Latest Entries »

Pesta Malam Minggu

blackstud21@hotmail.com

Saat itu aku diajak oleh temanku Angga ke Disko. Aku memang baru sekali hingga aku kaget saat melihat pasangan cowok-cewek saling berpelukan dalam cahaya temaram ditengah hingar-bingarnya musik rock and roll. Kami cuma minum softdrink saja. Malam makin larut dan akhirnya pasangan yang melantai makin berkurang.

“Pulang Ngga?” tanyaku.
“Ntar. Tunggu dikit lagi. Ada acara istimewa yang oke nih.” katanya.
Aku menunggu, dan tanpa kusadari saat itu yang ada cuma cowok semua, dan memenuhi meja yang ada. Dan muncullah para pelayan yang semuanya cowok bertelanjang dada dan hanya mamakai CD yang tampak seksi. Ada yang tampak pinggulnya utuh dengan tali kecil di tengahnya, dan ada yang tertutup pinggulnya. Mereka melayani pesanan sambil menebarkan senyum manisnya. Semua muda-muda dan berotot. Ada yang rambutnya tergerai dan ada yang cepak seperti ABRI, ada yang putih, kuning dan kehitaman. Kulihat beberapa tamu memberikan tips sambil mendapat imbalan kecup dari para pelayan.

“Wuih, gila..” dalam hatiku.
Batang kemaluanku mulai mengeras.
“Ngga, kok gini?” tanyaku.
“Kau mau yang mana, Tom?” tanya Angga.
“Yang gondrong itu aja.” kataku karena aku terangsang sama pinggulnya yang bulat menonjol dan terbuka bebas. Angga memilih yang putih bersih. Rupanya dia memilih yang batangnya gede.

Setelah melayaniku, ia memberikan secarik kertas kecil bertuliskan nomor 13.
“Ini nomor apa Ngga?” tanyaku.
“Nomor ruang pribadinya. Ke sana saja. Pokoknya beres lah. Aku kamar 22,” katanya.
Kuikuti dia, naik ke lantai 2, dan ia hilang dibalik pintu. Kuketuk 2 kali. Tampak ia berdiri membukakan pintu dengan senyum lebarnya. Aku diajaknya ke ruang duduknya yang nyaman. Dibukanya kancing bajuku yang paling atas, lalu diambilnya softdrink. Kupandangi saja sambil menunggu apa yang akan terjadi. Diputarnya instrumentalia yang lembut diiringi suara desahan yang merangsang birahi. Dan kini dia mulai menari meliuk-liuk di hadapanku. Kupandangi tubuhnya yang berotot namun bisa meliuk dengan seksinya. Sesekali ia mendekat membelai wajahku, dan meremas rambutku. Aku tak kuasa menahan birahiku yang memuncak. Kadang didekatkannya dadaku dan dibiarkannya lidahku memainkannya dan gigiku menggigitnya pelan. Ia mendesah nikmat, tangannya mulai nakal meraba batangku yang sudah mulai mengeras. Makin lama gerakannya makin panas, dan ia lalu menari sambil bergerak-gerak di lantai yang berkarpet tebal.

Akhirnya dengan nakalnya ia mengambil posisi doggy dan menepuk-nepuk pinggulnya yang bulat berkali-kali. Kuberanikan diri menghampirinya. Kudekatkan wajahku untuk mulai menciuminya. Ia mengerang sambil menoleh ke belakang, menggoda. Kusibakkan tali CD yang kecil di belahan pinggulnya, hingga aku dapat melihat lubang nikmatnya yang mengkerut indah. Kujulurkan lidahku kearahnya dan kusentuhkan ditepi lubangnya. Ia melengos sambil menggoda dan menjauh 2 langkah di depanku.

“Permainan gila,” pikirku.
“Akan kulayani dia.”
Tampak dia menikmati belaian lidahku di lubangnya sambil terus mengerang-erang. Aku memang paling suka menikmati lubang kenikmatan pria berlama-lama. Mungkin karena lelah ia menjatuhkan tubuhnya ke karpet sambil terus menaikkan pinggul indahnya untukku. Kini pakaianku kubuka pelan-pelan, dan tak terasa dengan cepatnya aku sudah bugil. Ia menoleh padaku menggoda.”Please..” itu saja kata yang keluar dari mulutnya selain desahan nikmatnya. Kumasukkan jari telunjukku dan kukeluar-masukkan pelahan.Ia mendesah terus sambil sesekali menoleh ke belakang. Satu tangannya menarik satu pinggulnya untuk memudahkanku menikmatinya. Aku berdiri ke arah lemari es dan kukeluarkan sebotol madu raja. Kutuangkan di sekitar pinggulnya dan belahan pinggulnya, lalu kujilati dengan nikmatnya pelahan. Sensasi itu menyebabkan ia makin mendesah keras. Kuturunkan CD-nya, hingga aku bebas memasukkan lagi telunjukku. Ia mengangsurkan lotion (KY) padaku. Lalu kumasukkan dua jariku ke lubangnya. Aku tak mau lebih.

“Fuck me, please..” itulah kata keduanya.
Kini kuangkat sedikit pinggulnya untuk memudahkanku memasuki tubuhnya. Ia menurut dengan pasrahnya. Dan kini bazokaku yang 17,5 cm dengan warnanya yang kehitaman berurat siap menyerang. Kugeser-geserkan dulu di sekitar lubangnya. Ia menggerakkan pinggulnya, berusaha mencari glans-ku dengan tak sabar. Aku menggodanya dengan tetap menghindari penetrasi.

“Please, please, fuck me..”
Setelah aku puas melihatnya menantiku, mulailah penetrasiku. Ternyata sulit ditembus, rupanya dibalasnya aku dengan mengencangkannya. Aku tak patah akal. Kucium lembut bibirnya dan kulumat beberapa menit sampai aku yakin bahwa ia lengah. Dan dengan tiba-tiba kutusukkan bazokaku di lubangnya dengan keras sampai terbenam seluruhnya. Ia teriak keras kesakitan dan kaget dengan suara seperti kerbau disembelih. Pasti ia tak menyangka serangan bazokaku yang mendadak.

“Sakit..? Atau kucabut saja?” tanyaku.
Ia menggeleng dan berkata, “Please, do it..”
Dengan keras kutusukkan kejantananku berkali -kali dan kulihat ia mengeluarkan air mata disudut matanya. Kuciumi ia dengan lembutnya sambil kuhentakkan dengan keras terus-menerus. Memang, aku paling suka main keras dan puas saat melihat pasanganku merintih, walaupun cara romantis aku pun suka juga.

Setelah beberapa menit berlalu, kubalikkan tubuhnya sehingga aku dapat memandanginya. Ia menoleh ke kanan-kiri berkali-kali sambil menarik-narik rambutnya yang panjang dan basah oleh keringatnya. Aku makin gila dibuatnya. Tetap tusukan kerasku berlanjut lalu kuganti posisinya, kuangkat tungkainya di bahuku dan kusetubuhi dia sambil posisi miring. Sensasinya beda dan makin nikmat. Ia mengerang terus dan bergerak-gerak nikmat.

Beberapa menit berlalu, kubopong tubuhnya yang sudah pasrah dan kupindahkan ke atas meja kayu di ruangan itu. Kusetubuhi lagi tetap dengan keras dan terus mengerang-erang dia. Kubalikkan sampai ia menghadap meja, dan kunaikkan satu kakinya ke atas meja. Kusetubuhi lagi tetap dengan ritme ‘rock n roll‘.

“More, more.. please..” itulah kata ketiga yang keluar dari bibirnya yang ditumbuhi kumis tipis dan janggut yang tercukur pendek. Dan terakhir setelah kurasakan hampir mencapai puncak, maka kubalikkan tubuhnya dan kuminta ia memelukku dan aku menyangga tubuhnya dengan kedua tanganku sambil terus batanganku menusuk-nusuk lubangnya dengan ganasnya. Tubuhnya kuangkat dan berayun-ayun dengan gerakan yang berlawanan menyambut seranganku. Akhirnya dengan teriakan keras kukeluarkan spermaku di dalam lubang surganya. “Akhh..” Lalu kupeluk tubuhnya yang mana keringat kami bercampur dengan derasnya. Dan baru kusadari bahwa di perut dan dadaku spermanya membasahi dengan banyaknya. Aku tak pedulikan itu. Lalu kubopong tubuhnya yang basah ke sofa. Aku keluar dari lubangnya, masih setengah lemas dan duduk dekat kakinya. Lelah tapi puas.

“Mas, silahkan ambil minum sendiri ya. Maaf ini tugas saya, tapi rasanya saya tak mampu berjalan sementara waktu. Lubang saya perih dan lemas kaki saya rasanya.” bisiknya mesra.
Aku jadi kasihan. Memang selama ini aku bisa bermain lama dengan pasanganku dan kuberikan semua yang kupunya secara totalitas. Kuambil softdrink dua buah dan kami minum bareng.

“Maaf, saya menyakiti dirimu,” kataku.
Ia menggeleng, “Tapi nikmat kok, Mas..”
“Mau lagi?” tanyaku, “Saya masih kuat lho..”
“Sebenarnya mau, Mas. tapi waktunya habis. Mau tutup.” katanya singkat.
“Kapan kemari lagi, Mas?” tanyanya kembali.
“Entahlah,” kataku.

Segera aku mandi dan kutinggal dirinya masih tergolek di sofa berselimut tebal dengan bau sperma tersebar di ruangan itu.
“Lho Ngga, udah rampung?” tanyaku melihatnya duduk menunggu.
“Gila, lu! Udah hampir tutup nih. Kalau masih kurang lama, kerjain aku saja.” katanya memancing. Kami pulang bersama dan sesampainya di rumahnya, giliran Angga sobatku mengerang-erang kenikmatan merasakan serangan senjataku yang bergerak kasar dan keras. Untung tidak ada orang lain di rumah itu, karena pembantunya yang tua selalu pulang bila malam hari.

“Gila, lu! Abis gua!” kata Angga.
Aku tersenyum menanggapi tingkah genitnya.
“Baru tahu dia!” kataku dalam hati sambil kuisap rokok kesayanganku dalam-dalam sementara kepalanya tergeletak di pangkuanku.
“Terima kasih Ngga, met tidur, ya.” kataku pelan.
Ternyata ia sudah tertidur.

Anda akan berkomentar? Please e-mail me!

TAMAT

Hai nama gue rizky gue duduk di kelas 1 smp gue punya dua orang temen yandi sama didit yang juga sama2 duduk di kelas 1smp.

Ok kita mulai…..

Waktu itu hari senin,gue mau main ke rumahyandi bareng didit .Berhubung yandi orang kaya jadi dia punya kolam renag…,itulah tujuan gue mau main kerumah yandi..,yandi seorang ank yang bertubuh mungil ,…tapi jangan salah…walau tubuhnya mungil dia punya badan yang mulussssssssssss banget apalagi pahanya wuuuiiihhhh kontol gue sampe ngaceng kalo ngeliat dia lagi ganti baju…,kalo didit…dia punya badan yang lumayan tapi pantatnya gede.

Akhirnya kami sampai dirumah yandi…,tapi kami ngga mau lansung berenag tapi kami ngobrol2 dulu.Akhirnya udah cukup lama gue bilang”Eh…berenang yok….”,”ayo…ayo…”kata didit dengan semangat.

Akhirnya kami berganti pakaian ,…didit yang udah bawa crlana renang langsung ganti di deket kolam renang…, sedangkan gue yang lupa bawa celana renang,gue minta pinjem yandi aja…”yan…gue pinjem celana renang dong….”kata gue dengan nada manja…sambil ngerangkul yandi ,”emangnya elo nggak bawa ..??”tanya yandi,”ngga..”gue bilnga…,”ya udah yuk ganti baju dikamar gue c.renagnya juga ada di kamar gue….!!”

Ya udah gue ikutin aja dia sampe di kamarnya dia .”nih….”katanya si yandi.Seperti gue bilang pas dia buka baju kontol gue langsung jadi ngaceng….,wuuiiiihhhhh badanya yang mulus dadanya yang keren yang bikin gue nggak tahan woooooo pentil tetenya yandi yang berwarna coklat muda…..,ya uadah pas yandi mau buka celananya gue stopin aja “tunggu yan….,lo mau gue bantuin ngga..???”,”oh iya..iya…”kata yandi ya udah gue buka aja celanaya wuihhhhhh pahanya yang mulus….pantanya yang walaupun mungil bersihnya bukan main….pokoknya mulus dehhhhhhhhh,ya udah diam2 gue raba raba aja pahanya yang mulus… terusss terussss sampe ke bag.pantat ,yandi nggak ngerasa apa apa..ya udah terus gue masukin tangan gue ke celana kolornya….wwuuuuiiihhhh pantatnya halusnya bukan main…….terus ternyata yandi ngerasain gue raba raba pantatnya dia…..”ngapain sih lo..?”,nggak ngapa2in kok..”jawab gue..,gue tanya lagi..”yan…kolor lo juga gue bukain yah…”,”emmm….iya deh…”kata dia tanpa pikir panjang lagi gue plorotin aja celana dalemnya…wwwaaaahhhhhh kontolnya yandi yang bergantung di depan gue trlihat indahhhhhh sekaliiiiiiii walu belum ngaceng kontol yandi lumayan gede juga ..,kontolnya bersih kulitnya mulus ,halusssssssss sekali…….nggak ada jumbut sehelai pun di kontol yandi ya udah makin gede aja kontol gue yang ngaceng…./”udah yan…sekarang gantian dong…..”,”ok..,ok…”kata yandi…,dengan cepat die ngel;epas semua pakaian gue sampe tinggal koloran doand akhirnya dia ngeliat kontol gue yang uadah super ngacenggg

“Wah…gila lo….kontol kok ngaceng sih……??”,”udah buka deh…!!”kata gue ,ya udah dia ngeplorotin celana gue…”ahhhhhgila lo riz…..kontol ngacengnya gede banggggggeeeeettttt….jembut lo kok juga lebat sih…!!!” karna nafsu gue udah membra,berapi-api tanpa bicara gue anggkat dia langsung gue cium bibirnya…wuihhhh bibir yandi terasa lembuttt sekali di bibir gue hangatnya bibir yandi …,yandi yang tadinya meronta pun sekarang mejadi mulai menik matinya….”Emmmmmmm…”cuma itu yang terdengar dai mulut kami berdua ..,kontol yandi yang nggak berbulu beradu sama kontol gue yang lebat bulunya akhirnya gue remas2 pantatnya dia yandi juga mula meremas pantat gue…,akhirnya gue nggak menciumi bibir yandi lagi gue mulai menjilati lehernya akhirnya gue sampai di dadanya gue isep2 pentil tete yandi yang berwarna coklat muda itu “uuuhhhh…yaaaahhh…”begitukah yandi melenguh…akhirnya gue sampai di bagian yang paling sensitif kontol yandi nggak di sangka kontol yandi gede juga kalo ngaceng 100%.. ya udah gue jilatin aja kontol yandi “eeemmmmm…..sllluuurrrpppp”itulah yang terdengar dari mulut gue”uhh…terrrruuuuussss rrrriiiz ahhhhhh…”lenguhan yandi terus terdengar….tapi gue nggak ngepeduliin yandi kontol nya gue ise makin kenceng ..,gue kocok kontolnya yandi”ahhhh….ahhh..uhhh…”yandi terus terusan mengerang …”rrriiiizzzz…ggguue penggennn ngerasssaiinn konnnttoolll looo…”ya udah akhir nya kami barganti ke posisi 69 kami tiduran di tempat tidur”Ahhhhh…terruss yannn..” kata gue yandi terus2an ngisep kontol gue…kontol gue dikocok terusssss….”udah ah yan guuue bossan nihhh”,”ya udah…kita ngentotan aja yuk…”…ya udah gue langsung nggangguk yang memulai gue…yandi tiduran di tempat tidur gue di samping tempat tidur yaudah gue buka aja lobang pantatnya gue jilatin dulu supaya bisa masuk akhirnya gue masukin kontol gue ke lobang pantat yandi .

“Arggggghhhhhh…sakit…”teriak yandi “tahhhhaaann yaannnn…uhhh…” ya udah gue entotin aja si yandi teruss,terusss gue beri sodokan maksimal”arggghh terrrussss….nnniiikkmmaaattt…” teriak yandi “gggannntiannn donggggg….!!”ya udah akhirnya gue cabut kontol gue dari lobang pantatnya yandi…..kami melakukanya dengan posisi seperti tadi yandipun menjilati lobang pantat gue akhirnya dia masukan kontolnya ke dalam lobang pantat gue yandi mulai ngentotin gue “agggghhhh tttrrruuuss yan…ukhhh”yandi ngentitin gue sambil ngocok kontol gue dengan tangan kananya “yaaannnn…gue mo keluarrrrr nih…”kata gue.”gue jugaaaaa…..” akhirnya yandi mencabut kontolnya dari lobang pantat gue dan kami ke pos.69 kami saling ngocok kontol satu sama lain……NNNNCCCCCRRRROOOOTTTTTTTTTTT………keluarlah peju kami secara bersamaan peju yandi teerasa nikmat di mulut gue dan juga teras hangat di tengguorokan gue pas gue telen ,peju gue pun di telen sama yandi, nikmat banget kontol gue yang basah karna air peju dijilat dan dimainin sama yandi pake lidahnya…akhirnya kami berciuman dan tertidur pulas sambil bugil dengan posisi berpelukan…,kami masih sering melakukanya sampai sekarang …..!!!???@@##$4

ya udah yah sampai disitu aja dah…dah….

Oh iya kelupaan nggak taunya didit lagiasik ngocok kontolnya sendiri di pinggir kolam renang

Hunting Pria Muda Di Mall

Hari pertama workshop tentang Perpajakan ini, membuatku kurang semangat. Maklum, baru sampai di Jakarta sudah dijejali dengan angka angka yang membuat kepalaku semakin penuh. Padahal, aku ke Jakarta juga ingin sedikit relaks setelah berhari hari berkutat dengan angka angka di kantorku. Untunglah, jam akhirnya menunjukkan jam 17.15 pertanda workshop hari pertama akan segera disudahi.

Bergegas aku memberekan makalah dan map workshopku untuk kembali ke kamar hotel.
Ada jatah makan malam di hotel, namun itu tak cukup menarik perhatianku. Segera aku mandi dan bersiap diri untuk keluar mencari udara segar suasana Jakarta.

Malam itu aku sengaja menuju ke Mall Atrium yang lokasinya tepat di samping hotelku. Lalu aku naik ke Gunung Agung. Bergaya lihat-lihat buku buku, namun sebenarnya tujuanku untuk cuci mata melihat pria pria muda SMU ataupun mahasiswa yang mencari buku. Memang aku dengar Mall ini ramai dengan gay-nya. Muda, tua, SMU, hitam, bule dan lain-lainnya. Namun, aku masih belum menemukan atau melihat pria gay tersebut. Segera aku pasang insting dan gaydarku.
“Hati-hati di Atrium”, begitu wanti-wanti teman priaku di Malang saat bercerita tentang Mall yang menjadi salah satu tempat mangkal pria gay Jakarta ini

“Mereka suka jebak kita untuk uang”, tambah dia.

Capai nonton buku sambil curi curi pandang, namun tak kunjung mendapatkan sosok yang menjadi incaranku, aku kebelet kencing. Segera aku menuju ke toilet mall. Duh, sesak benar toilet di sini. Orang-orang kencing berjejer. Segera aku ambil posisi di depan urinoir yang kosong, lalu kubuka resletingku dan segera aku pipis. Saat itu ada orang, ah, anak SMU kayaknya. Dia tanpa sungkan ngelongok aku kencing. Ah, baru kusadari kalau rupanya di sini mereka ber-operasi.

“Gede banget, Oom”, dia buka bicara.
“Kamu juga,” jawabku sekenanya.

Saat aku keluar toilet dia barengi aku. Akhirnya kami ngobrol di sepanjang lorong. Anak ini nampaknya agresif banget dan kalau ngomong ceplas-ceplos saja.

Dia ngajak aku naik ke lantai parkir di atas gedung mall. Antara ragu dan penasaran, akhirnya aku ikuti. Aku pengin tahu apa maksudnya mengajakku. Di atas gedung, mayoritas lampu kuning temaram seperti terang bulan. Nampak logo dan neon sign hotelku, hotel Aston di arah samping mall ini. Lalu dia mengajak aku ke pojok dinding di bawah papan reklame besar.

Dia bilang bahwa dia nggak minta uang. Bahkan malah mengajak aku makan sesudah dia dapatkan apa yang diinginkannya. Dia bilang jujur kalau dia ingin aku nembak pantatnya. Ah, vulgar juga anak ini berterus terang pada orang asing macam aku ini.
Supaya aku ngaceng dia urut-urut jendolan kontolku yang terbungkus celana. Kemudian refleks dia jongkok dan menciuminya. Aku terangsang juga oleh aksinya. Dia lalu membuka resleting celanaku. Kontolku yang mulai tegang Dia lalu keluarkan dengan cepat.

Ah, nafsu amat ini anak. Lalu dia mulai memegangi kontolku dan mulai menciumi batan kontolku lagi. Dijilatinya ujung kontolku. Lalu dijilatinya cairan precum yang keluar dari ujung kontolku. Aku yang tak terbiasa melakukan itu ditempat terbuka, sedikit was was dan kurang konsentrasi.
Lalu dia berdiri dan mulai menurunkan sedikit celananya. Lalu dia menungging di depanku. Dia beralasan kalau ada Satpam bisa cepat bangun tanpa ketahuan kalau lagi bercinta. Ah, aku ragu ragu untuk melakukan itu lebih jauh. Aku tawari bagaimana kalau ke kamar hotelku saja. Aku bilang bahwa aku pendatang yang tinggal di hotel Aston itu. Ah.. Dia mau dan setuju. Aku juga nggak takut, karena memang tampangnya benar-benar anak SMU yang masih lugu.

Asep, begitu panggilannya, anak Bogor katanya. Sekolah STM Mesin di Manggarai. Wuu.. Muda banget. Lihat jari-jari tangannya masih licin. Rasanya paling 18 tahun. Kakinya, betisnya, tangannya, bibirnya, masih serba licin. Dia bilang pamannya yang ngajari ngeseks sejenis. Sampai ketagihan, sementara pamannya sudah pindah kerja di luar Jawa.

Akhirnya kami turun dari latai atas Mall Atrium ini untuk menuju ke kamar hotelku. Dan sesampai di kamar, dia kusuguhi minuman dingin di kulkas. Lalu dia pamit ke kamar mandi, untuk buang air. Aku dengar suara kecipok air kencing yang masuk ke lubang toilet. Darahku berdesir mendengar suara itu. Lalu setelah dia keluar dari kamar mandi, langsung menubruk tubuhku yang rebahan di ranjang.
Dia mulai agresif lagi seperti tadi. Celanaku dilepasnya satu per satu. Hingga akhirnya aku telanjang bulat.

Karena dia masih berpakaian lengkap, akhirnya aku suruh dia berdiri. Aku lepaskan kaosnya. Ahhh… nampak ketiaknya. Aku suka ketiaknya yang sangat seksi. Rasanya ingin cepat cepat melumat dan menciumi ketiak itu.

Dalam kamar aku merasa sangat nyaman. Leluasa, aman tanpa khawatir diintip Satpam. Setelah dia telanjang bulat juga. Kami mulai dengan berpagutan mesra. Lalu diapun menciumi sekujur tubuhku dari atas hingga ke bawah.

Aku hampir terkejut ketika aku merasakan geli pada kakiku. Ketika aku membuat mata kulihat Asep ini mengulum jari-jari kakiku dengan penuh nafsu. Saat itu aku kaget dan hampir menarik kakiku. Tetapi aku kasihan sama Asep ini. Kubiarkan saja.

Dia nampaknya sangat terobsesi padaku. Dan aku merasakan betapa syahwatku langsung terbakar. Dia melihat aku bangun. Saat tahu aku tak menolak kulumannya, dia semakin meliar sambil mulai memperdengarkan desahannya. Dia begitu menikmati jari-jari kakiku. Sambil mengelusi betis-betisku dia juga menjilat dan menciumi telapak kakiku. Aduuhh.., nikmatnya serasa naik ke ubun-ubunku. kontolku jadi ngaceng berat. Kuelus-elus kepalanya. Asep nampak mengunggu elusanku itu. Dia kembali mendesah.

Nafasnya kudengar memburu. “Oomm, Oom, Oom, mmhh.. Mmllpp..,” dia meracau.

Matanya setengah merem. Kepalanya bergulir ke kanan dan ke kiri saat meratai jilatannya ke telapak-telapak kakiku. Aku semakin merinding. Anak ini sangat pintar membangkitkan gairah nafsu birahiku. Ciumannya bergerak ke atas. Ke betisku. Dia juga menggigit kecil saat menemui rambut-rambut kakiku. Dia juga mencakar-cakar kecil betisku menahan gelora birahinya.

Tangannya kini tak sabar merabai selangkanganku dan kemudian gundukkan celana dalam yang berisi kontolku yang sudah sangat mengeras. Aku lebih baik diam meraskan nikmatnya. Kubiarkan Asep yang manis ini melampiaskan nafsunya. Dia meremas-remas kontolku. Sementara itu gigitan dan jilatannya sudah melewati lututku dan kini mulai masuk ke wilayah pahaku. Aduuh.., bukan main dan.. Betapa aku terangsang.

Aku kini merintih dan mendesah-desah. Tak tahan merasakan lidah lembut si manis Asep ini. Kenapa dia begitu berkobar nafsunya?

Dan sesudah bermenit-menit puas menciumi pahaku, Asep mulai merambati selangkanganku. Dia nyungsep di pangkal pahaku. Kudengar dia menarik dalam-dalam nafasnya untuk menghirup bau selangkanganku. Ah, anak ini, kenapa dia begitu hot?!

Dia ciumi celana dalamku. Dia hisap-isap kontolku di balik celana dalam ini. Aku merasakan betapa aku menggelinjang nikmat. Kuelusi dan sesekali kujambak rambutnya. Dia semakin bersemangat. Tangannya kini meraih ketepian celana dalamku, merogoh dan menarik keluar kontolku. Mulutnya langsung mencaploknya. Dia melumat-lumat biji dan seluruh batang kontolku. Kepalanya bergeser naik turun mendorong lidahnya yang menjulur kelantai pori-porinya.

Aku tak mampu untuk tidak mendesah dan merintih. Kenikmatan ini sungguh tak bertara. Asep ini ternyata benar-benar jago kecil yang mampu mendongkrak libidoku. Aku tak tahan lagi. Aku bangkit dan kuterkam dia. Kurebahkan dan ganti, Kini aku yang aktif menjilat dan menciumi tubuhnya. Aku seakan macan lapar yang melahap kijang lembut mangsa tangkapanku.

Dia menyerah pada apa mau nafsuku. Dia ganti pasif merasakan ciuman-ciumanku pada tubuhnya.

“Ah, Kamu.., begitu harum ketiakmu, dadamu, perutmu, selangkanganmu. Ah, Adek.., sini.. Biar aku jilati seluruh bagian tubuhmu. Biar aku nikmati segala keringat-keringatmu. Biar aku lumat-lumat tubuh indahmu.”

Kubolak-balik tubuhnya. Kusedotin bagian-bagian sensualnya. Dan aku paling suka menciumi lubang pantatnya. Aroma lubang pantat sangat cepat merangsang syahwatku. Lidahku menusuk-nusuk lubang itu seakan ingin memberi sensasi nikmat padanya.

Dan akhirnya dia minta aku memasukan kontolku ke anusnya. Dia ingin aku melakukan seks anal padanya. Dia pengin merasakan tusukan kontolku di anusnya.
Kuturuti. Ini memang satu hal yang paling kusukai. Menyodomi pria muda.

Agak susah kepala kontolku menembusi lubang pantatnya. Selain dia masih muda, tidak diberinya pelicin juga menyulitkan kontolku menembusi lubang pantatnya.
Lalu aku bangkit membuka tas dan mengambil kondom dan pelicin yang aku bawa dari Malang.
Segera aku buka kondom dan kusarungkan ke batang kontolku. Lalu kembali aku arahkan kontol yang terbungkus kondom dan berpelicin itu ke belahan pantatnya.
Saat kontolku mulai membelah lubang pantatnya, Asep menjerit kecil. Saat kontolku mulai merasuk amblas ke lubangnya, Asep mendesah nikmat. Saat itu kurasakan cengkeraman otot-otot dinding anusnya sangat legit menjepit kontolku. Ampuunn.. Enaknya.. Sesudah itu, pantat Asep itu mulai menggoyang menjemput kontolku. Sekali lagi, kurasakan nikmat hingga ke-ubun-ubunku.

Kudengar Asep meracau,

“Enak banget, Oom, enak banget kontol Oom, yaa.. Enak banget kontol Oom.., Masukin yang dalam ya Oomm..,” racaunya.
“Aduhh Om enak banget. Keluarin di dalm ya Om,” maksudnya biar aku keluarin air maniku di lubang pantatnya itu.

Suara racaunya itu terdengar sangat merdu di telingaku. Dan suara racau itu yang kemudian membuat gejolak syahwatku langsung melonjak lonjak tak karuan. Kupacu kontolku memompa anal Asep yang sempit ini. Akhirnya aku ikut meracau juga,

“Enak pantatmu Dek, enaakk.. Sempit banget duburmu, Aahhhhh..,” dengan gemetar dan menggigil racauku keluar dari mulutku.

Aku sungguh didera nikmat syahwat yang luar biasa. Melihat Asep anak muda ini tergoncang-goncang menerima tusukan kontolku, mendorong spermaku untuk merambati menuju klimaks nikmat. Aku merasakan betapa saraf-sarafku menyongsong akan kehadirannya air maniku mengalirinya. Dan aku memang tak mampu menahan lebih lama.

Saat menjelang muncrat kurenggut rambut Asep. Kutarik seperti menarik surai kuda. Kuhentakkan kontolku ke lubangnya. Dan dengan kedutan-kedutan yang begitu nikmat, tumpahlah air maniku. Asep merasakan kedutan-kedutanku itu,

“Oom. Enaakk.. Oom, Oom, Oom, oohh.. Oom..”.

Sesaat sesudahnya, sebelum kedutanku usai, dengan cepat dia melepaskan kontolku dari anusnya dan berbalik. Dia raih kontolku dan di arahkan kepala kontolku ke mulutnya. Rupanya dia ingin mereguk dan membasahi tengorokannya dengan air maniku. Untunglah semprotan spermaku masih tiga semprotan lagi. Cairan itupun dia sambut dan dia telan.

Kulihat cairan kental lengket itu belepotan meleleh di sekitar mulutnya, karena tidak semua masuk ke mulutnya. Sebagian nampak meleleh ke dagunya. Aku tahu nafsu panas macam Asep ini, akibat gairah muda. Lelehan sperma di dagunya kukais dengan jariku. Kusodorkan ke mulutnya. Dia emut-emuti jari-jariku untuk membersihkan dan menelan habis lendir putih kentalku itu. Wowww… segitu lahapnya dia.
Lalu dia bilang kalau dia juga ingin dikeluarin juga.
Aku menindihnya dan mulai menciumi tubuhnya.

Dia macam anak perawan. Mulutnya mendesah, merintih manja silih beganti saat aku lakukan sesuatu pada tubuhnya.

Dia bilang pingin mandi kucing. Lalu aku jilati seluruh detail tubuhnya.

Dia menggeliat-geliat saat lidahku menelusuri betisnya, pahanya dan kemudian batang kontolnya. Ah, dasar anak bau kencur, pikirku. Baunya memang masih terasa alami. Selangkangannya yang licin mulus menjadi terminal jilatan, kecupan dan sedotan bibirku. Rambut kontolnya masih tipis. Segar banget bau khasnya.

Ternyata dia sangat menikmati setiap permainanku. Saat mendekati klimaksnya dia bangun mendorong aku agar telentang. Dia duduki wajahku, menyapu-nyapukan kontolnya ke bibirku sambil mengerang dan terus mendesah-desah.

Tangannya mengocoki kontolnya hingga akhirnya klimaksnya pun datang. Croootttt…. Dia berteriak setengah histeris sambil menunjukkan puncratan spermanya yang sebagiannya terlempar jauh mengenai cermin kamar tidurku dan sebagian lainnya melumuri wajahku.

“Ahh.. Oom.. Oom.. Oomm.. Enak Oom..” racaunya.
Crottt…crottt…spermanya terasa segar aku baui.

Aku yang tadi sudah ejakulasi, menyaksikan dia muncrat dengan wajahnya yang culun itu terbangkitkan lagi libidoku. Birahiku langsung memuncak dan akhirnya aku tubruk dan tindih tubuhnya. Aku arahkan kontolku ke mulutnya. Dia menjilati dan mengulum kontolku sambil tangannya terus mengocoki kontolnya sendiri.

Lidahnya sedemikian pintarnya berputar putar di perbatasan kepala kontolku dan batangnya. Lalu mulutnya mengemoti dan mengulum seluruh batang kontolku. Akhh.. aku semakin ga tahan. Ingin rasanya aku mengentoti dia. Aku peluk dan ciumi bibir, leher dan dadanya sambil kontolku terus kugesek gesekkan ke tubuh mulusnya. Sesekali kontolku beradu dengan kontolnya yang berlumuran sperma. Licin kurasakan. Lalu terus aku gesek gesekkan kontolku yang menegang itu ke lipatan pahanya, sambil kakinya aku angkat. Tanpa aku bimbing, kontolku berusaha menembusi lubang analnya. Tapi aku merasa tidak tega, karena dia baru saja ejakulasi. Pasti akan terasa geli dan sakit kalau dia tidak dalam keadaan terangsang. Akhirnya dia kembali melorot dan memposisikan mulutnya tepat di selangkanganku. Dilumatnya habis seluruh batang kontolku, sambil terus dikocokinya.

Aku merasakan kocokan tangan mungil ini terasa berbeda dari yang pertama tadi. Mungkin karena aku habis ejakulasi Lalu dia merebahkan tubuhku dan menindih tubuhku. Dia gesek gesekkan tubuhnya seperti yang aku lakukan tadi. Dan, kurasakan kontolnya menengang dan menusuk nusuk di sela sela pahaku. Rupanya dia cepat bangkit libidonya dan cepat terangsang kembali. Dia mengajakku ronde berikutnya. Ahh.. gairah anak muda.

Akhirnya dia menduduki perutku dan mulai mengarahkan batang kontolku untuk dimasukkan ke pantatnya lagi.
Wow…
Aku bangkit dan mencari-cari kondom dan pelicinku di tas. Ternyata kondom habis, karena tadi cuma tersisa satu. Ah…gimana neh?

Aku mahasiswa di Malang tingkat hampir akhir. Aku mau berkisah tentang pengalamanku ngesex di sebuah kost-kostan mahasiswa. Kost-kostan itu khusus cowok dan sangat banyak kamarnya. Sebulan pertama sih normal-normal saja hidup di kost yang ramai ini bagiku yang dari luar pulau. Tapi beberapa hari setelah bulan kedua kost-kostan tersebut ketahuan belangnya (atau asyiknya, tergantung dari mana melihatnya).

Hari itu aku lagi mau berangkat kuliah siang ketika kulihat dari seberang kamar Nino, si cowok yang flamboyan dan sedikit centil, nongol dari kamarnya ke kamar mandi tidak pakai apapun kecuali sandal jepit. Handuk saja cuma ditenteng sama tangan kirinya, sedang tangan kanannya menenteng peralatan mandinya. Kulitnya yang sawo matang semakin membuatnya tampak seksi. Bodinya yang agak pendek semakin menampakkan bongkahan pantatnya wuuihhh!!

Aku hanya bengong saja melihat pemandangan itu. Bagaimana mungkin Nino berani keluar dari kamar mandi dengan telanjang bulat seperti itu. Meskipun saat itu kost sedang sepi, akan tetapi itu hal tergila yang aku lihat. Jujur saat itu, aku langsung kena komplikasi mata-jantung-kontol. Mata melotot melihat bodinya Nino, jantung langsung berdegup kencang, kontol ikutan menegang melihat bodi dan kontol Nino yang teracung-acung. Setelah masuk ke kamar mandi Nino sedikit menutup pintu untuk menggantungkan handuk dan pandangan matanya bertemu dengan pelototan mataku. Ia tidak terlihat kaget, malah tersenyum menggoda dan sedikit meremas kontolnya sendiri. Ia ternyata, dan untungnya bagiku, tidak menutup pintu kamar mandi dan mulai mengguyur badan semoknya dengan santai-santai saja seakan aku yang menonton dia mandi adalah hal yang normal.

Beberapa saat setelah mengguyur tubuhnya untuk membersihkan sabun di badannya ia menoleh ke belakang dan cengengesan melihat aku bengong saja di depan pintu kamarku. Kuliah langsung terlupakan begitu dia menggunakan jemari telunjuk kanannya untuk mengajakku ke kamar mandi. Antara sadar dan tidak, aku mengiyakan dan mengikuti suruhannya agar menyusulnya ke kamar mandi. Setelah tolah toleh kanan dan kiri, aku merasa yakin kalau kost lagi sepi, maka akupun melangkah ke kamar mandi. Oh, sungguh aku tidak mengerti mengapa ini kulakukan. Langsung saja aku melemparkan diktat kuliahku ke kamar dan sedikit berlari menuju kamar mandi mandi bersama, yang ukurannya agak besar itu. Aku langsung melepas seluruh bajuku, termasuk CD-ku, sehingga batang kontolku yang sudah menegang dari tadi langsung seperti terbebas dari kungkungannya. Nino ternyata memunggungiku, tidak tahu lagi apa. Saat aku masuk ke kamar mandi ia cuma menoleh sedikit dan tersenyum.

“Eh Rico belum pernah mandi bareng cowok selama kost disini ya?”tanya Nino mengagetkanku.
“Belum. Biasanya mandi sendirian saja. Kalo rame-rame, aku malu,” jawabku agak gugup dan sambil memandangi Nino yang menggoyangkan pantat serta pinggulnya yang dalam keadaan basah begitu.
Sambil tetap memunggungiku ia meraih kedua tanganku dan menggiring keduanya ke dadanya. Aku tersentak dan kaget, menuruti keinginan Nino. Secara reflek tanganku meremas dada dan putingnya sambil sedikit mengusap-usap dengan gerakan melingkar yang lembut. Sementara pantatnya menyenggol-nyenggol bagian kejantananku, sehingga membuatku semakin pasrah mengikuti ajakan tangan Nino. Bibir Nino yang tebal itu mengeluarkan desahan yang menerbangkan birahiku. “Aaahhh… eeemmmhhh… eeemmmhhh…” Ternyata itu trik dan pancingan Nino agar aku terangsang. Sejenak dia menoleh kebelakang dan langsung melumat bibirku. Aku kaget setengah mati, namun merasakan pagutan bibir Nino, membuatku melayang terbang. Sungguh tak pernah krasakan berciuman dengan sesama cowok seperti ini. Ternyata kurasakan rasanya enak juga. Desahannya sedikit tertahan tapi bercampur dengan desahanku sendiri. Lalu tangan kiri Nino mulai meraba-raba, dan itu kurasakan sesuatu yang luar biasa. Karena antara rasa geli dan terangsang, saat tangannya memegang kontolku yang mulai teracung terangsang. Desahan Nino semakin menggema di dalam mulutku dan dipantulkan oleh dinding kamar mandi. Kocokan lembut tangan Nino pada kontolku, membuat batang kontolku mengeras penuh dengan urat-urat yang mencuat.

Aku begitu melayang-layang menikmati permainan sesama cowok yang baru aku alami ini. Antara perasaan penasaran dan rangsangan hebat, membuatku seakan pasrah dan mengikuti segala tuntunan Nino. Saat dia berbalik, secara cepat dan reflek Nino memagut kembali bibirku. Aku melumat bibirnya seperti dia melumat bibirku. Nino r=turun ke bawah, menjilati leherku dan daguku. Oh, sensasi luar biasa saat ujung lidah Nino menjelujur di sela-sela leherku yang sensitif ini. Lalu lidah liar itu mulai turun, dan semakin turun mengenai dada dan putting dadaku. Og..bagaikan kesetrum kurasakan saat ujung lidah itu mengecup putting dadaku. Sejenak Nino mengenyot dan menghisap putting dadaku, membuatku terbang melayang ke awang-awang. Kepala Nino semakin turun ke bawah, ke perut hingga secara reflek dan cepat Nino meraih batang kontolku. Lalu hupppp.. batang kontolku dilumat dan dimasukkan ke mulutnya. Sungguh aku merasakan kejutan-kejutan pada kuluman-kuluman mulut Nino saat mengoral kontolku. Cairan precum pertanda aku terangsang keras, dilumat habis oleh Nino tanpa tersisa. Kontolku seakan berdenyut denyut ketika lidah lembut itu menyentuh lubang pembuangan kemih. Antara rasa geli dan nikmat kurasakan. Setelah mengeksplorasi kontol, biji peler dan sela-sela lipatan selangkanganku.

Nino sambil sedikit mendesah ia bilang, “Sodomi yuk… pengen…” Ah…terbayang pikiranku akan adegan sodomi di dalam film bokep itu, saat kotol cowok memasuki lubang pantat ceweknya. Dan saat ini, didepanku telah siap sebongkan pantat cowok yang bernama Nino. Akal sehatku sungguh terbang kemana, antara rasa penasaran dan ingin mencoba adegan film bokep itu, aku terdiam saat Nino membalikkan tubuh. Oke deh, pikirku sambil mendorong punggungnya supaya ia menunduk. Dan aku menuruti keinginan Nino yang membimbing kontolku untuk menghunjam ke lubang pantatnya. Ia menunduk dan langsung saja pantatnya aku masuki batang kontolku yang sudah tegang tidak keruan. kontolku masuk ke lubang pantatnya dengan perlahan. Tiba-tiba ia memekik keras sekali,
“Aaarrrgghhh…!!”
“Kenapa Nin?” tanyaku kaget, batang kontolku terjepit ketat sekali sehingga terasa nikmat sekali.
“Nikmat… sekalii… uuuhhh… aaarggghh…”
Sekali lagi Nino memekik keras waktu aku mulai mendorong pinggulku maju mundur. Nino menyempitkan lubang pantatnya seperti kalau lagi menahan kentut.

Sensasi yang diterima batang kontolku rasanya luar biasa sekali. aku juga mulai mendesah-desah keenakan. Aku memegangi pinggulnya dan sesekali menampar pantatnya yang montok itu. Lalu kutempelkan dadaku ke punggungnya dan menghujamkan seluruh batang kontolku ke pantatnya. Nino meracau dan membimbing tangaku untuk mulai meremas-remas kontol Nino yang menggantung berat dengan gemas. Pasti teman-temanku tidak percaya kalau baru pertama kali merasakan sensasi anal seks ala sodomi ini.! “Uuuhhh… aaahhh…” desahku ditimpali pekikannya Nino. This boy is really hot!

Tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat mulai menjalar ke ujung kepala batang kontolku. Tanpa sempat kutahan, air maniku keluar sebagian di dalam pantatnya Nino, sedangkan sebagian meloncat keluar mendarat di punggungnya Nino. Semburan kedua Nino sempat berputar dengan cepat dan menerima air maniku di pipi kirinya. Semburan keempat mendarat ke seluruh wajahnya. Setelah itu ia mulai menjilati seluruh mani di wajahnya dan mengusap-usap pantatnya untuk meraup maniku yang ada di punggung dan pantatnya setelah itu ditelannya sampai habis. Sambil menikmati sisa-sisa spermaku tangan Nino sibuk mengelap sperma pada kontolnya. Aku kaget dan sedikit berfikir, kapan kejadiannya Nino ejakulasi kok kontol Nino sudah berlumeran sperma dia. Apakah saat tadi aku sodomi, Nino merasakan kenikmatan yang tiada tara, sehingga kontolnya juga ikutan ejakulasi bersaan denganku??

Aku merasa agak lemas tapi puas. Dan parahnya sensasi itu sungguh membuatku merasakan sesuatu yang berbeda. Dan Nino tahu itu. Dia bilang,
“Besok diulangin lagi yah di kamar.”
“Kamarku atau kamarmu?”
“Kamarku saja. Kamarmu berantakan sih!”
Aku nyengir malu sambil membersihkan badanku dengan air. Cepat-cepat aku merapikan diri dan kembali ke kamarku.

Entah apakah aku akan bisa mengulangi kejadian itu untuk besok ataukan tidak, yang jelas aku telah merasakan sesuatu persetubuhan yang lain. Antara cowok dan cowok. Woww…

Aku yang lemas tak bertenaga, lagsung tertidur ketika kembali ke kamarku. Ternyata hari begitu cepat berlalu, hari sudah malam telah ketika aku bangun. Lalu tiba-tiba aku merasakan ada yang megetuk pintuku. Dengan malas aku membukanan pintu kosku. Ternyata Nino datang membawakanku kue terang bulan yang masih hangat. Sambil duduk menemani Nino nonton TV di kamarku, kunikmati kue terang bulan coklat meses kesukaanku itu. Belum habis satu potong kue terang bulan itu, Nino mendekatiku. Nino mendorongku ke kasur hingga membuatku rebah di kasur. Secepat kilat, Nino mulai menciumi leherku, dan itu membuatku lemas pasrah. Kurasakan Nino sudah mengetahui titik kelemahan dan pusat rangsanganku. Sambil sibuk membuka seluruh bajunya, Ninopun berusaha melepaskan baju yang menempel di badanku. Setelah kami berdua telanjang bulat. Nino merebahkan diri di kasur dan meraihku agar menindihnya. Akupun tanpa komando seolah mengikuti alur permainan itu. Tanpa sadar aku mulai menjilati tubuhnya. Dia mulai mendesah-desah lagi saat kujilati putting dadanya yang mulai mengeras. Ia lalu secara tiba-tiba meraih kepalaku dan menekannya keras sehingga aku jilatanku berubah jadi gigitan kecil di dadanya. Aku mulai menggerigiti putingnya dan sekali lagi (jadinya terus-terusan), Nino memperdengarkan pekikan nikmatnya.

Selang beberapa lama, Nino membalikkan tubuh dan mulai secara ganas menyerangku. Aku yang diserang pasrah mengikuti alur permainan sesama jenis ini. Nino mulai menciumi leher dan punggungu. Lalu setelah merasa puas mencicipi dadaku, Nino mulai menyerang batang kontolku pula. Dikenyot dan disedotnya kontolku yang berukuran cukup besar itu. “Kamu mau menyodomi aku lagi kan?Bisik Nino. Sungguh ungakapn itu yang kutunggu-tunggu dari tadi. Karena aku begitu merasakan pengalaman yang berbeda saat tadi menyodomi lubang pantat Nino. “Kamu ambil inisiatif ya” bisik Nno pelan Dan akupun mengangguk mengerti. Aku mulai mengarahkan batang kontolku ke dalam lubang pantatnya saat Nino membungkuk. Dia memekik kaget saat penetrasi dan langsung kugenjot habis-habisan. Jepitan lubang pantatnya benar-benar yahud deh! Aku mengerang-erang nikmat sekali dan Nino menjerit-jerit keenakan. Lalu aku yang merasakan sesuatu yang nikmat, mulai mencari-cari sasaran. Tanganku meraba dan menjelajah ke seluruh bagian area tubuh Nino dan dia membalas dengan bergairah. Saat puas dengan gaya Doggy Style, Nino membalikkan tubuh dan mencoba gaya Ayam Panggang. Kontolku dimasukkan ke pantatnya, dan dia melingkarkan tangannya ke leherku. Ditariknya badanku, hingga dada kami bergesekan dan sensasi yang ditimbulkan benar-benar aduhai. Lalu selang beberapa menit kemudian aku keluar lagi tanpa sempat kutahan.

“Niinnnooo… eemmmhhh… keeluuaar… dii… daaleemmm… nniihhh…” kata-kataku terputus-putus oleh erang nikmat dan sensasi orgasme.
“Nnggakkk… papa… koooqqq…” rupanya dia juga mengalami sensasi yang sama.
Lalu aku ambruk di sampingnya untuk istirahat. Nino juga lelah kelihatannya.
“Rico…”
“Ya?”
“Welcome to the club!” katanya membuatku heran.
“What club?”
“The Orgy Club! Gini lho di sini, di kost-kostan ini, sex is totally free. Sama cowok manapun di kost ini, kamu boleh main semaumu. Dan kalau cowok itu tidak mau, kamu boleh perkosa dia. Alex, Leo, Anton, Joko, Mario, Indra, bahkan Mas Deddy yang punya kos, lalu Pak Kasimun satpam sini semuanya suka hubungan sejenis ini. “Hahh…. “aku sedikit terperangah. “Apa mereka semuanya homo?”,tanyaku dengan penuh kaget. “Hua..ha..ha.. ya gak lah. Mereka ada yang punya istri. Bahkan rata-rata cowok yang kos disini semua punya cewek”,terang Nino.

“Kami hanya mengutamakan kepuasan dan fantasi seks yang berbeda. Tanpa harus menyebut atau menganggap kita ini gay atau homoseks. Karena kita juga ga mau kalau disebut homo”terang Nino berapi-api.

Oh ya, setiap weekend kita ada orgy di rumahnya Mas Deddy. Ponakan Rio yang masih SMA dan adiknya Anton juga anggota klub lho. Pokoknya totally free deh!”

Aku agak kaget dan pusing mendengarnya.
“Semua orang?” tanyaku.
“Pokoknya syaratnya adalah kamu orang kost di sini. Benernya kamu diajak Indra kost ke sini karena dia denger kamu punya kemampuan main sangat dasyat. Dia denger dari mantanmu. Eh sori lho kalau nyinggung perasaanmu tentang mantanmu.”
Aku kaget. Ternyata Indra punya tujuan lain mengajakku kost di sini. Buat melupakan Sarah yang selingkuh dan mengenalkan dunia sex yang lebih bebas. Wah thank’s Ndra!
“Jadi aku berhak main dengan kalian semua cowok disini walaupun kalian tidak mau?”
“Iya!” jawab Nino dengan tersenyum.
“Emmm.. weekend itu entar besok. Aku diundang nih?”
“Like i Just said to you, kamu adalah anggota klub ini sekarang. Jadi kamu berhak ke sana.”
“Jadi itu alasan kalian tiap weekend keluar barengan terus?”
“Iya,” terdengar jawaban dari arah pintu.

Kami menoleh ke arah pintu yang lupa kututup. Ternyata si Wawan, yang bodinya paling proporsional dari mereka, karena ikutan fitness. Dia berdiri di depan pintu dengan telanjang bulat.

“Eh Wawan, darimana kamu tahu aku abis main sama Rico?”
“Teriakan khasmu kalau lagi ngentot dan kalian sama sekali tidak menutup pintu kamar mandi dan kamar tidur. Juga dari TV.”
“TV?”
“Iya tiap kamar ada hidden kameranya, termasuk kamar mandi dan kamar tidur. Kami semua tahu kalau kamu tiap mau tidur selalu onani dan para cowok ngiri liat ukuran batang kontolmu,” jawab Nino geli.
“Semua kamar?” tanyaku.
“Kita selalu kepengen dientoti sama kontol besar kayak punyamu, walaupun tidak panjang. Nino sudah duluan tuh!”
“Ooo trus selama 3 hari aku disini kok ga diapa-apain?

“Kita memang menunggu sampai 3 hari dan terus kami amati tingkah polah anak kost baru. Karena kami takut ada intel atau aparat polisi yang sedang menyamar. Bisa hancur kalau sampai itu terjadi”

“Ooo…..dan apa kamu sekarang kamu kepengen?”jawabku mengalihkan obrolan.
“Iya sih!” jawab Wawan sambil wajahnya memerah menahan nafsunya.
“Tapi staminaku abis.”
“Nih Irex!” kata Nino ketawa.

Langsung saja kusambar Irex itu dan kuminum dengan semangat. Selang beberapa menit kemudian aku mulai merasa fit lagi dan ready for fight. Wawan yang sementara itu mengusap-usap kontol dan memelintir putting dadanya sendiri serta mendesah-desah. Sudah mulai terangsang rupanya. Aku lalu berdiri dan mendekatinya. Kudorong ia ke dinding dan mulai kujilati bibirnya yang tipis itu. Tapi dia menolak dan langsung jongkok. Tanpa basa-basi dia mencaplok batang kontolku. Setelah mengusap-usap batang kontolku yang di dalam mulutnya dengan lidahnya, dia mulai mengocok-ngocokku dengan memaju-mundurkan kepalanya. Kadang-kadang lidahnya menyusuri bagian bawah batang kontolku dan mengemut buah zakarku. “Aahhh… yaaahhh… terusss… terus… Wan…” aku mendesah-desah, tidak kuat menahan birahi. Dan aktivitas itu berlangsung agak lama.

Lalu aku tidak sabar dan menarik bodinya Wawan dan merebahkannya di lantai. Lalu kuangkat kedua kakinya yang panjang dan indah ke bahuku dan mulai kugenjot habis-habisan, tidak ada lembut-lembutnya. Ternyata beda dengan Nino, Wawan hanya mendesah-desah. “Emmmhhh… uuuhhh… aahhh…” Setelah beberapa menit akhirnya aku keluar juga. “Crooottt… croot…” semburan silih berganti masuk ke dalam lubang pantatnya. “Aaahhh…” desahku. “aahhh…” desahnya juga.”Aaahhh…” ada desah lain. Ternyata Nino masturbasi sampai orgasme. Saat itu Ronald lewat depan kamarnya Nino. Dia berhenti sejenak lalu hendak meneruskan langkahnya ke kamarnya. Kepalang tanggung aku langsung melepaskan diri dari Wawan dan kuterjang Ronald.

Ronald adalah cowok yang punya bodi agak pendek, tapi lebih tinggi dari Nino sedikit. Otot dadanya tidak seberapa besar, lebih besar sedikit dari punyanya Wawan, tapi ukuran kontolnya cukup besar untuk tubuh mungil Ronald yang keturunan chinese ini. Ronald yang tidak siap menerima terjanganku kaget dan semua buku yang didekapnya terjatuh. Dia menjerit kaget sehingga menambah nafsuku. Kuseret dia ke kamarku yang di seberang kamarnya Nino, lalu kudorong dia ke dinding kamar. Nafasnya naik-turun membuat aku semakin bernafsu untuk menikmati sensasi cowok chinese ini.

“Ngapain kamu, aku tidak mau dientot sama kamu!” serunya judes.
Dia mendorong tubuhku dan menolak untuk kusetubuhi.
“Aturan The Orgy Club: Setiap cowok yang kost disini menjadi budak seks. Kalau tidak mau boleh diperkosa. Betul Nin?” tanyaku ke Nino tanpa menoleh.
“Yoi man! Rape her as the way you like it!” Nino memberiku semangat.
“Haah… kamu sudah tahu?”
“Iya. Now enjoy my cock, wether you like it or not!”
“Ahh…” belum sempat Ronald menjawab, tanganku sudah menjangkau kaus ketatnya dan merobeknya sehingga terlihatlah dadanya yang berwarna putih susu.
Lalu kusingkirkan tangannya dan kurenggut celana pendeknya sampai robek jadi dua. Ronald kelihatan panik.
“Kenapa panik, kamu kan anggota Orgy Club. Budak seks donk?!” kataku menggodanya.
“Ehhh… aku…” belum sempat kalimatnya selesai kulumat bibir merahnya itu.

Dia berusaha melepaskan bibirku dari bibirnya dan menjauhkan tanganku dari bodinya. Tidak berhasil karena aku lebih kuat. Kudesak dia ke dinding sambil terus menciumi bibir dan mulutnya. Dia memberontak dan secara tiba-tiba dia berhasil pas dari cengkeramanku. Dia lari keluar kamarku, tapi berhasil kukejar dia dan kudesak lagi ke tiang dinding. Kali ini kujangkau CD-nya. Seketika kuangkat kaki kirinya dan batang kontolku langsung kuarahkan masuk ke lubanga pantatn. Mula-mula agak seret tapi lama-lama enak juga. Kugenjot dengan agak cepat. Dia teriak-teriak, “Enggakkk… mmaaauuu…” atau sesuatu seperti itu deh! tidak jelas soalnya. Dan aku cuek saja beibeh! Surga dunia pantang disia-siakan. Apalagi dia rela diperkosa. Setelah beberapa genjotan, Ronald teriakannya dari “Enggakk… mmmaauuu…” berubah menjadi “Doonn’t… ssttooopp… uuggghh… fffeeellsss… goooddd!” Kuperhatikan roman wajahnya yang manis itu menjadi semakin menggairahkan kalau lagi horny begitu.

Setelah beberapa menit aku merasa hendak keluar. Tanpa early warning maupun pertanyaan mau dikeluarin dimana, kusemburkan saja semua sisa sperma yang ada ke dalam lubang pantat cowok chinese ini.”Aaahhh…” Ronald ternyata juga orgasme. Desahannya barengan dengan desahanku. Air mani beserta spermaku berleleran di sepanjang pahanya yang panjang dan betisnya yang putih itu. Setelah itu dia dengan gontai pergi ke kamarku untuk mengambil baju dan celana pendeknya yang robek. Lalu dia menggeletakkan diri di kasurku. Aku susul juga dengan langkah gontai. Ternyata dia tidur, ngorok lagi biarpun tidak keras. Akhirnya aku merebahkan diri di sampingnya. 4 kali senggama dalam dua jam, wuuihh! It’s my first time dude! jadi boleh dong istirahat sekarang. Aku lalu memeluk dia dan tanganku meremas pantatnya yang aduhai dan putih mulus itu. Dia cuma mengerang kecil. Akhirnya kami tertidur. Nino dan Wawan ternyata ngelanjutin aktivitas mereka dengan mengajak satpan kos kami. Bodo ah! Yang penting mereka always ready for use.

Saat aktif dikegiatan pencinta alam di kampus dulu, aku punya sahabat karib bernama Rendra. Walaupun belum tentu sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kami berkeluarga hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kami tetap berlanjut. Setidaknya setiap bulan kami saling bertelpon atau sms. Ada saja masalah untuk diomongkan. Suatu pagi Rendra telepon bahwa dia baru pulang dari Malang, kota kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil untuk aku. Dibilangnya, kalau aku tidak keluar rumah, Yusuf anaknya, akan mengantarkannya kerumahku. Ah, repotnya sahabatku, demikian pikirku. Aku sambut gembira atas kebaikan hatinya, aku memang jarang keluar rumah dan aku menjawab terima kasih untuk oleh-olehnya. Ah, rejeki ada saja, Rendra pasti membawakan apel Malang dan kripik tempe, makanan tradisional dari Malang kesukaanku. Aku tidak akan keluar rumah untuk menunggu si Yusuf anak Rendra, yang seingatku sudah lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya. Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku. Kuintip dari jendela. Dua orang anak muda tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Yusuf datang bersama temannya. Ah, jangkung bener Yusuf anak Rendra ini. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Yusuf naik ke teras rumah. “Selamat siang, Om. Ini titipan Papa untuk Om Tian. Kenalin ini Donny teman saya, Om”. Yusuf menyerahkan kiriman dari papanya dan mengenalkan temannya padaku. Aku sambut gembira mereka. Oleh-oleh apel Malang dari Rendra dan langsung aku simpan di lemari es-ku, sementara kripik tempenya ku taruh di meja. Tapi sungguh, aku terpesona saat melihat anak Rendra yang sudah demikian gede dan jangkung itu. Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak sahabatku ini. Demikian pula si Donny temannya, mereka berdua adalah pemuda-pemuda masa kini yang sangat tampan dan simpatik. Ah, anak jaman sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi subur. Lalu mereka aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka berdua. Kuperhatikan mata si Donny, ternyata tatapannya agak nakal, dia lama memperhatikan dadaku dan sesekali melirik sekitar selangkanganku. Bahkan matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat aku jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, apakah anak laki-laki sekarang, kalau lihat pria muscle akan bertindak demikian??. Selain itu, dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Yusuf sendiri justru senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya. Kami jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aku senang dengan mereka berdua. Dan tiba-tiba aku merasa berlaku aneh, apakah ini karena ketertarikanku pada dua anak remaja ini. Tapi aku harus menjaga image dan pribadiku, agar orang lain tidak tau jika aku menyukai cowok sejenisku. Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Donny yang mengingatkanku pada peristiwa-peristiwa berkesan saat aku ML dengan cowok seumuran dia. Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan hatiku. Ah, dasar homo tua yang nggak tahu diri, makian dari hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku itu. “Om, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho” ujar Yusuf. Kami kembali terbahak mendengar kelakar Yusuf. Dan kulihat mata Donny terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang kekar karena otot hasil nge-gym ku ini. Dan aku tidak heran kalau anak-anak muda macam Donny dan Yusuf ini pengen tubuh kekar dan berotot macam bodyku ini. Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 42 aku tetap fresh dan good looking. Aku memang suka merawat tubuhku sejak muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau aku jalan sama Mirna, istriku, banyak yang mengira aku adiknya atau bahkan piaraannya. Kurang asem, tuh orang. Tiba-tiba aku ada ide untuk menahan kedua anak ini. “Hai, bagaimana kalau kalian makan siang di sini. Aku ingin mencoba resep masakan yang baru, aku pikir masaknya cepat dan rasanya sedap. Sementara aku masak kamu bisa ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer Om. Kamu bisa main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang enggak-enggak, ya..”, aku tawarkan makan siang pada mereka. Tanpa konsultasi dengan temannya si Donny langsung iya saja. Aku tahu mata Donny ingin memandangi tubuhku lebih lama lagi. Si Yusuf ngikut saja apa kata Donny. Sementara mereka menyalakan komputer, aku ke dapur mempersiapkan masakanku. Aku sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu Donny sudah berada di belakangku. Dia menanyaiku, “Om dulu teman kuliah papanya Yusuf, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?”. “Apanya yang jauh?, aku tahu maksud pertanyaan Donny. “Iya, Om pantesnya se-umur dengan teman-temanku”. “Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don”. “Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Yusuf”, lanjutnya sambil melototi selangkanganku. “Om hobbynya apa?”. “Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”. “Ooo, pantesan”. “Apa yang pantesan?”, sergapku. “Pantesan body Om bagus banget”. Kurang asem Donny ini, tanpa kusadari dia menggiring aku untuk mendapatkan peluang melontarkan kata-kata “body Om bagus banget” pada tubuhku. Tetapi aku tak akan pernah menyesal akan giringan Donny ini. Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr.., libidoku muncul terdongkrak. Aku merasakan kalau Donny ini memiliki naluri dan orientasi seksual yang sama denganku. Penyuka terhadap cowok sejenisnya. Setapak demi setapak aku merasa ada yang bergerak maju. Donny sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke aku dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-gay-annya. Aku tidak memerlukan penantian terlampau lama. Tiba tiba seolah tanpa sengaja, tangan Donny menyentuh ke daerah selangkanganku. Aku yang kaget, cepat berfikir apakah akan ku timpali atau diam saja pura-pura tidak menyadari. Kuputuskan, aku diam saja seolah tidak merasakan. Dan ternyata Donny mengulanginya lagi dengan cukup keras dan disertai remasan. Aku pura-pura tersentak dan sejenak memandangi Donny. Ternyata Donny memberikan senyum nakalnya padaku. Antara bingung harus bersikap apa, aku Cuma tertegun. Sehingga mungkin hal ini dianggap peluang bagi Donny untuk berbuat lebih. Tangan dia langsng didaratkan di gundukan batang kontolku, dan dipegangnya dengan lembut. Aku mendesis dan menutupkan mata, agar tampak menikmati ulah Donny. Tiba-tiba bibir Donny sudah mendarat di tengkuk leherku. Agak kaget juga aku mendapatkan perlakuan seperti itu. Karena aku tidak ingin membuang kesempatan ini, lalu akupun membalas mengelus tangan Donny. Dan sejenak, Donny semakin liar dan beralih memagut bibirku. Kini bibir kami sudah berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan tangan-tangan kami saling berpeluk. Tanganku berusaha meraih kepalanya serta mengelusi rambutnya. Sementara tangan Donny mulai bergeser menerobos masuk ke kaosku. Dan tangan-tangan itu juga menerobos dan kemudian meremasi dadaku. Dan aku mengeluarkan desahan nikmat agar Donny semakin bersemangat. Sungguh kurasakan nikmat kerinduan birahi menggauli anak muda yang seusia anakku, 22 tahun di bawah usiaku. “Om, aku nafsu banget lihat body Om. Aku pengin menciumi body Om. Aku pengin menjilati body Om. Aku ingin menjilati kontol Om. Aku ingin ngentot Om”. Ah, seronoknya mulutnya Donny ini. Kata-kata seronok Donny melahirkan sebuah sensasi erotik yang membuat aku menggelinjang hebat. Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan dua jendolan panas yang mengganjal. Pasti kontol Donny sudah ngaceng banget menindih kontolku yang telah tegang pula. Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolannya kontol Donny lebih dalam lagi. Donny mengerang dan mendesis. Dengan tidak sabaran dia tarik dan lepaskan celana dan kaosku. Sementara kaosku masih menutupi kepalaku, ternyata bibirnya sudah mendarat ke ketiakku. Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aku merasakan nikmat di sekujur urat-uratku. Donny menjadi sangat liar, maklum anak muda, dia lalu membuat gigitan dan kecupannya dari ketiak beralih ke dadaku. Dia jilatin permukaan dada dan otot dadaku. Hingga kedua pentilnya juga diisep dengan penuh nafsu. Suara-suara erangannya terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya. Sementara itu tangannya mulai merambah ke pahaku, ke selangkanganku. Aku tak mampu mengelak dan aku memang tak akan mengelak. Birahiku sendiri sekarang sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat nafsuku telah melanda dan menghanyutkan aku. Hal yang bisa kulakukan hanyalah mendesah dan merintih menanggung derita dan siksa nikmat birahiku. Begitu celanaku merosot ke kaki, Donny langsung setengah jongkok menciumi celana dalamku. Dia kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya. Dengan nafsu besarnya yang kurang sabaran tangannya memerosotkan celana dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap glans penis, batang dan skrotum penisku. Aku jadi ikutan tidak sabar. “Donny, copot dong celanamu, aku pengin menciumi punya kamu juga”. Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya. Kontolnya yang ngaceng berat langsung mengayun kaku seakan mau menonjokku. Kini aku ganti yang setengah jongkok, kukulum kontolnya. Dengan sepenuh nafsuku aku jilati ujungnya yang sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Aku merasakan precum asinnya saat Donny menggerakkan pantatnya seolah ngentot mulutku. Aku raih pahanya biar arah kontolnya tepat ke lubang mulutku. “Om, aku pengin ngentot bool Om. Bisa?”. Aku terdiam ,karena tidak tahu maksudnya, karena kata-kata bool bagiku masih asing. Sejenak yang kurasakan, belum juga aku puas mengulum kontolnya dia angkat tubuhku. Dia angkat satu kakiku ke meja dapur hingga pantatku terbuka. Kemudian dia arahkan dan ditusukkannya kontolnya yang lumayan gede itu ke bongkahan pantatku. Aku menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan bagian itu tidak tersentuh. Aku membalikkan badan dan tersenyum ke arah Donny. “Sabar ya Don. Jangan keburu”pintaku. Aku berlari ke arah rak lemari, lalu aku ambil kondom dan pelicin yang kusimpan tersembunyi. Kulihat Donny terdiam, entah merasa kecewa karena aksinya tertunda, ataukah karena aku sempat berlari tadi. Lalu aku segera berjongkok dan kusambar kontol yang luamayan gede itu untuk kembali aku kulum. Aku masukkan glans penisnya yang bengkak. Kujepit dengan kedua bibirku, sementara lidahku bermain-main di lubang kencingnya. Entah karena merasa geli atau karena keenakan, Donny menyentakkan kontolnya hingga amblas, melesak ke dalam mulutku. Seluruh batang kontol yang gede itu tertanam seluruhnya di mulutku, bahkan glans penisnya menyodok tenggorokanku. Aku membuka lebar-lebar mulutku, saat aku menarik nafas dan memberikan ruang bagi kontol itu melesak ke ujung tenggorokanku. Donny pun melenguh dan mendesis saat kukenyot batang kontolnya. Semenara mulutku melumat habis batang kontol berurat itu, tangaku menggerayang menjelajahi setiap lekuk tubuh pemuda yang masih seumuran anakku ini. Kurasakan kulitnya yang lembut khas pria muda. Kuremas-remas dada dan kupilin-pilin dua teteknya. Kubelai-belai bulu bulu tipis yang tumbuh disekitar perut dan berakhir di bulu kemaluannya. Bahkan kedua pantat Donny juga tak luput dari seranganku, kupegang, kuremas dan bahkan jarikupun kuselipkan diantara dua bongkahan pantatnya. Donny mendorong pantatnya dan membuat kontolnya semakin melesak ke dalam mulutku. Aku tersedak sebentar, hingga air mataku seakan mau menetes. Berikutnya, tangan Donny membelai rambutku, lalu meraba telingaku dan dipermainkan telinga itu, sehingga sensasi geli dan nikmat kurasakan. Dengan sedikit jongkok, Donny membelai punggungku, melakukan cubitan kecil lalu turun ke arah pantatku. Diremas remasnya kedua pantatku, dan jari tangannya berusaha menjalar di lipatan dan lubang pantatku. Namun karena posisi Donny, agak susah menusukkan jari tangannya ke lubang anusku. Dengan sedikit merubah posisi disambing, akhirnya sambil tetap kukulum kontol Donny. Dia kini mudah meraih lubang anusku. Dimasukkannya jari tengahnya, lalu perlahan dikeluarkan dan digantikan dengan jari tengah dan jari telunjuk masuk bersamaan. Aku melenguh, merasakan tusukan dua jari di lubang anusku. Lalu Donny mengambil pelicin dan mengolesi jari tangannya dengan sedikit pelicin. Saat dua jari itu masuk dengan mudah ke lubang anusku, kurasakan ada aliran sengatan birahi saat jari itu menyentuh dinding lubang anusku. Betapa aku merasakan, lubang itu telah lama tidak ditusuk-tusuk batang kontol pria. Kini kegatalan lubang anusku terobati. Donny mengangkat tubuhku sehingga aku bediri. Lalu dibalikkan tubuhku, sehingga pantatnya kurasakan menyentuh patatku. Lalu dengan kedua tangannya menyibak bongkahan pantatku, kontolnya didekatkan ke lubang anusku. Dengan gerak refleks Donny membuka pembungkus kondom dan segera menyarungkan di kontolnya yang tegang penuh itu. Kurasakan dingin pelicin menyentuh lubang anusku. Glans penis kontol itu berusaha menerobos lubang anusku. Tapi agak kesulitan. Aku mengambil posisi badanku sedikit kusorongkan kedepan, sehingga badanku agak membungkuk. Aksiku ini ternyata memudahkan Donny melesakkan batang kontolnya menerobos lubang anusku. Sodokkan kontol Donny yang pelan namun pasti, membuat aliran darahku terkesiap menikmati gesekan batang kontol itu menggesek dinding anusku. Rasa ngilu, geli dan nikmat bercampur baur. Aku dibuat gila karena rasa nikmat yang lama tidak kurasakan ini kembali menyerangku dengan hebat. Tubuhku bergetar karena seluruh urat syarafku berkontraksi karena rasa nikmat perlakuan sodomi ini. Sejenak, seluruh kontol gede Donny melesak dan menghunjam lubang anusku. Bibir dan dinding anusku menjepit dan mencengkeram batang kontol Donny dengan kuat. Lalu Donnypun mulai memaju mundurkan kontolnya, sehingga tiap hentakan maju atau mundur, kuarasakan pula debur kenikmatan mengaliri lubang anusku hingga kontolku semakin teracung tegang. Tanpa kenal henti dan semakin cepat, anak muda ini terus menggenjot dan mengentoti lubang anusku. Terengah engah kurasakan nafas Donny saat kocokan dan genjotan kontolnya di lubang anusku. Kunilai anak muda ini maunya serba cepat. Aku rasa sebentar lagi spermanya pasti muncrat, karena kontolnya kurasakan mulai berkedut-kedut. Sementara aku masih belum sepenuhnya puas dengan entotannya. Aku harus menunda agar nafsu Donny lebih terarah. Aku cepat tarik lubang anusku dari tusukkannya, aku berbalik dan telentang di atas meja dan berhadapan dengan Donny. Kuangkat kedua kakiku dengan tanganku menahan kedua kaki ini. Aku pengin dan mau Donny nembak pantatku dari arah depan. Ini adalah gaya favoritku. Gaya ayam panggang. Biasanya aku akan cepat orgasme saat dientot dengan cara ini. Donny tidak perlu menunggu permintaanku yang kedua. kontolnya langsung di desakkan ke lubang nausku yang telah siap untuk melahap kontolnya itu. Nah, aku merasakan enaknya kontol Donny sekarang. Pompaannya juga lebih mantap dengan pantatku yang terus mengimbangi dan menjemput setiap tusukan kontolnya. Apalagi hentakan Donny cukup keras, sehingga ruang dapur jadi riuh rendah. Selintas terpikir olehku, di mana si Yusuf. Apakah dia masih berkutat dengan komputernya? Atau dia sedang mengintip kami barangkali? Tiba-tiba dalam ayunan kontolnya yang sudah demikian keras dan berirama Donny berteriak. “Dang, Yusuf, ayoo, bantuin aku .., Dang..”. Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melakukan konspirasi untuk mengentotku secara bersama-sama. Kemudian kulihat Yusuf dengan tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny “Gue kebagian apanya Don?’ “Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”. Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah aku ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah aku ini gigolo mereka yang siap melayani apapun kehendak pembookingnya. Aku melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dengan tenangnya Yusuf mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih kepalaku dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa menunjukkan rasa hormat padaku yang adalah teman papanya itu. Untuk kemudian ditariknya mulutku mendekat ke kontolnya yang telah siap dalam genggaman tangan kanannya. Kontol Yusuf nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar diujung batangnya. Dengan bergegas, Yusuf menyorongkan selangkangannya di wajahku Hidungku menikmati banget aroma yang menyebar dari selangkangan Yusuf. Saat bibirku disentuhkannya kontolnya, aroma kontolnya menyergap hidungku yang langsung membuat aku kelimpungan untuk selekasnya mencaplok kontol itu. Dengan penuh kegilaan aku lumati, jilati kulum, gigiti kepalanya, batangnya, pangkalnya, biji pelernya. Semua kulumat dan kulahap habis. Tangan Yusuf terus mengendalikan kepalaku mengikuti keinginannya. Terkadang dia buat maju mundur agar mulutku memompa, terkadang dia tarik keluar kontolnya menekankan batangnya atau pelirnya agar aku menjilatinya. Jilatan lidah dan kuluman bibirku liar melata ke seluruh kemaluan Yusuf. Kemudian untuk memenuhi kehausanku yang amat sangat, paha Yusuf kuraih ke atas meja sehingga satu kakinya menginjak ke meja dan membuat posisi pantatnya menduduki wajahku. Aku mudah melumat habis kontol berbentuk jamur itu, sedangkan Yusuf dengan mudah tangannya meraih dan meremasi dada dan pentilku. Duh, aku mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar biasa. Mulutku mengulum batang kontol, dada dan tetekku juga diremas-remas dan dipilin-pilin, sementara pantatku disodok kontol dan tangaku sibuk mengocok kontolku sendiri. Ohhh…….sungguh sensasi luar biasa. Sementara di depanku, si Donny terus menggenjotkan kontolnya keluar masuk menembusi lubang anusku sambil jari-jarinya mengutik-utik dan disogok-sogokkannya ke kontolku. Sementara jari tangan yang lain disogokkannya disela-sela lubang anus dan kontol dia. Woww..sungguh belum pernah aku mengalami cara macam itu. Padahal tadi kontol Donny serasa tidak muat di lubang anusku. Tapi setelah lama aktivitas disodomi ini, kenapa kini dua jari Donny masih bisa menyogok dan menusuk-nusuk disela-sela lubang anusku yang telah penuh oleh kontol gede Donny. Mungkin elastisitas lubang anusku ataukah karena aku telah rileks, sehingga lubangku lebih elastis. Sambil menyodok pantatku, Donny terus meracau dan mendesis desis. Aku juga membalas erangan, desahan dan rintihan nikmat yang memang kurasakan sangat dahsyat. Dan ada yang rasa yang demikian exciting merambat dari dalam lubang anusku dan batang kemaluanku juga. Saat aku merasakan bagaimana perbuatan Donny dan Yusuf anak sahabatku ini, aku merasakan adanya sensasi baru yang benar-benar hebat melanda aku. Kini 3 titik erotis yang ada padaku semua dijejali oleh nafsu birahi mereka. Mulutku penuh oleh kontol Yusuf, lubang anusku disogok kontol Donny dan kontolku yang tegang mengeras dikocok-kocok pula. Aku benar-benar jadi lupa segala-galanya. Aku mengenjot-enjot pantatku untuk menjemputi kontol dan jari-jari tangan Donny, sambil aku mengangguk-anggukkan kepalaku untuk mengulum kontol Yusuf. “Ah, Om, mulut gimana rasanya? Enak kan, kontolku. Enak, kan? Kontolku enak kan?”. Dia percepat kendali tangannya pada kepalaku. Ludahku sudah membusa keluar dari mulutku. Kini kontol Yusuf sudah sangat kuyup. Sesekali aku berhenti sesasat untuk menelan ludahku. Tiba-tiba Donny berteriak dari belakang, “Aku mau keluar nih, Om. Keluarin di dalam lubang atau mau diisep, nih?”. Ah, betapa nikmatnya bisa meminum air mani anak-anak ini. Mendengar teriakan Donny yang nampak sudah kebelet mau muncratkan spermanya, aku buru-buru lepaskan kontol Yusuf dari mulutku. Aku bergerak dengan cepat, lalu jongkok sambil mengangakan mulutku tepat di ujung kontol Donny. Kucabut kondom yang membungkusi kontol itu, lalu kuarahkan ke mulutku. Donny kini penuh giat tangannya mengocok-ocok kontolnya untuk mendorong agar air maninya cepat keluar. Kudengar mulutnya terus meracau, “Minum air maniku, ya, Om, minum ya, minum, nih, Om, minum ya, makan spermaku ya, Om, makan ya, enak nih, Om, enak nih air maniku, Om, makan ya..”. Air mani Donny muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku. Sebagian lain nampak mengalir di batang kontolnya dan tangannya. Yang masuk mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Yang meleleh di batang dan tanganannya kujilati semua kemudian kuminum pula. Kemudian dengan jari-jarinya Donny mengorek yang muncrat ke wajahku kemudian disodorkannya ke mulutku yang langsung kulumati jari-jarinya itu. Ternyata saat Yusuf menyaksikan apa yang dikerjakan Donny dia nggak mampu menahan diri untuk mengocok-ngocok juga kontolnya. Dan beberapa saat sesudah kontol Donny menyemprotkan air maninya, menyusul Yusuf mengarahkan kontolnya ke mukaku. Kubuka mulutku lebar lebar lagi dan kontol Yusufpun memuntahkan banyak spermanya ke mulutku. Aku menerima semuanya seolah-olah ini hari pesta ulang tahunku. Aku merasakan rasa yang berbeda, sperma Donny serasa madu manisnya, sementara sperma Yusuf sangat gurih seperti air kelapa muda. Aku tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak kepuasanku. Gerakkanku semakin menggila, semakin cepat dan keluar dari keteraturan. Kocokkan tanganku pada kontolku semakin kencang. Bahkan kini dibantu Donny yang juga menjilati ujung kepala kontolku, membuatku semakin bersemangat mengocok kontolku dengan cepat, semakin cepat, cepat, cepat, dan cepat. Akhirnya, crott…crottt…..spermaku muncrat mengenai muka dan dada Donny, sebagian mendarat di dada dan leherku. Lalu dengan tangannya, Donny meratakan spermaku ke seluruh dada, perut, leher hingga mukaku. Uh…ini aknak kurang ajar. Ada bau khas dari sperma yang tercium di hidungku. Aroma khas cairan pria yang lama aku rindukan.

ini cerita perdana bikinan gue,

Cerita tentang Harry Potters yang sudah berumur 18 tahun saat masih di Hoggwarts,

Pada waktu itu saat professor MacGonnald selesai mengajar di kelas transformasi dengan murid dari Griffandor dan Slyfeltrin,Harry mengajak Malfoy yang dari tadi mengganggunya terus di kelas transformasi sampai dia di hukum oleh professor MacGonnald,untuk berduel di toilet lantai 3 yang dihuni oleh hantu hantu yang sebenarnya gay dan ganteng ganteng,tanpa di dampingi oleh 2 kacungnya itu,dan kacung” Malfoy langsung saja berlari ke kantin Hogwrats,setibanya di sana mereka langsung menarik tongkat mereka dari jubah mereka dan saling beradu cepat dalam merapalkan mantra,sinar merah,biru,dan hijau berlarian kesana kemari,

Lalu pada saat Harry meluncurkan mantra pelucut tongkat,mantra itu meleset dan mengenai jubah Malfoy,dan seketika jubah Malfoy langsung terlepas dari tubuhnya,dan Malfoy kini hanya mengenakan kancut yang sangat sexsi dan mini,G-string yang hanya menutupi kontolnya saja dan tubuhnya yang mulai ditumbuhi oleh rambut” halus dibagian dada dan ketiak juga tubuhnya yang mulai berotot terpapar jelas di hadapan Harry,lalu Harry yang sebenarnya adalah seorang gay langsung ngaceng dibuatnya,kemudian dia merapalkan dan meluncurkan mantra pelucut tongkat sekali lagi dan tepat kena tongkat milik Malfoy,maka Malfoy yang sudah kehilangan tongkat sihirnya hanya bisa menutupi selangkanganya yang sepertinya juga mulai membesar,wajah Malfoy benar benar merah seperti udang rebus,

Lalu,”lepaskan G-stringmu,cepat! Atau aku yang harus melepaskanya ?”kata Harry,lalu,”biarkan aku pergi darah lumpur !”kata Malfoy.”ok,itu yang kau mau”,jawab Harry,lalu seberkas sinar merah muncul dan tepat mengenai kancut Malfoy,maka Malfoy pun sudah tidak mengenakan apa apa lagi,maka muka Malfoypun bertambah merah,

Lalu,Harry kembali merapalkan mantra menempel di dinding,lalu Malfoy lansung terlempar ke dinding di belakangnya yang berjarak sekitar 5 meter,kesadaranyapun berkurang dan matanya berkunang kunang,dan Harry langsung membuka jubahnya dan semua yang dia kenakan,lalu begitu kesadaran Malfoy sudah kembali penuh,dirasakanya rasa nikmat yang sangat dan dia merasa kalau kontolnya hangat,lembab dan basah,

Lalu dilihatnya Harry sedang menyepong kontolnya yang besar,tegak&menantang dengan ukuran panjang sekitar 27cm dan diameter sekitar 5 cm,alu Malfoypun langsung meronta ronta tapi tubuhnya menempel di dinding seperti ada magnet yang sangat kuat dang gerakanya justru menambah rasa nikmat yang ada,”apa yang kau lakukan Harry ?”,kata Malfoy sambil terengah engah,”diamlah Malfoy aku sedang membalas perbuatanmu tahu ! “,jawab Harry lalu tangan Harry tidak diam sja tetapi mulai menggerayangi tubuh Malfoy,di usap usapnya ketiak malfoy yang mulai berbulu lalu pentil susunya di raba raba lalu dipelintir hingga Malfoy mendesah lirih lalu mulutnya beralih dari kontol Malfoy ke mulut Malfoy yang membuat Malfoy kaget dan lagsung memberontak,tetapi gerakanya sia sia saja karena mantra Harry benar benar kuat,lalu Malfoypun mulai menikmati Cumbuan Harry dan ciuman itu menjdi saling menyedot ludah,lidah mereka saling bergulat lalu lidah Harry mulai menelusuri rongga mulut Malfoy dan Malfoypun begitu,lalu ciuman Harry turun ke dada Malfoy yang cukup bidang,kemudian di kulumnya tetek Malfoy hiongga Malfoy mendesis berkali kali,lalu dia kembali turun ke kontol Malfoy dijilat jilatnya kontol Malfoy hingga berlumuran oleh liurnya,lalu di kulumnya kontol Malfoy,”AH…. TERUS HARY…. SUCK MY DICK,AH… OH… AH….”desah Malfoy lalu tiba tiba tubuh Malfoy berguncang hebat dan Malfoy berteriak kencang,”ARRRGGHH…….” Dan kemudian CRROOT…………….CRRRROOOT……………CRRROOOOOOOOT……………….. Dan keluarlah pejuh milik darah asli penyihir itu di mulut Harry,lalu ditelanya sampai tak tersisa setetespun oleh Harry,”hhhhhaaaaaaaaaaahhh…hhhhhhaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh…………”desah Malfoy yang terlihat kecapek-an,

Tapi Harry masih belum kelur.kemudian,”aku masih belum tuntas sayang”,kata Harry manja pada Malfoy,”apa lagi yang kau mau sayang ? kau mau kontolmu aku hisap juga sayang ? balas Malfoy tak kalah manja,seprtinya pertengkaran dan permusuhan mereka sejak masih kelas 1 tak ada artinya lagi sekarang,

Lalu,”tidak perlu sayang,yang aku mau adalah m . . . anusmu sayang”kata Harry sambil bersemangat,”apa ??? “,jawab Malfoy kaget,tetapi tiba tiba benda milik Harry sudah menerobos anus Malfoy yang membuat Malfoy menjerit kesakitan,”AAARRRRRGGGHHHH…………..”,lalu karena kasihan Harry membiarkan penisnya diam dahulu di dalam anus Malfoy supaya anus Malfoy dapat beradaptasi,”sakit sekali Harry…..”kata Malfoy terengah engah,”tenang saja sayang nanti akan terasa nikmat koq…”,jawab Harry lalu dilumatnya bibir Malfoy supaya dapat mengurangi rasa sakit yang ada karena kontol Harry ukuranya sedikit lebih besar daripada kontol Malfoy,lalu setelah dirasa cukup untuk beradaptasi digenjotnya ke atas bawa kontolnya karena posisi mereka sama sama berdiri,didorongnya penisnya keluar masuk keluar masuk terus begitu sambil tanganya kembali menggerayangi tubuh Malfoy lagi di tarik tariknya tetek Malfoy lalu dijilatinya lagi ketiak Malfoy,Malfoy juga tidak diam saja tanganya mulai menggerayangi tubuh Harry yang kekar berotot dan berbulu lebat itu,

Lalu,tiba tiba,”aku mau keluar sayang”kata Harry,”keluarkan saja di dalam sayang”,jawab Malfoy,”bersiap siaplah,AAARRRRGGGHHHH……………………”dan keluarlah pejuh Harry,”CCRRROOOOTTTTTT………CCCCCCCCRRRRRRRRROOOOOOOOOOOOTTTTTTT”,menyirami anus Malfoy,karena terlalu banyak sampai ada yang meleleh keluar anus Malfoy,

“terima kasih sayang”,kata Harry sambil mencium pipi Malfoy,”sama sama sayang aku juga menikmatinya”,jawab Malfoy,lalu Harry melepaskan mantranya dari Malfoy dan Malfoy langsung ambruk karena terlalu capai tetapi tidak sampai jatuh ke tanah karena langsung di sangga oleh Harry, “thnkx Hary”,kata Malfoy,”kau baik baik saja Malfoy ?” Tanya Harry,”ya Harry hanya sedikit lelah”jawab Malfoy,

Lalu mereka berdua saling membersihkan badan dan kembali ke kelas masing masing dengan hati yang riang gembira,jika mereka ingin melakunkanya lagi mereka hanya perlu saling bertengkar dan selanjutnya pergi ke wc di lantai 3 . . .

by,kontol_besar

Ini merupakan cerita gw pertama di situs ini. Perkenalkan, nama gw Lycius tapi temen2 gw pada manggil Ali (biar gampang manggilnya kata temen2 gw). Gw kuliah mengambil jurusan Hukum di Univeritas Lampung. Umur gw baru 20 tahun dan gw masih virgin 100% dalam arti segala jenis seks pernah gw lakukan kecuali anal seks. Mungkin setiap lelaki yang pernah ML sama gw sedikit kecewa dengan prinsip gw yang satu itu tapi gw gak peduli. Toh….yang terpenting dari seks adalah puas dengan keluarnya sperma berulang-ulang kali. Ya kan?!

Okey, cerita seks pertama gw alami dengan sangat berisiko karna gw lakukan di gym (fitness) deket rumah gw sebenarnya. Gw ketempat fitness itu hanya harian bukan member. Hari Rabu (3 Februari 2010) kemaren tepatnya gw mengalami peristiwa yang takkan terlupakan itu.

Siang hari sekitar jam 11.00 gw tiba di fitness itu dan masuk dengan badan keringatan (karna panas cuacanya). Saat gw baru mengijakkan kaki dipintu masuknya gw sudah dapat melihat seorang cowok berumur sekitar 28 tahun sedang duduk sambil mengangkat barbell kecil ditangan sebelah kanannya. Karna posisi duduknya tepat menghadap pintu masuk dimana gw berdiri, sambil mengisi absent gw curi-curi pandang keselangkangan orang tersebut. Shit….gede juga ucap gw dalam hati. Kemudian gw pun langsung keruang ganti baju. Selang beberapa menit gw pun langsung mencoba treadmill yang terletak di samping tempat dia duduk. Dengan sedikit bersikap acuh gw pun hanya fokus dengan olahraga lari itu, sekitar 15 menitan gw pun beralih alat yaitu kealat peninggi badan. Gw akui tinggi gw cuma 165cm dan itu sangat kurang bagi gw. Gw memasuki ruangan yang berukuran kamar kos murahan dimana alat itu diletakkan. Sebenarnya ruangan itu juga digunakan sebagai tempat ruang ganti baju dengan hanya disekat dengan gorden ditengah untuk membatasi antara alat dan ruang ganti. Disetiap dinding dipasang cermin cukup panjang mungkin mencapai 2m. gw pun mulai mencoba alat itu dengan tiduran telentang diatasnya kemudian gw menaris tuasnya dan badan gw pun serasa ditarik-tarik oleh alat itu. Cukup nyaman rasanya walaupun leher agak pegal. Baru 5menit gw berbaring dialat itu, tiba-tiba orang tersebut masuk keruang sebelah itu untuk berganti baju. Gw pun merasa deg-degan dengan hal itu karena kami berada dalam satu ruangan sempit yang hanya dibatasi gordin setengah tiang itu. Gw pun iseng dengan memasang kamera hp gw dari bawah gordin itu. Dan tampak sekali dia sedang membuka kaos yang penuh keringat itu. Gw pun keasyikan melihat dia setengah bugil sehingga gw melupakan alat gw itu. Dengan posisi tengkurup, gw dapat dapat lebih jelas melihat dia melepas celana boxernya itu. Sehingga kontol gw pun mulai setengah tegang melihat aksi eksotis yang biasanya hanya ada di diskotik. Gw pun mulai mengelus kontol gw sendiri karna sangat terangsang melihat gundukan besar didalam CD biru itu. Dan oww….dia mulai melepas CD nya karna memang CDnya basah karna keringat. Dengan jelas terlihat oleh mata gw sendiri kontol berbatang coklat tapi dipenuhi rambut (jembut) yang cukup lebat dan panjang. Kepala kontolnya yang berwarna putih pucat itu membuat gw makin terangsang dan tanpa gw sadari “adek” gw udah ngaceng total. Alangkah kagetnya gw tiba-tiba aja dia jalan kearah ruangan gw itu dan……….. Gordin itu pun disingkapnya dan gw tertangkap basah sedang mengintip dia ganti baju. Perasaan malu sangat tampak dimuka gw yang memerah. Dengan muka yang menunjukkan raut tak senang dia merampas hp gw dan bilang “kalo mau ngintip bayar donk”. Gw gak mengerti maksud ucapan dia dan gw hanya bisa tersenyum simpul dihadapan dia yang telanjang penuh dihadapan gw. “Bangun lo”perintahnya dengan sedikit membentak. Gw pun bangun dan berdiri dihadapan dia. Kemudian dia duduk di atas alat itu “Duduk!!”gertaknya. Gw pun duduk dilantai tepat didepan kontolnya yang gw liat sedikit tegang. “Kenapa? Lo suka sama kontol gw ini?”ucapnya. “aaahh….nggak kok tadi cuma iseng doank”jawab gw sekenanya. “Ahh…boong lo. Gw hapal sama tingkah homo kayak gini ini”celetuknya. “Sorry deh…gw minta maaf nti…”belum selesai gw ucapin alasan gw. “Pegang kontol gw”gertaknya “haa…..” Dia langsung membimbing tangan kanan gw untuk mengusap dan mengelus kontol itu dan gw agak canggung dengan hal itu (karna baru pertama kali bagi gw). Gw elus dan usap batang kontolnya dan dengan memberanikan diri gw genggam biji pelernya yang besarnya hampir segenggam tangan gw ini. Gw terus mengagumi kontol yang sudah ngaceng penuh itu, gw perkirakan mungkin panjangnya hampir 18cm dengan patokan kontol gw yang cuma 15cm. Gw sangat suka lelaki berwajah cakep dan sangat maskulin dengan sedikit bulu halus di kedua pinggiran wajahnya dan dia sangat memenuhi criteria itu (mm..keren banget lah), cuma satu yang bikin gw agak kesel yaitu ucapan dia yang kayaknya memandang rendah gay. “kok cuma dielus doank….gw pengen yang lebih. Gw pengen lo kulum dan jilatin kontol gw ini seperti lo makan permen”celetuknya. Kepala kontol berwarna kemerahan dan mengkilap dihiasi dengan cairan precum di ujungnya semakin mirip memang dengan es balon (es batang berwarna warni). Dengan sedikit ragu gw mulai dengan menjilat lubang kencingnya yang dipenuhi cairang precum dan uhh…damn…sedikit asin, lengket, licin dan amis mirip getah lidah buaya. Gw hampir enek merasakannya tapi gw tahan. Gw mulai membiasakan lidah gw dengan rasa cairan itu. Kemudian gw emut abis kepala kontol itu dan memilit-milit dalam mulut gw “ahhh…enak banget boy…..terus” rintihnya. gw semakin bangga dengan servisan awal gw dan gw langsung melahap penuh kontol itu meskipun tidak muat dalam mulut gw. Tapi gw paksakan biar memberi kenikmatan yang dahsyat padanya. Gw terus mengeluar – masukan kontol itu dalam mulut gw yang virgin ini. Terus…terus dan terus…. “Ahh…enak banget mulut lo….kayak memek cewek aja” eluhnya. “Terusin…sampe keluar mani gw dalam mulut lo..ahh…” rancaunya gak karuan. Gw semakin gencar dan mempercepat kuluman gw terhadap kontolnya itu. Semakin cepat tanpa menggunakan tangan. Dan jari gw mulai menggosok bagian duburnya dan sekali-sekali gw tekan-tekan dengan jari telunjuk sampai masuk setengahnya. Dia semakin menikmati servisan gw itu. “enak banget boy…..”rancaunya lagi. “Ohh…ahh….gw….” Crooottt…..croooottt..crooottt….mani nya menyembur dalam mulut gw berkali-kali dan sebagian mengalir disela-sela bibir gw. Hangat banget terasa tapi uhhh….damn,…rasanya sangat kaga enak…..tapi gw telan dengan terpaksa. Gw pun terus menjilati kontolnya dan membersihkan sisa-sisa mani nya di lubang kencingnya itu hingga tak tersisa. “ahhh….enak banget kuluman lo….laen kali gw mau lagi”ucapnya Kemudian dia bangkit dan dengan tergesa mengenakan bajunya dihadapan gw. Dia pun pergi tanpa mengucapkan terima kasih dan tanpa nomor hp, tanpa tahu siapa namanya dan tanpa tau dimana rumahnya. “Sialan (dalem hati gw)”, tapi gw cukup seneng sudah mencicipi sebuah kontol besar yang nikmat.

Hujan…..Ohhhhh…….Hujan

Di kampus gua di daerah depok, yang namanya hujan, derasnya minta ampun. mirip bener ama yang namanya hujan badai. walaupun elu udah pake payung, tetap aja kebasahan juga.

Suatu hari, karena ada kuliah sore hari, gua ke kampus naik mobil. biasanya sih naik kereta, lebih irit. tapi berhubung udah sore dan juga cuaca mendung bener, makanya gua kuliah pake mobil.

Ternyata dugaan gua tepat. pas gua lagi kuliah, hujan turun dengan derasnya. udah gitu halilintarnya juga kenceng bener, bikin orang pada kaget semua. dan yang lebih gila lagi, hujannya nggak cuma sebentar. sampe gua abis kuliah, ternyata hujan masih aja turun dan masih tetap deras.

Gua buru-buru aja masuk ke mobil dengan memakai payung, walaupun kebasahan juga, tapi nggak sampe basah kuyup. gua pengen buru-buru balik, soalnya gua takut kalo kelamaan dikit, jalanan bisa banjir. kalo udah banjir bisa gawat, soalnya mobil gua mobil sedan. lagian jalanan macet bener kalo banjir.

Pas gua keluar dari tempat parkir di fakultas gua, gua meliat ada seorang cowok yang jalan tanpa payungan. gua pikir nih anak nekat amat, hujan gini gede kok kagak payungan, apa kagak takut sakit. gua rada kasihan juga, makanya gua deketin mobil gua ke arah dia. pas udah deket, gua baru tahu kalo tuh anak ternyata benny, mahasiswa baru yang tampangnya oke, anaknya tajir dan juga bodinya oke banget. gua pikir nih anak ngapain hujan-hujanan, biasanya doski ke kampus naik mobil, kok kali ini kagak. gua berhentiin mobil gua di sampingnya, terus gua buka kaca mobil gua, dan gua nyuruh dia untuk ikut dengan gua. mula-mula dia kagak mau, tapi karena hujan masih lebat, dan juga jalanan di dalam kampus udah sepi dan gelap, akhirnya dia mau juga masuk ke dalam mobil gua.

Ternyata mobil dia mogok, kagak bisa nyala. terus dia agak bt, soalnya ceweknya ternyata lebih memilih pulang dengan teman cowok saingannya. makanya selama di mobil dia diem aja.

Gua merasa kasihan juga melihat dia. tapi gua juga merasa horny bener, soalnya gara-gara basah kuyup, bajunya jadi nempel ama badannya. badannya yang atletis tergambar dengan jelas. apalagi doski demen bener pake baju yang model ketat. mula-mula gua nanya ke dia kalo dia kedinginan atau nggak. dia agak menggigil keliatannya, makanya gua matiin ac mobil gua. terus gua markir mobil gua di tempat yang agak sepi dan terpencil, gua nyuruh dia untuk tukaran. gua liat ke jok belakang mobil gua, kayaknya masih ada handuk bersih di tas gua. gua ambil tuh anduk, dan gua kasihin ke dia.

Dia buka kaosnya yang ketat, terus tuh kaos di taruh di dashboard. gua terpana meliat dari deket bodi yang bagus itu. apalagi bulu keteknya agak lebat, dan juga ada bulu-bulu halus di dadanya yang atletis. puting susunya juga besar, warnanya coklat kemerah-merahan. perlahan-lahan dia mulai melap kepalanya, lalu mukanya, dan kemudian badannya. kemudian gua buka tas gua lagi, kalo-kalo masih ada handuk yang lain. ternyata masih ada. gua ambil anduk itu dan gua coba bantu dia melap badannya yang basah kuyup. hitung-hitung curi kesempatan dalam kesempitan oooyyyyy.

Mula-mula gua agak ragu, takutnya dia bakalan malu atau marah, tapi pas gua lap tangannya, dia diem aja. yah udah gua terusin aja, gua lap tangannya, lengan atasnya kemudian dadanya. sementara dia terus melap kepalanya yang masih basah. terus tanpa disuruh, dia juga mulai membuka celana jeansnya yang juga udah basah kuyup. gua agak kaget juga pada mulanya, soalnya gua kagak nyangka kalo gua bakalan bisa ngeliat pujaan gua ini cuma make kolor doang di mobil gua. mana kolornya juga udah lepek lagi, jadi tuh kontolnya yang agak gede tergambar juga dengan jelas. celananya dibiarinin di bawah bangku, sementara dia mulai melap kakinya yang berbulu lebat. gua bantuin juga melap kakinya. mula-mula gua lap kaki bawahnya, terus gua naik ke arah paha atasnya. gua lap dengan gerakan perlahan-lahan, dan ternyata hal ini malah membangkitkan gairahnya. gua liat tonjolan di selangkangannya makin lama makin membesar. gua lap terus tuh paha, sekarang malah gua arahin ke tengah, ke arah selangkangannya. ternyata dia diem aja.

Akhirnya gua beraniin diri aja untuk melap tonjolannya yang juga basah kuyup. yang gua heran, ternyata nih anak kagak bereaksi ama sekali. yah udah, gua terusin aja ngelap tonjolan itu dengan penuh nafsu, sampe akhirnya tuh tonjolan jadi makin besar dan makin keras.

Akhirnya gua ajak dia pindah ke jok belakang. dia buka kolornya yang udah basah dan keluarlah kontolnya yang besar dan tegang itu. tuh kontol udah kayak menara aja, ngaceng ke arah atas. mana gede ukurannya dan juga keras bener. gua mulai masukin tuh kontol ke mulut gua, gua mainin pake ujung lidah gua. gua isep bagian kepalanya, dan juga lubang tempat keluar spermanya. gua kilik-kilik pake ujung lidah gua. dia mendesah kenikmatan, matanya terpejam, sementara nafasnya semakin memburu. sementara tangan gua meraba-raba bagian dadanya yang atletis, mencari-cari pentil susunya. gua pencet tuh puting, mula-mula yang kiri terus gantian dengan yang kanan. desahannya makin lama makin kencang, sementara matanya masih tetap terpejam. sementara kontolnya masih aja di mulut gua, gua kulum, gua isep, dan gua kilik dengan lidah gua.

Setelah beberapa lama, akhirnya gua tarik mulut gua dari kontolnya. dia bingung, kok malah berhenti, orang lagi nikmat. terus gua buka celana gua, sekalian juga celana dalam gua. pas gua lagi buka pakaian gua, dia ngocokin kontol dia pake tangannya. pas gua udah bugil, gua naik ke atas dia, gua arahin pantat gua ke kontolnya. dia masih aja tetep ngocok. gua pegang kontolnya, terus gua arahin ke lubang pantat gua. mula-mula memang agak susah untuk masuk, soalnya kepala kontolnya gede bener, tapi dengan perlahan-lahan gua paksain. memang agak sakit sih, tapi gua udah horny bener, gua tetap aja masukin tuh kontol ke dalam pantat gua.

Semakin lama semakin dalam kontolnya masuk ke pantat gua. dan rasanya semakin lama semakin nikmat. setelah masuk semua, dengan posisi jongkok, gua mulai mengayunkan pantat gua ke atas dan kebawah. sampe-sampe pantat gua merasa geli, karena bulu jembutnya yang lebat mengenai pantat gua. sementara tangan gua berpegangan pada bahunya yang kokoh. gua dekati mukanya, gua cium bibirnya. mula-mula dia diem aja, tapi kemudian dia bales ciuman gua. gua emut bibirnya yang seksi, dan gua mainin lidahnya. sementara nafasnya makin lama makin memburu. terus gua turun ke arah leher, gua jilatin lehernya yang kokoh, mukanya, kupingnya. dia mendesah kenikmatan. gua pencet lagipentil susunya, sampe tuh pentil tegang kayak kontolnya. gua terus menggerakkan pantat gua.

Sementara badannya yang tadinya basah ama air hujan, sekarang malah basah ama keringat. makin lama nafasnya makin memburu, dan desahannya berubah menjadi erangan kenikmatan, sampe akhirnya gua berasa dia ikut juga menggerakkan pantatnya ke atas, sehingga kontolnya semakin dalam masuk ke pantat gua. dengan beberapa gerakan, akhirnya keluar spermanya di dalam pantat gua. sementara matanya masih terpejam, namun erangannya masih terdengar. setelah beberapa semprotan, akhirnya dia membuka matanya, dan tersenyum. kemudian dia mengecup bibir gua sekali lagi, sambil mengocok kontol gua dengan tangannya. nggak membutuhkan waktu lama untuk keluar sperma dari kontol gua. bener-bener hujan membawa nikmat.

kritik dan saran, kirim aja mail ke dewa.19@mailcity.com

BY ANTHONY Hari beranjak sore. Aku bergegas bangun tidur dan segera berangkat ke Sport Center. Pukul 17.00 WIB nanti akan diadakan pertandingan basket antara sekolahku dengan SMU X. Kebetulan aku terpilih menjadi salah satu pemain basket yang ikut bertanding. Sesampainya di sana aku segera ganti pakaian dan langsung ke arena pertandingan. Pertandingan terasa berlangsung dengan cepat dengan kemenangan ada pada regu sekolahku. Seusai pertandingan aku ngobrol dan evaluasi pertandingan dengan pelatih basketku. Tak terasa seorang demi seorang berlalu meninggalkan lapangan basket. Yang tersisa sekarang hanyalah aku dan pelatihku. Tak begitu lama pelatihku pun pamit pulang. Tinggallah aku sendiri di lapangan. Aku segera menuju ruang penyimpanan barang-barang. Di sana aku menemukan sebuah tas ransel hitam, entah siapa yang punya. Aku menjadi penasaran, aku buka tas ransel itu. Tak banyak isinya hanya sebuah album dan pakaian ganti satu setel. Penasaran siapa yang punya, aku buka album itu. Tak kuduga album tersebut berisikan foto-foto cowok-cowok model yang sedang berpose aduhai. Tanpa berpikir lebih lanjut aku buka satu-persatu lembarannya hingga habis tak tersisa. Kontolku saat itu sudah keras terbalut celana basketku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara Andre – pebasket dari sekolah lawanku – yang muncul di balik pintu “Kamu suka ?”. Aku sangat terkejut mendengar pertanyaannya sampai tanpa kusadari album foto itu jatuh dari genggaman tanganku. Andre lalu mengambil album foto itu dari lantai lalu berkata “Ini aku dapat dari sodaraku yang bekerja di salah satu agensi di Jakarta. Kalau kamu suka kamu boleh pinjam, di rumah aku masih punya beberapa album lagi. Kamu mau ?”. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan. Ia lalu memberikan alamatnya kepadaku kemudian ia mengambil tasnya dan pergi menuju tempat bilas. Sejenak aku termenung akan kejadian barusan dan ketika aku sadar aku langsung mengikuti Andre menuju ke ruang bilas. Dalam perjalanan aku bertanya kepada Andre “Ndre, apa cowok-cowok tadi itu gay ?”. Lalu dijawabnya “Ia, jangan kaget banyak di antara cowok model kita yang rela menyerahkan tubuhnya agar bisa terkenal.” Aku bertanya lagi “Sejak kapan sih kamu mengoleksi foto-foto kaya gitu ?”. Ia jawab “Sejak aku ngefans sama mereka.” “Apa kamu juga gay ?” tanyaku tanpa sadar kepadanya. Kali ini ia hanya menjawab dengan senyuman. Aku pun membalasnya dengan memberikan senyumanku yang sensual. Ia lalu merangkul pingganggku hingga kita sampai ke tempat bilas. Sesampainya di sana, Andre mencium bibirku dengan gentlenya. Lidahku dan lidahnya bertemu dan bergelora mengikuti arus gairah yang tidak terbendung. Sambil menciumku dengan penuh nafsu, Andre mencoba melepas baju basketku yang tanpa lengan itu. Ia lalu merapatkan tubuhku ke dinding kamar bilas dan bibirnya mulai beranjak turun dari bibirku. Leherku diciumnya dengan penuh nafsu. Kini bibirnya merambah pentil susuku. Dengan lembut dikecupnya pentilku lalu lidahnya bermain di pentilku. Aku agak kegelian karena goyangan lidahnya dan nafasnya yang menerpa dadaku. Setelah puas menjelajahi pentil susuku, bibirnya berpindah ke perutku yang rata dan ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Aku hanya dapat mengerang kenikmatan sambil terus menyemangati Andre untuk terus menjelajahi tubuh sensualku. Ia lalu menurunkan celana basketku hingga aku hanya mengenakan CD string bikini saja yang membalut kontolku yang sudah memberontak ingin cepat keluar. Namun Andre tidak segera menurunkan CD ku, ia malah terus menciumi kontolku dari luar string bikiniku. Tiba-tiba Andre berseru tertahan “Ton sekarang giliranmu.” Ia lalu berdiri dan dari belakang aku berusaha menangkap tubuhnya yang padat berisi itu. Aku mencium tengkuknya, bagian tubuh yang menurutnya paling erotis. Aku lalu membalikkan tubuhnya hingga wajahnya berhadap-hadapan denganku. Tanpa banyak bicara lidahku segera menjulur menerobos bibirnya yang membuka dengan sensualnya. Tiba-tiba air dari shower mengucur membasahi tubuh kami. Dinginnya air shower itu seakan tidak mengendorkan gairah nafsu kami. Tubuhnya yang kekar khas pemain basket itu terbalut kontum basketnya yang sudah sangat basah oleh air, begitu juga celananya. Namun tak lama kemudian saat aku masih asyik mengulum lidahnya yang sexy, ia melepaskan bibirnya. Ia mengatakan bahwa ia kedinginan. Kami lalu mengambil handuk dan mengakhiri acara bilas kami. Kami lalu kembali menuju ke ruang ganti. Di sana aku melepaskan baju basketnya sehingga ia tampak begitu sexy. Aku lalu membaringkan Andre ke kursi panjang yang terdapat dalam ruangan itu. Kembali wajahku dan wajahnya bersatu dalam gairah yang membara. Segera aku menurunkan wajahku hingga ke pentilnya. Kuemut pentilnya yang imut itu lalu kugigit-gigit lembut Andre terpekik tertahan. Aku yang sangat terkagum dengan dadanya yang macho itu tidak melepaskan setiap inchi dadanya untuk kujilati. Tiba-tiba terdengar langkah orang mendekat. Aku dan Andre kaget dan lalu berusaha menutupi tubuh kami dengan handuk yang ada. Kami lalu berpakaian. Kembali kenikmatan kami terganggu. Andre lalu mengajak aku ke rumahnya. Tanpa sabar lagi kami berlari menuju mobil Andre. Sesampainya di rumah, rumah tampak lengang. Kedua orang tua Andre belum pulang kerja dari kantor. Kami langsung masuk kamar Andre yang besar itu. Andre segera melolosi seluruh pakaian luarnya dan kembali berbaring di ranjangnya yang empuk itu. Kini sasaranku adalah kontol Andre. Mulutku kini berada di atas CD Andre. Aku jilat kontolnya yang masih berada di dalam CD. Andre tidak sabar lagi. Ia meminta aku agar membuka Cdnya. Aku yang ingin ia penasaran tidak mau membuka Cdnya sampai Andre benar-benar terangsang. Perlahan-lahan aku turunkan Cdnya. TernyataAndre memiliki kontol yang cukup besar sekitar 17 cm dan bentuknya oke banget tanpa dihiasi bulu-bulu jembut. Aku segera kulum kontol Andre lalu tanganuk memegang biji pelernya. Aku cium-cuim kontolnya hingga Andre mengerang penuh kenikmatan. Rupanya servisku pada kontol Andre sangat mengasyikkan bagi Andre. Tiba-tiba saja ia memuncratkan spermanya ke mulutku. Aku kaget sekaligus kecewa karena semuanya berakhir dengan cepat. Aku lalu menghabiskan cairan pria milik Andre. Ternyata Andre juga tidak ingin kemesraan ini segera berlalu. Ia menarik aku hingga kontolku yang masih sangat tegang sekali ini berada di atas wajahnya. Ia lalu melakukan oral seks untukku. Andre memang seorang cock sucker yang asyik. Tiba-tiba aku merasa ada tangan yang memeluk aku. Aku menoleh dan melihat Roy teman Andre memeluk aku dengan mesranya. Andre menjelaskan kalau Roy itu pacarnya. Aku langsung merasa nggak enak ngeseks sama cowok orang. Namun ketika aku ingin meminta maaf, mulutku telah disumbat oleh mulut Roy yang dengan mernafsu memuluti mulutku. Adegan segera berganti. Roy mengeluarkan kondom dan mengambil baby oil yang terletak di laci lemari Andre. Ia lalu melumuri pantat Andre dengan baby oil juga kontolnya yang besar. Ia lalu memasukkan kontolnya ke dalam pantat Andre. Aku nggak mau kalah. Aku lumuri kontolku dengan baby oil dan memasukkan kontolku ke dalam pantat Roy yang bahenol itu. Roy memekik tertahan namun aku malah mempercepat goyanganku. Tak lama kemudian aku memekik tertahan “Aku mau keluar”. Ternyata Andre dan Roy juga menginginkan hal yang sama. Secara hampir bersamaan kami mengeluarkan cairan cinta kami. Setelah itu Andre memasang air hangat di kamar mandinya yang terletak di kamarnya itu. Kami bertiga kemudian berendam di baththub Andre. Sambil berendam kami menceritakan pengalaman seks kami masing masing.. Rupanya kegiatan itu membuat kontol kami bangun lagi. Roy lalu mengangkat aku dari baththub dan mengulum kontolku. Rupanya ia ingin merasakan nikmatnya kontolku. Lalu kami berbaring di lantai kamar mandi Andre dan melakukan posisi 69. Andre yang terangsang tapi tidak mendapat bagian lalu melakukan auto felatio. Setalah 15 menit bergelut dengan kontol Roy akhirnya Roy kembali mengeluarkan magma putihnya disusul dengan aku dan Andre. Malam itu menjadi malam yang mengasyikkan buat kita bertiga. Buat yang mau kasih saran atau kenalan kirim ke Vladd98@yahoo.com ——————————————————————————–

Tulisan ini fiktif dan segala kesamaan yang timbul baik dalam bentuk nama, tempat, ataupun penokohannya adalah kebetulan semata. Mimpi Dimas Dimas terbangun pagi itu dengan keengganan yang sangat. Pagi Sabtu itu cerah sekali, langit begitu biru bersih karena hujan yang turun semalam seolah mencuci dan membersihkannya dari awan-awan hitam yang memuramkan angkasa. Hujan membuat warna biru tampak begitu seronok dan rancak. Burung Jalak peliharaan Daddy beriuh kicau semarakkan hangat sinar yang menyelusup ke dalam kamar dari celah tirai yang tak tertutup rapat. Duh sayangnya, kenikmatan bangun pagi yang biasanya begitu membahagiakan hati tidak terasakan oleh Dimas di hari itu. Setidaknya akhir-akhir ini Dimas merasakan bangun pagi sebagai suatu siksaan karena ia selalu diganggu oleh mimpi yang membuatnya terbangun di tengah malam dan sulit sekali untuk dapat memicingkan mata sesudahnya. Tetapi, suara dering telepon tidak memungkinkan Dimas memanjakan keengganannya itu. Ia pun terbangun dan mengangkat telepon, suara Alif. Alif, sahabatnya, Sabtu pagi itu akan menikah. Alif yang dulu teman sepermainan dan sesekolahnya akan meninggalkan masa lajang. Alif, sahabat terdekat Dimas. Alif yang wajahnya merupakan pahatan sempurna seorang Melayu dengan kulit sawo matang, tinggi seratus delapan puluh dua sentimeter, alis tebal kelam, perawakannya yang tegap, rambut yang halus dan agak berombak dan kelebihan utamanya, tatapan mata yang tajam serupa elang mengincar mangsa. Tak heran, banyak yang bilang wajahnya meyerupai Marlon Brando muda ketika bermain pertama kali dalam filem klasik A Street Car Named Desire. Tiga puluh tiga tahun usia mereka, sepantasnya memang pernikahan menjadi pilihan selanjutnya dalam perjalanan hidup. Tapi itulah sumber keengganan Dimas hadir dalam upacara pernikahan tersebut, rasa yang selalu muncul setiap kali ia dihadapkan pada keadaan untuk menghadiri acara-acara sosial yang mempertemukannya dengan sanak dan teman. Terbayang akan pertanyaaan yang kerap terlontar setiap kali mereka berjumpa Dimas, pertanyaan yang dari itu ke itu dan selama beberapa tahun terakhir semakin acap didendangkan oleh mereka yang, katanya, peduli. Apalagi sekarang ketika Alif akhirnya memutuskan untuk mengikrarkan ijab kabul kepada Deana, kekasihnya selama empat tahun terakhir dan kebetulan merupakan sepupu Dimas sendiri. Keputusan ini menghadapkan Dimas pada kenyataan bahwa ‘he’s become the last of the Mohicans’. Dialah satu-satunya orang di tengah keluarga besar Morgan, his Daddy, dan Suryohadikusumo, Bundanya, bahkan di antara teman-teman dekat kuliahnya dulu yang masih belum menikah. Jangankan menampakkan kemungkinan untuk menikah, saat ini tak satupun gadis yang memiliki hubungan dekat dan khusus dengan Dimas. Padahal apa sih kurangnya Dimas. Dengan tinggi seratus delapan puluh empat sentimeter, perawakan yang sangat proporsional dengan dada yang bidang dan kaki yang panjang dan kokoh, kulit yang putih susu bersemu merah, rahang yang persegi melebar di bawah telinga dengan dekik pembelah dagu dan alis serupa dua iringan semut-semut hitam. Karakter-karakter fisik yang diturunkan sang Daddy, seorang Amerika yang ahli budaya Jawa dan jatuh cinta pada seorang puteri keraton Yogyakarta, anak pemilik perkebunan tebu terluas di Jawa. Daddy, yang empat puluh tahun silam menikahi Bunda dan memutuskan untuk memilih Nusantara sebagai tanah air barunya. Sedang dari sang Bunda, Dimas memperoleh rambut hitam kelam dan warna mata yang coklat muda, dengan jari-jari panjang, halus namun kuat dan teguh yang membuatnya mampu memainkan Concerto for Piano No.3 milik Rachmaninoff sama baiknya dengan kepalan tangannya yang di masa kuliah dulu menjadikannya atlet karate terbaik di Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional. Dimas Morgan, lelaki yang tidak pernah kurang pemuja dan pengagum dari masa sekolah hingga sekarang, di tempat ia sebagai salah seorang pembaca berita dan reporter di salah satu televisi swasta. Didi, panggilan kecilnya, yang perpaduan darah Kaukasia dan Asianya sering digambarkan seperti Ricky Martin yang latin itu. Dimas yang ramah, supel, cerdas, humoris, elegan, dan memiliki aura misterius yang membuat siapapun selalu ingin lebih dekat dan mengenalnya lebih jauh. Kenyataan bahwa ia adalah putera satu-satunya dari puteri seorang tuan tanah kaya berdarah biru dan seorang cendikiawan yang keahliannya dihormati di Indonesia dan negara manca, membuat Dimas sering dianggap tidak memiliki satu kekurangan berarti sebagai seorang manusia. Kecuali, mungkin, satu hal yang tidak pernah diketahui dan disadari siapapun, Dimas adalah seseorang yang pengharapan seksualnya berada di luar norma masyarakat pada umumnya. Pencerahan akan ‘the real object of Dimas’ affection’ itu sendiri datang belum lama dalam tiga dan tiga puluh tahun perjalanan hidupnya. Yang ia tahu, selama ini ada sesuatu yang salah dengan diri dan pengharapannya terhadap seksualitas dan pengejawantahannya, karena berseberangan dengan nilai dan moral sosial yang selama ini terinternalisasi dalam dirinya. Bertahun sudah hasrat itu diredam dan dipendam sedalam mampunya, tanpa keberanian untuk belajar menerima kenyataan ataupun menepiskannya sama sekali. Dimas tumbuh menjadi seseorang yang apatis terhadap seksualitas dirinya, ia merasa tidak berdaya melawan pertentangan moral dan nilai-nilai yang dianutnya. Lebih jauh, keapatisan seksualnya meluas dan mengkontaminasi berbagai aspek hidupnya, termasuk pandangan akan masa depannya. Dimas wants to settle down someday. Tetapi ia selalu merasa ragu dan bimbang setiap kali ia menjalin hubungan dengan gadis manapun dan lari menjauh ketika dihadapkan pada pilihan untuk meningkatkan hubungannya ke tahapan yang selama ini menjadi momok dan monster yang menghantui tidurnya, pernikahan. Dan semalam, mimpi itu datang lagi. Mungkin, mimpi itu sendiri merupakan wahana pelepasan tekanan yang ia tahu harus dihadapi esok harinya. Ia tak mengerti, yang pasti mimpi itu telah mengganggunya dua minggu terakhir ini. Menjelang pernikahan Alif, mimpi itu sering datang dan menghambarkan tidur Dimas dan membuatnya terjaga dan baru bisa terlelap larut menjelang fajar. Akibatnya, ia selalu bangun dengan kondisi fisik dan emosi yang letih. Mimpi itu tidak pernah berubah. Ia bermimpi bahwa ia sedang melaksanakan upacara pernikahannya sendiri. Ia akan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya, Ayu, puteri pemilik pabrik gula yang selama ini menjadi tempat pemasokan hasil tebu dari perkebunan keluarga mereka. Satu pernikahan yang akan memiliki nilai ekonomi sangat tinggi karena merupakan perpaduan antara dua keluarga yang memiliki akar bisnis yang sama. Penguasaan dari hulu ke hilir yang akan memperkaya kerajaan bisnis keduanya. Mimpi itu selalu dimulai dengan situasi yang sama. Dimas sedang menggenggam tangan Ayah Ayu dan hendak mengucapkan ikrar ijab. Ia tampak gagah dengan setelan jas putih dengan kopiah berwarna senada. Sementara Ayu duduk bersimpuh di sebelahnya, sangat cantik dengan kebaya putih dan kain batik melilit tubuh dan ronce melati menghias rambut. Selendang putih panjang tersampir menautkan bahu dan kepala mereka. Bunda terdengar terisak dan Daddy merangkulnya tepat di belakang mereka berdua seraya menghapus air matanya. Ruang tengah di rumah keluarga Hadisasono di Cinere yang besar dan megah telah disesaki oleh handai dan kawan yang tampak hanyut dalam kesakralan upacara pernikahan. Tapi suasana itu tiba-tiba terusik dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba berteriak, “Berhenti, Dimas tidak boleh menikah dengan Ayu!”. Semua tatap nanar ke arah datangnya suara yang mengganggu itu. “Alif?!”, seru Dimas terkejut. Tanpa berkata sepatah jua Alif masuk ke ruang tengah tempat upacara akad nikah sedang berlangsung dan dengan tenang merenggut tangan Dimas dari genggaman tangan sang kadi, dan bagai kerbau dicucuk hidung, Dimas bangkit dari silanya dan mengikuti Alif menuju pintu depan. Semua orang hanya mampu memandang keduanya, tergugu, tanpa mampu berbuat apa karena kejutan yang tak disangka itu melumpuhkan mereka sesaat. Di luar, motor Harley milik Alif telah menanti dan mereka pun naik berboncengan dan melaju cepat meninggalkan Hadisasononan. Alif mengarahkan motor besarnya menuju Bogor dan terus ke puncak. Sepanjang perjalanan keduanya diam tak bertukar sapa. Hanya ada satu rasa yang meraja di dalam hati Dimas, ia merasa beruntung telah diselamatkan dari satu kesalahan yang mungkin akan ia perbuat, menikahi seseorang yang tidak ia cintai. Mereka tiba di villa keluarga Morgan di daerah Ciawi sana. Hari masih cukup pagi, matahari sepenggalah di timur memberi hangat tak menyengat. Udara puncak yang sejuk memberi keteduhan di hati Dimas. Alif memarkir motornya tepat di depan pintu villa dan melangkah ke menuju pintu gerbang dan memberi isyarat tangan kepada Dimas untuk mengikutinya. Keduanya berjalan ke arah perkebunan teh tempat mereka biasa bermain sejak masa kanak-kanak. Suasana hening terasa di tengah lautan daun teh muda yang belum layak petik. Tak tampak sesosok pun sejauh mata memandang. Hanya rumpun-rumpun teh menghampari bukit. Hijau. Ada dangau di puncak bukit tertinggi tepat di belakang villa mereka. Dangau tempat para pemetik teh biasa membuang penat di musim petik. Mereka berjalan ke sana menyusuri jalan setapak yang memisahkan satu petak lahan teh dengan yang lainnya. Jalan condong meninggi empat puluh lima derajat sejauh lima ratus meter untuk mencapai dangau. Mereka berjalan dalam diam. Mereka berdua tetap terdiam ketika sampai di dangau kayu yang mulai lapuk karena usia. Akhirnya, Alif memecah keheningan dengan berkata, “Di, maaf, aku tidak bisa membiarkan kamu menikah dengan Ayu karena aku tahu kamu tidak mencintainya”. Dimas diam dan tak menjawab akan tetapi segenap hatinya mengamini perkataan sahabatnya itu. Alif melanjutkan pebicaraan, “Dan aku tahu, di hatimu ada orang lain yang kamu cintai, aku”. Dimas memalingkan kepalanya dan menatap tajam mata Alif yang sedang memandang ke arahnya dengan bibir tersenyum dan matanya berbinar menggoda. Dimas tersenyum dan mengangguk. Mereka pun terdiam lagi, hanyut dalam pikiran masing-masing. Bimbang tak tentu ke arah mana percakapan mereka akan menuju. Mereka duduk berdampingan dengan kaki menjuntai di bibir lantai dangau, setengah meter di atas tanah. Berdekatan. Tiba-tiba Alif tersentak oleh erangan Dimas yang tiba-tiba terisak dan kedua tangannya menutup wajahnya dan berulang-ulang berseru di tengah isaknya, “Apa yang sudah aku lakukan? Apa yang sudah aku lakukan?”. Alif meletakkan jemarinya di atas kepala Dimas, melepas kopiahnya dan membelai rambut Dimas yang legam, “Maafkan aku Di. Aku tidak…” Belum selesai Alif menyelesaikan perkataannya Dimas menengadahkan kepalanya dan tidak memberi kesempatan bagi Alif untuk menyelesaikan kalimat karena bibir Dimas telah menekan bibirnya, lembut. Alif tersentak tetapi membalas sentuhan itu dengan menekankan bibirnya, mengecup bibir bawah Dimas. Mereka ulangi berulang kali, bergantian. Atas, bawah, semakin cepat dan keras kecupan itu berubah menjadi pagutan seolah keduanya ingin menelan bibir masing-masing. Hangat. Tubuh keduanya bergetar karena sensasi yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Jemari keduanya saling menyentuh dan membelai wajah masing-masing seraya menjaga agar persebibiran itu tak terpisahkan. Udara yang mereka hirup dan hembus menerpa wajah menimbulkan suara desah yang berpadu dengan semilir angin. Bibir mereka jadi satu. Bibir mereka basah oleh saliva dan air mata Dimas. Lidah mereka bersentuhan dan bertaut merasakan asin namun memberi kesegaran yang manis bagi jiwa mereka yang dahaga karena damba yang tak terpenuhi selama ini. Lembut dan lambat, Alif membaringkan Dimas di lantai dangau. Bibir mereka tak juga lepas berpagut. Lidah mereka enggan berhenti bertaut. Napas mereka semakin memburu, desah mereka tak kunjung reda, tubuh mereka semakin menghangat ketika tubuh Alif berada penuh di atas dan menekan tubuh Dimas. Jari-jari Alif menyentuh lembut dada Dimas dan perlahan membuka kancing paling atas kemeja Dimas. Tangan Dimas membelai rambut Alif dan perlahan turun menyentuh punggung Alif yang keras dan hanya terbalut oleh sehelai kaos oblong. Satu demi satu kancing kemeja Dimas terbuka dan menampakkan kulitnya yang putih namun semakin memerah karena jantung yang berdegup begitu cepat memaksa darah mengaliri tubuh dengan cepat pula. Puting dada Dimas tampak menegak dan mengeras karena sensasi yang membuatnya terbangun dari lelap. Alif membelai kedua puting itu dengan kedua ibu jarinya, memutari daerah melingkar sekitarnya yang membuat Dimas memejamkan mata menikmati rasa yang belum terbiasa. Alif mengecup kedua puting itu dan menjilatnya. Bergantian, kanan, kiri. Dan perlahan bibirnya turun mengecup perlahan sepanjang garis tengah tubuh Dimas hingga ke pusar. Sementara jemari Alif tak henti menari di sekitar puting Dimas. Sensasi geli yang nikmat menjalari seluruh raga Dimas. Tapi mimpi itu selalu berakhir di sana, di saat Dimas sedang merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, matanya mendadak terbuka dan nanar menatap langit-langit kamarnya. Dimas terbangun, setengah tiga pagi. Rasa letih dan kesal melanda diri karena mimpi yang tak terselesaikan. Dan selalu, Dimas merasakan sekujur tubuhnya membara dan basah oleh keringat karena desakan rasa yang tak tersalurkan. Dimas dapat merasakan kalau di balik katun segitiga penutup daerah tengah tubuhnya, ketegangan itu tak terkendalikan. Aliran darah begitu cepat mengaliri batang kenikmatannya yang mendesak dan menyesaki ruang sempit diantaranya. Tangan dan jemari Dimas perlahan merayapi tubuhnya, dari dada perlahan membelai turun menyusuri lekukan dadanya yang membusung dan abdomennya yang datar sampai menyentuh karet yang jadi penghalang antara jemari dan penisnya. Tangan kiri Dimas menurunkan karet itu hingga jari-jari tangan kanannya leluasa menyentuh monumen kejantanannya yang telah tegak berdiri. Dimas membelai perlahan dari atas ke bawah menyusuri setiap lekuknya, merasakan ketegangan dan denyut urat yang seolah membentuk satu ukiran penghias monumen itu. Ia pejamkan matanya dan membayangkan jemari Alif lah yang membelai kelelakiannya. Dimas bangkit dan berdiri di tepi tempat tidur. Dengan satu sorongan tangan ia melepas celana dalamnya. Dimas memang biasanya tidur dengan hanya mengenakan penutup auratnya saja, dan juga di malam itu. Kemudian Dimas berjalan menuju lemari yang terletak sepanjang sisi kamarnya yang berhadapan dengan tempat tidurnya. Di atas salah satu raknya ada fotonya bersama Alif sedang saling berpelukan dan tertawa. Saat-saat bahagia mereka ketika kuliah di New York dulu. Dimas memejamkan matanya dan membayangkan wajah Alif yang tertawa dan saat-saat mereka hidup bersama dalam satu apartemen di West Street dekat dengan tempat kuliah mereka di University of Columbia. Betapa ingin ia kembali ke masa dulu dan betapa tidak relanya ia karena Alif akan menikah pagi itu. Dan Alif terus merajai alam khayal. Tangan Dimas menyentuh kembali tunas jantan yang masih tegak tak kunjung layu. Dimas memainkan jemari kedua tangan di sekitar genitalnya. Jari-jari kanannya menyelimuti tunas itu dan perlahan naik dan turun. Jemari kiri Dimas menari di tengah rambut-rambut ikal yang merimbun di pangkal penisnya dan berganti turun menyusuri pangkal paha ke arah kedua kantung benih di bawah batang yang sudah penuh, matang dan siap dituai. Sesekali Dimas mengalihkan tangannya untuk membelai kedua putingnya dan mencubitnya dengan lembut. Jari-jari kanan Dimas semakin meningkatkan intensitas gerakannya, ke atas, ke bawah dan sesekali bermain di sekitar cendawan dan ujung atas di bagian bawah yang merupakan batas lipatan bekas dikhitan dulu. Tangan kiri Dimas kemudian turun setelah puas memainkan putingnya dan turun lagi membelai daerah antara kantung-kantung menggelantung dan lubang pembuangannya dengan ujung-ujung jarinya. Menggelitik, menggairahkan. Namun lama kelamaan Dimas semakin sulit menahan desakan yang semakin kuat. Jari-jari Dimas meresponnya dengan mempercepat gerakannya, atas, bawah, semakin cepat dan cepat. Wajah Alif terus membayang sementara nafas Dimas semakin memburu menahan tekanan yang ia rasakan dari bawah buah pelirnya terus ke batang kejantanannya dan menjalar ke seluruh badan. Menggetarkan, merangsang. Dimas tidak mampu lagi menahan dan membiarkan benih-benih itu mencari jalannya keluar ke alam persemaian. Dengan erangan yang tertahan Dimas melepas beban dan dari penisnya memancarkan cairan mani, tinggi, dan sebagian jatuh di badan dan lantai kamarnya. Semburan itu berulang beberapa kali dan di kali terakhir Dimas menghembuskan nafas panjang seolah letih sehabis kerja sehari penuh. Pukul tiga pagi. Dimas membaringkan tubuhnya di atas pembaringan dan memicingkan matanya dan mencoba untuk tidur kembali. Sulit sekali rasanya. Menjelang pukul lima ia baru bisa terlelap. Namun tiba-tiba telepon di samping tempat tidurnya berdering dan dengan terkejut Dimas mengangkat gagangnya setelah bunyi ketiga sembari duduk di atas kasur. Telanjang. Halo, sahutnya, dan ternyata di ujung sana terdengar suara Alif yang menelepon untuk membangunkannya dan meminta ia untuk datang secepat mungkin. Hari menjelang pukul setengah enam pagi, Dimas bangkit dari tempat tidurnya, berpakaian dan membawa setelan jas yang akan dikenakannya nanti ke mobil. Ia tidak mandi terlebih dulu karena sekarang pun ia sudah terlambat dari jadwal yang direncanakan. Pertama ia harus mengantarkan kedua orang tuanya ke rumah Pakde Haryo Suryohadikusumo, satu-satunya saudara laki-laki Bundanya dan salah seorang Dirjen di Departemen Kesehatan, di Jalan Sekolah Duta Raya Pondok Indah, lalu pergi ke rumah Alif. Ya sudah, mandi di tempat Alif saja pikirnya. Ia memang telah berjanji akan menemani Alif berangkat bersama menuju tempat upacara pernikahan di kediaman keluarga Suryohadikusumo, karena itu Alif menelpon sepagi itu untuk mengingatkannya. Alif bilang di saat-saat terakhirnya sebagai seorang lajang, ia takut dan ia ingin ditemani oleh Dimas, sahabatnya sejak kecil, agar ia merasa lebih tenang dan siap mengayunkan langkah kaki ke dalam satu kehidupan baru. Pagi itu sejuk dan segar sekali. Mobil BMW 520i warna hijau daun metalik milik Dimas meluncur tenang di jalan sepi. Seandainya setiap hari jalan-jalan di Jakarta selalu sesepi ini maka alangkah senangnya berkendara di ibukota. Hanya lima belas menit saja waktu yang dibutuhkan Dimas untuk sampai di Pondok Indah dari kediamannya di Jalan Mangunsarkoro, Menteng. Tidak lama setelah kedua orang tuanya turun di rumah calon mempelai wanita, sepupunya, Dimas mengarahkan mobilnya ke arah Kuningan, rumah sahabatnya Alif, calon mempelai pria. Sepuluh menit kemudian Dimas tiba di rumah besar di Jalan Klungkung dan memarkir mobilnya di pinggir jalan depan rumah. Pintu pagar terbuka lebar dan tampak kesibukan di kediaman keluarga Rahman, urang awak yang pengusaha pemilik jaringan pasar swalayan ini sudah mulai terasa karena hari sudah menjelang pukul enam pagi. Dua orang supir keluarga sibuk membersihkan kendaraan-kendaraan yang akan digunakan. Dimas masuk dari pintu belakang yang melewati dapur. Tampak kesibukan mempersiapkan sarapan pagi terasa di sana. Bagi keluarga Rahman, ia sudah dianggap sebagai anggota keluarga dan karenanya Dimas tidak merasa canggung di rumah itu. Dua puluh delapan tahun sudah Alif bersahabat dengan Dimas, sejak mereka sama-sama bermain di TK Mini Pak Kasur di Jalan Kebun Binatang Cikini dulu. Kini mereka berdua sudah jadi lelaki dewasa yang membanggakan kedua keluarga. Dan persaudaraan mereka akan bertambah kental karena Alif akan menikah dengan Deana, sepupu Dimas. Dimas menyapa setiap anggota keluarga yang dijumpainya dan melangkah menaiki tangga ke atas menuju kamar Alif. Dia menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh Alif saat ini. Bersambung ke bagian dua: Keraguan Alif Catatan: – Frase ‘tunas jantan’ dikutip dari novel ‘Saman’ karya Ayu Utami di halaman 193 For someone in Bandung, you know who you are, I just want to say that you’ve become my inspiration and motivation that have made me finally able to sit down in front of my PC, and write all the things I wanted to say about being what we are enduring right now. You are absolutely right, it was an interesting and harmless way of releasing the tension, I might do it again. And perhaps, it can be, somehow, a therapy for me. So my dear friend, thank you. Thank you for the suggestions, for keeping me on the right track of the story, for believing me, for helping me deal with all of my dilemmas, for everything. You’re the best. Silakan layangkan saran dan kritik anda ke alamat dimasalif@hotmail.com. Terima kasih atas perhatiannya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 56 pengikut lainnya.