My First Experience (bagian 1) By : Tommy

Para pembaca motnes, aku menjadi pembaca setia motnes dan sering tidak sabar jika menunggu lama untuk masuknya cerita2 baru, jadi aku memutuskan untuk ikut mencoba menyumbangkan sebagian pengalamanku dan mungkin nantinya juga cerita fiksiku dengan harapan teman2 yang saat ini juga sebagai pembaca setia namun pasif ikutan andil menyumbangkan pengalamannya sehingga situs ini menjadi aktif.

Namaku Tommy (samaran donk!), body biasa2 aja, sedikit kurus malah, kulit putih, banyak teman2ku yang bilang aku ini ganteng, walaupun menurutku sich biasa2 aja. Entah sejak kapan, tapi dari remaja orientasi sexku mengarah ke sesama jenis, terutama ke pria yang berwajah maskulin dan banyak bulunya, kalau aku betemu denagn seseorang yang berwajah maskulin, memiliki garis wajah yang tegas dengan bulu2 dipipi yang membiru bekas cukuran, jantungku langsung berdetak kencang dan mulai berimaginasi yang macam2. Tapi hanya sebatas itu saja, paling paling sampai di rumah beronani sambil membayangkan wajah orang tersebut. Sampai suatu ketika…….

Waktu itu aku masih SMP kelas 3, saat pulang sekolah, kudapati rumahku kosong, hanya ada pembantu dan seorang pekerja bangunan yang sedang mengecat tembok, aku tanya ke bibi, rupanya seperti biasa orangtuaku sibuk dengan urusan masing2. Setelah makan siang, nggak ada acara iseng2 aku mendekati dan mengajak ngobrol pekerja tersebut, namanya Tono, usianya sekitar 30 tahunan (setelah ngobrol ternyata 28), dari jarak dekat baru aku sadar ternyata walaupun pekerja bangunan, si Tono ini ternyata ganteng juga, garis wajahnya tegas, jantan, dengan alis tebal dan hidung yang mancung, dan yang paling mendebarkan ternyata ada bekas2 cukuran yang membiru bahkan sampai lehernya, yang baru terlihat dari jarak dekat begini, entah karena tadi memang tidak mengamati karena memang aku cuman memandangnya sekilas atau karena tertutup oleh bayang2 topinya.

Aku jadi berniat lama2 mengajaknya ngobrol, tanya ini itu, sekedar bisa menikmati wajah dan postur tubuhnya lebih lama, ternyata dia sudah beristri dan mempunyai seorang anak, sambil ngobrol aku pandangi sekujur tubuhnya, dia mengenakan kaos oblong dan celana pendek dari bahan jeans yang ujung2nya dibuat belel, dari balik kaos oblongnya yang agak basah oleh keringat, tercetak sesosok tubuh yang liat dan jantan, lengannya kokoh penuh dengan bulu2 halus yang lumayan lebat tapi tidak kentara kalau dipandang dari jauh, mungkin karena tersamar kulitnya yang agak gelap, pahanya juga rata ditumbuhi bulu2 lebat panjang terus sampai ke tungkai kakinya yang membuat detak jantungku makin berdebar tak beraturan.

Ternyata Tono ini orangnya ramah juga, karena dia menjawab semua pertanyaanku dengan sabar, bahkan balas tanya2 juga tentang aku, sekolahku dll, tak terasa sambil menemaninya bekerja, kita ngobrol hampir sejam-an, dan mulai akrab. Tak lama kemudian, dia meletakkan roll catnya dan meraih sebungkus rokok, “ Ngaso dulu sebentar “ katanya, setelah menyalakan rokoknya, dia menghampiri secangkir kopi yang sudah disediakan bibi di meja. Setelah menghirup kopinya, dia duduk bersandar di pilar teras kamar yang mengahadap kebun belakang, dengan santai dia mengangkat ujung kaos oblongnya untuk melap wajahnya yang basah keringat. Alamak !!! saat itu terlihat bagian perutnya yang ternyata ditumbuhi bulu yang sangat lebat melebar disekitar pusarnya bahkan hampir memenuhi selebar perutnya, karena basah oleh keringat maka terlihat acak2an dan liar menghilang dibalik celana jeans bututnya, karena dia sedikit membungkuk maka hanya bagian perutnya yang tersingkap, tapi melihat bulu2 di perutnya yang selebat itu, aku berani bertaruh pasti dadanya dipenuhi dengan bulu juga. Sayang hanya sekejap, kembali perutnya tertutup kaos setelah dia selesai melap keringat di wajahnya, “ Panas….” katanya berkomentar, mungkin karena meliat reaksiku yang terpana memandanginya. Aku cuman bisa menelan ludah, “ Bulunya banyak ya pak Tono ?” “ he..he..iya…jangan panggil pak ah, tua banget, panggil mas aja, emangnya dik Tommy nggak punya bulu ya ?, masih kecil sich ! umur berapa sich ?” “ Lima belas” “ Baru juga lima belas, ntar kalau udah gedean pasti banyak juga bulunya, emangnya pingin punya bulu banyak ?” “ Iya, mas umur berapa sich mulai tumbuh bulu2nya ?” ” Umur berapa ya…., lupa, tapi kayaknya seumuran kamu udah mulai banyak bulunya, turunan kali !” “ Orang tua mas Tono banyak bulunya ? “ “ Bapak sich nggak, mungkin dari kakek kali, kakek saya khan ada campuran Arabnya, jadi banyak bulunya” “ Oh pantes…omong2 bener nggak sich mas kalau orang Arab selain banyak bulunya, itunya juga gede ?” “ He..he.he..ada2 aja sich kamu ini ?” “ Bener nggak ?” “ Nggak tahu lah, iya kali” “ Lha, punya mas Tono sendiri ?” “ ya lumayan lah “ Pembicaraan terhenti, aku kehabisan kata2 mau nanya apalagi, mau ngomoing to the point pingin liat, ya saat itu jelas nggak punya nyali, takut dianya marah. Sesaat hanya ada keheningan, dia memandangiku sambil menghisap rokoknya dalam2 dan bersandar di pilar teras. Tahu2 dia melepaskan sandarannya, sambil tetap duduk kali ini dia malah melepaskan kaosnya untuk melap sekali lagi wajahnya, dan benar dugaanku, seluruh dadanya tertutup oleh semak belukar kehitaman bahkan putingnya hampir tidak kelihatan saking lebatnya Tak terasa dudukku yang juga bersandar di pilar satunya yang bersebrangan dengan tempatnya duduk menjadi tidak nyaman karena terganjal oleh batangku yang mengeras sekeras-kerasnya sehingga menekan perutku. Merasa diperhatikan, dan mungkin mau pamer, setelah mengelap wajahnya dia tidak lagi memakai kaosnya tapi diletakkan begitu saja dilantai, dia kembali bersandar santai dipilar sambil menghisap rokoknya dan tetap mengawasiku. “ Udah punya pacar ? “ kali ini dia yang mulai memecah keheningan “ Belum…..” “ Kenapa ?” “ Ya nggak kenapa kenapa “ “ Nyari donk !” Aku diam aja “ Udah pernah gituan ?” “ Belum…” mungkin wajahku memerah karena dia mendadak tertawa “ Kalau mas Tono…..sering ?” ” La iyalah orang udah punya istri, ya tiap hari” “Tiap hari ?” “ Tiap hari….kalau nggak tiap hari kepala bisa pusing” “ Emangnya bisa gitu ?” “Maksudnya ?” “ Emang kalau nggak tiap hari gituan bisa pusing ?” Ha..ha..ha..dia tertawa, mungkin geli ngliat aku yang waktu itu memang bloon. “ Kalau sering dipakai bisa gede..” katanya sambil tersenyum memandangiku. “ Iya ?” “ Gak percaya ?, punyamu pasti kecil ya ?, belum pernah dipake sich , udah banyak bulunya ?” “ Gak begitu sich “ “ Gak begitu apa ? gak begitu kecil apa gak begitu banyak bulunya ?” “ Dua-duanya…” hi..hi..hi..aku jadi ikutan geli mengikuti pembicaraan yang menjurus dan sepotong-potong begitu. “ Tapi dua duanya pasti kalah deh ama mas Tono” kataku melanjutkan “ Kok yakin…? Emangnya udah tahu punyaku ?” “ Ya belum…kapan tahunya ?…ngebayangin aja…..khan katanya mas Tono ada turunan arabnya !” ” He..he..pinter juga kamu….pingin liat punyaku? “ Beneran nich ?” “ Boleh….asal ada upahnya !” ” Wah…kok pakai upah segala sich ?….lagi bokek nich !” “ Emang siapa yang mau minta duit ?” ” Katanya minta upah…..?” Mendadak dia bangkit berdiri dan mendekat kearahku, setelah melihat kanan kiri dan yakin bibi nggak ada disekitar kita, dia mendekatkan kepalanya ke telingaku sambil berbisik ” Upahnya asal kamu mau aku gituin !” Walaupun belum pernah melakukan tapi aku pernah sekali dua nonton blue film dan ngerti yang diminta dia pasti lobang pantatku Jantungku semakin berdebar debar antara pingin dan takut (pingin ngliat barangnya, takut sakit kalau digituin) “ Aku belum pernah….pasti sakit sekali ya ? aku hisap aja ya ?” “ Emang pernah…? Ngisep…? “ “ Nggak, tapi khan sering nonton blue film “ “ Nggak jijik ?” “ Nggak, aku pingin nyoba, mas pernah diisep nggak ?” “ Ha..ha..ya tiap hari dik, itu mah hobbynya istriku , tapi diisep ama cowok sich belum pernah“ “ Mau coba ?” “ Ha..ha..nantang nich…boleh….boleh…itung2 buat variasi, tapi setelah itu aku pakai kamu ya ? kalau cuman diisep kurang afdol, sakitnya cuman sebentar kok …setelah itu enak, percaya deh…istriku aja dulu juga begitu, pertama katanya ngeri setelah itu minta tiap hari….kamu punya body lotion ? kalau ama body lotion nggak sakit..” Melihat aku yang terdiam, dia memegang tanganku dan membimbingnya untuk menyentuh dadanya yang lebat berbulu, bulu kudukku merinding, dengan tetap memandangiku dia mengarahkan tanganku untuk mengelus perutnya, kebulu-bulu lebat disekitar pusarnya “ Gimana ? “ katanya, “ Mumpung aku lagi pingin lho, aku juga belum pernah ama cowok, tapi karena aku liat kamu manis, putih dan mulus apalagi masih perawan, mas jadi pingin, ayo …kamu kasih buat mas ya….kalau udah ngrasain punya mas kamu pasti ketagihan deh !” Sambil tetap memegang tanganku, kali ini tanganku dibimbingnya untuk menelusuri hutan belukar di bawah pusarnya yang menghilang dibalik celana pendeknya, dengan tangan lainnya dia membuka kancing celana pendeknya dan membuka separo resletingnya, sepertinya dia tidak memakai celana dalam karena yang telihat adalah rambut kemaluannya yang super lebat dan menyeruak keluar, tanganku dibimbingnya untuk masuk kecelananya, karena masih separo tertutup reslting hanya ujung jariku yang bisa masuk, dan aku menyentuh sesuatu yang hangat berdenyut-denyut keras….. Saat itu mendadak aku jadi lemas seakan tulang belulangku lepas….aku hampir merosot kalau dia tidak dengan sigap merangkulku, aku bersandar pada dadanya yang hitam sambil menengadah melihatnya….. Kulihat kepalanya semakin dekat dan tiba2 bibirku sudah dilumatnya, ludahnya terasa manis, bulu2 yang kasar dan tajam menusuk dagu dan leherku ketika dia menurunkan ciumannya keleherku, perasanku melayang entah kemana ketika dia menggigit leherku, aku hanya bisa melenguh dan mengerang. Sambil tetap memelukku dia berbisik ketelingaku : “Ayo, kekamarmu !, yang mana ? ” Aku hanya menunjuk arah kekamarku tanpa mampu berkata apa2

(Bersambung)