekspresi menyesalnya, aku pun memegang wajahnya dan senyum kepadanya gtidak apa-apa.. kau sudah melakukannya.. ini pertama kalinya untukku… aku ingin kamu melakukannya lagi kapan-kapan..h Aku pun menciumnya lalu memeluknya, geh?h Sharif sedikit merasa bingung.

Jam 9 malam aku pun pulang ke rumah, dengan rasa sakit di pantat aku berusaha berjalan pelan-pelan dan agak mengangkang, tiba-tiba Viena melihatku dari belakang gkak? Kenapa jalannya begitu? Aha, pasti kakak bisulan yach? HAHAHA!!h Viena pun berlalu. Sialan, gara-gara Sharif aku jadi susah berjalan, tujuannya mau curhat malah dijadikan tempat pendaratan pesawat birahi diac tapic Sekarang aku lega.. karena aku menjadi menyukai Sharif meskipun tadi aku disakiti olehnyac tetapi bagaimana dengan Arifin? Rasa cintaku masih tertinggal padanya..