Latest Entries »

Petualangan Anak Desa

 

Jamal adalah sosok anak desa di perbatasan DKI dan Kabupaten Bogor. Usianya baru 17 tahun dan dia duduk di kelas II MTs. Kehidupan di desa itu sangat sepi, jauh dari hingar bingarnya kehidupan kota besar. Hiburan utama bagi warga desa adalah siaran TVRI dan beberapa televisi swasta yang dapat ditangkap di desa itu. Sesekali ada panggung hiburan dangdut atau layar tancap apabila ada warga yang mengadakan pesta khitanan atau pernikahan. Tapi tidak berarti kehidupan Jamal di desa terasa hambar dan membosankan.

Pada usia pubernya itu secara alami Jamal mulai merasakan gejolak sex yang menggebu. Tapi dia belum berani melampiaskan nafsu birahinya itu dengan lawan jenisnya. Selain takut resiko kehamilan, kata guru ngajinya, dosa berzina adalah empat puluh tahun. Maka sejak mimpi basahnya yang pertama kira-kira dua tahun yang lalu, seperti umumnya remaja sebayanya, dia biasa merancap sedikitnya seminggu dua kali untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya itu. Akhir-akhir ini dia mulai bosan merancap, tapi dia tidak tahu cara lain yang aman, praktis serta nikmat untuk memuaskan hasrat birahinya. Kehidupan sex Jamal berubah drastis secara tidak sengaja pada suatu hari.

Siang itu dia sedang menggembalakan kambing di tepi hutan di dekat desanya. Dia ditemani Wani tetangganya siswa kelas II SMP yang baru berusia 15 tahun. Kedua remaja itu duduk berdampingan bersandar di sebuah pohon besar yang rindang. Tiba-tiba seekor kambing jantan tampak menunggangi seekor kambing betina. Jamalpun terangsang. Perangkat birahinya langsung tegang di balik celananya. “Wan, sialan tuh kambing! Bikin gue ngaceng!” katanya. Wani terkenal jahil, badung dan cuek. Dia segera memasukkan tangannya ke celah celana pendek Jamal yang longgar, lalu meraih dan menggenggam perangkat birahi Jamal yang tegang sepanjang 12 cm dengan diameter sekitar 2 1/2 cm. “Ooohh!” desah Jamal lembut merasakan nikmatnya kehangatan genggaman Wani pada batang kejantanannya itu. Jantungnya berdebar dalam perasaan tak menentu. Bingung, suka, takut, nafsu, malu dan penasaran berbaur jadi satu. Tapi dibiarkannya Wani memainkan perangkat birahinya sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kepala kejantanannya segera basah oleh cairan yang bening dan lekat.

Wani menanggalkan celananya. Seperti anak desa lainnya dia tidak pernah mengenakan celana dalam. Perangkat birahinya yang sudah tegang langsung utak-atik di pangkal pahanya. Jamal kaget melihat batang kejantanan Wani yang sangat besar untuk ukuran remaja kecil seusianya. Panjangnya mencapai 16 cm dengan diameter hampir 3 cm. Bulu kemaluannya masih halus sehingga tampak janggal dengan perangkat birahi sebesar itu. “Mal, yuk kite maen kawin-kawinan kayak kambing ntu!” ajak Wani dengan suara gemetar akibat nafsu membara. Jamal segera menanggalkan celana pendeknya. Wani menyuruhnya berdiri sambil membungkukkan badannya. Jamal menurut saja. “Jangan dimasupin ye Wan!” katanya cemas mengingat batang kejantanan Wani yang luar biasa besar itu. “Kagak!” kata Wani lalu menyelipkan perangkat birahinya di belahan buah pinggul Jamal.

Belahan buah pinggul Jamal kembang kempis seperti empot ayam menjepit-jepit batang kejantanan Wani yang terasa hangat mengganjal sehingga Wani mendesah lembut merasakan nikmat. Naluri Wani membuatnya segera menggoyang pinggulnya menggesek-gesekkan batang kejantanannya sambil mengocok batang kejantanan Jamal dalam irama gerak yang sama. Makin lama makin cepat. Wani tidak mampu lagi membendung luapan birahinya. Tubuhnya gemetar, kakinya kejang lalu dia terkulai lemas di atas tubuh Jamal dengan nafas tersengal-sengal sementara batang kejantanannya berdenyut mengeluarkan semburan demi semburan air maninya yang kental kekuningan membasahi buah pinggul Jamal.

Merasakan hangatnya luapan birahi Wani yang membasahi tubuhnya, Jamalpun tidak sanggup lagi mengendalikan gejolak birahinya. Perangkat birahinya segera berdenyut dalam genggaman erat tangan Wani mengeluarkan air maninya yang pucat dan encer membasahi kepala kejantanannya yang merah kebiruan. Lama kedua remaja itu terkulai lemas bertindihan menunggu denyut kenikmatan mereka pelan-pelan berakhir.

Nafsu birahi remaja memang luar biasa. Meskipun baru saja mencapai puncak kenikmatan birahi yang meletihkan batang kejantanan mereka masih tetap tegang siap tempur. “Sekali lagi yuk!” ajak Jamal ketagihan. Wani tak menolak. Dia segera berbaring terlentang dan menyuruh Jamal menindihnya lalu menyelipkan alat kelaminnya di selangkangannya. Jamal menurut. Dilumurinya batang kejantanannya dengan ludah lalu dia menindih remaja kecil itu sambil menyelipkan batangkejantanannya di natara paha temannya yang lebih muda itu.

Wani langsung merapatkan kedua pahanya menjepit erat batang kejantanan Jamal sehingga remaja yang lebih tua itu mengerang merasakan nikmat yang tiada tara. Jamal segera menggoyang pinggulnya memompa batang kejantanannya menggesek-gesek paha Wani yang ramping, mulus, coklat mengkilat agak kehitaman. Makin lama makin cepat. Nafas keduanyapun mendengus-dengus seperti lokomotif tua. “Oooh Wwaann! Aduuhh Wwaann! Aduduuhh Wwaann!” rengek Jamal melambung dalam kenikmatan dahsyat yang belum pernah dirasakannya seumur hidupnya. Wani terpejam-pejam dalam kenikmatan ganda. Dia merasakan geli ngilu yng nikmat luar biasa setiap kali kepala kejantanan Jamal menyentuh dan menggelitik kantung zakarnya sementara batang kejantanannya yang mengganjal terjepit erat di antara perut mereka ikut tergesek-gesek dalam geli ngilu yang nikmat luar biasa.

Jamal menggiatkan goyang pinggulnya menggesek-gesekkan perangkat birahinya di selangkangan Wani. Tidak lama kemudian dia menggigil, kakinya kejang. “Wwaann, gue pengen keluar nih! Gue pengen keluar nih!” rengeknya manja. Sambil memeluk Wani kuat-kuat didesaknya batang kejantanannya sedalam-dalamnya di selangkangan temannya yang lebih muda itu lalu dia terkapar lemas di atas tubuh Wani dengan nafas terputus-putus sementara batang kejantanannya berdenyut-denyut memuntahkan luapan birahinya di atas paha dan kantung zakar Wani. Merasakan hangatnya air mani Jamal mengalir membasahi tubuhnya, sekali lagi Wani mengeluarkan air maninya membanjiri perutnya. Kedua remaja itu berpelukan erat bertumpang tindih membiarkan denyut kenikmatan mereka akhirnya berhenti.

Setelah itu keduanya membersihkan diri di sungai lalu mengenakan pakaian mereka kembali. “Enak ye Mal!” kata Wani. Jamal tidak segera menjawab. Agaknya dia masih “shock” merasakan kenikmatan dahsyat yang belum pernah dialaminya seumur hidupnya. “Wan, ini rahasia kita bedua ya!” katanya, takut kalau temannya itu akan bercerita pada orang lain. Wani berjanji akan merahasiakan permainan nikmat yang meletihkan itu. Menjelang matahari terbenam, kedua remaja itupun kembali ke rumah masing-masing sambil menggiring kambing gembalaan mereka.

Dua hari kemudian, menjelang sore, Jamal dan Wani mandi di sungai bersama dua orang teman lain. Udin, siswa kelas II SMP yang berusia 14 tahun dan Ipang, remaja putus sekolah yang berusia 15 tahun. Selama ini, sebenarnya mereka terbiasa mandi bersama di sungai bertelanjang bulat. Tapi kejadian nikmat dua hari sebelumnya membuat Jamal dan Wani bereaksi melihat batang kejantanan teman-temannya itu. Batang kejantanan keduanya langsung tegang penuh utak-atik di selangkangan mereka. Udin dan Ipang tidak memperhatikan dan tidak menyadari hal itu.

Keduanya asyik bernang berkejaran, bermain air saling menciprati lalu bergumul mencoba menenggelamkan satu sama lain. Jamal dan Wani segera bergabung dalam permainan itu. Jamal memeluk Udin, sementara Wani memeluk Ipang. Keempatnya bergumul dalam permainan air seperti yang biasa mereka lakukan.

Udin yang pertama kali menyadari ada yang lain dalam permainan kali ini. Dia merasakan ada kehangatan yang mengganjal di tubuhnya. Batang kejantanannya yang beradu dengan batang kejantanan Jamal yang sudah tegang tergesek-gesek dalam geli ngilu yang nikmat luar biasa sehingga pelan-pelan membesar tegang penuh sepanjang 10 cm dengan diameter sekitar 2 cm. Dia diam saja ketika Jamal menyandarkan tubuhnya di sebuah batu besar di tepi sungai lalu menindihnya tanpa berhenti menggesek-gesek batang kejantanan mereka yang beradu dan terjepi erat di antara perut mereka.

Sesekali dia mendesah sambil menggelinjang menahan geli ngilu yang nikmat pada batang kejantanannya. Meskipun sudah mengalami mimpi basah, Udin belum pernah merancap karena pada usianya itu dia belum merasakan gejolak birahi yang menggebu. Tapi dia paham apa yang terjadi dan dengan jantung berdebar menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jamal semakin semangat menggoyang pinggulnya mengegsek-gesek batang kejantanan mereka. Tiba-tiba dia menggigil, kakinya kejang lalu dia memeluk Udin kuat-kuat agar tubuh mereka makin rapat menjepit erat batang kejantanan mereka. Lalu dia terkapar lemas di atas tubuh remaja kecil itu dengan nafas tersengal-sengal sementara batang kejantanannya berdenyut menyemburkan air maninya membasahi perut Udin. Luapan birahi Udinpun terpancing.

Dia merasa seperti ingin kencing. Lalu batang kejantanannya yang mungil itu berdenyut mengeluarkan cairan yang pucat encer dalam suatu kenikmatan dahsyat yang belum pernah dia rasakan. Kedua remaja itu terkulai lemas bertumpang tindih membiarkan denyut kenikmatan birahi mereka akhirnya berhenti.

Sementara itu, Wani dan Ipang juga sedang asyik saling memberikan kenikmatan pada satu sama lain.. Wani tidak mendapatkan kesulitan mengajak Ipang merancap bersama, karena Ipang juga sering merancap sendiri. Sambil menonton pergumulan Jamal dan Udin, keduanya duduk bersandar di pohon saling mengocok batang kejantanan satu sama lain dalam irama gerak yang sama Melihat kedua teman mereka sudah mencapai puncak kenikmatan birahi, keduanya juga mengeluarkan air mani masing-masing nyaris bersamaan dalam genggaman erat satu sama lain. Keduanya terkapar lemas berdampingan menunggu denyut kenikmatan itu pelan-pelan berakhir. Lalu keempat remaja yang sudah tidak lugu lagi itu mandi di sungai membersihkan tubuh mereka yang berlumuran air mani.

Keesokan malamnya, mereka berempat berkumpul di ladang jagung ayah Udin. Kebetulan malam itu bulan purnama, dan seperti biasa, anak-anak di desa bermain di luar rumah. Mereka duduk di dangau di tengah ladang membentuk setengah lingkaran. Wani membawa potongan koran yang berisi berita tentang kasus sodomi di Tasikmalaya. “Eh mau nggak lu pade nyobain main dari belakang kayak begini!” katanya. “Ogah ah! Pasti sakit!” sahut Udin cemas membayangkan batang kejantanan Wani yang besar itu memasuki saluran pelepasannya. “Gini deh! Lu yang masupin ke bo’ol gue!” bujuk Wani.

Batang kejantanannya tampak sudah tegang menonjol di balik kain sarungnya. “Iya deh!” Udin terbujuk. Wani berbaring di lantai dangau itu sambil menyingkap kain sarungnya. Batang kejantanannya terlihat utak-taik siap tempur. Direntangkannya kakinya. Udin menanggalkan celana pendeknya lalu menindih remaja yang lebih tua itu sambil mencoba memasukkan perangkat birahinya ke lubang dubur temannya itu. Meskipun batang kejantanan itu mungil, ternyata tidak semudah itu. Wani meringis menahan sakit ketika kepala kejantanan Udin menguak lubang duburnya. “Ssshh, pelan-pelan Din!” bisiknya. Udin mendesakkan batang kejantanannya perlahan-lahan. Akhirnya berhasil juga. Batang kejantanannya menggeleser di sepanjang saluran pelepasan Wani. “Ooohh!” dia mengerang merasakan nikmatnya kehangatan jepitan saluran pelepasan Wani pada batang kejantanannya.

Wanipun melambung dalam kenikamatan merasakan kepala kejantanan Udin menggelitik dinding saluran pelepasannya. “Kompa Din!” bisiknya. Udin menurut. Dia meggoyang pinggulnya maju mundur memompa batang kejantanannya menggesek-gesek saluran pelepasan temannya. Makin lama makin cepat. Dia belum pernah merasakan kenikmatan yang dashyat seperti itu. Apalagi saluran pelepasan Wani kembang kempis menjepit-jepit batang kejantanannya. Dia tidak ingin segera mengakhiri kenikmatan itu. Setiap kali dia merasa seperti ingin kencing, dia berhenti sejenak menggoyang pinggulnya.

Sementara itu, Jamal dan Ipang bereksperimen dengan cara yang berbeda. Mereka ber-69 saling menghisap batang kejantanan satu sama lain dalam irama gerak yang sama. Gagasannya datang dari Jamal yang pernah membaca tentang oral sex di rubrik konsultasi sex di sebuah majalah. Awalnya Ipang enggan melakukan itu. “Ah, gile lu Mal! Masa’ kontol taro di mulut?” katanya. Tapi setelah merasakan kenikmatan yang tiada tara ketika Jamal mulai menjilati lalu menghisap batang kejantanannya, diapun menyerah. Logikanya, karena alat kelamin mereka serupa, apa yang nikmat bagi dirinya tentu akan nikmat pula bagi temannya. Dia menggelinjang merasakan geli ngilu yang nikmat luar biasa. Kepala kejantanannya yang merah kebiruan itupun basah oleh cairan yang bening lekat. Dia mengubah posisinya mendekati selangkangan Jamal, lalu segera memasukkan batang kejantanan temannya itu ke mulutnya dan mennyedotnya dengan penuh perasaan seperti sorang anak balita menyedot botol dot susu.

Di sbereang mereka, Udin masih tampak asyik memompa batang kejantanannya di sepanjang saluran pelepasan Jamal, sementara Wani terpejam-pejam dalam kenikmatan ganda. Dia merasakan kehangatan yang mengganjal di sepanjang saluran pelepasannya sementara batang kejantanannya yang terjepit erat di antara perut mereka ikut tergesek-gesek dalam geli ngilu yang nikmat luar biasa. Tiba-tiba Udin gemetar, tubuhnya kejang lalu nalurinya membuatnya segera mendesakkan perangkat birahinya yang mungil itu sedalam-dalamnya ke lubang dubur Wani.

Sambil mengerang kenikmatan dipeluknya Wani kuat-kuat lalu dia ambruk terkulai lemas di atas tubuh temannya itu dengan nafas terpuus-putus sementara batang kejantanannya mengeluarkan semburan demi semburan air maninya memenuhi lambung Wani. Hangatnya luapan birahi Udin di dalam tubuhnya memancing ledakan birahi Jamal. Batang kejantanannyapun langsung berdenyut menyemburkan air maninya yang kental kekuningan membanjiri perutnya. Lama kduanya berpelukan erat bertumpang tindih menunggu redanya denyut kenikmatan birahi mereka.

Pada saat yang bersamaan, Jamal dan Ipangpun sampai pada puncak kenikmatan birahi mereka. Jamal yang berada di bawah hampir tersedak menerima luapan air mani Ipang dalam mulutnya. Tapi dia segera mampu mengendalikan situasi. Tanpa ragu direguknya sebagian air mani Ipang yang putih kental dan terasa agak asin itu. Sebagian lagi tumpah mengalir di pipinya. Lalu dia sendiri melepaskan air maninya dalam mulut temannya. Tapi Ipang cukup sigap. Dia melepas batang kejantanan Jamal tepat waktu sehingga batang kejantanan Jamal utak-atik menyemburkan air maninya tanpa arah, mengenai dada dan perut Ipang dan membasahi perutnya sendiri. Ipang segera meraih batang kejantanan temannya itu lalu mengocoknya seolah ingin menguras habis sisa air mani dari dalam tubuh temannya itu.

Semalaman keempat remaja itu bergantian, bertukar pasangan, saling memberi kepuasan dan kenikmatan pada satu sama lain. Malam itu sedikitnya masing-masing tiga kali mengeluarkan air mani mereka. Lewat tengah malam barulah mereka tertidur dengan tubuh yang letih dan lemas, namun dalam perasaan puas dan senang. Permainan baru itu jelas memperkaya kegiatan hiburan bagi mereka di desa yang terpencil itu.

Sejak saat itu, Jamal, Wani, Udin dan Ipang tidak pernah melewatkan peluang untuk bermain adu titit. Mereka mengajak teman-teman yang lain untuk bersedap-sedap mengadu batang kejantanan dan tanggapan teman-teman cukup positif. Mereka mencoba cara-cara lain untuk saling memuaskan, misalnya dengan saling menghisap titit satu sama lain (ber-69); saling mengocok titit satu sama lain sampai keluar air mani bersama-sama; menjepitkan titit di paha teman lalu memompanya sampai air mani mereka keluar.

Anak-anak itu sadar bahwa maen adu titit adalah cara yang paling praktis, aman dan nikmat bakal muasin nafsu birahi die pade. Die pade bisa ngerasain kenikmatan sex sepuasnya tanpa resiko kehamilan. Lagian, ennaakk gila! Die pade juga tahu bahwa titit tuh emang buat dimaenin. Sayang pan kalo titit tuh cuman dipake bakal kencing doangan. Nah, masa’ lu remaja metropolitan pade kalah ame anak-anak desa? Coba deh ajakin teme lu pade untuk ngerasain nikmatnye maen adu titit. Dijamin deh, langsung ennaakk! Kalo kagak percaya, jajal aje! Pasti lu pade ketagihan. Nah, selamet nyobain deh. Inget aje ame pepatah “Banyak semak di jalan sempit, si Amin jualan gunting; paling enak maen adu titit, dijamin kagak bakal ade yang bunting!”.

Tamat

Kaze- Oow… gw ketauan!

Gw gak nyangka banget bakal punya perasaan gak enak banget hari ini, awalnya sih biasa aja, gak taw kenapa bisa jadi kayak gini… ~*~ “Oy, Ze lo ngelamun terus! Hobi lo tuh jelek tau!” teriak Robin “Haha… peduli amat! Gw ini yang ngelamun bukan lo! Haha…” jawab gw Hari Sabtu, hari yang biasa aja, waktunya ekskul! Tapi tumben aja hari ini gw agak gak semangat, gak taw kenapa dari pagi perasaan gw gak karuan, kayak bakalan ada hal buruk yang gak jelas yang mungkin terjadi hari ini… tapi gw juga males mikirinnya, lagipula cuma perasaan gw aja, Cuma PERASAAN! Seperti biasa gw latihan breakdance bareng pacar gw, Robin ma temen-temen gw, latihan hari ini cuma bentar doang, gara-gara temen-temen gw pada punya acara lain. Ya udah mo gimana lagi yang biasanya sampe jam 3 sore sekarang jam 11 siang dah selesai, mo pulang gak ada orang… Bosen yang ada. Si Robin juga gak langsung pulang soalnya kita tadinya abis pulang mo jalan berdua (mumpung bisa malam mingguan ^^). “Gila! Bosen banget! Ze, Lo BT gak?” “Ya iyalah! Gila aja mo disini sampe jam 3, keburu mati bosen gw” “keliling sekolah aj deh, mungkin ada temen lo ato temen gw… klo gak ke sekre Basa Jepang aj, mumpung gw yang bawa kunci, mo gak?” “Ya udalah ke Sekre aja, males gw klo jalan-jalan, cape!” Untung Robin yang jadi petugas sekre Jepang bulan ini, bisa istirahat dulu disana jadinya, Lucky! Eh tunggu! Kayaknya petugas bulan ini ada 2? Tapi siapa? Ah peduli amat, lagipula gak akan apa-apa klo cuma numpang istirahat, anggota ekskul jepang (kecuali gw ma Robin) kayaknya gak bakalan dateng coz hari ini mereka pada ikut cosplay, anyway gak bakalan ada hal yang enggak-enggak yang bakal kita lakuin. *klek* “Yo.. masuk yuk!” Si Robin ngagetin gw aja, udah taw gw lagi ngelamun, Oh iya Sekre gw ini tempatnya tersembunyi dipojok sekolah, biasa bangunan sisa, tapi lumayan lah mirip ma ruangan BK, gak semenit lamanya dari saat Robin ngunci pintu dari dalem, tiba-tiba … *Bugh* Gila!!! Si Robin meluk gw gak bilang dulu, tapi lumayan lah… But! Wait… He’s crying! God! What Should I do? Gila gw panik, gimana nih? What’s the Problem? “Sorry, Ze… lo pasti kaget banget ya?” Ya Iyalah! Siapa juga yang gak kaget! Tapi untung dia ngomong, udah cukup tenang gw. “Ada masalah apa sih? Lo cerita ja ma gw, gw sebagai pacar lo pasti dengerin” (fuh… Act like boyfriend ^^) “Bulan Januari gw bakal pindah ke Jakarta” GOD! Argh! Yang bener??? Trus gw harus gimana… tenang…tenang Tanya dia dulu kenapa… “Tapi tenang aja Ze, gw bakal balik lagi ke Bandung klo udah 1 semester di Jakarta” “Yah, lo ngagetin gw aja Bin, trus buat apa lo nangis, biking w panik taw gak lo?” “Sorry, coz gw gak bakal liat lo selama 6 bulan itu, sorry banget ya Ze” “Haha, ternyata itu masalahnya, tenang aja gw sayng ma lo, gw berusaha salam 6 bulan itu tuk g selingkuh deh dan …” God! Robin cium bibir gw! Gila!!! My first kiss!! Gimana nih? Gw bales ajalah, kayaknya dia yang pengen. *klek* Loh suara pintu… SHOOT! Ada yang masuk!!! Ketangkep basah deh kita!!! God! Help Us!!! Please… tapi siapa, kunci perasaan dah dikunci lagi deh, Petugas Sekre selain Robin!!! Siapa ya??? Gw coba inget… BIAN!!!! SHOOT!!! SIAL!!! “AH!!!, Maaf ganggu!!!” Bener! Ternyata Bian! Shoot! Dia liat! Robin! Sial dia pucat mukanya… gw harus kasih penjelasan ma Bian nih… “Robin, gw kejar Bian dulu… sorry! Tar gw balik!” “Kaze!!! Ikut! Gw juga harus ngejelasin ke Bian!” Ternyata perasaan gw gak enak gara-gara bakal terjadi hal kayak gini… sial!!! Gw harus kejar Bian… “Bian! Tunggu! Gw jelasin dulu ke lo!” (gw pegang tangannya supaya gak kabur, Si Robin masih dibelakang) “JANGAN PEGANG!” Gila, Tangan gw dilemparnya… “Ah, maaf, maaf…” Wah! Parah banget nih… sekarang yang nangis nih anak. Anak kecil yang dari dulu sampe sekarang gw coba lupain tapi tetep suka… sekarang liat hal yang gak pinging gw liatin… gw gak bisa apa-apa sekarang. “Bian, Coba tenang dulu, gw ma Kaze minta maaf banget soal tadi” Si Robin! Kapan dia didepan Bian? Tapi untunglah ada dia… Thanks Robin. ~*~ Udah setengah jam, Bian dah mulai tenang ditemenin Robin, si Robin sekarang lagi ngejelasin semuanya… tentang kami berdua adalah gay… mo gimana lagi, mau gak mau dia harus tau sekarang. Ya abis itu dia pulang langsung, kami berdua juga gak jadi malam mingguan (wah… sial juga T_T tapi gapapa lah ^^) Udah 3 hari sejak peristiwa yang gak mau dikenang berlalu, kayaknya cuma gw yang kurang tenang, si Robin sih nyaranin gw untuk ngomong langsung ma Bian, coz gw gak ngomong langsung waktu ngejelasin apa yang terjadi waktu itu (merasa bersalah kali ya?? ^^) Ya udah deh gw coba saran si Robin… “Bian, gini soal waktu itu…” “tenang aja, akang kaze, aku lagi usaha mo nerima orang kayak akang Kaze ma kang Robin, di dunia ini gak cuma 1 warna kan?” “I…Iya, makasih ya mo nerima orang kayak gw” “ga apa-apa, tapi akang mo ngasih waktu aku untuk sepenuhnya nerima orang kayak akang?” “Iya, tenang aja, asal lo mo nerima gw” “makasih ya kang, aku pergi ke perpus dulu ya… keburu bel” God! Thanks!!!! Fiuh~ Yang namanya tenang, tenang banget gw. Terus dia mau nerima orang kayak gw gini, biasanya pada takut, jijik, aneh ato apalah… tapi dia… beda, makin suka gw ma tuh orang, tapi gw-kan udah punya Robin! Argh Shoot! Dilemma!!! Pusing gw… harus gimana gw… Anyway! Gw bakal lanjutin dulu hidup gw apa adanya…

Setiap hari sabtu disekolahku melaksanakan acara ekskul. Aku biasa dipanggil Kaze oleh teman-temanku, umurku 17 tahun aku bersekolah disalah satu SMA terbaik di Bandung. Seperti biasa aku mengikuti ekskulku yaitu breakdance.

Tapi hari sabtu ini beda, aku tertarik pada anak kelas satu. Dia membuatku penasaran, namanya Bian, tubuhnya cukup bagus dan wajahnyapun lumayan campuran anatara sunda dan Chinese. Aku tahu karena aku pernah melihatnya waktu dia SMP.

Tanpa sadar aku terus melihatnya yang sedang berlatih beladiri tenaga dalam. “Ze, oy! Ngapain ?” Tanya temanku namanya Robin. “weits…. Ga liat lo? Liatin yang beladiri… “, “oh… ya udah”. Sebenarnya sih Robin cukup ganteng, aku juga pernah tidur sambil dipeluknya tapi dia belum tahu bahwa aku suka juga sama dia.

Gak lama latihannya selesai, akupun harus mengikuti ekskul lain. Dalam hati aku berniat pada hari itu juga harus kenal dengan bian!

Setibanya aku di ruang bahasa jepang, aku harus membimbing satu junior, senior lain mendapatkan partner lawan jenis, dan aku… Lucky! Ternyata partnerku Bian. Betapa berdebarnya hatiku tingginya hampir menyamaiku, suaranya yang berat membuatku makin tertarik padanya.

Sekilas tentang Bian, dia cukup manis, pintar, wawasannya luas. walaupun dia jarang olah raga, tubuhnya cukup well-builded. dan menariknya lagi dia terkesan pemalu, tapi bila sudah berpidato atau semacamnya di cukup hebat. bukannya aku memuji Bian, tapi itulah dia.

Entah hari ini aku beruntung atau tidak, dalam pembimbingan ini aku harus menggenggam tangannya, aku mulai berkeringat dingin, sekilas aku melihat Robin. aku dan Robin memang memilih ekskul yang sama. tapi kali ini tatapannya aneh.

Kegiatan ekskul masih berlanjut, hingga saat kegiatan akhir tiba, sang senior dan sang junior harus meletakkan tangannya di dada sang partner bila sesame jenis kalo berbeda jenis cukup merunduk memberi hormat satu sama lain. “Oh lord… What should I do?” pikirku dalam hati. tiba-tiba Robin menghampiri dan memintaku untuk bertukar partner. Aku dengan Robin, Bian dengan junior yang tadi dibimbing Robin tadi. entah lega atau kecewa yang kurasakan.

Dengan cepat Robin menempelkan tangannya di dadaku, akupun melakukan hal yang sama, tapi kali ini wajahnya tak seperti biasanya. dia terlihat serius, “Ze, kayaknya Lo suka ma bian ya?” bisiknya. aku panik mendengar ucapannya. “ga apa-apa kok! Jujur aja lo gay kan?”. Aku tambah panik mendengarnya, tapi dia tersenyum kecil “tenang, gue juga kok dan… ”. Aku bingung sekaligus senang, entah apa yang akan Robin bilang ke gue selanjutnya. “gu… gue mmh… suka ama lo…”. Kalimatnya mungkin hanya bisa terdengar olehku, karena tanpa sadar kelas sudah kosong.

Entah apa yang harus kulakukan, karena aku suka Robin tapi aku juga suka Bian. Tanpa piker-pikir lagi aku langsung memeluk Robin .“Ze… jadi lo terima gue?”. “Pikir lo apa rob?”. Robin langsung menciumku, akupun mulai menikmatinya… dan yang selanjutnya adalah rahasia karena ini adalah my first time…

Cerita ini gak lama kutulis setelah kejadian itu berlangsung, gue juga sebenernya sih masih suka sama Bian, makanya hue lagi selidik-selidik tu orang dulu, Robin juga udah maklum kok ^_^

Ya klo ada kritik, saran dan pengen kenalan ^^ e-mail aja burga_dumon@plasa.co

Jason – Pertama Kali 03

Rahman sudah 25 menit mengentoti Jason dengan berbagai gaya. Jason sendiri sudah lemas karena penisnya tidak bisa ereksi dan badannya sudah pegal-pegal. Kemudian Rahman mencabut penisnya yang masih ereksi dan menjambak rambut Jason lalu menyeretnya ke arah pintu kamar. Pintu itu dibuka dan orang-orang yang ada di warung tersebut melihat ke arah pintu dimana tubuh telanjang Rahman dan Jason berada. ”Liat ni entotan gue!” kata Rahman Ditariknya tubuh lemas Jason dan diangkatnya. Kemudian dimasukkannya lagi penis Rahman. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia mengentoti Jason sambil berdiri dengan anus Jason menghadap ke pengunjung warung. ”Gila kau! Masa lagi ngetot aja harus ditunjukin?” komentar salah seorang pengunjung warung. Rahman mempercepat kentotannya dan tak lama kemudian ia memuntahan pejuhnya di dalam perut Jason. Crot! Crot! Crot! Crot! Jason merasakan perutnya hangat dan bibir anusnya menjadi panas. Saat Rahman mengeluarkan penisnya, lendir pejuh bercampur darah kental keluar dari anus Jason yang menganga. Rahman menyodorkan penisnya ke mulut Jason. ”Jilatin kontol gue!” ”Ga mau, bang. Kan kotor.” Dipaksanya mulut Jason agar mau membersihkan sisa-sisa pejuh dan darah. Jason merasa mual dan tidak tahan mencium aroma penis Rahman tersebut. Melihat adegan itu, pengunjung warung mulai mendekati Rahman dan Jason. Ternyata mereka semua adalah pria-pria yang menyukai seks sesama jenis meskipun beberapa ada yang sudah beristri. Jason yang sedang mengulum penis Rahman langsung ditarik oleh seorang pria yang tampaknya seumuran dengan Rahman. ”Gantian dong! Lu kan udah merawanin.” kata pria tersebut ”Kasih dah! Gue juga udah puas. Kontolnya dibebasin tuh! Tadi gue iket.” jawab Rahman sambil berjalan ke arah kamar mandi ”Gila. Kontol pake diiket segala. Wuih! Kaga disunat! Putih mulus lagi!” kata pria lainnya sambil membuka tali ikatan pada penis Jason Jason langsung diangkat dan dibawa ke dalam kamar tadi oleh empat orang pria pengunjung warung. Ujang, si pemilik warung, menutup warungnya dan ikut masuk ke dalam kamar. Jadilah Jason yang masih terkulai lemas tak berdaya dikerjai oleh lima orang pria penuh nafsu yang siap menghajarnya. Bibir merah mungilnya dicium oleh seorang pria berjenggot. Lehernya digigiti dan dicupang oleh Ujang. Puting kirinya dihisap pria pertama kali menariknya. Puting kanannya digigiti pria yang membuka tali ikatan pada penisnya dan punggungnya dijilati oleh pria berbadan paling kekar di antara mereka. Jason yang masih lemas tidak tahan dengan ulah kelima pria tersebut. Ia menggelinjang dan mendesah. Tangannya meremas-remas kasur yang didudukinya. Penisnya mulai menegang hebat. ”Nih anak nafsuin banget dah! Bibirnya makin merah kalo gue kenyot.” ”Teteknya juga imut banget! Kenyal-kenyal kalo digigit.” ”Liat dong cupangan gue di lehernya. Dahsyat ga tuh?” Satu per satu mereka mengomentari aksi mereka pada tubuh Jason. Mereka juga melepas pakaian mereka dan terlihatlah penis-penis tegangan penuh yang siap tempur. Ahmad, pria berjenggot yang menciumi bibir Jason, memiliki penis berukuran 18 cm x 2.5 cm dengan sedikit rambut kemaluan menutupi sepertiga dari panjang penisnya. Ujang memiliki penis berukuran 17 cm x 3 cm. Sementara itu dua pria lainnya, Dadang dan Beni, memiliki penis berukuran 17 cm x 3 cm dan 17 cm x 3.5 cm. Saiful, pria paling kekar di antara mereka, memiliki penis berukuran 18 cm x 3.5 cm. Jason tampak ketakutan melihat benda-benda perkasa tersebut di hadapannya.

Dilepasnya pelukan Rahman pada Jason. Hal ini membuat Jason sedikit lega. Namun Rahman malah memberikan senyum mesumnya kepada Jason. Sambil melepas satu per satu baju yang dipakainya, ia berkata ”Sebentar lagi gue bakal mengobok-ngobok tubuh lo.” Rahman sudah telanjang bulat. Penis 18 cm x 3 cm miliknya mengacung dengan perkasanya di hadapan wajah imut Jason. Rahman memaksa agar Jason membuka mulutnya dan memasukkan penisnya dengan paksa ke dalam mulut mungil Jason. ”Buka mulut lo!” ”Ga mau, bang. Gue ga mau. Tolong.” jawab Jason lirih. “Hueeek!” Jason merasa mual saat penis Rahman menyodok mulutnya dengan paksa. Penis itu tidak bisa masuk sepenuhnya ke dalam mulut Jason. Rahman memaksa agar penisnya masuk seluruhnya dengan menyodok paksa mulut Jason hingga akhirnya ia mengocok penisnya di dalam mulut anak itu. Rambut Jason dijambak dan kepalanya dimain-mainkan. Sudah lebih dari 20 menit Rahman mengentoti mulut Jason. Ia kemudian menjatuhkan dirinya dan menindih Jason yang sudah lemas, lalu mendaratkan ciumannya ke mulut Jason. Ciumannya lalu turun ke leher Jason dan meninggalkan bekas cupang di seluruh leher putihnya. Kedua puting Jason tidak luput dari sasaran bibir Rahman. Secara bergantian puting-puting tersebut dijilati dan digigit. Jason hanya bisa mengerang sambil menutup mata. Ia berusaha menolak kenikmatan yang diberikan oleh Rahman. Bibir Rahman turun ke perut Jason dan meninggalkan banyak bekas cupang di sana. Tubuh Jason menggelinjang dan ia pun mulai terangsang. Dirinya tidak dapat menolak libido yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Penisnya pun mulai ereksi dan sedikit mengeluarkan precum. ”Wah, tegang juga nih kontol lo.” ucap Rahman saat mengetahui Jason mulai ereksi. Jason tidak berkata apa-apa. Ia sendiri malu dan berusaha menutupi penis 15 cm x 2 cm miliknya yang tengah ereksi tersebut. Dengan kasar Rahman menyikirkan tangan Jason dan menguncinya di atas kepala Jason. Dikocoknya penis Jason hingga Jason pun menggelinjang dan tak lama kemudian ia memuncratkan pejuhnya. Crot! Crot! Crot! Crot! ”Gue ga suka orang yang gue entotin ngaceng kaya cowo. Selama lo gue entotin, kontol lo ga boleh ngaceng!” ancam Rahman Jason tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian Rahman mengangkat kedua kaki Jason dan menggesekkan penisnya tepat di atas lubang anus Jason. Sedikit demi sedikit precum Rahman mulai membasahi liang anus milik Jason dan dengan sedikit hentakan ia memaksa penisnya agar masuk ke dalam anus Jason. ”Aaaaaah! Sakit! Ampun, bang! Jangan!” teriak Jason ”Diem lo! Kalo lo teriak, bakalan gue bikin tambah sakit!” Awalnya kepala penis Rahman terasa sulit untuk masuk. Rahman menghentakkan sekali lagi batang penisnya dan seperempat penisnya mulai memasuki lubang sempit milik Jason yang masih perawan. ”Anjing! Seret banget. Aaah!” ”Ampun, bang.” Dihentakkannya lagi penis Rahman dengan sangat keras dan akhirnya seluruh penis Rahman berhasil masuk ke dalam lubang tersebut. Darah mulai menetes dari anus Jason. Rasa perih tidak tertahankan dirasakan oleh Jason karena robeknya otot anus akibat sodokan paksa Rahman. Tubuhnya benar-benar lemas. Ia kini hanya bisa pasrah dan berharap semua ini selesai dengan cepat. Melihat Jason yang sudah tidak berdaya, Rahman tersenyum dan mulai menggenjot anus Jason. Penisnya keluar-masuk dengan ritme tetap dan cepat. Jason hanya bisa menahan perih pada anusnya, tanpa perlawanan ia menyerahnya keperawanannya pada Rahman. ”Hosh. Hosh. Hosh. Hosh. Hosh. Hosh. Hosh. Hosh. Anus lo sempit banget. Bener-bener masih perawan.” Kemudian tubuh Jason diposisikan miring dengan kaki kanan Jason berada di pundak kanan Rahman. Rahman tetap menjaga ritme sodokannya dan terkadang mempercepatnya. Jason mulai merasakan ada hal yang aneh dalam tubuhnya. Sodokan penis Rahman telah mengenai suatu organ dalam tubuhnya dan hal itu membuatnya menggelinjang keenakan. Perlahan-lahan penisnya pun tegang kembali. Melihat penis Jason yang mulai tegang, Rahman menghentikan sodokannya dan mencabut penisnya. ”Siapa yang nyuruh lo ngaceng?” tanya Rahman ”Eh, ga ada, bang.” jawab Jason yang baru tersadar Kemudian Rahman menggenggam penis Jason dan menekuknya hingga Jason berteriak kesakitan. ”Aaaah! Sakit, bang!” ”Kontol lo bakal gue patahin kalo lo masih ngaceng juga! Tidurin ga?!” ancam Rahman Lama-kelamaan penis Jason mulai menciut dan berhenti menegang. Rahman lalu berjalan ke lemari dengan kontol yang masih tegang dan belepotan darah. Ia mengambil tali rafia dan kembali menghampiri Jason. Diikatnya penis Jason yang tertidur dengan tali tersebut dan disimpul dengan sangat kuat. Jason pun merintih kesakitan. ”Ini biar penis lo ga ngaceng!” Rahman kembali mengentoti anus Jason. Kali ini tubuh Jason ditengkurapkan dengan pantat menungging. Penisnya terasa ngilu karena diikat dengan tali. Dari belakang Rahman menyodok pantat Jason dengan tiba-tiba. ”Aaaah!” teriak Jason Rahman pun mempercepat sodokannya sambil memeluk Jason dari belakang dan mencupang leher Jason dengan ganas. Jason mulai merasakan libidonya naik lagi, tetapi terhenti karena ikatan pada penisnya membuat darah tidak dapat mengalir, alih-alih malah membuat Jason semakin merasa ngilu. Rahman sudah 25 menit mengentoti Jason dengan berbagai gaya. Jason sendiri sudah lemas karena penisnya tidak bisa ereksi dan badannya sudah pegal-pegal. Kemudian Rahman mencabut penisnya yang masih ereksi dan menjambak rambut Jason lalu menyeretnya ke arah pintu kamar. Pintu itu dibuka dan orang-orang yang ada di warung tersebut melihat ke arah pintu dimana tubuh telanjang Rahman dan Jason berada.

MERUYA ILIR, JAKARTA – 23.00 WIB Jason sedang berjalan melewati suatu jalan sepi di daerah dekat kompleks perumahannya. Motornya sedang diperbaiki di bengkel, sehingga ia terpaksa pulang dengan angkutan umum. Hal ini sangat dibencinya sebab ia merasa capek jika harus berjalan kaki sampai mendapatkan angkutan umum yang harus ia naiki. Di malam hari Perumahan Kavling DKI tampak begitu sepi. Jalan-jalannya gelap dan banyak pepohonan di sekitarnya. Tampak di depannya sebuah warung remang-remang. Perlu keberanian lebih baginya untuk melewati warung tersebut sebab ia melihat ada sekelompok pria yang terlihat seperti preman. Tidak ada jalan lain untuk dilewatinya, sehingga ia terpaksa melewati warung tersebut dengan perasaan tidak enak. “Tong, mau kemana lo?”, tiba-tiba seseorang menyapanya. Jason pun berbalik dan berhadapan dengan pria yang menyapanya. Pria tersebut berpenampilan acak-acakan. Umurnya mungkin sekitar 30-an. Badannya tinggi menjulang dengan otot-otot yang tampak proporsional. Kulitnya gelap dan rambutnya dipotong pendek tanpa bentuk yang jelas. Betul-betul membuat Jason ketakutan. “Mau pulang, bang.”, jawab Jason dengan takut. “Pulang ke mana? Ikut gue dulu yuk?!” ”Ke rumah saya, bang.”, jawab Jason. Dengan takut ia juga bertanya, ”Ikut ke mana, bang?” ”Udah, ga usah banyak tanya.”, jawab pria tersebut sambil meraih lengan Jason. Tidak ada satu kata pun yang dapat keluar dari bibir mungil Jason. Ia menurut saja dibawa oleh pria tidak dikenal tadi. Jason dibawanya ke warung remang- remang yang baru saja dilewatinya. Di sana tampak pria-pria lain tersenyum padanya. Jason pun merasa bingung dan canggung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

”Siapa tuh, Man?”, tanya seorang pria umur 40-an pada pria yang membawa Jason. Ternyata pria yang membawa Jason tadi bernama Rahman. ”Anak orang nyasar.”, jawab Rahman. ”Jang, kamar dibuka ga?” tanyanya pada pria di belakang warung. ”Buka. Masuk aja.”, jawab Ujang. ”Ayo!!” ajak Rahman sambil menarik lengan Jason. ”Mau ngapain, bang?” tanya Jason dengan kebingungan dan takut. ”Ntar lo juga tau.” Bagai tersihir, Jason menuruti perintah Rahman dan masuk ke suatu ruangan kecil di belakang warung tadi. Ruangan tersebur adalah kamar tidur kecil dengan satu kasur kapuk dan satu lemari kecil. Bau bekas asap rokok menyebar di seluruh kamar tersebut. Braaaaak!! Jason mendengar pintu kamar tertutup dan ia pun panik. Ia memohon pada Rahman agar ia dapat keluar dari kamar itu. Namun Rahman tidak menggubrisnya dan malah menjambak rambut Jason. Tubuh remaja 18 tahun itu dibanting ke atas kasur dan kemudian ditindih oleh tubuh besar Rahman. Baju yang melekat pada kulit putih mulusnya dilepas dengan paksa. Jason berusaha melawan sekuat tenaga, tetapi Rahman jelas lebih kuat daripada Jason. Akhirnya Jason menyerah dan hanya bisa berteriak. ”Bang, jangan. Gue mau diapain? Tolong!” teriak Jason ”Berisik lo! Terserah gue mau gue apain lo! Lo milik gue sekarang! Haha!” balas Rahman sambil tertawa penuh nafsu Kini tubuh Jason tidak tertutupi oleh sehelai benang pun. Penisnya yang tidak bersunat berusaha ia tutupi dengan tangannya. ”Wah. Lo belum disunat ya? Bikin gue sange berat lo! Bentar lagi lo bakal gue entotin!” Mendengar kata-kata Rahman membuat Jason bertambah takut. Ia berpikir bahwa dirinya akan diperkosa oleh tubuh kekar Rahman. Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami hal seperti ini. Tubuh Jason langsung dipeluk dan bibirnya dilumat habis dengan penuh nafsu. Jason tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Percuma baginya untuk teriak minta tolong sebab sepertinya teriakannya tidak digubris oleh orang-orang yang ada di luar kamar tersebut. Ia merasa tidak akan ada orang yang akan menolongnya. Ia hanya bisa berusaha agar Rahman berhenti menyentuh tubuhnya. Dilepasnya pelukan Rahman pada Jason. Hal ini membuat Jason sedikit lega. Namun Rahman malah memberikan senyum mesumnya kepada Jason. Sambil melepas satu per satu baju yang dipakainya, ia berkata ”Sebentar lagi gue bakal mengobok-ngobok tubuh lo.”

GENDRUWO

my second st0ry,

ku persembahkan untk rhezsa adrian lelaki pujaanku yang manis dan cute,

namaku rhezsa,umurku 25 tahun,aku cukup tinggi dan teman teman kerjaku bilang aku cukup menarik, kejadian ini kualami 1 tahun yang lalu,

malam itu meski lelah aku tetap harus pulang ke rumahku setelah bekerja dengan melewati hutan, saat berjalan di hutan yang gelap itu aku melihat suatu bayangan yang besar dan hitam melintas di depanku,

meski sepintas,tapi aku dapat tahu bahwa itu seperti makhluk misterius yang dulu pernah di ceritakan oleh kakekku, katanya makhluk itu besar dan berbulu hitam,lalu katanya satu jari tanganya saja berukuran sebesar pisang ambon,

lalu akupun berfikir,” jika satu jari tanganya saja sebesar pisang ambon,sebesar apa kontolnya? “

lalu rasa penasaranku dapat mengalahkan rasa takutku, meski hampir tak terkejar tapi aku tetap berusaha mengejarnya, waktu itu kulihat dia berhenti di depan sebuah rumah di pinggiran hutan yang seingatku rumah seorang wanita yang suaminya bekerja di Jakarta,

lalu secara ajaib,kulihat ada cahaya warna hitam pekat mengitarinya,lalu dia berubah menjadi seorang laki laki yang ganteng,tinggi,dadanya cukup terbentuk meski tak seperti binaragawan dengan bulu bulu indah yang lebat menghiasi dadanya,perutnya cukup sixpack,rambutnya potongan “mohak”,dia mengenakan hem warna hitam yang kancingnya terbuka semua dan celana jeans warna hitam pula, kalau ku taksir umurnya sekitar 20an mungkin tepatnya 27 tahunan, lalu kulihat dia membuka pintu depan dengan paksa,lalu keluarlah wanita yang terlihat cukup menarik,lalu dari raut mukanya kulihat wanita itu ketakutan,lalu laki laki itu menyeret wanita itu ke kamarnya,lalu kudengar erangan erangan dari laki laki itu dan tangisan lemah dari sang wanita kejadian itu terjadi sekitar 5 jam dari waktu aku pulang jam 10.30 malam sampai jam 03.30 pagi, aku berfikir,kuat juga itu, nafsuku sudah mengalahkan rasa lelah dan kantukku sehingga aku tidak tertidur waktu menunggu,hanya beberapa kali saja aku menguap,

lalu kulihat dia berjalan keluar dari rumah itu dengan baju yang berantakan,lalu kulihat kembali ada kegelapan yang menyelimutinya dan seketika dia berubah kembali menjadi ,

lalu kulihat dia kembali berlari ke arah hutan,lalu dia mulai memperlambat langkahnya saat mendekati sebuah pohon besar yang keramat, lalu tiba tiba,” kreek “,aku menginjak sebuah ranting kering,dan kurasa dia mendengar bunyi itu, lalu dia berbalik dan melihatku, “matilah aku”,pikirku,

lalu saat dia mendekatiku tiba tiba matahari mulai bersinar,

kulihat kalau dia ketakutan dan berbalik mau berlari ke arah pohon keramat itu,

sebelum dia berlari,ku pegang tanganya yang berbulu itu,dengan badanku yang cukup kekar dan bermodal ilmu karate yang ku pelajari,ku puntir tanganya dan ku kunci,sehingga dia tak dapat bergerak lagi,merontapun percuma, ” apa yang kamu mau manusia ? “,katanya lalu sebelum dia sempat berbicara lagi,ku cabut sedikit bulu di daerah ketiaknya dari ketiak kanan dan ketiak kiri,lalu ku jadikan seikat dan ku kantongi,karena jika di begitukan maka dia akan menuruti kata kata orang yang mencabutnya,jika dia melawan maka dia akan kesakitan,lalu kusuruh dia untuk berubah menjadi bentuk manusia,maka diapun kembali menjadi manusia yang tadi kulihat,

lalu ku seret dia ke rumahku, sesampainya di rumahku kumasukkan dulu ikatan rambutnya ke dalam gentong kecil lalu ku tutup dan ku kikat gentong itu dengan mantra pengikat yang ku pelajari waktu aku masih di pesantren,

lalu ku bawa dia ke kamarku dan segera saja kubuka seluruh pakaianya dan hanya tinggal celana dalamnya saja, dia meronta ronta berusaha membebaskan dirinya,

lalu saat kubuka CDnya,terpampanglah kontolnya yang seperti kuda arab,dengan besar sekitar 27 cm dan berbulu lebat,setelah kulucuti pakaianya,dia ku ikat di ranjangku sehingga tak mungkin untuknya dapat kabur,dan lagi setelah bulu ketiaknya ku cabut dan ku bubuhi mantra dia kehilangan kekuatanya,sehingga dia terperangkap dalam tubuh manusianya,

lalu setelah membuka pakaianku mulailah aku menjilat kontolnya,ku jilat kepalanya turun ke batangnya lalu ke buah pelirnya sampai ke lubangnya yang sedap,lalu kembali lagi ke kepala kontolnya dan langsung ku kulum kulum kontolnya itu,kegiatanku ini membuatnya mendesah kenikmatan, lalu jilatanku mulai naik ke arah perutnya yang berbulu,karena kalau keterusan bisa bisa kontolnya ngecret duluan di sana ku putar putarkan lidahku dan berhasil membuatnya mengerang lagi, lalu jilatanku naik lagi ke dadanya yang berbulu arab,ku tempelkan mukaku disana sambil ku hirup baunya yang sangat nikmat,lalu ku isap isap putingnya kanan ke kiri dan begitu selama beberapa menit sambil mengisap putingnya tanganku mengusap usap ketiaknya yang berbulu dan dia mengerang tertahan,lalu jilatanku turun ke arah ketiaknya,ku hisap hisap ketiaknya yang berbulu,dari ketiak kanan ke kiri kanan kiri begitu terus lalu aku naik lagi,kuciumi lehernya yang mulai berkeringat,lalu ciumanku naik ke mulutnya,mulanya dia menolak dan berusaha menghindar,lalu ku pegangi kepalanya dan kucium paksa dia lama sekali,sampai dia sesak nafas karena nafasnya memburu tak beraturan,

lalu setelah dia kelelahan aku mulai mengulum kontolnya lagi sampai dia ngecret,

lalu aku memasukan kontolku ke mulutnya dan dia berusaha untuk mengeluarkanya tapi itu malah membuatku keenakan lalu setelah ku rasa kontolku cukup basah lalu ku posisikan kontolku di depan anusnya,lalu kugesek gesekan kontolku di anusnya untuk merangsangnya,lalu setelah erangan keras yang dia keluarkan,ku tusukan kontolku ke dalam anusnya,”bless” dan dia menjerit keras sampai aku takut kalau ada tetanggaku yang mendengarnya, lalu kubiarkan dulu,setelah beberapa saat mulai ku maju mundurkan kontolku, setelah beberapa saat dia mulai mengerang keenangkan lalu aku mulai merasa kalau aku akan keluar dan akhirnya,”croot…”aku keluar,kami benar benar merasa kelelahan dan kamipun tertidur,

lalu besoknya aku bangun pukul 12 siang,kemudian aku kembali menjilati kontolnya sampai dia ngecret,lalu ku bebaskan ikatanya dan dia kembali ke hutan setelah sebelumnya aku menyuruhnya kembali malam ini,

lalu sepulangnya aku dari kerja,di daerah hutan itu dia sudah menungguku dan kami menuju ke rumahku dan mengulang lagi kejadian nikmat itu,aku benar benar tak sabar akan kontolnya yang besar berbulu,dadanya yang bidang berbulu,ketiaknya yang lebat,anusnya yang ketat,dan wajahnya yang menawan, …………………………………

k pawit, potongan rambutnya mirip k sindhu hanya sedikit lebih pendek,

dia sedikit lebih tinggi dariku karena hobinya adalah basket,tapi tidak jangkung,menurutku dia sangat proporsional,

aku sering memperhatikanya secara diam diam,

waktu itu aku sudah cukup dekat dengan k pawit karena pdkt ku yang mungkin berlebihan, aku mulai mencari fbnya,lalu ku ambil nomor hpnya dan aku mulai mengiriminya sms sms gokil, lalu dia juga terkadang membalas smsku, dan saat dia membalas smsku hatiku sangat senang rasanya seperti terbang di awan awan, aku selalu mendoakanya supaya dia mau membalas smsku, hingga akhirnya kami bisa di bilang cukup dekat,

suatu malam saat kedua orang tuaku sedang tidak di rumah,k pawit menelfonku kalau dia ingin meminjam buku catatanku,

lalu otak jahatku tiba tiba bekerja, aku mencari obat tidur yang pernah ku minum karena aku pernah tak bisa tidur dan aku beli obat tidur di toko 24 jam di dekat rumahku dan selang 5 menit aku langsung tertidur,

saat semua alat” untuk rencanaku siap,tiba tiba di benaku terbayang bagamana jika tiba tiba orang tuaku pulang,bagaimana jika… tapi nafsuku sudah mengalahkan segala galanya, jam 8 k pawit datang mengenakan kaos hijau dengan lambang devil + jaket polos dengan gambar simbol kelasnya di bagian belakangnya dengan resletingnya terbuka semua dan aku persilakan dia duduk di ruang tamu,lalu aku katakan kalau aku mau membuatkan minuman,dia bilang dia ingin jus jeruk saja, maka aku ke dapur dan tiba tiba ada telefon, lalu aku minta tolong ke k pawit untuk mengangkatnya, terdengar suara k pawit hanya berkata ya ya ya, lalu saat k pawit sudah menutup telefonya aku bertanya, “dari siapa k ?”, “dari om sama tante,katanya ga bisa pulang hari ini,paling besok siang”jawab k pawit, oh,dewi fortuna besertaku,

lalu segera saja ku bubuhkan obat tidur yang sudah ku haluskan sebelumnya, lalu ku campurkan ke minumanya dan ku aduk,

lalu aku keluar dari dapur dengan membawa segelas jus jeruk untuk k pawit, “berarti malam ini aku tidur sendirian k,k pawit temenin aku ya k ?” kataku seraya menyerahkan gelas itu ke k pawit, “takut ya rhe ?” ,tanya k pawit, “g we . . . buat temen ajah,diminum dulu k”,tawarku “oh iy rhe,bukumu yang mau ku pinjam mana rhe?” “oh iy,sebentar k,ku ambil dulu”

lalu aku pergi ke kamarku untuk mengambil buku catatanku,saat aku kembali,kulihat k pawit sudah tertidur di sofa, kupikir rencanaku cukup berhasil, lalu aku mendudukanya di kursi kayu dan membuka semua pakaianya, kumulai dari jaket hingga kaosnya lalu kujilati dan ku sedot puting susunya sampai tegak melenting, lalu kulanjutkan dengan celana panjang dan CD nya,lalu kupeluk kakinya yang berbulu itu,wah rasanya benar benar nikmat,lalu ku kulum kontolnya itu,walaupun masih tidur,tapi ukuranya cukup besar,secara perlahan kontol itu mulai bangkit dan akhirnya ngaceng penuh dengan panjang sekitar 21 cm dan diameter sekitar 5 cm, dan biji kontolnya tergantung indah di sana, lalu ku kulum juga buah pelirnya itu,aku tak menyangka aku dapat menikmati tubuh indah milik k pawit, aku tak mau sampai k pawit keluar cepat, lalu aku segera menjilati anusnya yang berwarna merah muda itu,kakinya ku angkat ke pundakku dan kedua tanganku sibuk memainkan kedua bongkahan pantatnya,dan dengan lidahku,ku tusuk tusuk lubang anus k pawit,lalu jariku juga mulai ikut menusuk nusuk anusnya pertama dari satu jari,terasa agak sempit,lalu mulai ku maju mundurkan jariku dan akhirnya terasa cukup licin,lalu dua jari masih terasa sempit,ku beri kedua jariku air liurku lalu kembali ku maju mundurkan kedua jariku,lalu sebelum ku masukan jariku yang ketiga aku meludah di anus k pawit dan ku tusuk tusuk anusnya dengan lidahku,lalu aku menyedot nyedot anus k pawit dan terdengar erangan dari mulut k pawit yang tertidur pulas, lalu aku bersiap siap memasukkan tiga jariku dan ” bless ” ketiga jariku yang basah masuk dengan cukup mulus dan terasa sangat ketat sekali,dan k pawit mengerang kesakitan dengan suara yang pelan tapi kedua matanya masih terpejam rapat, bosan dengan jariku,aku membuka semua pakaianku,dan aku ingin supaya k pawit mau mengulum kontolku,lalu aku mengikat perut k pawit dengan sandaran kursi jadi satu,lalu ku angkat ketiaknya yang lebat seperti hutan itu,ku jilat jilat ketiak yang penuh dengan rambut itu (anus + rambut = daerah kesukaanku) hingga rambut di ketiak k pawit basah kuyup,lalu ku posisikan kontolku di ketiaknya,lalu ku jepitkan kembali tanganya dan kumaju mundurkan kontolku di ketiaknya yang berbulu,rasanya benar benar nikmat luar biasa,kontolku terasa di pijit dan juga ada rasa keri,”ah,nikmatnya” saat terasa ada getaran di kontolku aku segera menghentikanya,lalu aku mengambil hpku,ku tempelkan ujung kontolku ke bibir seksi k pawit dan ku foto tepat di mukanya,lalu tubuh telanjangnya juga kufoto beberapa kali, lalu ku taruh kembali hpku di meja belajarku, lalu aku membuka mulutnya perlahan dengan kedua tanganku dan ku tempelkan bibirku di mulutnya itu,kusedot sedot mulutnya,agaknya aku tidak takut dia bangun,sebab aku telah mengikatnya,lalu ku masukan lidahku ke mulutnya,lidahku menelusuri setiap rongga mulutnya,ku kira obat tidur itu memang sangat kuat, lalu aku tetap memaksa mulut k pawit terbuka dan aku memasukan kontolku yang sudah ngaceng penuh itu di mulut k pawit,lalu aku menyodok nyodokkan kontolku seakan menyodomi anus k pawit,lalu mata k pawit seperti akan terbuka,maka segera saja kucabut kontolku yang berlumuran air liur k pawit dan tanpa pemanasan ku tusukkan kontolku ke anus k pawit dan k pawit langsung menjerit kesakitan sangat keras,lalu segera saja kucium mulutnya untuk membungkamnya dan kedua tanganku memeluknya erat supaya dia tak dapat bergerak,dia benar benar kaget,kesakitan,dan tidak terima,tapi aku terus menciumnya hingga dia hampir kehabisan nafas dan akhirnya kelelahan sehingga dengan sangat terpaksa dia tidak melawan lagi,tapi aku terus mencipoknya dan kedua tanganku mulai bermain dan memijit kedua puting susunya,lama lama kurasa k pawit memejamkan kedua matanya dan mulai mendesah nikmat meski kontol besarku tetap bersarang di anusnya, lalu secara sangat perlahan aku mulai menggerakkan kontolku sambil mulutku tetap mencium k pawit, lalu tanganku mulai menjamah ketiak lebatnya, semakin lama gerakan kontolku semakin ku percepat,hingga akhirnya,”croot…”aku keluar juga di dalam anus k pawit, tapi k pawit masih belum keluar,lalu aku mulai mengocok kontol k pawit dengan liar dan akhirnya pejuh k pawit muncrat ke dadaku dan dada k pawit, lalu aku memeluknya erat erat,aku merasa tenang sekali bisa bersandar di bahu k pawit,

k pawit,i love u 4ever…

Namaku rhezsa,umurku 18 tahun,aku sekolah di salah satu sma terkemuka di kotaku,

aku mempunyai seorang kakak kelas yang menurutku sangat menarik, namanya k sindhu, karena,meskipun menurut orang biasa saja, tapi menurutku dia mempunyai aura yang membuatnya terlihat sangat tampan dan menarik perhatianku, meski dia sedikit lebih pendek dariku, rambutnya yang bergelombang dipotong pendek, membuatnya semakin menarik, ditambah lagi,dia memelihara sedikit janggut yang membuatku gemas melihatnya, wajahnya tipe imut, kalau melihatnya memakai pakaian pramuka lengkap rasanya aku ingin menggaulinya,

suatu waktu setelah selesai latihan rutin, saat semua anak sudah pulang aku masih menunggu angkot tapi tiba tiba,”rhe,belum dapet angkot ? Mau ku anterin pa ?”tanyanya, “ga ngerepotin k ?” kataku, “ga koq,dari pada kamu g pulang” katanya lagi, “ok,k thnkx ya…”jawabku,

lalu aku membonceng di belakangnya,dengan tanganku sedikit memeluk pinggangnya dan dadaku sedikit merapat ke punggungnya,

lalu setelah beberapa menit berlalu, tiba tiba hujan datang dengan lebatnya sehingga membuat kami berdua basah kuyup, lalu,”kita ke rumahku saja dulu ya rhe”,katanya, “terserah k sindhu aja” jawabku,

lalu sesampainya kami di rumah k sindhu kulihat kalau kami sudah basah kuyup, karena basah kuyup itu pakaian k sindhu melekat ke tubuhnya, dia benar benar terlihat sexy seperti itu…

Lalu dia pergi ke kamarnya untuk ganti baju dan meninggalkanku di ruang tamu dengan duagelas susu hangat satu untuknya dan satu gelas untukku,untuk menghangatkan badan katanya,

lalu k sindhu keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada dan membawa dua buah kaos di tanganya,

tubuhnya memang tak seputih daniel radcliffe tapi dia benar benar sexy meskipun ada sedikit lemak di perutnya,

lalu di berikanya satu kaos yang dipegangnya ke aku,lalu dia sendiri memakai kaos satunya lagi,”koq sepi k ?” tanyaku, “bonyok lagi pergi,paling pulangnya besok lusa “jawabnya, lalu saat dia memakai kaosnya,ketika tanganya terangkat,kedua ketiaknya terbuka lebar dan menampakkan indahnya kedua ketiaknya… Lalu dia kembali ke kamarnya,katanya ingin ganti celana, dilanda nafsu yang begitu besar aku mengendap endap masuk ke kamarnya, ketika masuk kulihat k sindhu mulai melepas celana pramukanya, maka terpampanglah celana dalam putihnya itu, lalu entah setan dari mana yang merasukiku, tiba tiba aku memeluknya dari belakang dan segera menyumpal mulutnya dengan saputangan putih tanpa renda yang selalu ku bawa ke mana mana, lalu kedua tanganya kuikat jadi satu di belakang dengan tali pramuka yang ku bawa di tasku,lalu ku bawa dia ke kasurnya, mukanya jadi merah padam, aku rasa dia benar benar marah padaku(jelas lah !) lalu aku mulai mencoba membuka bajunya,karena susah akhirnya kusobek saja bajunya dengan gunting yang ku temukan di meja belajar k sindhu, k sindhu meronta ronta berusaha supaya aku tidak membuatnya telanjang, tapi hal itu tak berarti apa apa, saat sudah ku sobek memanjang pada bagian dadanya,terpampanglah dadanya yang ternyata ditumbuhi bulu bulu halus yang membuatku langsung mendekatkan hidungku untuk mencium bau nikmatnya,lalu aku mulai menjilati,mengecup,menyedot,memilin,dan menghisap hisap kedua putingnya dan k sindhu hanya menggeram geram dan melakukan perlawanan tak berarti, sebetulnya aku ingin merasakan ketiaknya,tapi susah,karena terhimpit oleh tanganya yang terikat, lalu,aku membenamkan mukaku di dadanya yang berambut cukup lebat itu dan ku hirup aroma yang sangat menggugah nafsu yang keluar dari dadanya yang rambutnya basah karena keringat itu,kemudian ciumanku kunaikan ke lehernya itu, hawa kamar yang menjadi panas atau karena alasan lain membuat kami berdua mandi keringat, lalu sambil aku menjilati lehernya yang berkeringat itu,tanganku mulai mengelus elus rambutnya itu,

lalu ku buka sumpal di mulutnya dan sebelum dia sempat berkata apa apa,aku sudah mencium bibirnya yang menawan itu,ku masukan lidahku ke rongga mulutnya,ku hisap hisap hingga k sindhu kesulitan bernafas hingga tersengal sengal,lalu ku tarik mulutku dan kembali ku sumpal mulutnya, lalu aku turun ke bawah dan mulai membuka CDnya dengan gunting tadi, dan k sindhu kembali meronta ronta berusaha untuk menghalangi perbuatanku, namun akhirnya CD nya terbuka juga, lalu sambil tanganku meraba raba pahanya yang cukup berbulu itu dengan gerakan memijit,mulutku mulai menjilati kontolnya yang berukuran sekitar 19 cm itu dengan diameter 5cm, ku jilat dari ujung kontolnya hingga buah pelirnya,ku kulum buah pelirnya bergantian,lalu kembali ku jilat kontolnya dan kadang ku kulum sebentar,lalu aku turun lagi ke bawah dan mencapai anusnya,ku jilat jilat anusnya itu,lalu ku tusuk tusukkan lidahku,kemudian kumasukan jariku ke dalamnya lalu kembali ku jilat anusnya,dan ku tusuk tusukkan lidahku ke dalam anusnya, sehingga dari tadi k sindhu terus menerus mengerang keenakkan, “Arrghhh….”erangnya, lalu aku kembali ke kontolnya dan mengulumnya,aku sengaja memperlambat permainan ini supaya k sindhu tidak segera keluar, lalu akhirnya,”Crrooott!!!” keluarlah pejuh kental putih itu,dan langsung ku telan semuanya,

kulihat k sindhu sudah kelelahan,terlihat dari nafasnya yang tak beraturan,keringatnya yang bercucuran dan juga dari raut wajahnya, lalu ku buka sumpal mulutnya supaya dia dapat mengatur nafasnya, lalu ku buka ikatanya dan langsung ku angkat tanganya,begitu tanganya terangkat aku dapat melihat kedua ketiaknya yang sangat indah itu, langsung ku cium bau nikmatnya,dan ku jilat jilat ketiak yang sangat indah itu bergantian, lalu ciumanku kembali naik ke bibirnya,ku masukan lidahku ke dalamnya dan dia membalasnya ! Lidah kami bergelut hebat di dalam, lalu aku terkejut saat tiba tiba ada tangan yang memelukku erat, aku baru ingat kalau aku sudah melepaskan ikatan pada tanganya, lalu kurasakan kalau dia mengelus elus punggungku yang berkeringat sehingga membuat kaos pinjaman k sindhu menempel ketat di badanku, lalu dia membalikkan tubuhku,sehingga aku di bawah dan dia menindih tubuhku,lalu kurasakan kalau dia mulai mencoba membuka bajuku, lalu kami melakukan french kiss lagi sampai sekitar 10 menit, setelah bajuku terbuka,dia mulai menciumi leherku yang basah oleh karena keringat,lalu mulai turun lagi ke arah dadaku,dijilatnya puting susuku,sasanya benar benar nikmat,kemudian di hisap hisapnya puting susuku yang membuatku mengerang nikmat sambil menjambak jambak kecil rambutnya yang membuatku bernafsu itu, lalu jilatanya turun ke arah ketiakku yang membuat eranganku semakin keras,di jilat jilatnya ketiakku itu, lalu tiba tiba,ciumanya turun ke arah kontollku yang masih terbungkus oleh celana dalam dan celana pramuka, lalu di bukanya celanaku di mulai dari sabukku lalu ke kaitan celanaku dan akhirnya sletingku juga dibukanya,lalu celana pramukaku ditariknya ke arah bawah,dan di lepaskanya dari tubuhku,lalu didekatkanya mukanya ke arah kontolku yang masih tertutup celana dalam, ternyata dia sudah menemukan gunting tadi, lalu di guntingnya CD ku itu, maka terpampanglah kontolku yang sudah ngaceng penuh itu, dan terlihat mengkilap karena air maniku, lalu dijilatnya kontolku pada daerah V hingga ujung kontolku, membuatku bergetar nikmat, lalu dia kembali menjilati kontolku yang membuatku mengerang nikmat, lalu jilatannya turun ke arah biji pelirku, dikulum kulumnya biji pelirku bergantian, nikmat sekali rasanya, membuatku melayang layang, lalu jilatanya kembali turun ke arah anusku di jilatnya anusku lalu di tusuk tusukkanya lidahnya ke dalam anusku, sepertinya dia cepat belajar,pikirku,

lalu kupikir dia mulai kehabisan ide,maka aku mengambil inisiatif untuk k sindhu dapat mengentotku, lalu ku posisikan pantatku di atas kontol k sindhu yang sudah ngaceng penuh lagi, lalu secara perlahan ku turunkan pantatku,ku gesek gesekkan anusku ke kontol k sindhu yang besar itu,dan rasanya sangat nikmat bagi kami berdua,karena kami berdua mengerang keras, lalu aku mulai menurunkan pantatku lagi,dan,”plop” kepala kontolnya berhasil masuk terasa sedikit nyeri di anusku, lalu aku menunggu sebentar untuk anusku dapat beradaptasi, lalu aku mulai menurunkan lagi pantatku secara sangat sangat perlahan, dan,”bless” kontolnya masuk semua ke dalam anusku yang masih perawan dan sangat ketat itu, dan k sindhu mengerang hebat,mukanya yang sedang mengerang itu membuat rasa sakitku itu hilang, lalu saat aku mulai menaik turunkan pantatku itu,tanganku sibuk memainkan kedua puting susunya dan di membalasnya dengan memainkan kedua puting susuku itu, lalu tubuhku menunduk dan kami melakukan french kiss dan badanya dengan badanku benar benar menempel jadi satu, kemudian setelah beberapa menit,k sindhu bilang kalau dia akan segera keluar dan dia mengocok kontolku itu dengan buasnya,hingga aku keluar dulu dan pejuhku mengenai dadanya,lalu dia juga keluar di dalam tubuhku, lalu aku ambruk ke dadanya karena kelelahan dan kamipun tertidur bertindihan, rasanya benar benar nyaman,

lalu saat aku terbangun,waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi, dan perutku terasa lapar, ku lihat kalau k sindhu masih tertidur di sebelahku,mungkin karena kecapekan,tpi wajahnya yang sedang tidur itu benar benar cute dan membuatku mencium keningnya dan tanganku mengelus elus tubuh sexynya itu,lalu kupakaikan di selimut karena hawa yang kurasa cukup dingin dan aku mencari piama milik k sindhu di lemari pakaianya dan memakainya,lalu aku pergi ke dapur dan membuat 2 mie instan,setelah jadi sebetulnya aku mau ngocok di atas mienya tapi aku takut kalau nggak ilok,akhirnya 2 mie instan siap di nikmati, lalu aku kembali ke kamar k sindhu,ku kecup dahinya,dia mulai agak bangun,lalu langsung ku kecup bibirnya, akhirnya matanya terbuka juga dan aku berkata,”makan dulu yuk k,biar bisa tarung lagi”, “iy,rhe,kamu emank pinter,kuat di ranjang lagi”pujinya, lalu kami menikmati mie instan buatanku, setelah cukup istirahat kami kembali ke kamar dan bersiap siap melakukan ronde yang kedua dan di awali dengan french kiss….

Lexi, seorang remaja tionghoa yg tampan sedang duduk di pinggir kolam renang di rumahnya. Ibunya baru saja pergi ke supermarket bersama pembantunya, Bi Sumi. Itu berarti di rumah ini hanya ada dia dan seorang pembantu pria nya g bernama Sulis. Lexi yang mengenakan celana renang yg ketat itu hanya duduk2 di pinggir kolam dan hanya menyeburkan kakinya di kolam tersebut. Dia sudah bosan berenang, Lexi hanya mencari alasan agar dia bisa mengenakan celana renang pada saat itu, untuk mengagumi tubuhnya yg ramping dan putih serta pasti membuat darah semua wanita dan gay mendidih. Lexi memikirkan hal menyenangkan yg bisa dilakukan. Dan ia pun teringat pembantunya, Sulis. Pembantunya itu tidak berbeda umur jauh dengannya. lexi berumur 18tahun sementara Sulis 22tahun. Wajahnya pun manis agak tipe wajah desa sebenarnya, namun terlihat innocent dan menggemaskan. Badannya pun tidak terlalu tinggi, hanya 170cm jauh dari Lexi yg memiliki tinggi 182cm. Namun Lexi sangat menyukai Sulis terlebih dia sudah tidak tahan disodomi oleh kontol pembantunya itu. Lexi pergi ke dapur menemui Sulis untuk pura2 minta dibuatkan minum, saat dia masuk sulis sedang mengelap air yg tumpah di lantai dan saat dia mendongak kepalanya tepat berada di depan selangkangan Lexi yg hanya mengenakan celana renang ketat warna hitam yg menunjukan lekuk2 kontolnya yg sudah semi ereksi, Lexi heran Sulis terlihat salah tingkah dengan posisi mereka tersebut. “Eh, ada apa koh ????” “Ngg, bikinin gw orange juice dong, ntar anter ke kolam yah” “Iya koh, ntar saya anter ke kolam” Lexi pergi dan tersenyum, sepertinya rencana nya akan berhasil. Darah muda nya semakin mendidih melihat tubuh Sulis yg hanya dibalut kaus singlet dan celana jeans selutut. Tak berapa lama Sulis datang membawakan segelas orange juice dingin. “Ini koh orange juice nya”. “Oh thank you ya Lis.” “Saya permisi dulu koh.” “Eit, nanti dulu. Lw sini duduk sebelah gw.” Sulis heran diajak duduk disebelah majikan kecilnya itu, namun dia menurut saja. Lexi tak tahu bahwa hati Sulis berdegup kencang saat duduk disebelahnya apalagi menatap gundukan di balik celana renangnya. “Kenapa koh?” “Nggg, lw duduk dulu, gw mau nyobain juice nya, kalo gak enak lw gw ceburin” kata lexi sambil tertawa. Sulis hanya nyengir mendengarnya. dan Lexi pun mulai melancarkan aksi menjebak pembantu manisnya itu. Lexi menggenggam gelasnya dengan satu tangan dan di pura2 menumpahkan sedikit minumannya ke singlet yg dipake Sulis. ‘Ups, sori Lis gak sengaja” “Oh, ngga pa pa koh, ntar aku ganti” “Jangan sini gw bersihin”. Lexi mengelap singlet tersebut dengan tangannya. Pada bagian dada Sulis, sambil mengelus pelan dada pembantunya tersebut. Sulis tidak melawan, malah dia tampak menikmatinya. “Juice nya masuk kedalam yah Lis ??? Kena badan lw dong, sini gw bersihin” dan Lexi pun membuka singlet Sulis tanpa perlawanan berarti. ‘Ehm, gak usah koh”. Namun setelah membuka singlet tersebut Lexi langsung menyambar tumpahan Juice di badan Sulis. Dia menjilati dan menghisap perut, dada, puting, hingga ke leher Sulis. Sulis memberi perlawanan tak berarti namun sebagian besar hatinya meniknmati servis dari majikannya itu. Setelah berapa lama mulut Lexi beralih ke bibir Sulis, diciumnya, dan dilumat bibir tipis yg manis itu, Sulis pun membalas ciuman Lexi dengan lidahnya yg berputar liar di mulut Lexi. “Lis, lu pernah ML ma cowok gak” “Gak pernah koh” “Mau gw ajarin ???” Sulis mengganguk dengan senyum manisnya. Lexi membaringkan Sulis di bangku panjang yg mereka duduki dan duduk di atas nya. Dia pun menuntun kontol Sulis yg lumayan panjang itu ke lubang anusnya, sangat mudah karna lubang anus Lexi sudah sangat sering dimasuki kontol besar. Saat sudah masuk seluruhnya Lexi bergerak naik turun menggesek2an kontol Sulis di dalam anus nya. Sulis pun yg baru pertama kali melakukan persetubuhan seperti ini tak kuasa menahan kenikmatan yg menjalar di sekujutr tubuhnya. ” Arrrggghhh, arrrggghhh, oh yeah” Desah kenikmatan mereka terdengar jelas, sambil menggerakan pinggulnya di atas kontol Sulis, Lexi mencondongkan tubuhnya untuk mencium bibir Sulis. Sulis pun menikmati hal itu dan mereka terus berpagutan hingga Sulis bicara. “Koh, boleh saya yang di atas” “Lu bisa ????” “Akan saya coba” Lexi mengiyakan nampaknya Sulis mulai memiliki inisiatif agar permainan mereka lebih dahsyat. Mereka pun berganti posisi, Lexi terlentang dan membuka lebar kakinya yg ditumpangkan di bahu Sulis, Dan Sulis pun tanpa kesulitan memasukkan kontolnya ke anus Lexi. Dan kali ini Sulis yg mengenjot pinggulnya dan tanggan nya mengocok kontol Lexi. Lexi tersenyum dan mereka pun kembali larut dalam desah2 kenikmatan. Gerakan kontol Sulis di anus Lexi membuatnya mencapai puncak. Dan Lexi pun meriakkan kenikmatan saat spermanya keluar dan tangan Sulis tetap mengocok kontolnya. Crot….Crottt….Croottt. “AAArghhhh, yeah, ohhh, arrghhh” Tak berapa lama Sulis pun menuntahkan cairan kenikmatannya di lubang anus majikan kecilnya itu. Spermanya meleleh keluar dari anus Lexi. Lexi mengusap sperma Sulis dan spermanya, menempelkan nya di mulutnya kemudian bibirnya yg penuh sperma itu mencium bibir sulis. Mereka pun berciuman dengan lelehan sperma di mulut mereka. Kegiatan ini bukan yg terakhir setiap mereka tinggal berdua di rumah Lexi dan Sulis pasti akan melakukan hubungan sex. Tak ada yg tahu, semua menjadi rahasia indah di antara mereka.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 54 pengikut lainnya.