My First Experience (bagian 2) By : Tommy

Sambil merangkulku dia membuka pintu kamarku, membaringkanku di ranjang dan kembali untuk menutup dan mengunci pintu. Aku hanya tergeletak pasrah saat dia melucuti bajuku sambil terus menciumiku, kali ini daun telingaku yang menjadi sasarannya, dilumatnya dengan pelan sambil lidahnya menari-nari berusaha masuk ke dalam telingaku, tahu-tahu bajuku sudah lepas tanpa aku sadari, kali ini giliran putingku yang menjadi sasarannya, dia kelomoti sambil melakukan gigitan kecil disana-sini, aku yang baru pertama kali mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa mengerang dan melengkungkan badanku ke atas, menyambutnya, tangannya yang kasar terasa berusaha untuk membuka kancing celanaku. “ Dik Tommy, kamu mulus sekali, putih banget, mas suka…..” Celanaku diperosotkannya beserta celana dalamku dengan sekali sentak, untuk itu dia harus melepaskan gigitannya di putingku, dan sebagai gantinya pusarku yang jadi sasaran lumatannya. Aku tersentak menggeliat saat wajahnya yang bekas cukuran merambati perutku, batangku yang tegang diraihnya dalam genggamannya “ Hm….gede juga lho….ganteng kayak yang punya “ Aku mengharap dia melumatnya juga, tapi ternyata dia bangkit, sambil berlutut dia memandangiku, ganteng, gagah dan jantan sekali…… Sambil tersenyum dia membuka resleting celananya dan sekaligus melepaskannya Dibalik kerimbunan jembutnya yang super lebat melebar sampai kepahanya, tersembul senjata pamungkasnya yang tegak berdiri menantang… Aku terkejut sekali, panjangnya mencapai pusarnya, dan diameternya hampir 2 kali diameter milikku, gemuk berurat besar, hampir sebesar pergelangan tanganku. “ Gimana ?” katanya “ Mas….” Aku hanya bisa berdesah sambil tetap terpaku menatap pusakanya, antara takjub dan ngeri Dia tersenyum melihat ekspresiku, sepertinya dia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu dari orang2 yang pernah melihatnya. Sambil berjalan diatas lututnya dia mendekat kearahku, tangannya dilingkarkannya di bawah leherku dan kepalaku diangkatnya kearah kemaluannya, sambil memangku kepalaku disodorkannya batangnya kearahku, kepala kemaluannya berwarna merah kecoklatan dan besar sekali, karena masih terpaku megamatinya, dengan tak sabar disodorkannya hingga menyentuh bibirku…. “Hisap…” katanya berbisik Kupegang batangnya, telapak tanganku penuh, batangnya terasa panas dan ber-denyut2, baunya yang khas lelaki amat sangat kusukai, kumasukkan batangnya kemulutku, aku harus menganga selebar2nya untuk bisa memasukkan kepalanya tanpa mengenai gigiku, baru pertama ini aku merasakan batang seorang laki2 benar2 memasuki mulutku, selama ini hanya membayangkan saja seperti di film2 yang sering aku tonton, setelah masuk setengahnya dan itupun sudah terasa sangat penuh di rongga mulutku, aku mulai menghisapnya, sensasinya sungguh luar biasa, aku menikmatinya, sementara mas Tono mengerang panjang “ Yach…..ssssshhhhh…..enakkkkkkh …dik Tommy….” Dia berbaring rebah telentang diranjangku, sementara tanpa melepaskan hisapanku aku jadi ikutan rebah menindih tubuhnya, kedua tangannya diangkatnya sebagai bantal, sehingga menampakkan rambut2 diketiaknya yang sangat lebat dan tumbuh memanjang, rupanya dia nggak pernah mencukur rambut ketiaknya, melihatnya tumbuh riap2an dan basah oleh keringatnya, aku jadi ingin melumatnya juga, kulepaskan hisapanku, keciumi bulu2 disekitar pusarnya, terus kedadanya dan akhirnya kebenamkan wajahku dikerimbunan rambut diketiaknya, kuhirup napas dalam2, keringatnya berbau tapi bukan bau yang tidak sedap, justru bau yang jelas2 memancarkan aura kelaki-lakiannya, mas Tono menggeliat kegelian sewaktu kujilati rambut2 ketiaknya sehingga makin basah saja. “ Geli..Tom…kamu lebih pintar dari istriku lho….aaakh…..sssshhhh……sssshhhhh……! kepalaku diraihnya oleh lengan satunya, didekapnya dan diciumnya kepalaku, lidahnya mencari-cari dan sekali lagi dilumatnya bibirku dengan beringas dan sedikit kasar yang justru menambah gairahku. Setelah puas melumat bibirku, kali ini dia yang mengambil alih kendali, dibalikkannya badanku, kini dia diatasku, dilumatnya leherku, putingku, terus menurun keperutku, kali ini tanpa segan2 diraihnya batangku yang telah mengeras dan dimasukkannya ke mulutnya, dengan lidahnya dijalarinya batangku membuatku mengerang sejadi-jadinya, badanku meliuk dan meronta, tapi dengan badannya ditekannya badanku sehingga terjepit erat dibawahnya, tangannya ditekannya pada tanganku yang terangkat keatas kepala sehingga aku tak bisa bergerak meronta lagi, dilanjutkannya lumatannya yang kali ini aku hanya bisa mengerang dan menggelinjang tanpa mampu berbuat banyak, tubuhku seakan dijalari aliran listrik dari ujung kaki sampai kepala dan akhirnya tanpa mampu kutahan lagi….batangku berdenyut-denyut dengan keras dan Srr…..srrrrr…..ssrrrrr…ssrrrr…..aku memuncaratkan air maniku tanpa henti2nya kedalam mulutnya, belum pernah aku mengeluarkan air mani sebanyak itu kalau sedang onani, sejenak aku seperti melayang tanpa merasakan apa2 lagi, tanpa memperdulikanku dengan beringas mas Tono menyedot semua air maniku sampai tetes terakhir, baru dilepaskannya setelah aku meronta-ronta karena terasa ngilu sekali dibagian kepala penisku yang terus dijilatinya. Akhirnya dia bangkit berlutut sambil mengusap bibirnya, sambil tersenyum dia memandangiku, batangnya masih tegak kokoh berdiri dengan pongahnya dikerimbunan rambut2 kemaluannya. Aku hanya memandangnya pasrah ketika dia mengambil body lotion dari meja disamping tempat tidurku, dilumurkannya banyak2 disekujur batangnya dan juga disekitar lubang kemaluanku, setelah dirasanya cukup, ditariknya badanku kearahnya, kedua kakiku diangkat dan diletakkannya diatas kedua pundaknya, sambil tetap berlutut disentuhkannya kepala kemaluannya yang seperti jamur itu ke lubang pantatku, terasa sesuatu mencoba menyeruak masuk, sepertinya dia agak kesulitan sehingga dia mencari possisi yang lebih enak, tahu tahu “AAAAkkkhhhhhhh………” aku merasa kesakitan sekali sehingga aku berontak, lubangku terasa nyeri yang amat sangat tak tertanggungkan sehingga air mataku mengalir tanpa aku sadari, kepala kemaluannya lepas dari lubangku karena rontaanku tadi, aku bergelung miring merasakan nyeri yang tak terkira, kudekap kedua lututku kearah dadaku untuk meredam rasa sakit tersebut, terasa badanku dipeluk oleh mas Tono dari belakang, diciuminya tengkukku sambil dibelainya pinggulku “ Sakit ya dik ?” “ Sakit sekali mas…..nyeri sekali….aku nggak kuat.. “ “ Sorry mungkin aku tadi terlalu memaksanya…..kita coba lagi ya ? kali ini mas pelan-pelan aja….” “ Jangan mas… masih sakit sekali….mungkin nggak muat mas, punya mas terlalu besar…, sekarangpun pasti udah luka mas karena nyeri sekali…” “ Emang pertama agak sakit dik, nggak luka kok, mas coba lagi pelan2 ya ?, ntar kalau udah masuk semua, sakitnya pasti hilang, ntar tinggal enaknya, percaya mas deh “ Aku diam saja. ,memang rasa nyeri mulai berangsur angsur hilang Tanpa merubah posisi tubuhku aku merasakan sesuatu yang dingin diusapkan kelubangku, rupanya mas Tono menambahkan body lotion lagi, dan tak lama batang mas Tono terasa mencoba menyeruak masuk lagi dari belakang, aku menggigit bibir bawahku untuk mencegahku berteriak ketika rasa nyeri mendera lagi sekujur tubuhku, aku mulai meronta saat tangan mas Tono terjulur dari belakang dan memeluk dadaku, aku berhenti meronta kupeluk lengannya erat2 ketika terasa kepala kemaluan mas Tono sedikit demi sedikit mulai masuk membelah tubuhku, dengan menambah tenaganya mas Tono menekan sedikit lebih keras sehingga batangnya mulai memasuki tubuhku, ternyata mas Tono benar, rasa sakitnya sedikit berkurang setelah kepalanya berhasil masuk seluruhnya, dan ada sensasi lain yang mengalahkan rasa sakit tersebut, batangku kembali menegang setegang-tegangnya yang rupanya juga dirasakan oleh mas Tono sehingga salah satu tangannya menjulur kebawah untuk meremas-remas batangku, sementara kepalanya dibenamkan ditengkukku dan diciuminya, sambil berbisik mengerang “ Aduh…..enak sekali dik….benar2 masih perawan….sempit sekali…..! Dengan sekali sentak didorongkannya badannya dalam2 sehingga aku merasa rambut kemaluannya yang kasar menyentuh pantatku. Sejenak didiamkannya dan kemudian mulai ditariknya pelan2, aku kembali merasakan sensasi yang tak terlukiskan saat merasa batangnya menelusuri bagian dalam tubuhku, seakan tak rela kehilangan sensasi itu, dengan mengerang aku memundurkan pantatku sehingga batang mas Tono kembali menyeruak memasukiku, mas Tono mengerang dan kali ini dengan batangnya tetap tertancap ditubuhku, diturunkannya lututku dan dibalikkannya badanku sehingga tertelungkup ditindih oleh seluruh berat tubuh mas Tono, posisi ini membuat batang mas Tono lebih terasa mengganjal didalamku dan mungkin juga membuatnya lebih menjepitnya sehingga mas Tono kembali mengerang. Ditariknya sedikit batangnya, dibenamkannya lagi dalam2, dan terus menerus dilakukannya dengan ritme yang semakin cepat dan menghentak dan akhirnya dengan menggeram keras dia memeluk tubuhku erat sekali, tulangku terasa remuk redam dan terasa denyutan2 keras dianusku, air mani mas Tono menyembur didalam tubuhku, terasa hangat….., tanpa kusadari sekali lagi aku mengalami ejakulasi, pada saat yang sama batangku juga menyemburkan cairan hangat yang terasa tak habis-habisnya dan membasahi sprei tempat tidurku. Aku merasa bahagia sekali dapat memuaskan mas Tono saat dia membalikkan badanku, memelukku erat2 dan menciumiku.

Kami masih sempat melakukannya beberapa kali lagi selama beberapa hari mas Tono menyelesaikan pekerjaan mengecatnya di rumahku, dan alangkah kecewanya diriku saat tahun berikutnya aku menemukan orang lain yang mengecat rumahku, yang jauh dibawah standar seleraku, waktu aku tanya pada mama kenapa tidak memakai jasa mas Tono lagi, beliau mengatakan bahwa mas Tono sudah bekerja sebagai TKI di Malaysia. Aku kangen ama kamu mas Tonoku…..kapan bisa ketemu lagi ?