Latest Entries »

Gejolak Nafsu Anak SMU

Noldy, lagi-lagi cowok itu bertingkah aneh untuk menarik perhatian anak-anak kelas 3B. Namun kali ini yang dilakukannya sudah sangat kelewatan, bahkan sampai membuat semua siswi yang kebetulan sedang ada di dalam kelas pada saat jam istirahat itu berteriak histeris.

“Gila kau, Dy!” gumamku ketika kusaksikan sendiri Noldy menunjukkan keberaniannya yang semula hanya kuanggap hanya sekedar main-main. Ternyata Noldy memang pantas dengan julukan “cowok nekat” yang diberikan kepadanya oleh anggota gank preman selama ini.

Di siang yang panasnya begitu menyengat itu, seolah tanpa rasa malu sedikit pun, sang bintang Noldy membuka restleting celana abu-abunya di atas salah satu meja sambil mengumbar sengirannya yang nakal. Tak cukup di situ saja, ia lalu memegang kemaluannya yang sudah mengeras sebesar pisang ambon itu dan kemudian mengeluarkannya dari dalam sangkarnya, sebuah celana dalam G-String berwarna putih. Dan tentu saja, tontonan gratis saat jam istirahat kedua itu langsung menyedot perhatian dan langsung membuat suasana kelas menjadi gempar seketika dengan teriakan histeris beberapa orang siswi dan teriakan “Huu..” yang menggema hampir berbarengan di seluruh ruangan kelas, ruangan kelas yang berisi sekelompok siswa yang terkenal karena “sakit mental”-nya.

Pertunjukan itu tak lama, cuma sekitar 3 menit. Dan saat itu, sempat kulihat Noldy mengelus-elus batang penisnya seraya cengengesan, seolah-olah ia begitu bangga sekali dengan “adik”-nya yang berwarna kemerahan itu, lebih lagi karena ia merasa sudah berhasil mengalahkan kami dalam taruhan kemarin sore. Taruhan yang dimotori oleh sebuah alasan, “mempertahankan gengsi!” apalagi Noldy selama ini memang dikenal sebagai cowok pemberani, bahkan cukup berani untuk melakukan sesuatu gila seperti yang dilakukannya siang itu.

Kontolnya tak kurang dari 15 cm panjangnya, dan itu cukup besar untuk ukuran anak SMU seperti kami, belum lagi diameternya yang tak kurang dari 3 cm. Kebetulan aku dapat melihatnya dengan sangat jelas karena aku duduk di dekatnya saat itu. Noldy berdiri tepat didepanku, sehingga aku bisa leluasa memandangi kontolnya itu dari bawah, Pemandangan yang sungguh luar biasa! jelas sekali punya Noldy masih lebih besar daripada punyaku, belum lagi jembut-jembutnya yang tampak lebat sehingga menambah keseksiannya. Bagaimana rasanya melumat kontol sebesar itu? pasti nikmat sekali! Pikirku saat itu. Aku benar-benar terangsang menyaksikannya saat itu, sampai-sampai “rudal”-ku pun ikut-ikutan menegang dan mengeras di balik celana dalamku yang sudah basah dengan cairan precum itu.

Namun sayangnya, pemandangan itu tak berlangsung lama. Barangkali, Noldy takut juga jika nantinya harus berurusan dengan pihak sekolah karena aksi pornonya itu. Sang bintang renang itu pun lalu memasukkan kembali kontolnya ke dalam sangkar dan menguncinya rapat-rapat dengan restleting.

“Bagaimana aksiku?” tanya Noldy setengah berbisik di dekat kupingku.

“Lumayan!” sahutku berpura-pura cuek.

“Lumayan gimana? Kau belum tentu berani melakukannya!” tegas Noldy.
Aku hanya mencibir ke arahnya sekedar untuk menggodanya, namun beberapa saat kemudian aku pun tersenyum sambil menepuk pundak sahabatku itu.

“Oke, aku mengaku kalah. Kau bisa ke rumah jam 5 nanti untuk mengambil kasetnya!” Noldy tertawa lebar mendengarnya, apalagi sudah lama ia ingin meminjam kaset BF-ku itu sejak aku, Noldy dan beberapa teman dari gank preman menontonnya bersama-sama sebulan yang lalu ketika baru saja kubeli.

Noldy tampak senang sekali, mukanya berseri-seri ketika ia berdiri di depan pintu pagar depan rumahku. Ia sudah datang setengah jam sebelum jam lima, dan kebetulan saat itu tak ada seorang pun di rumahku kecuali Bi Inah yang sedang menyapu pekarangan depan dan ia jugalah yang membukakan pintu untuk Noldy.

Tanpa disuruh Bi Inah, Noldy pun langsung nyelonong masuk begitu saja ke kamarku di lantai atas seperti yang biasa dilakukannya. Ia pula yang kemudian membangunkan aku dari tidur siangku yang sudah rada kelewatan itu. Hari itu memang hari yang sangat melelahkan, itu yang kurasakan. Apalagi rasa capek setelah mengurus persiapan acara perpisahan tadi pagi masih belum juga hilang. Saat letih seperti itu, bagiku tak ada kegiatan yang lebih menyenangkan selain menemani bantal gulingku seharian di dalam kamar sambil menikmati buaian alam mimpi.

Sebuah pukulan keras diarahkan tepat mengenai pantatku, tak ayal pukulan guling itu langsung membuatku terjaga seketika. Aku coba membuka mataku yang masih terasa berat untuk melihat apa yang terjadi, kupikir atap rumahku sedang runtuh terkena torpedo dan kemudian runtuhannya jatuh menimpaku. Namun begitu kulihat sekelilingku, tak ada yang istimewa kecuali wajah Noldy yang cengengesan seperti orang gila di sampingku.

“Bangun, pemalas! Jam segini masih tidur!”

“Mau apa kau kemari?!?” tanyaku setengah sadar.

“Mana kasetnya? BF Gay yang waktu itu!” pinta Noldy tak sabar sambil mengguncang-guncang tubuhku supaya aku segera bangun.

Dengan terpaksa, aku pun bangun dan kemudian duduk di atas kasur sambil bersandar pada tembok, mataku benar-benar masih berat, “Cari saja sendiri dibawah spring bed! Pakai sapu!”

Noldy pun segera mencarinya di bawah spring bed sesuai komando. Memang tempat itulah yang kurasa paling aman dari sekian banyak tempat persembunyian yang ada di rumahku untuk menyimpan barang-barang rahasia semacam kaset BF. Tak lama mencari, Noldy menemukannya!

“Kemana ortu-mu? Kok sepi banget?”

“Nggak tahu. Mungkin mereka sedang bulan madu di kutub utara!”

“Wah, asyik dong! Kayaknya, orang tuamu sering bulan madu yah!”

“Ya begitulah! Mereka itu nggak pernah sadar kalau sudah beranak lima!” sahutku asal.

Noldy terbahak-bahak mendengarnya. Ia tahu pasti kalau itu hanya lelucon sebab dia tahu kalau aku anak tunggal, satu-satunya yang dimanja oleh kedua orang tuaku.

Noldy masih memegang kaset bergambar pria telanjang itu, ia menimang-nimang sambil memelototinya sesekali, ia tampaknya sudah tak sabar lagi, “Fer, kasetnya aku putar di sini aja yah!” pinta Noldy kemudian.

“Kau suka juga kaset begituan? Kau gay yah?” tanyaku dengan ceplas ceplos seperti kebiasaanku.

“Gimana yah, susah jawabnya! Tapi jujur, aku penasaran! Enak nggak sih?” sahutnya ringan.

“Mau coba?” tantangku tanpa tedeng aling-aling. Beberapa saat Noldy hanya tercenung, ia menatapku dengan seribu satu pertanyaan di benaknya. Jelas sekali terlihat dari kerutan di dahinya bahwa ia kaget dan bingung dengan tantanganku barusan.

“Maksudmu?”

“Yah.. kita coba saja untuk tahu enaknya!”

“Dimana?”

Aku pun langsung beringsut mendekati Noldy dan tanpa bicara sepatah kata lagi, aku lantas menarik tabuhnya untuk menindih tubuhku di atas kasur. Badannya lumayan berat juga, Noldy memang tidak gemuk, namun ia atletis dan badannya berisi. Tetapi aku tak peduli, kami hanya sibuk saling melumat satu sama lain sambil bergulingan di atas kasur, mengikuti irama nafsu yang makin membara yang menambah suasana di kamar pribadiku itu menjadi makin panas. Kurasakan hantaman rudalnya di bawah sana sudah mulai meledak-ledak mengikuti irama permainan kami seolah-olah siap untuk melesak keluar, begitu hangatnya bergesekan dengan rudalku sendiri.

Noldy tak mau melepaskan ciumannya dari bibirku sampai kurang lebih sepuluh menit berlalu, ia mendaratkan ciuman-ciuman liarnya ke bibirku sambil sesekali kami memainkan lidah kami satu sama lain. Noldy semakin buas saja, ia seperti orang kehausan yang baru saja menemukan mata air.

Usai kissing, kami lanjutkan dengan necking. Betapa nikmatnya, menciumi leher Noldy yang putih mulus dan seksi itu, dengan sebuah tahi lalat kecil di sebelah kanan yang menjadi ciri khasnya. Sementara itu dalam waktu yang bersamaan, tangan kami pun tak tinggal diam, kurasakan tangan Noldy begitu liarnya meraba-raba dan menjamah bergantian seputar dada dan penisku yang sudah mengeras sejak beberapa saat yang lalu, sesekali ia meremas-remasnya bak memompa agar lebih perkasa lagi.

Sementara itu, tanganku sendiri mulai kuselipkan masuk ke sela-sela celana jeans ketat yang dipakai Noldy setelah aku tak cukup merasa puas hanya dengan merabanya dari luar. Dengan cepat kulonggarkan sedikit sabuk besi yang dipakai Noldy, dan setelah tanganku berhasil masuk ke dalam CD Noldy, mulailah kurasakan tanganku sedang menjamah selaras kontol berukuran besar yang sedang full ereksi. Siapa yang menduga kalau kontol yang tadi siang hanya bisa kulihat dan sempat membuatku tergiur, kini sudah berada di genggamanku. Tanpa dikomando, aku pun mulai meremas-remasnya sambil sesekali mengocoknya pula.

“Argh!” Noldy menggeliat-geliat sambil telentang di bawahku ketika kukocok kontolnya makin lama makin cepat.
Namun sesekali aku berhenti mengocok, agar spermanya tak cepat keluar sebelum kami puas menikmati permainan kami. Pada suatu kesempatan aku berhenti, kutanggalkan celana Noldy seluruhnya, bahkan T-shirt dan CD yang dipakainya sampai cowok ganteng itu telanjang bulat di depan mataku tanpa seutas benang pun yang membalut tubuhnya lagi. Noldy hanya menyeringai menyaksikan aksiku menelanjanginya, barangkali ini adalah pengalaman pertamanya ditelanjangi oleh orang lain.

Usai menelanjangi, kudekatkan mukaku ke seputar dada Noldy yang bidang dengan ditumbuhi sedikit bulu halus yang berbaris sampai ke seputar kemaluannya. Kemudian segera kulumat kedua puting susu Noldy yang berwarna kemerahan itu secara bergantian, setelah itu baru kujelajahi seluruh dada dan perut Noldy dengan permainan lidahku. Sesekali Noldy menggeliat sambil mengerang-erang menahan sensasi geli bercampur nikmat yang perlahan merayapi sekujur tubuhnya dan bergerak makin ke bawah.

Kini lidahku sudah sampai di seputar pusar, dimana sedikit saja dibawahnya sudah mulai ditumbuhi oleh jembut-jembut halus berwarna gelap yang mulai tampak lebat dan tumbuh liar mengitari batang kemaluan yang berdiri kokoh laksana tower mercusuar itu. Di bagian itu pula tampak warna kulit yang lebih putih berbentuk segitiga, sesuai dengan bentuk CD. Penampilan Noldy benar-benar seksi saat itu, dan tentu saja membangkitkan gairah birahi bagi siapa pun yang melihatnya seperti itu.

“Hisap lagi dong, Fer!” pinta Noldy setelah sekian lama aku hanya terbengong sendiri menyaksikan tubuhnya yang seksi itu.
Aku pun lantas memasukkan kembali kontol Noldy yang sudah makin melemas itu ke dalam mulutku, kujilat dari ujung sampai ke pangkal penisnya, dan kemudian kusedot keluar masuk di dalam mulutku. Menikmatinya, sepertinya membuatku melayang ke awan-awan dan aku seolah tak ingin segera berhenti. Cukup lama aku mengoral kontol Noldy sampai kami berdua merasa puas.

“Argh, nikmat! Teruskan Fer! aku sudah hampir keluar!” Noldy kemudian menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan yang dirasakannya saat itu, sementara itu, aku secara bergantian mengocok dan mengoral kontol Noldy dengan gerakan yang makin cepat seiring dengan denyut nafasku yang makin menggelora dan tak karuan saat itu.

Tak lama kemudian, tiga semprotan sperma hangat menyembur di dalam liang mulutku. Saking kuatnya dan juga karena terjadinya yang begitu tiba-tiba sehingga membuatku langsung tersedak oleh sperma Noldy yang masuk ke kerongkonganku.

Noldy terengah-engah, ia tampak begitu lelah dan menikmati permainan ini. Sambil mengelap peluh, ia berbisik pelan di dekat telingaku, “Ini pengalaman pertamaku, you’re very great!” pujinya.

“I also never try it before. It’s nice to share it with you!”

Tiba-tiba Noldy berbalik dan menindihku sambil mendekapku erat. Dengan suara pelan dan sedikit ragu, ia mengajukan sebuah pertanyaan sulit, “Kau mau jadi boyfriend-ku?!? I’m a gay!”

Sungguh pengakuan yang diluar dugaan, selama ini aku tak menyangka kalau Noldy adalah gay sebab penampilannya sama sekali tak sesuai dengan bayanganku tentang ciri-ciri gay selama ini. Pandanganku sebelumnya bahwa gay itu selalu tampil kemayu dan kewanita-wanitaan ternyata salah besar. Namun anehnya, mengapa aku bisa berpikiran seperti itu tanpa mengaca pada diriku sendiri, sebab aku pun seorang “pemburu” lelaki meski tak tampak kemayu seperti apa yang menjadi bayanganku.

Selama beberapa saat aku hanya terdiam, aku bingung bagaimana harus menjawabnya. Perasaan ini sebetulnya yang selama ini menjadi pergumulan beratku, aku memang cenderung untuk menutupinya dan mencoba untuk melupakannya. Namun apa lagi kini yang ada dihadapanku, tepat di depan batang hidungku. Seorang gay menawariku untuk menjadi kekasihnya?

Namun tiba-tiba, aku sampai pada keputusanku yang memang tak pernah kusesali sampai kini. Aku menggeleng dan melontarkan sebuah jawaban pendek, “I’m sorry!”

Perlahan-lahan, Noldy melepaskan pelukannya dan kemudian berbaring di sisiku. Dia hanya diam untuk beberapa saat, tampak kecewa, namun kelihatan sedang memikirkan sesuatu juga.

“It’s better if we be a friend or brother more than as you just spoke!” ujarku kemudian sambil menggenggam erat tangan Noldy.

“Ok, I think so! Never mind!” sahut Noldy sambil mencoba untuk tersenyum kembali.

“You know, your smile is steal!” gurauku sambil menarik hidungnya. Sore itu pun kami habiskan waktu kami lebih banyak untuk mengobrol setelah kami memutar vCD bf itu di kamarku. Pengalaman hari itu pun selesai.

Satu hal yang penting, tidak ada yang lebih bijaksana dalam hidup selain daripada ketika kita bisa mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat dan pada orang yang tepat, sebelum segala sesuatunya terlambat.

Cerita ini hanya sebagian saja dari lika-liku perjalananku yang kupersembahkan untuk para pembaca sekalian. Seperti yang sebelumnya, tentang benar atau fiktifnya cerita ini, silahkan kalian yang menilainya saja, sebab segala sesuatunya masih tetap menjadi misteri dan misteri memang masih belum terbongkar. Percayalah, masih ada begitu banyak misteri di dalam hidupku yang kurasa perlu kutuangkan dalam beberapa tulisan lagi sampai kalian benar-benar menyadari siapakah aku yang sesungguhnya. Aku tahu tak banyak dari kalian yang kukenal, tapi aku yakin hampir dari kalian semua pasti akan mengenaliku ketika misteriku berhasil terpecahkan.

Aku akan menceritakan, kisah unik ini karena baru saja terjadi, kira-kira 2-3 bulan yang lalu. Cerita yang mungkin tidak akan banyak orang yang percaya kalau yang melakukan itu aku, karena pada dasarnya aku berwajah imut, pendiam dan cenderung pemalu, meski aku dilahirkan sebagai laki-laki.

Oh ya, sebut saja aku Fik, umurku 15 tahun, aku duduk di kelas 1 SMU di kota S di Jawa Tengah.Namun cerita ini terjadi sewaktu aku di sebuah kota kecil di Jawa Timur, sebelum aku pindah ke kotaku sekarang. Awal kejadiannya mungkin pikiranku yang penuh sesak dengan hal-hal yang berbau pornografi, majalah, buku, novel atau kaset VCD yang kukoleksi, tidak tahu sekarang jumlahnya berapa di kotak rahasiaku, termasuk main internet sebagai hobby baruku. Parahnya, aku melakukan tindakan gila ini pada seorang bocah ingusan, dia tetangga sebelah rumah, Wen namanya. Dia masih kelas 6 SD. Meski tinggal bersebelahan tetapi baru sekitar satu semester ini kami akrab karena aku punya senapan angin untuk berburu dan dia suka juga berburu, sehingga waktu itu kami sering main bersama.

Pagi itu, hari Minggu, aku sudah berada di pekarangan belakang rumahku mencoba senapanku, dan mulai menembak, ternyata dia pun sudah berada di situ, hingga akhirnya kami pun berdua pergi ke sawah, menembak burung. Meski banyak sekali burung, tetapi kami sedang sial, karena tak seekor pun kami dapatkan hingga siang hari. Hingga kami putuskan untuk istirahat dulu di dangau tengah sawah karena kami rasa langsung pulang terlalu panas, sementara kami membawa bekal sedikit makanan sehingga tak perlu takut kelaparan.

Sambil menikmati makanan aku pun memulai obrolan.
“Wen, sekarang umurmu berapa?”
“11 tahun, kenapa Mas?” jawabnya balik bertanya.
“Wen kamu pernah onani?”
“Nggak, Mas.” katanya sambil beringsut hendak berdiri.
“Mau kemana Wen?” sambil kupegang celananya, tapi.. “Ssrett..” celananya malah merosot hingga terlihat kelaminnya, kulihat merah padam wajahnya. Sambil membetulkan celananya.
“Mas, Fik..” pekiknya.
“Maaf, aku nggak sengaja,” kataku, “Ah gitu saja malu, kita kan cuma berdua, sama-sama laki-laki lagi, aku saja nggak malu kalau kamu mau lihat anuku,” sambungku menggoda.
“Tapi Mas.”
“Ah kamu, nih aku tunjukin punyaku.” sambil kubuka reitsleting celanaku dan kukeluarkan penisku. Wen pun duduk kembali di sampingku.

“Kamu nggak malu Mas?”
Aku pun hanya menggeleng.
“Kamu tahu kagak onani?”
“Nggak, onani apaan Mas.”
“Onani itu mengeluarkan sperma dari penis ini, rasanya enak banget.”
“Apa iya Mas, bukankah dari penis yang keluar air kencing?”
“Bukan itu saja, ada air kental putih yang bisa keluar dari sini, itu namanya sperma.” jelasku.
“Oo air mani, aku pernah dengar dari guru ngajiku.”
“Begini nih caranya,” jawabku sembari mengocok penisku pelan-pelan, lama-kelamaan semakin cepat hingga penisku yang tadi sebesar jempol kaki sekarang sudah menegang bertambah besar dan menegang agak kemerahan. Wen pun hanya menelan ludah melihatku, sementara kulirik celananya, ada benjolan di selakangannya, rupanya dia pun terangsang melihat permainanku. Aku pun terus melakukan kocokan pada penisku hingga kurasakan spermaku mau keluar, sebentar kemudian kuhentikan dan kupegang tangan Wen dan mendekatkannya ke penisku.

“Wen, coba kamu yang mengocok.”
“Nggak mau Mas”
“Ah kamu.. begini lho.” sambil kusentuhkan pada penisku dan sesaat kemudian dia berubah pikiran dan segera memegang batang kelaminku, begitu kuatnya sehingga terasa sekali jepitannya dan dikocoknya pelan-pelan, kemudian dia percepat setelah kusuruh mempercepatnya hingga aku tidak tahan lagi, mengeluarkan spermaku.

“Ah, Wen..” aku mengerang sambil memiringkan tubuhku ke arah Wen dan, “Crott.. crott.. crott..” cairan putih kental menyembur dari ujung penisku, berceceran diantara tempat duduk kami.
“Ah, enak sekali kocokanmu, enak banget.”
“Apa iya Mas.”
Aku pun mengangguk pelan.
“Gimana kamu mau coba?” seraya tanganku meraih selakangannya yang dari tadi menonjol.
“Jangan, Mas”
“Ah nggak pa-pa kok, rasanya enak banget, kamu harus coba, nggak usah malu kita hanya berdua kok,” kataku meyakinkan.
Kali ini dia tidak menghindar lagi ketika tanganku meraih selakangannya. Segara kukeluarkan penisnya dari celananya.
“Penismu besar juga, Wen” pujiku.
Untuk anak seumur dia penisnya cukup besar dan panjang apalagi dalam keadaan menegang. Langsung kubelai-belai batang kelaminnya kemudian kugenggam dan kukocok pelan.

“Wen, sekarang rasakan nikmatnya, ya.”
“Ah.. Mas,” dia hanya mendesah menikmati kocokanku. Sementara kocokanku makin lama makin kencang kemudian pelan lagi membuat dia hanya bisa menggeliat tidak karuan sambil mendongakkan kepalanya menatap langit. Aku pun kemudian menghentikan kocokanku, terlihat wajah Wen yang kaget, kocokannya kuhentikan.
“Kenapa, Mas?”
“Begini Wen, ada satu cara lagi menikmatinya, lebih enak dari yang ini namanya oral seks, yaitu dengan mulut dicoba, ya.” jelasku.
Dia pun hanya mengangguk, karena sudah merasakan bagaimana nikmatnya permainan ini. Segera kupegang batang kelaminnya dan kumasukkan ke dalam mulutku dan langsung aku menghisapnya, terlihat Wen lebih menikmatinya, terdengar berulang kali desahan nafasnya dan erangannya sambil menggelinjang.

“Ah.. Mas, enak sekali.. hisap lagi Mas.” aku pun menghisap kembali penisnya dan beberapa saat kemudian tubuhnya terasa mengejang, nafasnya pun tak karuan.
“Mas, aku mau kencing..”
“Tahan dulu Wen, sebentar lagi,” sambil kuteruskan mengulum batang kemaluannya dan sesekali aku menghisapnya. Wen semakin mengejang dan..
“Aku tak tahan lagi Mas,” sambil memiringkan tubuhnya ke arahku, aku pun segera melepaskan penisnya dari mulutku dan kupegang erat penisnya dan mengocoknya agak cepat, hingga erangan panjang dari Wen seiring sperma pertamanya muncrat dari lubang penisnya.
“Crott.. croott.. crott..” banyak sekali sperma yang keluar dari kelaminnya.
“Kamu bener Mas, enak sekali,” katanya sambil terengah-engah menahan nafasnya.
“Kubilang juga apa, emangnya aku pembohong.” jawabku.
“Wen, sebenarnya ada satu lagi cara seks yang belum kamu ketahui, cara-cara ini dilakukan jika kita nggak punya teman wanita yaitu onani seperti tadi, oral yang baru kulakukan terhadapmu dan satu lagi namanya anal seks apabila kita melakukannya dengan laki-laki juga.” jelasku.
“Apa lagi Mas” tanya Wen setengah tak percaya.
“Yaitu menggunakan anus.”
“Hii..” dia agak kaget.
“Tak apa-apa, rasanya seperti tadi bahkan keduanya bisa merasakan kenikmatan yang sama,” jelasku lagi.
“Mau mencoba?”
Ternyata diluar dugaanku, dia mengangguk tanda setuju.

“Tapi kamu harus membuat terangsang lagi, kamu kan belum ngemut anuku,” sambil mendekatkan penisku yang menegang kembali ke wajahnya. Tanpa berkata lagi dia pun langsung memegangnya dan mengulum penisku sambil sesekali dihisapnya, membuat penisku cepat menegang kembali. Tak berapa lama kurasakan penisku sudah cukup tegang dan menyuruhnya menghentikan kulumannya.

“Sekarang waktunya anal seks, kamu yang menggunakan anus ya.”
Dia pun mengangguk pelan.
“Kamu menungging membelakangiku, Wen.”
Dia pun menurut saja dan menyodorkan pantatnya ke arahku, segera kupegang anusnya dan kumasukkan penisku pelan-pelan ke anusnya. “Bleess..” tiba-tiba ia berteriak kesakitan,”Aduh, sakit Mas!”
“Sebentar lagi juga tidak.” sambl meneruskan menggerakkan penisku maju mundur di anusnya.
Dia pun terus mengerang menahan sakit, tapi itu tak berlangsung lama karena kemudian yang terdengar adalah desahan pertanda dia sudah bisa menikmatinya. Aku pun tak hanya mengocokkan penisku di anusnya, aku pun menggerayangi tubuhnya, kuremas-remas lagi penisnya yang juga mulai menegang dan mengocoknya sambil terus kumaju-mundurkan penisku di lobang pantatnya, hingga aku pun semakin mendekati keluarnya spermaku. Dia pun ternyata juga semakin menikmati karena penisnya pun menegang keras sekali, dan aku pun terus mengocoknya hingga tubuh kami merasakan bergetar dan mengejang satu sama lain. Segera kucabut batang penisku dari anusnya, “Plubb..” Wen mengerang, “Aahh.. Nikmat sekali.”

“Wen, sekarang kita kocok penis kita bersama-sama yuk.”
“Yuk..” sambil mendesah.
Kami pun kemudian duduk berhadapan dan merapatkan penis kami berdua dan mulai mengocoknya bersama-sama, pegangannya masih begitu kencang hingga beberapa saat kemudian kami pun tak kuat lagi menahan sperma yang mau keluar dan, “Croott.. crott.. croott..” banyak sekali sperma yang keluar dari kedua penis kami seiring erangan panjang kami berdua. Kami pun kemudian merebahkan tubuh telanjang kami di dangau sambil tetap memainkan kelamin kami masing-masing. Beberapa saat kemudian kami tertidur di situ karena kelelahan. Hingga kemudian sinar matahari yang sudah condong ke barat menerpa tubuh kami dan kami pun bergegas pulang. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya kami bercerita tentang enaknya permainan kami tadi.

Diperkosa Teman Baik

Saya dulu punya seorang teman baik, namanya Toni. Kami sudah berteman sejak SMP. Sepintas, hubungan kami terlihat seperti hubungan kakak-adik. Persahabatan indah di antara kami harus berakhir ketika Toni melakukan sebuah kesalahan yang tak terlupakan. Hal itu terjadi ketika kami baru saja tamat SMU. Kegembiraan kami diluapkan dengan acara kemping pribadi, hanya ada Toni dan saya. Semula, semua berjalan dengan baik dan menyenangkan; saya amat menikmati perjalanan kempingku bersamanya. Tapi tiba-tiba Toni berubah menjadi seseorang yang sama sekali tak kukenali.

Semua bermula pada malam kedua acara kemping kami. Api unggun yang kami pasang masih berkobar-kobar, mengusir hewan malam yang mungkin dapat mengancam keselamatan kami. Berhubung malam itu agak mendung dan dingin, kami memutuskan untuk berdiam diri di dalam kemah, sambil menunggu waktu untuk tidur.

Kami telah berada di dalam kantung tidur kami masing-masing. Dan untuk melewatkan malam, kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Seharusnya saya sudah curiga sejak semula, namun tak pernah terbayang sebelumnya kalau sahabat baikku itu akan tega melakukan hal terkutuk itu..

“Kamu masih belum naksir cewek?” tanya Toni tiba-tiba.
“Belum, tuh. Gak ada yang gue suka, sih,” jawabku sambil lalu.
“Jangan-jangan loe homo,” katanya smabil tertawa lepas.
“Sialan loe,” jawabku, tertawa juga.
“Bukan lagi. Saya 100% straight. Gua cuma belum siap aja. Miara pacar sama mahalnya seperti miara istri.”
“Gue juga belum siap punya pacar cewek,” jawabnya.
“Siapa yang nanya,” tawaku.

Tiba-tiba, Toni bangun dan dudduk sambil memandangiku lekat-lekat. Padangannya terasa aneh dan sangat tajam, saya sampai merasa salah tingkah.

“Loe pernah liat film porno homo?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaannya sangat aneh dan tak nyambung dengan topik pacaran yangs edang kami bahas. Tapi kujawab juga.

“Belum. Emang kenapa? Loe udah pernah liat?” tanyaku.
“Udah,” jawabnya tanpa malu.
“Gile banget,” sahutku, terduduk di kantung tidurku.
“Trus gimana? Maksud gue, loe bisa terangsang liat cowok homoan?” tanyaku terkejut.
“Bisa. Loe mesti liat filmnya,” katanya bangga.
“Cowoknya ganteng sekali, badannya juga oke, Dan pas dingentotin, erangan cowok terdengar lebih merangsang. Gue sampe ngecret lima kali pas liat tuh film.”
“Gawat loe, bisa jadi homo beneran loe,” saya merespon.
“Dan gue jadi pengen nyobain. Keliatannya enak sekali,” jawabnya tiba-tiba.
“Lobang pantat cowok lebih ketat dan lebih sip dibanding memek. Para cowok homo itu nampak amat menikmati hubungan homoseks mereka,” lanjutnya.
“Ah, loe mulai ngaco. Udah, ah, Gue ngantuk. Pengen bobok nih,” alasanku, membaringkan badanku.

Saya bingung sekali kenapa tiba-tiba Toni mengatakan hal-hal yang tak amsuk akal. Padahal sebelumnya dia tak pernah begitu. Kubaringkan badanku menghadap arah yang berlawanan; saya merasa malas memandang mukanya. Untuk beberapa saat, Toni terdiam. Kukira dia akhirnya memutuskan untuk tidur, tapi saya salah!

Saya tak tahu berapa lama waktu telah berlalu, tapi tiba-tiba saya merasa seseorang memelukku erat-erat dari belakang. Dengan panik, saya mencoba untuk melepaskan diri tapi tiba-tiba orang itu menempelkan sehelai saputangan basah di hidungku. Dia sedang mencoba untuk membiusku! Namun sulit sekali untuk tidak menghirupnya, apalagi dalam keadaan panik. Dan begitu saya menghirupnya, kontan tubuhku terasa sangat ringan dan tak berdaya. Setelah yakin bahwa saya lemas, orang itu pun membalikkan badanku agar saya menghadap wajahnya. Astaga, dia Toni! Mataku berkaca-kaca, saya ingin bertanya, ‘Kenapa kau lakukan semua ini padaku, Toni?’. Namun otot mulutku tak dapat kugerakkan, kaku semua. Kudengar Toni berkata.

“Maafin gue. Gue terpaksa melakukannya. Selama ini, gue telah telanjur jatuh cinta ama loe. Gue pengen loe menjadi pacar gue. Gue pengen memiliki loe.”

Dan dengan itu, Toni memaksakan sebuah ciuman padaku. Saya berusaha untuk melawannya, tapi apa dayaku. Perasaan mual menguasaiku, ingin rasanya saya muntah. Namun, Toni terus menciumku. Lidahnya memaksa masuk dan bermain-main di dalam mulutku. Kurasakan air liurnya menetes masuk dan berbaur denganku.

“Gue sayang ama loe, gue cinta loe,” katanya di sela-sela ciumannya. Tangannya yang kuat meraba-raba wajahku dan turun ke pinggang.

Begitu sampai di sana, tangannya menyelip masuk dan berusaha untuk membuka resleting celana jeanku. Toni ingin menelanjangiku! Rasa panik melanda diriku, saya tahu apa yang dia inginkan. Dia ingin bersetubuh denganku seperti adegan film gay porno yang sering dia tonton. Apa yang dapat kulakukan? Dengan pasrah, saya hanya dapat membiarkan Toni melepas celana jeansku dengan leluasa. Hal yang sama dilakukannya pada celana dalam putihku.

Kontolku yang masih lemas menyembul keluar dan berbaring di sisi pahaku, seakan memohon untuk tidak diusik. Tapi Toni memang seorang binatang. Kontolku langsung digenggam dan dikocok-kocok. Saya harus mengakui bahwa kocokannya terasa nikmat, tapi saya kembali mengingatkan diriku bahwa saya sedang diperkosa. Namun kontol punya pikirannya sendiri. Tanpa bisa dikendalikan, kontolku mulai berdiri. Dan Toni langsung menyedotnya! Saya tak mengira dia akan senekad itu. Hisapannya sungguh enak dan bertenaga, saya sampai kelojotan dibuatnya. Berhubung mulutku kaku, saya hanya dapat mengeluarkan bunyi napas saja.

“Hhoohh.. Hhoosshh.. Hhoohh.. Hhoohh..” Tapi sebagian diriku masih berjuang untuk melawan kenikmatan terlarang itu.

Tiba-tiba Toni melepaskan sedotannya, dan berdiri. Tanpa malu sedikit pun, Toni menelanjangi tubuhnya tepat di hadapanku. Toni memang bertubuh tegap dan berdada bidang, berkat fitness. Dan wajahnya memang tampan. Kontolnya menjulang tinggi di hadapanku, berdenyut-denyut. Nampak kepala kontolnya berkilauan, basah dengan precum. Dia terangsang sekali melihatku terbaring tak berdaya, hampir telanjang. Menuntaskan pekerjaannya, kaosku pun dilepaskan secara paksa. Kini saya telah benar-benar telanjang. Toni berkata lagi.

“Loe bikin gue terangsang banget, liat nih palkon (kepala kontol) gue, basah ama precum. Gue pengen bercinta ama loe.”

Kontolnya yang sudah basah dengan precum dipukul-pukulkan ke wajahku, seolah ingin memperkenalkanku dengan kontolnya terlebih dahulu sebelum dia memuali penetrasi. Seakan saya hanya seonggok daging, Toni siap menyodomiku. Berlutut di depan kakiku, diangkatnya kedua kakiku tinggi-tinggi. Anusku yang berkedut-kedut pun terekspos.

Toni memandangnya dengan mata penuh nafsu birahi, lidahnya menjilati bibir atasnya. Kemudian, kakiku diletakkan di atas kedua bahunya yang bidang. Astaga, dia bahkan tak mau repot-repot memakai kondom! Saya takut sekali, tapi tak ada yang dapat menolongku. Mulutku tak dapat kugerakkan, begitu pula dengan anggota tubuhku yang lain. Dan tak ada seorang pun yang berada di sekitar wilayah kemah kami. Sudah takdirku untuk diperkosa oleh sahabat baikku sendiri!

Tanpa ampun, Toni menghujamkan kontol bajanya tepat ke dalam lubang anusku yang masih perjaka.

AAARRGGHH..!!” teriakku dalam hati.

Hilang sudah keperjakaanku. Sungguh sakit sekali rasanya. Lubang anusku yang ketat seakan sobek diterjang kontol sebesar kontol Toni. Toni mengerang saat kontolnya sudah terbenam seluruhnya.

“AARRGGHH..!!” Ditatapnya mataku sambil berkata.

“Lobang loe enak sekali. Akhirnya, loe milik gue. Oohh.. Ngentot.. Aahh.. Gue lagi ngentotin loe.. Aarrghh..”

Hancur hatiku mendengarnya berkata seperti itu. Sungguh tak kusangka Toni bakal setega itu terhadapku. Saat dia menarik kontolnya mundur, saya kembali mengerang dalam hati dan hanya mampu mengeluarkan desahan napas kesakitan.

“Oohh.. Hhohh..” Tiba-tiba, Toni kembali mendorong kontolnya masuk.
“AAARGHH!!”

Tarik lagi, dorong lagi, tarik, dorong, tarik.. Toni mulai menyodomiku dengan ritme tetap. Semakin lama, gerakannya semakin cepat. Gerakan otot pinggulnya beserta kontolnya seperti mesin pemompa, yang terus memompa pantatku tanpa ampun dan tanpa rasa kasihan. Nafsu telah membutakan matanya. Air mataku mengalir dengan deras. Sebagian dikarenakan oleh rasa sakit yang amat teramat sangat, dan sisanya karena rasa sakit hati. Toni telah merenggut sebagian hidupku. Saya tak lagi utuh.

“ARGH! UGH! ARGH!” erang Toni terus menerus seirama dengan sodokan kontolnya.

Saya tak tahu sudah berapa lama dia memperkosaku, tapi dia memang tahan banting. Tiba-tiba kontolnya mendorong sesuatu di dalam tubuhku. Kontan, kontolku yang masih belepotan ludah Toni bangkit dari tidurnya dan berdiri ngaceng bak tiang bendera. Gelombang nikmat menyerang tubuhku seolah-olah saya sedang mengalami orgasme.

“Astaga, apa itu? Kenapa saya terangsang? Tidak mungkin!” pikirku. Namun kembali Toni mengenai bagian organ dalamku itu, dan gelombang kenikmatan kedua mendera diriku. Saya sedang dipaksa untuk menikmati perkosaan homo!

Wajah Toni berseri-seri melihat kontolku tegang. Langsung saja kontolku dipegang-pegang. Kembali dia mulai mencoli kontolku. Dengan tekad penuh, dia ingin membuatku ngecret sebagai tanda bahwa saya miliknya. Walaupun saya mencoba melawan, namun gelombang kenikmatannya semakin bertambah besar. Dan pelan-pelan sodokan kontol Toni memang terasa nikmat sekali. Begitu pula dengan kehangatan tangannya yang sedang membungkus kontolku.

“Astaga, saya tertular kehomoan-nya??” Namun saya tak kuasa menahannya. Benteng pertahananku runtuh. Saya membiarkan kenikmatan itu menjalari dan menguasai tubuhku.

Toni mempererat genggamannya pada kontolku, wajahnya menyeringai kesakitan. Napasnya memburu-buru, dan tiba-tiba..

“AARRGGHH..!!”

CRROTT!! CCROOTT!! CCROOTT!! Toni ngecret!! Pejuhnya ditembakkan sembarangan di dalam anusku, membanjiri bagian dalam perutku. Terasa sekali rasa panas yang membakar perutu. Andai pria bisa hamil, saya pasti sudah hamil sekarang! Namun mendadak saya pun merasa bahwa saya akan segera mencapai klimaks-ku. Pejuhku memaksa naik dan akhirnya tersembur keluar lewat lubang kontolku.

CCROOT!! CROOTT!! CCRROOTT!! Berhubung saya tak dapat bersuara, maka hanya desahan napasku yang terdengar.

“Hhohh!! Hhoohh!! Hhoohh!! Hhoohh!!” Tubuh kami terguncang-guncang, mengejang-ngejang seperti orang kesakitan. Kenikmatan orgasme menguasai kami berdua. Bahkan saya pun tunduk.

“AARRGGHH..!! AARRGGHH!! UUGGHH!!” erang Toni, terus menghentak-hentakkan pinggulnya. Dan akhirnya semuanya berakhir.

Toni mengeluarkan kontolnya dan terasa pejuhnya mengalir keluar dari lubang pantatku yang menganga lebar. Bercak darah dan kotoranku mengotori kontolnya yang mulai mengempis. Dengan sehelai tissue, Toni sibuk membersihkan kemaluannya, sementara saya hanya terbaring di situ, menatap langit-langit kemah kami dengan pandangan kosong. Dapat kurasakan pejuhnya menyebar ke dalam perutku. Tubuhku mulai menyerap benih-benihnya itu.

Keesokkan paginya, tubuhku mulai dapat kugerakkan, meskipun agak terasa sakit dan lemas. Toni masih berusaha untuk merayuku dan ingin kembali berhubungan homoseks denganku, namun kutolak dengan tegas. Entah kenapa, Toni tak lagi menggunakan obat bius yang dicurinya dari lemari obat ayahnya. Ayah Toni memang seorang dokter, jadi mudah bagi Toni untuk mencuri obat bius.

Kami bertengkar hebat. Saya memakinya karena telah tega memperkosaku sedangkan dia membela diri bahwa dia melakukannya atas dasar cinta. Hubungan kami berakhir sampai di situ. Belakangan kudengar bahwa dia pindah ke luar kota sendirian. Mungkin dia malu denganku dan merasa bersalah. Dalam hatiku, saya amat sedih kehilangannya. Saya mungkin telah memaafkannya, tapi kesalahnnya tak dapat kulupakan seumur hidupku.

Awalnya aku berkenalan dengan Ricky, tentu saja bukan nama sebenarnya, lewat chatting. Setelah sepakat untuk bertemu, kami lalu berangkat dari tempat masing-masing. Aku lalu meninggalkan warnet WH di Jl. Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Kami janjian bertemu di Mall Ratu Indah lantai 4. Dari jauh aku sudah melihat ciri-ciri orang yang mirip dengan Ricky seperti foto yang ia kirimkan lewat email. Ricky, 21 tahun, memang seorang yang keren, bertubuh maskulin dengan wajah bentuk oval putih dengan dandanan rambut seadanya namun keren dengan tinggi badan 170 cm, 60 kg.

Aku lalu menyapa si cowok keren itu dengan agak ragu-ragu, apakah dia benar-benar Ricky atau bukan, “Ricky ya?” sapaku sambil melemparkan senyumku.
“Iya, oh ya Geofanny ya?” balasnya dengan menyunggingkan senyuman.

Senyumannya kian membuat dia kelihatan manis. Kami lalu bersalaman dan ngobrol-ngobrol sebentar. Dari pembicaraan kami, ternyata aku dan Ricky satu kampus di salah satu universitas negeri di Makassar, namun kamu beda fakultas.

Singkat cerita, kami jadian pacaran setelah seminggu lebih jalan bareng. Hubungan kami kian hari kian dekat, namun sejauh itu kami belum pernah melakukan hubungan seks. Karena baik aku dan Ricky bukanlah orang yang sex oriented. Kami mengutamakan yang namanya kasih sayang dan cinta, walau cinta kami adalah cinta sesama jenis, namun kami sangat merasakan apa arti cinta itu sendiri.

Kami berdua lalu ke rumah kost Ricky di salah satu rumah kost di Jl. LB. Rumah ini terkesah cukup mewah. Setelah masuk ke kamar Ricky seukuran 4 x 6 m dengan dinding bercat cream, didalam dilengkapi dengan sebuah spring-bed, kulkas, dan lain-lain. Suasana kamar pun dilengkapi dengan sebuah AC di sudut ruangan. Aku lalu duduk di atas sebuah kursi rotan, sementara Ricky mengambil air dingin dari kulkas.
“Geo, minum dulu!”
“ok, thanks”, sambil mengambil air putih itu dari tangan Ricky aku membalas senyumannya yang manis dan membuatku selalu ingin menatapnya. Ricky lalu duduk di samping aku sambil memijat-mijat lenganku.

“Geo, apa rencanamu sekarang?” tanya Ricky.
“Apa ya.. Aku juga nggak tahu. Kita duaan aja disini. Gimana?” kataku sambil menatap kedua bola mata coklatnya.

Dia membalas tatapanku dengan senyuman.

“Mandi bareng yuk!” ajakku.

Ricky kembali tersenyum dan menganggukkan kepala, tanda setujunya. Ricky memang seoorang yang mudah menebarkan senyum ke orang lain. Itu salah satu hal yang menarik pada dirinya. Aku merasa beruntung sekali bisa kenalan dengan dia dan lebih beruntung lagi, aku bisa mendapatkan hatinya dan menjadi pacarnya.

Aku lalu berdiri dan mengajak dia berdiri dengan memegang kedua tangannya. Sekarang kami saling berhadapan, karena tinggi kami sama, hingga pandangan kami sejajar dan aku mulai merangkul tubuh Ricky yang hangat dan mengeratkan kedua rangkulanku pada pinggangnya, sementara itu kedua tangan Ricky merangkul pada leherku. Aku mulai mendekatkan bibirku dan mulai menyentuh kulit putih bersihnya dengan bibirku.

“Akh.. Muachh”

Aku melekatkan ciuman pertamaku ke bibir Ricky. Ini memang pertama kalinya kami melakukan ciuman dan sentuhan birahi. Aku mulai menciumi dan merasakan kehangatan tubuh Ricky. Dengan rangkulan yang tetap erat, ciuman pun terus saja berlangsung. Kurasakan kalau kontol Ricky pun sudah mengganjal di perutku.

Menurut pengakuan Ricky, aku yang pertama menyentuh tubuhnya. Selama ini dia hanya sebatas teman dengan yang lain dan tidak pernah sampai ke tingkat pacaran. Sekali lagi aku merasa bangga dan beruntung, ternyata Ricky masih perjaka.

Sementara itu kami terus melakukan ciuman hangat dan penuh birahi yang membara. Aku dan Ricky sudah mulai panas dibakar api birahi masing-masing. Aku lalu melakukan adu lidah dengan Ricky. Aku memasukkan lidahku ke mulut Ricky dan disambut oleh gerakan liar lidahnya menggapai dan mengejar lidahku. Namun sesekali pula kami bermain di bibir. Aku terus saja mengulum dan mengisap bibir Ricky yang memerah.

Ricky pun mulai mengenal dan mulai belajar dari ciuman ini. Aku sengaja diam sejenak dan menunggu apa yang Ricky akan lakukan, ternyata dia agresif juga. Dia lalu menjulurkan lidahnya ke rongga mulutku dan menjelajahi seluruh ruang mulutku yang dapat digapai ujung lidahnya. Aku sendiri merasa kesulitan dalam bernafas, lidahnya terus saja menggeliat dan meliuk-liuk liar di dalam mulutku dan sesekali mengisap dan mengulum bibirku. Sejenak kemudian, Ia melepaskan ciumannya. Bibir kami basah oleh liur birahi kami.

Aku lalu mengusapkan tanganku ke bibirnya, “Enak ya sayang?” tanyaku.
“Enak banget Geo, lanjutin yuk?” ajaknya.
“Kita kan belum mandi, Ricky”
“Oh, iya. Mandi bareng yuk?”
“Ok. Setuju” sahutku. Kami lalu saling melepaskan pelukan.

Aku lalu mulai membuka kancing baju Ricky satu per satu. Setelah bajunya lepas, aku lalu mencium dan menjilati dadanya yang dipenuhi bulu-bulu halus. Ricky hanya mendesah kegelian. Aku lalu melanjutkannya ke bagian celananya. Kubuka resletingnya dan merosotkan celananya hingga tertinggal celana dalamnya saja yang berwarna merah kecoklatan. Di balik celana dalamnya itu, terbayang kontol Ricky yang sudah setengah mengeras. Aku secara refleks mendekati dan menggigit kontol Ricky yang masih berada di balik celana dalamnya. Ricky mengerang dan menggeliatkan tubuhnya sambil menyahut, “Akh.. Oughh”. Tapi aku hanya menggigitnya dua kali. Aku lalu berdiri dan menyuruh Ricky melakukan hal yang sama.

Ricky lalu membuka bajuku dan menjilati puting susuku dan meremas-remas dadaku, aku mengerang keenakan, terus saja Ricky meremas dadaku lalu turun menjilati pusarku dan membuka celanaku. Hal yang sama pun dilakukannya kepadaku. Dia lalu menggigit dan sesekali merangsang dan meraba-raba kontolku yang masih terbungkus celana dalamku. Kedua tangan Ricky meraba-raba selangkanganku, aku terangsang dan menggeliat kegelian juga. Ricky lalu merosotkan celana dalamku. Akhirnya aku telanjang tanpa sehelai benang pun melekat pada tubuhku. Kontan saja Ricky yang sudah dibakar berahi langsung menyerang kontolku yang masih berdiri setengah keras, Ricky langsung ingin menelan batang kontolku. Dia memasukkan kontolku ke mulutnya dan mengisapnya terus sesekali menjilatinya.

“Oughh, akh.. Sudah Ricky. Kita belum bersih-bersih nih, nanti dilanjutin ya” sahutku.

Sesaat kemudian dia melepaskan kontolku dan menciuminya dengan bibirnya. Karena tak adil rasanya kalau aku sudah telanjang bulat lalu Ricky masih memakai celana dalamnya. Saat Ricky berdiri mengambil handuk, aku lalu merangkulnya dari belakang hingga tak bisa bergerak, lalu memerosotkan celana dalamnya dengan kedua tanganku ke bawah. Ricky hanya tersenyum memandangiku.

“Woow.. Ricky. Punya kamu gede juga” bisikku ke telinganya.

Kontan saja aku langsung memegang kontolnya dan mengulumnya seperti mengulum eskrim. Ricky mendesah sambil mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar. Aku terus saja mengerjai kontol Ricky yang sudah mulai tegang. Sesudah keras memerah, aku menghentikan aksiku, berdiri lalu dengan sekuat tenaga aku mengangkat tubuh Ricky dan membawanya ke kamar mandi ruangan itu.

Di dalam kamar mandi, kami pun tergoda untuk melakukan aktifitas seks sambil membersihkan badan. Waktu ricky sedang menggosok-gosok badannya dengan busa sabun, aku lalu memeluknya dan kembali menghujamkan ciuman hangat ke badannya. Sambil ciuman mulut, tubuh Ricky terdorong ke dinding kamar mandi hingga bersandar disana dn tubuhku pun menindih dan menghimpit tubuh licin Ricky antara dinding dan tubuhku. Aku menindihnya sambil terus melakukan rangsangan ke Ricky. Kontol Ricky sudah tegang dan berdiri keras, sama dengan kontol aku. Aku lalu turun menjilati badan Ricky yang masih berlumuran busa sabun.

“Ough.. Ough.. Terusin Geo. Enak!” kata Ricky dengan penuh desahan yang sangat membangkitkan gairahku.

Aku dengan liar saja terus saja menjilati badannya hingga mencapai daerah sensitifnya. Aku lalu mengulum dan menjilati kontolnya sesaat lalu mengocoknya dengan tanganku.

“Ricky, kita lanjutin di tempat tidur aja nanti ya?” ajakku.

Kami lalu membersihkan badan hingga selesai. Aku dengan penuh nafsu kembali memanjakan Ricky dengan mengangkat dan membawanya ke kamar tidur seusai mengeringkan badan.

Di atas tempat tidur aku merebahkan tubuh Ricky, dia hanya tertawa kecil sambil menyahut, “Berat ya Geo?”
“Akh.. Lumayan, tapi aku lebih merasakan kenikmatannya daripada beratnya” jawabku.
“Oh yeah? Hahaha” Ricky kembali tertawa kecil.
“Kita mulai aja ya sayang,” bisikku, “Aku sudah tidak sabar nih” lanjutku.

Ricky hanya mengangguk dan sekali lagi tersenyum menatapku. Tatapan dan senyumannya kian membuatku gemas dan ingin segera menjamah tubuhnya.

Aku lalu mulai menindih tubuhnya dan mulai menikmati wajahnya dari atas. Dengan kedua tanganku di samping telinganya, aku menatap dan menikmati wajah ganteng dan manis Ricky. Kemudian setelah puas memperhatikan wajah Ricky, kemudian aku mulai menikmatinya dan merasakan langsung. Aku menciumi semua bagian mukanya dan kembali melakukan ciuman mulut, adu lidah dan saling meraba-raba tubuh seadanya yang bisa digapai tangan.

Kurasakan kedua tangannya meremas-remas pantatku dan aku terus saja menikmati ciuman mulut dengan dia. Dia pun menikmatinya dengan memberikan reaksi atas ciumanku dengan menggerakkan lidahnya kesana kemari di dalam mulutku, sesekali mengulum dan mengisap bibirku, menangkap ujung lidahku dan mengisapnya. Aku sangat nikmat sekali dengan ciuman ini. Tapi ini baru sebatas ciuman dan aku sudah merasa puas olehnya. Kami lalu melakukan posisi 69 alias oral seks. Kami melakukannya secara menyamping.

“Akh.. Ouhghh..” kenikmatan yang diberikan Ricky sangat memuaskan aku. Aku terus saja mengisap, menggigit-gigit kecil batang kontolnya dan sesekali mengulumnya seperti eskrim. Sesekali juga aku menjilati sela selangkangan pahanya yang putih bersih.

Sekian lama sesudah puas dengan posisi ini, kami lalu kembali berdiri berhadapan berlutut di atas spring-bed empuknya saling memeluk tubuh masing-masing, merasakan kehangatan dan kasih sayang serta cinta dari dalam hati.

Ricky lalu membaringkan badannya, dan aku masih dalam posisi setengah berdiri, aku hanya menunggu apa yang akan dilakukan Ricky selanjutnya. Dia kemudian meletakkan kedua tungkai bawah kakinya di atas kedua pundakku sambil memberikan kode bahwa aku akan menganalnya.

“Ric, kamu yakin dengan ini?” tanyaku. Setidaknya Ricky akan merasakan sakit dan aku tidak suka jika ia merasakan sakit.
“Ric, ini sakit Ric!” lanjutku meyakinkan.
“Nggak apa-apa kok Geo. Aku mau banget neh” sahutnya.

Karena ini kemauan dia sendiri, aku lalu mengangkap naik pantatnya lalu meludahi dan menggosokkan air liurku yang kental ke kontolku, yakin akan melakukannya, kemudian aku mendekatkan ujung penisku ke lubang pantatnya. Aku terlebih dahulu memasukkan jari tengah tangan kiriku ke lubang pantatnya sebagai awal pengenalan dan penyesuaian. Ricky merasa keenakan dan mendesah “Ouhgg.. Akh.. Uukhhss..”

Kemudian aku mulai memasukkan kedua jari tengah tangan kanan dan kiriku, lalu menarik kedua sisi lubang pantatnya ke arah yang berlawanan hingga lubang pantat Ricky agak melebar. Aku terangsang melihat lubang pantatnya yang agak melebar, “Sakit?” tanyaku.
“Iya, lanjutin aja Geo, jangan peduli sakitnya ya, nanti juga enak kok,” jawabnya.
“Lho, kok kamu tahu? Kamu sudah pernah ya?” tanyaku lagi.
“Nggak pernah, kata orang sih begitu” jawabnyya mendesah.

Aku lalu dengan perlahan-lahan memasukkan ujung penisku ke dalam lubang yang sudah menganga lebar di depan kontolku. Kontolku sudah tidak siap memangsa dan menembus apa yang ada didepannya. Kini kepala kontolku menyentuh bibir pantatnya dan aku mulai mendorongnya masuk dan akhirnya, “Akh, ough, akh.. Ukhh.. Terusin pelan-pelan Mas” sahutnya.

Aku terus saja melambatkan masuknya penisku menembus keperjakaannya dan merasakan setiap sensasi yang daapt dirasakan dan dinikmati. Sambil memasukkan “senjataku” menembus lubang itu, aku mendongak ke langit-langit kamar namun konsentrasiku terus tertuju pada apa yang dapat kurasakan saat itu. Dan akhirnya seluruh batang penisku masuk ke lubang anus Ricky. Aku menghentikan aktifitas saat itu juga dan kembali memandangi raut wajah Ricky yang penuh pesona. Kulihat dia agak merasa kesakitan dan ia berusaha untuk menutupi itu.

“Ric, sakit kan Ric?”
“Iya, tapi nggak apa-apa kok Geo. Terusin aja ya, justru disitu sensasinya”
Aku hanya menaikkan alis mendengar tuturnya, “Benar juga sih” kataku dalam hati.

Aku mulai dengan perlahan-lahan mengayunkan pantatku atau mengocok lubang pantatnya dengan kontolku “Akh.. Akh.. Akh.. Akh” desahku membuat Ricky pun kian horny. Sambil mengentot Rick, aku mengocok penisnya yang tegang berdiri dengan tangan kananku membuat Ricky kian merasakan sensasi yang amat membuatnya merasa dalam surga dunia seks. Sementara tangan kiriku tak ketinggalan, tangan kiriku meraba-raba, mengelus-elus paha dan perut serta dada Ricky. Aku ingin membuat Ricky merasakan semua yang bisa ia rasakan dari aku.

Aku lalu berdiri lurus ke atas dan dengan kedua tanganku, aku menahan dan mengangkap bagian pantatnya ke atas untuk menjaga agar kontolku tetap berada dalam “rumah amannya” Aku ingin mengentot Ricky sambil berdiri dan dia dalam posisi terbalik. Akhirnya bisa juga aku berdiri meski dengan tubuh agak membungkuk sedikit, aku kembali mengentot Ricky secara perlahan.

Tak lama kemudian aku turunkan badan dan kembali ke posisi semula. Aku kembali mengentotnya dengan kuat, karena Ricky sudah merasa keenakan dan tidak merasa kesakitan lagi.

Akhirnya, “Oughh, akh.. Croott, croot, croot” Aku menghentakkan senjataku dan mengeluarkan peluru panasnya ke dalam tubuh Ricky.
“Akh.. Akh..” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, aku merasa begitu jauh melayang dan merasakan sensasi seksual yang teramat sekali.

Aku sendiri saat itu lupa perasaan apa yang dialami si Ricky saat aku sudah mulai keluar sperma dan menghujamkan cairan kental ke dalam tubuhnya. Berahiku mulai reda namun Ricky belum mencapai klimaks. Aku mengeluarkan penisku dan berbaring lemas di tempat tidur. Ricky lalu berdiri dan membuka selangkanganku lalu dengan nafsu yang masih membara, dia lalu menusukkan penisnya yang masih berdiri keras dan kuat itu ke dalam anusku.

“Akh.. Oughh.. Oughh” rintihku kesakitan saat Ricky kontan saja tanpa basa-basi langsung menembus lubang pantatku. Aku tak menyangka kalau si Ricky begitu agresif soal ini.

Ricky mengentot aku dengan semangat birahinya yang masih tinggi, entot-annya luar biasa banet. Isi perutku terasa goyang semua badanku pun ikut goyang di atas spring-bed itu. Dan akhirnya, croott, croot, croott.. si Ricky menghujankan cairan hangat yang banyak ke dalam lubang pantatku.

“Oughh.. Akh.. Akh.. Ushh,” desah Ricky dengan kepala mendongak ke langit-langit kamar.

Akhirnya kami selesai mencapai puncaknya, kami sangat puas sekarang. Kami lalu terasa mengantuk dan capek, kami lalu berbaring telanjang dan tertidur hingga pagi.

Full Cream Bath

Sore itu, sepulang dari kampus, Adrian betul-betul kelelahan. Setiba di tempat kosnya, dia langsung ke kamarnya mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi! Sudah sejak di kampus, dia merasa kepalanya gatal, dan baru dia sadar bahwa sudah saatnya dia keramas. Tapi ketika tiba di kamar mandi, setelah ia membuka seluruh pakaiannya, dia menemukan bahwa shampoonya habis! “Ah, sial!!” umpatnya di dalam hati.

Akhirnya dia hanya siraman di kamar mandi itu tanpa keramas. Setelah itu dengan hanya memakai handuk ia keluar dari kamar mandi.

Sekeluar dari kamar mandi, matanya tertuju ke arah meja telepon dan di sana ia menemukan sebuah selebaran tentang salon dekat tempat kosnya yang baru saja dibuka. Di selebaran itu dituliskan bahwa ada diskon 20% selama seminggu dan salon itu dibuka dari jam 9 pagi sampai 7 malam. Adrian langsung melihat ke jam dinding di tempat kosnya itu. “Wah, sudah jam 7 kurang limabelas!! Apa salon itu masih mau terima saya ya??” pikirnya.

Akhirnya tanpa pikir panjang, dia langsung mengena- kan celana jeansnya (tanpa underwear) dan memakai kemeja dari bahan kaos warna hijau yang ketat melekat di tubuhnya, sehingga menonjolkan garis lekukan otot-otot di bagian dadanya. Tidak lebih dari 5 menit, Adrian sudah tiba di salon itu.

Salon itu tampak rapih dan penataan ruangnya begitu baik. Hanya saja pintu rolling doornya sudah ditutup separuh. Adrian masuk ke dalamnya dan salon itu tampak sepi, hanya ada 1 orang pria di dalamnya. Rupanya dia adalah Joni, pemilik salon itu. Adrian bertanya,”Saya mau creambath, apa masih bisa??” Jawab orang itu,”Oh…masih bisa!!” sambil ia meman- dang tubuh Adrian yang tampak begitu menarik!

Lalu ia mulai mencuci rambut Adrian. Adrian bertanya kepada Joni,” Lho, apa kerja sendirian di salon ini?” Joni menjawab,” Enggak…hanya saja karyawannya sudah pulang semua! Sebenarnya sih udah mau tutup, tapi karena belum tepat jam 7, jadi kita masih bisa melayani, apalagi malam ini saya bermalam di sini!” Ketika sedang mencuci rambut, tangan Joni yang kuat memijat-mijat kepala Adrian, sehingga Adrian keasyikan luar biasa. Lalu ia beri komentar, “Wah, pijatannya enak,ya!!” Mendengar pujian dari Adrian, Joni makin menguatkan pijatannya.

Setelah selesai dikeramas, Adrian didudukkan di sebuah bangku depan cermin dan rambutnya yang basah dikeringkan dengan handuk oleh Joni. Sebelum mulai mengambil cream untuk rambut Adrian, Joni menuju ke pintu dan membalikkan papan kecil di pintu sehingga tampak tulisan ‘closed’ dari luar. Lalu Joni mengunci pintu bagian dalam salon itu. Adrian duduk sambil membaca majalah-majalah yang ada di depan tempat duduknya. Adrian bertanya,”Lho, sudah ditutup,ya? Saya ‘pasien’ terakhir,dong!!? Ha..ha…ha” Joni menjawab sambil tersenyum,”Iya, soalnya sudah jam tujuh!”

Joni mengambil cream NR dan mengoleskannya pada rambut Adrian dan mulailah ia beraksi memijat-mijat kepala Adrian. Sambil memijat, Joni bertanya kepada Adrian,” Tinggal di mana?” “Oh, saya kos! Tempat kos saya kira-kira lima rumah dari salon ini!” Lalu Joni menjawab,” Oh, kalau gitu dekat dong!”

Joni memijat bagian atas kepala Adrian, lalu menuju ke bagian belakang lehernya. Adrian betul-betul menikmati pijatan Joni. Lalu ia berkata,”Wah, kalau pijat kepala aja begini enak, gimana kalau pijat badan!! Pasti lebih enak,ya!?” Joni hanya tersenyum mendengar pujian Adrian. Ketika tiba pada bagian belakang leher Adrian, Joni berkata,”Apa punggungnya mau dipijat?” Adrian langsung bilang,”Wah, kalau bisa sih seluruh tubuh saya,deh! Soalnya lagi capek,nih!!”

Joni langsung permisi untuk membuka satu kancing atas baju kemeja Adrian. Tanpa diduga, Adrian langsung membuka tiga kancing sekaligus, sehingga Joni agak kaget. Tapi ia tidak memperlihatkan keterkejutannya di hadapan Adrian, dan terus melakukan tugasnya. Lalu Joni mulai memijat pundak Adrian dan menuju ke punggung dan pinggangnya sambil Adrian tetap dalam posisi duduk.

Lalu Adrian menawarkan kepada Joni,”Wah, bagaimana kalau saya buka saja kemeja saya…daripada kena cream, nanti kotor! Maklumlah kalau anak kos musti cuci baju sendiri!” Joni tidak keberatan, dan ia mengambil handuk yang ada di pundak Adrian, lalu Adrian melepaskan kemejanya. Jantung Joni mulai berdegup kencang dan merasakan ada sesuatu yang menonjol di bagian depan celananya.

Joni meneruskan memijat punggung Adrian sampai bagian pinggangnya, sementara bagian kepala Adrian sudah ditutup dengan handuk hangat. Lalu tiba pada bagian depan dari pundak, Joni mengoleskan sedikit cream di bagian itu dan memijatnya. Lalu tangannya menuju pada bagian dada,…dan ketika tiba pada bagian puting susu Adrian, Joni begitu terkejut, karena bagian itu menegang dan semakin terusap oleh tangan Joni, semakin Adrian menikmatinya dan tanpa sadar, alat vital Adrian makin menegang, dan Joni hanya mengamati saja sambil tersenyum.

Setelah selesai di bagian dada, Joni kembali lagi memijat bagian bawah dari pinggang Adrian, persis dekat batas pinggang celana jins-nya. Ketika tangannya menyentuh bagian itu, Adrian menanyakan,”Wah, sebaiknya saya tengkurap saja,ya!? Apa ada kasur, sehingga saya bisa berbaring?” Joni menawarkan,”Bagaimana kalau pijatnya dilakukan di ruang belakang, tempat biasa untuk luluran?” Adrian bilang,”Wah, kenapa enggak bilang dari tadi?”

Mereka menuju ke ruang itu, dan ‘cream-bath’ itu dilanjutkan, posisinya masih Adrian dalam keadaan tengkurap dan masih di bagian pinggang bawah, kali ini Joni yang mengatakan,”Maaf, mas…bisakah saya buka celananya sedikit? Supaya enggak kotor kena cream!!”

Adrian mengangguk sambil bilang,”Silakan…biasanya saya kalau pijat juga enggak pake apa-apa! Kan sama-sama laki,ya!!?” Lalu Adrian membuka ritsluiting celana jins-nya sambil tetap tengkurap dan Joni menurunkan celana itu. Ketika mulai menurunkannya, ia terhenyak sejenak, karena mengetahui kalau Adrian tidak memakai CD alias celana dalam!! Joni bertanya, “Lho, kamu enggak pakai underwear,ya?!” Adrian bilang,” Biasa kog! Enggak apa! Oh ya…sekalian deh buka aja celana saya.,lebih enak enggak pakai celana sekalian!!” Joni menurut saja dan membiarkan ‘pasien’nya itu tertelungkup dalam keadaan tanpa busana dan alat vitalnya makin menegang dan mulai sedikit basah!

Setelah selesai di bagian belakang tubuh, Joni mempersilakan Adrian untuk membalikkan tubuhnya. Tanpa menunggu lama, Adrian membalikkan tubuhnya dengan tidak malu sedikitpun, dan ‘barang’nya sudah menegang sekali. Joni meneruskan memijat di bagian dada dan perut. Ketika Joni memijat bagian itu, Adrian merasakan kenikmatan luar biasa dan tangan Adrian meremas alat vital Joni yang masih ditutupi celana panjangnya. Lalu Adrian membuka ritsluiting celana Joni dan tak lama kemudian, mereka berdua sudah ada dalam keadaan bugil.

Joni tetap memijat perut bagian bawah Adrian dan Adrian meremas-remas dan menggocok alat vital Joni. Lalu Joni juga memijat bagian alat vital Adrian dan Adrian betul-betul merasakan kenikmatan luar biasa, dan ia langsung mengisap alat vital Joni, sambil tangannya mengusap-usap puting susu Joni. Keduanya betul-betul saling menikmati tubuh masing-masing dan cream yang biasa digunakan untuk creambath itu mereka pakai sebagai alat yang makin membawa mereka sampai ppada puncak kenikmatan

Kemudian mereka saling tindih menindih dengan posisi berlawanan, Adrian menghadap dan mengisap alat vital Joni, begitu pula sebaliknya. Akhirnya setelah terus masing-masing menggoyangkan tubuhnya sambil bersalutkan cream, maka………”Ahhh…ahhhh…ahhhh” teriak keduanya dan keluarlah cairan putih hangat dari alat vital mereka masing-masing pada waktu yang hampir bersamaan dan cairan itu bercampur dengan cream itu.

Setelah itu mereka mandi bersama sambil berpelukan dan berciuman dengan mesra sambil membersihkan tubuh mereka dari dua macam ‘cream’ yang menyalut tubuh mereka.

Setelah berpakaian, Adrian bertanya,”Berapa tarif creambath-nya, Jon?” Joni tersenyum sambil berkata, “GRATIS!….krim kamu sudah mengganti harga cream saya!!” Sebelum berpisah mereka berangkulan dan sejak itu, Adrian sering cream bath di salon baru itu khususnya ketika menjelang jam 7 malam!!!

Bernard

Masa SMU memang masa yang paling menyenangkan. Di masa itulah saya bertemu dengan Bernard, pria pertama yang kutaksir. Kami satu SMU di sebuah sekolah swasta Jakarta Pusat. Meskipun mahal, orangtuaku yang berpenghidupan pas-pasan memaksakan diri untuk membiayai sekolahku. Saya bersekolah dengan giat meski selalu dapat angka merah untuk matematika sialan. Sewaktu naik ke kelas 2 (tahun ajaran 1997/1998), saya bertemu Bernard. Pada pandangan pertama, saya langsung jatuh cinta. Saya ingin memiliki dirinya. Di dalam kelas, saya selalu mencari alasan untuk menengok ke belakang agar dapat memandang wajah tampannya meski hanya sedetik saja.

Bagiku, Bernard adalah pria terganteng yang pernah kulihat, meskipun banyak yang beranggapan sifatnya agak ‘reseh’ dan terkadang centil. Namun kecentilannya itu tidak parah (tak seperti bencong sejati) dan hanya keluar pas dia ingin bercanda saja. Tubuhnya proposional, tak ada lemak. Saya sering mengintipnya mengganti pakaian tiap kali pelajaran olahraga selesai.

Ah.. Dadanya itu sangat menggoda selera. Memang dadanya tidak bidang tapi lumayan seksi. Kedua putingnya selalu dalam keadaan hampir tegang. Ingin rasanya saya memilin-milin keduanya agar mereka tegang melenting. Saya paling suka melihatnya habis motong rambut, biasanya dengan model cepak pada bagian belakang. Ganteng sekali! Apalagi pas dia tersenyum. Senyumannya sejujurnya tidak smepurna, sebab gigi depannya pecah sedikit di bagian bawah. Tapi justru gigi itulah yang semakin membuatku jatuh cinta padanya. Hingga pada suatu hari..

“Belum dijemput bokap?” tanyanya ramah saat melihatku sedang berdiri sendirian di depan pintu sekolah. Saya menggeleng.
“Belum, tuh, Kenapa mau antarin gue pulang?”
“Kamu mau pulang sama gue?” tanyanya, tertawa kecil. Dia menyandarkan tangannya pada bahuku. Jantungku serasa copot! Bernard mau mengantarku pulang. Astaga, kesempatan emas, nih.
“Mau sekali,” jawabku spontan.
“Daripada nungguin bokap gue yang gak tau kapan baru datang. Bendingan ikut ama loe.”

Singkat cerita, saya pun mengikutinya berjalan ke dalam mobilnya. Tentu saja sebelumnya saya sempat memakai telepon umum untuk mengabarkan pada keluargaku bahwa saya akan pulang dengan teman. Di dalam mobilnya, Bernard terus saja tersenyum padaku. Lalu tiba-tiba, tangannya disapukan ke atas pahaku. Saya agak merinding dengan nikmat dibuatnya.

“Kamu suka dipegang seperti ini?” tanyanya mendadak. Mukaku langsung memerah, salah tingkah.
“Tak perlu takut. Gue sadar benar, kok, kalo loe sering liatin gue di kelas.”

Saya tak tahu harus berkata apa. Malu sekali, kutundukkan kepalaku dalam-dalam. Tapi Bernard menengadahkan kepalaku dengan jarinya dan tersenyum manis padaku.

“Gue sebenarnya juga suka ama loe.” Kutatap wajahnya dengan mata hampir melotot.
“Hah? Apa loe bilang?” tanyaku, tak percaya. Saya ingin memastikan bahwa saya tak salah dengar.
“Gue naksir loe, Endy. Gue pengen kita pacaran. Loe mau kan jadi pacar gue?”

Ucapannya sungguh di luar dugaan. Tak ada yang lebih bahagia selain mendengar ucapan ‘I love you’ dari seorang pria yang kita taksir. Jantungku berdegup kencang sekali, hampir lepas dari tempatnya.

“Gimana? Mau jadi pacar gue?” tanyanya lagi, penasaran. Saya hanya dapat mengangguk-ngangguk, tersenyum bahagia. Tanpa malu, saya memeluk Bernard dan menangis di bahunya. Bukan tangisan sedih, melainkan tangisan kebahagiaan.
“Sekarang kita ke tempat gue, yuk,” katanya. Saya langsung menatapnya dengan pandangan bingung. Bagaimana dengan keluarganya? Seakan bisa membaca pikiranku, dia berkata.
“Tenang saja. Ortu gue pergi ke luar negeri dan adik gue keluar ama cowoknya. Kita bebas di kamar gue.” Tiba-tiba dia terdiam, dan hanya memandangi wajahku.

Saya sampai salah tingkah dipandangi seperti itu. Lalu wajah tampannya mendekat, mendekat, dan semakin mendekat. Kemudian, bibir kami pun saling bertautan, terkunci dalam lautan nafsu. Kami saling berciuman ala french kiss, tanpa mempedulikan keadaan sekitar.

“Aahh..” desahannya saat melepas ciumannya.
“Gue cinta banget ama loe, Endy.”

Setibanya kami di rumahnya, Bernard segera mengajakku naik ke kamarnya. Rumahnya tak terlalu mewah, tapi akan sungguh menyenangkan jika dapat tinggal di tempat itu. Begitu pintu kamarnya dibuka, saya terkejut melihat poster-poster pria bertelanjang dada yang memenuhi dinding kamarnya. Tubuh mereka semuanya berotot.

“Loe gak takut ortu loe tau kalo loe ini doyan cowok?” tanyaku.
“Mereka gak curiga sebab itu semua ‘kan poster buat memotifasiku fitness. Paling enggak, itu yang mereka pikir,” jawabnya sambil menutup pintu.
“Ayo sayang. Let’s make love,” katanya.

Berjalan pelan-pelan ke arahku, Bernard mencopot semua kancing seragamnya, lalu membiarkannya jatuh ke atas lantai. Saya hampir lemas melihat dadanya yang mulus, ingin sekali kujilatin dadanya. Berikutnya, Bernard melepas celana panjangnya, beserta celana dalam putihnya. Dan Bernard Jr langsung menampakkan dirinya. Ukurannya pas dan normal sekali untuk pria Asia.

Bernard mengerdipkan matanya padaku, memohon agar saya pun melepas seragamku. Tentu saja kuturuti! Saat tanganku sibuk melepas kancing bajuku, jantungku berdegup semakin kencang. Saya sadar bahwa saya akan segera kehilangan keperjakaanku. Tapi tentu saja tak apa-apa sebab saya rela memberikan apa saja untuk Bernard-ku yang tersayang. Begitu semua pakaianku lepas, kontolku yang berukuran hampir 5inci (hampir 15cm) terhunus dan berdenyut-denyut.

Bernard langsung menerkamku. Tubuh kami terjatuh tepat ke atas ranjangnya yang besar dan empuk. Di sanlah, Bernard sibuk menciumiku. Aahh.. Nikmatnya dicium olehnya. Tanganku sibuk meraba-raba punggungnya yang hangat. Oohh.. Kehangatan yang amat kurindukan. Bernardku yang tersayang. Kontol kami yang tegang saling bergesekkan, saling menurunkan kulit khitan, sehingga kepala kontol kami yang basah dan kemerahan itu pun menyembul keluar. Lama-kelamaan ciuman Bernard menjadi semakin liar dan bersemangat. Erangan-erangan lemah mulai terdengar.

“Aahh.. Uuhh.. Hhoohh.. Uugghh..”
“Gue sayang ama loe, Endy.. Oohh.. Gue cinta loe.. I love you.. Uuhh.. Te amo.. Aahh.. Wo ai ni.. Hhoohh..” Seolah inign membutku terpesona, dia mengucapkan ‘I love you’ dalam berbagai bahasa.

Terdengar agak konyol dan kampungan, tapi bagi sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta dan nafsu, kata-kata konyol itulah yang semakin mengobarkan nafsu mereka. Saya terlena dalam cumbuannya. Dengan ahli sekali, Bernard menciumi seluruh tubuhku, mulai dari bibirku, turun ke leher, dada, perut, lalu berakhir di kontolku yang ngaceng berat. Lelehan precum yang keluar dijilatinya dengan penuh nafsu.

“Mm.. Enak sekali.. Gue suka..” SLURP! SLURP! Kemudian, dia kembali menciumi bibirku sambil merangkul tubuh telanjangku erat-erat. Kami berguling-guling, saling mencium dan saling meraba. Lama-kelamaan kami bosan dan ingin yang lain.

Tanpa disuruh, saya menunggingkan pantatku dan memposisikan badanku seperti anjing. Dengan napas memburu-buru, Bernard pun memposisikan tubuhnya tepat di lubang anusku. Tak pernah terpikirkan untuk memakai kondom. Walaupun terpikirkan, kami pun tak memiliki kondom. Pertama-tama, Bernard menggoda anusku dengan mengusap-ngusapkan kepala kontolnya pada anusku yang berdenyut-denyut. Lama rasanya menunggunya menusukku dengan kontolnya.

“Bernard, ayo donk, sayang. Tusuk gue dengan kontol loe. Berikan kontol loe. Gue mau kontol loe. Ayolah, sayang. Fuck me, come on.”
“OK, tahan yach, say. Bakal sakit dikit.”

Dengan itu, Bernard pelan-pelan menyelipkan kepala kontolnya masuk ke dalam anusku. Pada mulanya susah sekali. Lubangku begitu ketat dan kepala kontolnya begitu besar. Dibantu cairan precum, kepala kontol itu pun berhasil membuka anusku sedikit. Lalu dengan tambahan dorongan tenaga, kontolnya pun melesat masuk dengan bunyi PLOP.

“AARGGHH!!” erangku, kesakitan, tapi nikmat. Untuk sesaat, kami tidak melakukan apa-apa. Masing-masing mencoba untuk menyesuaikan diri.
“Loe gak ‘Pa-Pa, ‘kan?” tanyanya, mengusap-ngusap pungungku.
“Gak ‘Pa-Pa, kok,” jawabku, meringis kesakitan. Lubang anusku serasa sobek ditarik paksa seperti itu.
“Ayo, fuck me, baby. Sodomi pantat gue. Gue suka kontol loe. Ayo, Bernard,” bujukku.

Tanpa disuruh lagi, Bernard mulai menarik mundur kontolnya. Saya dapat merasakan dengan jelas gesekkan kontolnya dengan dinding ususku. Bernard menarik kontolnya sampai kepala kontolnya hampir tercabut keluar. Lalu dia kembali menusukkannya dalam-dalam.

“AARRGHH!!” Kami berdua mengerang, nikmat bercampur sakit.

Saya mengerang karena lubang anusku terasa sakit sementara Bernard mengerang karena kepala kontolnya yang sensitif terasa sakit ketika bergesekkan dengan dinding ususku. Tapi rasa sakit itu tak menghalangi kami untuk memadu kasih. Kami melakukannya atas dasar cinta, saling memberi dan menerima kepuasan. Butuh beerapa saat sampai rasa sakit itu memudar dan digantikan oleh rasa nikmat. Rasanya enak sekali disodok-sodok dengan kontol. Tubuhku agak terguncang-guncang setiap kali dia mendorong kontolnya dalam-dalam.

“AARRGGH!!”

Jika hal ini bisa berlangsung untuk selamanya, saya sungguh menginginkannya. Sodokan Bernard sendiri semakin bertenaga sampai-sampai saya merasa seolah-olah kontolnya bakal keluar lewat mulutku!

“Oohh yyeess.. Aarrgghh..” erang Bernard.
“Hhoohh.. Fuck! oohh.. Fuck! uuggh.. Ngentot! aarrgghh..” Saya tak keberatan jika dia ingin mengucapkan kata-kata kotor dalam acara seks kami. Malah saya suka.
“Oohh.. Fuck you! oohh.. Gue ngentotin pantat loe.. Oohh.. Ngentot! uuggh..”
“Aahh yeah.. Ngentotin gue, Bernard.. Ngecret di dalam badan gue.. Uugghh.. Hamilin gue, sayang..” balasku, terengah-engah. Keringat mulai bercucuran membasahi wajah dan punggungku. Nampaknya hal yang sama terjadi pada Bernard sebab saya merasakan beberapa tetes keringat jatuh ke atas tubuhku.
“Aahh..” erangku, lebih terangsang.

Ingin segera ngecret, saya meraba-raba kontolku. Kasihan dia, dari tadi tegang terus tapi tak ada yang urus. Tapi Bernard menyingkirkan tanganku.

“Biar gue aja, say.. Uuhh.. Biar gue coliin kontol loe.. Aarrgghh.. Oohh..”

Dengan cekatan, Bernard membungkus kontolku dnegna telapak tangannya lalu dia mulai memerasnya. Gerakannya stabil, naik-turun, naik-turun. Aahh.. Tangannya terasa nikmat sekali. Sedikit kasar, tapi saya suka. Kami berdua terus-menerus saling memuaskan. Saya berusaha menjepit kontolnya dnegan otot pantatku sementara dia berusaha menyenangkanku dengan menyodokkan kontolnya sedalam dan sekeras mungkin. AARRGHH..!!

Tiba-tiba Bernard mengerang. Dia merasakan spermanya mulai bergerak naik, memaksa untuk keluar.

“Uhh.. Uhh.. Uhh.. Uhh.. Uhh.. Sayang.. I’m cumming.. Hh.. Ahh..,” erangnya. Tubuh seksinya berkelojotan, bergetar dengan hebat. Namun dia tak memperlambatkan sodokan kontolnya, malah makin mempercepatnya. Saya sampai menjerit-jerit karena rasa nikmat yang amat luar biasa. Untung saja rumah Bernard sepi, jadi kami bebas melampiaskan perasaan nikmat kami.

“Ohh.. Ohh.. Ohh.. Ohh.. AARRGGHH!! UUGHH!! AAHH” CROT.. CCRROOTT.. CCRROOTT.. CCRROOTT.. Kurasakan sperma Bernard tumpah ruah dalam perutku, berenang-renang seperti perenang Olimpiade. Anusku menyedot-nyedot semua spermanya agar tak ada setetes pun yang mengalir keluar. Bernard pun terkulai lemas, menimpa tubuhku. Keringat kami menyatu, menyebarkan aroma kelaki-lakian yang menusuk. Jari-jarinya membelai lembut rambutku.

“Oh Endy.. Nikmat sekali, sayang..,” desahnya pelan. Kedua matanya terpejam, menikmati sisa-sisa orgasmenya.
“Sekarang giliran loe, yach, sayang.”

Segera Bernard mencabut kontolnya. Nampak basah dengan spermanya dan cairan di dalam perutku. Setelah membersihkan kepala kontolnya secara kilat, Bernard membaringkan tubuhku di atas ranjangnya. Kami saling bertatapan dan dapat kulihat pancaran sinar cinta di balik sorot matanya yang teduh. Astaga, alngkah tampannya dia.

Sulit kupercaya bahwa sayalah yang beruntung mendapatkannya. Lalu Bernard kembali menjilati tubuhku. Rasanya lama sekali sampai dia akhirnya mencapai kontolku yang kini bocor dengan precum. Tanpa ragu, Bernard mengulumnya dan terus menyedotnya seperti menyedot minuman. Bedanya, ‘sedotanku’ besar sekali:) Lidahnya menari-nari di atas permukaan kepala kontolku yang amat sensitive, membuat tubuhku kelojotan seperti tersengat listrik.

“Aarrgh.. Uugghh.. Hisap terus, say.. Ayo, Bernard.. Oohh.. Kasihku.. Hisap kontol gue.. Ooh yyess..”

Untuk menambah rangsangan, kedua tangan Bernard merambah naik dan menemukan kedua putingku. Tanpa ampun, mereka mencubiti putingku. Tentu saja saya mengerang kesakitan dan agak memberontak. Namun cubitannya membangunkan kedua putingku. Begitu putingku berdiri, Bernard dengan leluasa memain-mainkan mereka. Saya semakin kalang-kabut dengan sensasi-sensasi nikmat yang kurasakan. Semuanya berpadu menjadi satu dan memaksa pejuhku untuk naik.

“Oohh.. Sayang.. Saya keluar.. Ooh.. KkelluaaAARRGHH..!! UUGGH!! OOHH!! OOHH!!” Tubuhku mengejang-ngejang, dan hampir saja Bernard terbanting ke lantai.

Dia berusaha menahan gerakan tubuhku, seperti koboi yang berusaha menjinakkan banteng. CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Spermaku terus tersemprot ke alam mulut Bernard. Tanpa protes, dia menahan semuanya di dalam mulutnya. Beberapa tetes sperma mengalir keluar dari sisi bibirnya.

“Aahh..” desahku, letih, saat spermaku yang terakhir habis dikeluarkan. Bernard melepaskan sedotannya dan menatapku, bibirnya terdapat tetesan spermaku.

Langsung saja, saya menciumnya. Bibirnya terbuka dan menyatu dengan bibirku. Spermaku yang tertampung di dalam mulutnya tumpah ke dalam mulutku. Tak ada rasa jijik sedikit pun. Kami saling bertukar air ludah dan berbagi spermaku. Dengan adil, kami membaginya lalu menelannya. Aahh.. Nikmat sekali. Acara diteruskan dengan afterplay yang melibatkan banyak sekali ciuman. Dan kami pun tertidur dalam rangkulan masing-masing..

Am I A Gay?

Aku adalah seorang remaja SLTA tahun terakhir. Seperti remaja pada umumnya, aku adalah remaja yang cukup gaul dan senang bercanda. Apakah itu dengan teman-teman cewek dan juga teman-teman cowok. Oh, ya. Selain itu juga, aku termasuk salah satu dari 3 anak terpintar dikelas yang selalu memperebutkan ranking 1 sampai 3 dengan 2 orang temanku yang lainnya. Aku mempunyai orang tua yang cukup mampu untuk mendukung hidupku hingga aku mandiri nantinya. Well, benar-benar suatu gambaran kehidupanku yang sempurna, kan?

Namun, pada saat-saat terakhirku di SLTA itulah yang menjadi awal dari segala pengetahuanku yang menyeluruh mengenai diriku sendiri. Bahwa diantara kesemua kebahagiaan dan kepintaran dan kekayaan yang kumiliki, masih ada sesuatu yang menjadi kekurangan dalam hidupku. Yaitu bahwa aku tidak mempunyai pacar. Sebenarnya sangat sederhana malah.

Jika diceritakan, aku cukup populer di SLTA-ku karena aku termasuk murid kesayangan guru-guru dan bahkan Kepsek SLTA-ku. Banyak yang tahu bahwa aku anak orang yang cukup kaya yang tidak sombong, pintar dan kocak. Dan karenanya, banyak diantara mereka yang mengenalku, khususnya para cewek, menginginkan menjadi pacarku. Kurang apa lagi?

Disitulah, perlahan namun pasti, aku sedikit demi sedikit memahami diriku sendiri. Walaupun banyak dari mereka yang menyatakan cinta, namun semuanya kutolak dengan tegas. Alasannya bahwa mereka adalah teman-temanku, dan aku tidak ingin kehilangan persahabatan hanya karena cinta anak SLTA. Pada awalnya kukira begitu. Dan, yah, mungkin begitulah.

Cerita ini sebenarnya dimulai pada waktu kami semua, para pelajar mengikuti kegiatan extra kurikuler yang diadakan sekolah kami. Pada masa itu kamu semua digembleng dengan berbagai tambahan ilmu yang diperlukan dan juga untuk menjadikan kami sebagai pribadi yang tidak hanya tahu satu hal saja, namun menjadi kreatif dalam berbagai hal dengan pengetahuan yang memadai, tentu saja.

Seorang teman, sebutlah namanya Opay, adalah salah satu temanku (tidak begitu dekat, tapi tetap teman) yang juga mengikuti program tersebut. Dia tinggalnya di satu kota jauhnya dari sekolahku. Jadi pada dasarnya setiap hari sewaktu berangkat sekolah, Opay selalu naik bis setidaknya 20-30 menit untuk sampai ke sekolah. Sementara itu, untuk program extra kurikuler kami yang menuntut semua siswa-siswi yang mengikuti untuk datang setidaknya pukul 05.30 pagi, akan agak menyulitkan baginya. Karena itu seijin dengan ortuku, maka Opay, selama seminggu program extra kurikuler tersebut, menginap di rumahku.

Nah, sebagai tambahan, pada dasarnya aku adalah seorang remaja cowok yang menyukai sesama jenis. Pada awalnya hal ini tidak kusadari walaupun tanda-tandanya telah nampak: senang melihat wajah tampan, tubuh yang fit, pria bertelanjang dada, dan sejenisnya. Hanya karena pada saat itu pengetahuanku mengenai seksologi masih sangat minim, aku menganggapnya sebagai suatu kekaguman akan machoisme.

Kejadiannya dimulai pada hari ketiga saat Opay menginap dirumahku. Hari itu luar biasa panasnya sehingga Opay, yang juga tidur sekamar denganku, dan yang palig parahnya, seranjang denganku (ranjangku ukuran Queen Size) memutuskan untuk tidur hanya menggunakan CD. Oh, ya, aku belum mengatakan bahwa aku sedikit pemalu untuk urusan buka-bukaan bahkan di depan keluargaku sendiri. Jadi bisa dibayangkan apalagi di depan temanku. Walaupun malam itu rasanya luar biasa panas, namun aku tetap menggunakan baju kaos berlengan yang lebih tipis dan celana setengah-panjang yang melewati lutut.

Oh, ya, perlu kutambahkan juga bahwa temanku yang satu ini, yang tinggal di kota sebelah, sebenarnya tinggal di’desa’nya kota tersebut. Keadaan ekonominya juga bisa dikatakan pas-pasan walaupun dia masih membantu pekerjaan orang tuanya. Pekerjaan kasar, tentu saja. Dan karena itu, untuk anak seumurnya yang sudah bekerja sekeras itu, tentu saja secara tidak langsung melatih tubuhnya. Sehingga perawakannya yang tinggi-sedang tampak pas dengan kedua lengannya yang kekar dan bahu yang bidang. Belum lagi dada yang berotot dan perut rata, serta kaki yang kuat. Tambah lagi, wajahnya juga cukup tampan untuk seorang pribumi, wajah persegi dengan rahang yang kokoh, hidung yang agak mancung, dan alis mata tebalnya berpadu dengan matanya yang jernih dan bulu matanya yang panjang dan lentik. Bisa dibayangkan?

Hasilnya, malam itu aku sulit untuk tidur. Gelisah. Karena setidaknya ada perasaan untuk terus menatap cowok yang tertidur lelap disebelahku ini. Apalagi dengan hanya menggunakan celana dalam dan posisi tidurnya yang sembarangan, banyak yang bisa dilihat. Namun pada akhirnya aku memutuskan untuk membelakanginya daripada aku tidak bisa tidur dan terlambat bangun keesokan paginya.

Tengah malam malam itu, desakan ingin kekamar kecil membuatku terbangun. Masih dengan setengah mengantuk setengah sadar, aku berjalan sempoyongan ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku. Mungkin kata cukup mampu agak sedikit merendah jika dilihat dengan adanya kamar mandi pribadi di setiap kamar, apalagi kamarku ada di lantai 2. Aku tidak menyadari bahwa pintunya tidak tertutup dan dari celah pintu itu terlihat cahaya lampu yang dinyalakan, yang berarti ada orang didalamnya.

Aku langsung masuk menerobos kedalam. Dan dalam keadaanku yang setengah mengantuk, langsung terkesiap sadar saat melihat Opay dalam keadaan telanjang berhadapan denganku. Kedua tangannya berada pada kejantanannya yang berdiri tegak. Saat itu erangan nikmatnya berubah menjadi kata ‘oh’ pelan. Pemandangan yang mengejutkan itu membuatku tidak bisa berkata apapun. Aku langsung membalikkan badanku dan kembali berbaring ke atas tempat tidur. Aku merasakan wajahku memanas. Pikiranku dipenuhi dengan sosok tubuhnya yang tegap dan berisi, kejantanannya yang besar sedang berdiri tegak, erangannya yang penuh kenikmatan.

Aku mendengarnya kembali ke tempat tidur beberapa saat kemudian. Aku sengaja membelakanginya supaya aku tidak perlu melihat wajahnya dan dia tidak perlu melihat wajahku. Aku tahu dia sedang melakukan sesuatu dan sepertinya itu memalukan dan bahwa kedatanganku mengganggunya. (Aku pada saat itu tidak tahu tentang masturbasi dan pengetahuanku tentang seksologi masih minim sekali, walaupun aku sadar bahwa untuk beberapa lama sekali aku akan terbangun tengah malam dengan keadaan ‘basah’).

Kami terdiam lama sekali. Aku tidak bisa tidur dan aku yakin demikian juga dengan Opay. Aku tetap berkeras untuk pura-pura sudah tidur dan tidak peduli walaupun rasa ingin tahu mulai tumbuh semakin besar di dadaku.

“Wan,” panggilnya pelan.
“Dah tidur?”
“He-eh.” jawabku bodoh, malahan ketahuan bahwa aku belum tidur.
“Eh,” katanya agak kikuk.
“Yang baru jak tuh.. Itu..”
“Aku liat kamu agik kencing, kok.” kataku pura-pura.
“Ngape?”
“Eh, bukan.” katanya malu. Lalu dengan berani Opay berkata, “Aku tok agek onani.”

Akal sehatku menahanku untuk tidak membalikkan badanku menghadap ke arahnya. Namun rasa keingintahuanku yang semakin berontak mengalahkan akal sehatku. Aku membalikkan tubuhku dan menghadap ke arahnya.

“Ngape tuh?”
“Kau ga’ tau ke ape tu onani?” tanya Opay terkejut.
“Tadak.” lalu aku memberanikan diri berkata, “Tapi aku nganggu, ke?” Opay mengangguk.
“Maaf ie..”
“Tadak ngape.” katanya sambil cengengesan.
“Baro jak tengah jalan.”
“Belom abis gek?” tanyaku terkejut.

Lalu kami terdiam agak lama. Tidak tahu harus mengatakan apapun itu. Aku secara tidak sadar melirik selangkangannya. Kejantanannya masih berdiri tegak didalam CD-nya.

“Maseh kepingin onani, ke?”
“He-eh.”
“Ngape ndak ke-WC agek?” tanyaku bodoh.
“Ndak-lah, Wan.” kali ini kelihatannya Opay yang memerah wajahnya.
“Kallak-pun bise.”

Keberanian yang semakin memuncak membuatku berani bertanya, “Ape sih rasenye onani?”

Opay kelihatan kaget.

“Kau ndak pernah?” Aku menggelengkan kepalaku.
“Rasenye..” Opay kelihatan sedang mempertimbangkan jawabannya.
“Nyaman.”
“Nyaman macam mane?”
“Hah?” katanya bodoh.
“Eh,” suaranya jadi ragu-ragu.
“Gimane bilangnye, ye?” Opay terdiam sesaat.
“Cobe jak sorang.”
“Eh,” wajahku langsung terasa panas.
“Nyobe sorang?” kataku gugup.
“Tapi carenye?”
“Kite bedua onani.” Opay beringsut mendekat. Aku bisa merasakan nafasnya di wajahku.
“Kubantu. Akupun kepengen onani. Tadek baro setengah jalan, sih.”
“Eh,” kataku ragu.
“Mo ndak?” katanya dengan suara yang lebih mendesak.

Hanya perlu sedetik yang serasa seabad bagiku untuk mengatakan, “Boleh.”

Opay lalu naik keatas tubuhku. Dengan tangan gemetaran, entah karena gugup atau nafsu, dia membuka celanaku. Dia mengusap-usap bagian kejantananku yang masih tertidur dan yang masih tertutup CD. Perlahan perasaan nikmat menjalar keseluruh tubuhku dan membangkitkan kejantananku. Dia tertawa. Dia lalu membuka CD-ku dan kedua tangannya langsung memegang kejantananku setelah menyingkirkan CD-ku, lalu meremas, menggosok dan memijatnya. Dalam keadaan tegang seperti itu, rasa nikmat dan nyaman yang kurasakan semakin besar. Suara-suara yang belum pernah kudengar oleh telingaku sendiri keluar dari dalam tenggorokanku. Aku memejamkan mataku.

Beberapa saat kemudian aku melihat kebawah saat aku merasakan Opay menempelkan kejantanannya pada kejantananku dan menggunakan kedua tangannya untuk meremas, memijat dan menggosok. Kejantanan kami tidak begitu jauh berbeda dalam ukuran panjang. Tapi dalam ukuran diameter, sepertinya milik Opay sedikit lebih besar. Kami mengerang dan mendesah.

“Nyaman, Pay.” kataku dalam desahanku.

Dia tertawa gugup.

“Nyaman, ke?” Dia melepaskan kejantanannya dari diriku.

Aku melihat cairan bening di ujung kejantananku sendiri.

“Mo yang lebih nyaman agek?” tanyanya. Aku mengangguk.

Sesaat berikutnya, dengan sangat mengejutkanku, Opay memasukkan kejantananku dalam mulutnya, mengulum, menghisap dan menjilat. Tangannya masih bekerja, satu pada kejantananku dan satu lagi pada kedua ‘bola’ku. Ini membuatku sedikit kelojotan. Punggungku melengkung nikmat. Nafasku makin terengah-engah. Kemudian yang kutahu, Opay duduk diatas dadaku dan menyodorkan kejantanannya padaku.

“Mo nyoba, ndak?” kedalaman matanya tidak dapat kuselami.

Anehnya, tanpa rasa kikuk, apalagi geli, aku membiarkan saja kejantanannya dimasukkan kedalam mulutku. Aku meniru sebaik mungkin seperti apa yang sudah dilakukannya padaku. Pinggulnya bergerak dalam satu irama. Makin lama aku merasakan kejantanannya semakin hangat dan berdenyut keras, dan pada akhirnya Opay melenguh nikmat berkepanjangan. Pada saat yang bersamaan sesuatu yang sangat hangat memenuhi mulutku. Tanpa tahu apapun maksudnya itu, aku yang tidak bisa memuntahkannya keluar karena kejantanannya memenuhi mulutku, aku menelannya. Rasa yang aneh, campuran antara aroma yang mentah dan.. Sulit untuk digambarkan.

“Kau telan ke, Wan?” tanya Opay saat dia sudah menarik kejantanannya yang lemas keluar dari mulutku. Aku menggangguk.

Dia tertawa pelan lalu menempelkan bibirnya ke bibirku dan menciumku dengan mesra. Lagi-lagi aku tidak merasa kikuk bahkan geli. Dia lalu mengubah posisi sehingga aku ada di atasnya. Aku dalam posisi merangkak diantara kedua kakinya dengan kejantanan yang masih menegang.

“Dah, abes ke?” tanyaku bingung.

Memang semua yang terjadi terasa nikmat, tapi aku tidak sampai seperti Opay tadi.

“Blom” katanya.

Dia membuat posisi kami berdua sedemikian rupa sehingga mudah untukku menyatukan diri dengannya.

“Masokkan, Wan.”
“Apa?” kataku mengulang tidak percaya, padahal aku mendengarnya dengan jelas.
“Masokkan jak.”

Aku pun menuruti kata-katanya. Setelah beberapa saat mencoba, tubuh kami berdua pun menyatu diiringi dengan desahan nikmat Opay. Dia memintaku untuk menciptakan iramaku sendiri. Dan, langsung saja, kenikmatan yang berkali-kali lipat lebih besar serasa menyengat seluruh tubuhku saat aku mengikuti gerakan iramaku. Aku sempat melihat kejantanan Opay yang menegang kembali sebelum aku memejamkan mata untuk menikmati kenyamananku yang sedang kurasakan.

Seperti minum air laut, makin diminum makin merasa haus, walaupun terasa semakin berat, aku semakin mempercepat iramaku mengikuti naluriku. Opay mendesah dan mengerang tidak keruan. Satu tangannya mneggosok kejantanannya dengan cepat. Sementara semakin cepat aku bergerak, semakin besar rasa nikmat yang menumpuk didalam perutku yang serasa mendesak untuk dilepaskan.

Tidak lama kemudian, kegilaan menyergapku secara mendadak. Aku membuat suara-suara yang mengerikan yang aku sendiri belum pernah mendengarnya. Aku melepaskan tenaga di dalam perutku yang mendesak keluar seiring dengan melambatnya iramaku. Samar-samar aku mendengar Opay mengerang. Aku membuka mataku dan melihat tangannya pada kejantanannya yang sekeras baja, sementara pada ujungnya tersembur cairan putih kental dalam jumlah yang cukup banyak. ‘Itukah yang tadi kutelan?’ tanyaku dalam hati.

Malam itu kami mengulangi hal yang sama sebanyak mungkin yang kami bisa, walaupun pada akhirnya kami terlambat bangun keesokan harinya. Kami terus melakukan hal ini sesering mungkin sesudahnya hingga kami menamatkan SLTA kami dan baginya tidak ada alasan untuk datang kekota karena sekolah kami telah usai. Aku sendiri harus pindah karena orang tuaku akan menguliahkanku di kampus terbaik menurut ukuran saku mereka. Kami masih sempat melakukannya beberapa hari sebelum keberangkatanku sebagai hadiah kenang-kenangan tamat SLTA, begitu katanya.

Namun yang jelas hal itu membekas sangat dalam didalam hatiku. Sepanjang waktu aku selalu mengingatnya sebagai ‘onani berdua dengan teman’, bahkan sampai aku pindah kekota besar tempat aku kuliah nantinya. Dan secara naluriah aku tahu bahwa hal ini bukan hal yang bagus untuk diceritakan karena akan sedikit memalukan.

Dan begitulah awal mulanya. Langkah berikut yang akan kuambil akan merupakan langkah penentu bagiku dan juga hidupku.

Clayton membuka pintu sedan Soluna dan langsung melemparkan papan renang dan papan olahraganya ke kursi belakang dan menghenyakkan pantatnya ke kursi di sebelah sopir.

“Kok telat sih jemputnya?” sungut anak lelaki 13 tahun yang mengenakan kaos sepanjang paha.Dibawah kaos itu pasti ia hanya mengenakan celana renang bikininya yang minim dan ketat.Tali pinggang kancut Clayton menjulur sampai hampir menyentuh lututnya.Seperti biasanya perenang kelompok umur 3 (11-13 tahun) itu tidak mandi dulu di bawah pancuran sebelum pulang dari latihan berenangnya.

“Jalannya macet banget, Ko!” jawab Damiri. Sopir itu selalu memanggil anak tunggal majikannya itu Koko, atau kakak dalam bahasa Mandarin.Dan ia selalu memanggil dengan nada sayang.Bahkan di saat anak itu sedang ngambek begitu.

“Tadi nganterin Mama dulu ke Kelapa Gading soalnya.Crownnya kan masih di bengketl,” terang Damiri.Lapangan parkir di kolam renang “Taruna Segar” itu sudah benar-benar sepi dari mobil-mobil lain.

“Sorry dong, Ko,” bujuk sopir berusia 24 tahun itu sambil membelai-belai rambut majikan kecilnya yang berantakan.Kaporit selalu membuat rambut Clayton susah diatur.Tapi ketampanan raut wajah bocah kelas 1 SMP swasta khusus anak lelaki itu tetap memancar.Damiri paling suka hidung Clayton yang bangir dan mulutnya yang selalu kemerahan.

“Udah deh, jalan,” gerutu Clayton mengelakkan kepalanya dari belaian sopirnya.

“Maafin dulu dong! Koko kesel ya tadi nunggunya.Udah ingin buru-buru mandi?” Damiri tetap sabar membujuk.Sudah sejak anak itu berumur 6 tahun dan mulai masuk SD Damiri menyopirinya.Waktu itu dia sendiri baru 18 tahun.Tamat SMU langsung bekerja sebagai sopir.Bapaknya yang karyawan di pabrik Papa Clayton yang memasukkannya.Dari masih kecil dulu Damiri selalu berhasil melunakkan hati anak manja itu setiap kali ia ngambek.Mama dan papanya selalu mencari Damiri dan memintanya untuk membujuk Clayton.Kala anak itu sedang mogok sekolah atau latihan renang, misalnya.

“Marahnya jangan lama-lama dong?” Kini tangan Damiri telah berpindah ke tengkuk remaja yang masih belum menunjukkan tanda-tanda pubertas.Suara Clayton masih nyaring kekanakan dan belum ada selembar bulupun di sekujur tubuhnya kecuali rambut di kepala.Damiri tahu persis karena memang ia sudah menjelajahi tubuh atletis perenang cilik yang sudah memiliki beberapa koleksi medali kejuaraan itu hingga ke bagian-bagiannya yang paling intim!Kini lelaki itu pelan-pelan memijiti tengkuk dan bawah leher Clayton.Damiri tahu betul apa yang disukai Clayton.

“Abis nunggunya lama,” rajuk Clayton kemudian.Tapi kali ini ia tidak menghindar dari Damiri.Dan nada rajukannya tidak sekesal tadi lagi.

“Dimandi kucing dulu sama Damiri ya, biar keselnya ilang?” cetus sopir itu dengan penuh sayang.

“Bodo ah,” sergah Clayton.Tapi kelihatan sekali kalau kini dia cuma pura-pura masih merajuk.Buktinya bocah itu langsung merebahkan sandaran punggung joknya dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.Kedua matanya terpejam sedang kepalanya dihadapkan ke arah jendela mobil.Damiri tersenyum kecil melihat kesayangannya jual mahal.

“Buka dulu kaosnya dong, Ko!” katanya meraih bagian bawah kaos Clayton dan mengangkatnya.Clayton mengangkat tubuhnya dan meluruskan tangannya sehingga dengan mudah Damiri dapat mencopot kaos warna biru tua bertuliskan, “Swim Against Time” dengan huruf-huruf berwarna kuning itu. Tapi kemudian ia kembali ke posisinya seperti tadi lagi.Sedangkan Damiri lagi-lagi tercekat demi melihat tubuh putih mulus Clayton dengan six pack mininya terbentang di depan matanya begitu.Hanya sebentuk cawat renang mungil yang benar-benar minim dan ketat saja lagi yang masih melekat di tubuh seindah pualam itu.

“Sini…”lembut direngkuhnya kepala Clayton yang masih memejamkan matanya rapat-rapat.Dibalikkannya wajah itu kearahnya dan didekatinya bibir merah Clayton dengan bibirnya.Damiri menciumi bibir Clayton dengan perlahan, tapi makin lama makin bergairah.Lidahnya kini menembus katupan mulut Clayton dan langsung menggumuli lidah anak itu.Kedua mahluk sejenis kelamin berbeda usia itu makin semangat berpagutan.

Tangan kanan Damiri merayap menelusuri dada telanjang majikan ciliknya, jari-jarinya mempermainkan puting tetek Clayton bergantian yang kiri dan yang kanan membuat tubuh bocah itu berkejat-kejat.Lebih jauh Damiri mengelusi dada dan perut Clayton dalam perjalanannya mencengkeram aurat mungil yang sudah kencang menggelembung di selangkangan kancut TYR warna abu-abu polosnya.Nafas Clayton langsung memburu di pegangi kemaluannya begitu rupa. Titit Clayton memang belum terlalu besar, tetapi bagi Damiri sudah lebih dari cukup.Tapi sebelum membebaskan kelamin jantan Clayton dari pembungkusnya, ia perlu memandi kucing tubuh atlet belia buah hatinya itu.

Damiri memindahkan lidahnya dari mulut Clayton yang tetap terpejam ke lehernya…terus ke bawah, dada, dijilat dan diisapnya puting-puting tetek merah jambu anak itu sampai Clayton mengerang lirih.

Ngggghhhhh….nggnnnggngnhhh.

Damiri hafal betul lekuk tubuh yang mana yang mesti di “mandi”kannya supaya geletar tubuh dan nyanyian gairah Clayton seperti berterima kasih padanya.Bahkan Clayton mulai merengek….bulu-bulu halus di kedua pahanya yang seputih susu segera berdiri.

Kini mulut sopir pecinta bocah ganteng dan sexy ini sudah mendarat di atas gundukan kecil di bikini abu-abu Clayton.Dengan lahap diendus dan dijilatinya titit kekanakan yang masih terselubung itu.Ia sungguh menikmati licinnya bahan Lycra pada lidahnya.Apalagi ketika disadarinya bagaimana kombinasi antara gesekan lidah dan bahan kancut renang pada kontol Clayton yang sudah sekeras batu itu tambah membuat olahragawan muda itu menggelinjang-gelinjang.

“Buka Dam, bukaaaaa……!” lenguh Clayton setengah menjerit menuntut untuk segera ditelanjangi.Tangan-tangannya menjengguti rambut Damiri dan mendorong belakang kepalanya makin merasuk ke selangkangannya.Damiri masih menjilat-jilat…menggoda….menyayangi!

“Isep tititnya dong, Dam…Tititnyaaaaaa….isssseeeeeppp!” desah Clayton.Terdengar bagai musik indah di telinga Damiri.Terutama ketika ia mendengar “isep” dan “titit” yang dicetuskan dengan penuh gairah, kerinduan, hasrat….

Dan sekarang……….sebentar lagi!Dia akan melucuti kancut Clayton dan “memakan” kontol bocah yang putih mulus, belum berbulu sama sekali itu!

Perkenalkan nama gw Rio umur gw 18 Tahun, gw sekolah di SMU Negeri di Jakarta Selatan sekarang gw udah kelas 3 dan dikit lagi pengen menempuh Ujian Nasional tapi itu masih lama, masih ada 4 bulan lagi ngehadapin UN. Sekarang lagi liburan sekolah karena abis Ujian Akhir Semester dan gw liburan hanya dirumah aja karena bokap dan nyokap gw sibuk dengan pekerjaan mereka yang padet banget paling kalo ada waktu luang saat libur nasional aja, itu aja kalo mereka gak ada janji sama rekan kerja mereka jadi lah gw sendiri trus di rumah. Kalo dirumah paling cuman maen Basket juga Berenang dan ngajak temen temen gw maen Futsal di Senayan. Kalo udah bosen paling ngenet dirumah trus tidur deh.Dasar anak SMU banget, gw paling males jalan ke Mall kalo alasannya cuman mau nongkrong soalnya gw paling gak suka sama kegiatan yang bikin bosen itu. Pagi hari pas pertama kali libur sekolah gw udah bt karena nyokap dan bokap gak ngijinin gw tuk jalan jalan sama temen sekolah gw ke BALI tuk tahun baruan. ”Mam… Rio mau jalan sama temen ke BALI lusa tinggal beli tiket doang ma, bolehnya?” ”Duh.. Rio kamu mau ngapain di BALI disana juga lagi ada musibah kan!Kamu tahu kan Gelombang di pantai lagi tinggi tingginya jadi mama gak setuju kamu ke BALI mendingan kamu disini aja sama temen temen kamu, kamu boleh deh bakar bakaran kaya tahun lalu.” ”Mam… disini udah gak ada temen lagi mam.., meraka udah pada ke BALI hari ini makanya Rio mau nyusul mereka ma!bolehnya?” ”Duh… kamu Rio kamu kan sudah besar kamu harus turut kata Mama dong!Papa sama Mama sibuk banget ne kejar target tuk akhir tahun” seru bokap gw sambil ngotak-atik Laptop kerja dan tangannya sambil mau nelpon. ”Tuh kamu dengar kan nak!Papa aja gak setuju kalo kamu mau ke BALI!Pokoknya setelah Mama dan Papa selesain kerja ini semua kita akan berlibur di BALI dan kamu mau apa aja mama dan papa akan beliin deh asal kamu tahan nafsu kamu untuk Ke BALI sekarang gimna!” Seru nyokap gw sambil ngelus kepala gw ”Em…. oke deh!” Seru gw seneng tapi dihati cembetut juga kesel banget ”Good!Nice Boy!”Seru bokap gw sambil nutup laptop dan jalan keluar rumah tuk berangkat kerja. ”Oh… iya Rio bilang sama Bibi nanti masaknya agak lebih banyak soalnya nanti ada client Papa mau nginep disini dan bilang juga sama Bibi makanannya yang enak enaknya!” ”Ok bos!” ”Pa… tunggu Mama dong!”Seru nyokap sambil mencium kening gw dan keluar menuju mobil. Setelah nyokap dan bokap pergi kekantor gw langsung ke dapur dan kasih tahu pesen Bokap ke Bibi. ”Bi!Kata Papa nanti masaknya yang enak juga spesial soalnya ada tamu Papa!Oh iya Bi jangan lupa beres beres tuk kamar tamu soalnya,tamu papa mau nginep Bi!Jangan lupanya Bi!” ”Oke den Rio!Sekarang Bibi kepasar dulu!” ”Ya udah, oh iya Bi!ada Mas Herri gak?” ”Ada den!Herry lagi cuci Mobil aden!” ”Ya udah!” Seru gw ke bibi dan gw langsung pergi ke halaman depan mau bilang ke Mas Herri kalo kolam renang harus dibersihin soalnya nanti ada tamu, kan gak enak kalo ada tamu rumah kotor!hehehe. Oh iya Bibi dirumah gw itu namanya Bi Hasnah dan Mas Herri itu dirumah sebagai satpam,tukang kebun juga semua semua yang berat deh. Bi Hasnah itu umurnya udah 50an lah dan Bibi Hasnah itu udah kerja sama keluarga gw udah sejak Nyokap dan Bokap Nikah dan Kalo Mas Herri ini kira kira masuk kerja pas gw kelas 3 SMP deh dan umurnya Mas Herri ini 27 Tahun masih muda tapi belum mau kawin, nyokap udah nyuruh Mas Herri kawin tapi dia bilang. ”Tunggu Tahun depan Nyonya uangnya belum terkumpul banyak!” Kata mas Herri ke nyokap dan nyokap gw ketawa aja, pokoknya di rumah gw itu semua udah jadi satu keluarga. ”Mas nanti kolam renang tolong bersihinnya soalnya nanti ada tamu Papa mau nginep disini, kan kolam udah kotor tuh!tolong dibersihinnya Mas!Oh iya Mas Her pas mas bersihin Mobil Saya ada CD Judulnya X2 gak di dalam mobil?” ”Wah den!Saya baru ngebersihin luarnya aja tuh!Nanti den saya cari CDnya deh, emang isi CDnya apa den?”seru Mas Herri sambil senyum kearah gw! ”Isi CDnya juga belum tahu mas soalnya itu punya temen yang ketinggalan di mobil!Mang Mas Herri pikir apa?Je… kotor pikirannya!Udah mas kawin deh cepet!” Seru gw sambil ketawa dan kedalem rumah ”Duh aden ngeledek ne!” seru Mas Herri sambil nyipratin busa kearah gw dan gw cepet kabur….. Setelah gw ngeledek Mas Herry gw kebelakang rumah mau olah raga dan gw ambil bola basket dan langsung kebelakang maen basket. Lagi asik asiknya maen basket mas Herri dateng dan nepak bola basket gw yang lagi gw shut ke arah ring dan bolanya kelempar ke kolam renang! ”Ya bolanya masuk kekolam renang deh!”ledek mas herri sambil ketawa ”Wah sialan loe mas!gw lagi asik maen basket ne!” ”Ya siapa suruh tadi ledekin Mas!” ”Oh bales dendam ne!Ok kalo gtu!” Seru gw dan Mas Herri senyum senyum doang sambil kedua telapak tangannya ngasih salam kaya orang sunda gtu!susah ngejelasinya pokonya kay gtu deh!. ”Mas ambil dong bolanya!gw mau maen ni!” ”Loh katanya musuh ambil sendiri dong!Kan bisa berenang!”ledek Mas Herri ke gw ”Ya udah awas aja loe nanti Mas gw bales!”seru gw sambil ngepal ke arah dia dan mas herri berlagak nangkis dan tersenyum. Akhirnya gw lepas baju gw yang udah keringatan dan gw langsung lompat ke kolam yang kotor banyak daun daunan dan Byur… suara badan gw menghantam air kolam dan langsung gw ambil bola basket gw dan gw berenang ke bibir kolam renang pas gw naik, Mas Herri nyeletuk sambil ketawa ke arah gw, ”Emang kalo pagi bawaanya nafsunya tinggi pangilan pagi aja belum kelar kelar” ”Maksudnya apa sih mas!” ”Tuh den punya aden lagi bangun gede banget tuh!” gw denger kaya gtu kaget dan pas gw liat gw lagi telanjang bulet dan kontol gw lagi konak gara gara bawaan pagi hari dan gw cepet nutupin kontol gw yang gede dengan bola, pas gw liat ke kolam celana gw lagi pengen tengelam didasar kolam. Gw emang gak pernah pake celana dalam kalo dirumah apalagi kalo mau tidur itu adalah kesuakaan gw. ”Ye… seneng banget loe mas!awas loe bener bener gw bales semua ne gara gara loe mas!coba gka loe buang bolanya pasti gak bakal gini” ”Ye… kok salahin mas sih!salah aden dong kenapa celananya gak dikencengin dulu dan salah aden kenapa gak pake celana dalem!” ”Seterah gw dong hak gw!”seru gw sambil natap mas Herri kesel dan muka gw memerah karena malu, untung aja dirumah cuman ada gw sama mas herri aja soalnya bibi lagi kepasar. Setelah gw kesel keselan sama Mas Herri gw langsung masuk kedalam rumah sambil telanjang bulet sambil nutupin kontol gw dengan bola basket dan pantat gw gw tutupin pake tangan gw malu gila! ”Mas malu dong!hehehe”seru Mas Herri nyamperin gw yang lagi jalan ke dalam rumah sambil basah basahan, gw langsung ke belakang ambil handuk gw dan gw langsung handukan. Setelah gw handukan bola basket yang gw pegang gw lempar kearah mas herri dan dia langsung nangkep ”Je…. masih ngambek!” ”Diem agh Mas!” seru gw kesel sambil jalan ke arah kamar gw dan pas gw naik tangga tangan mas Herri narik handuk gw dan handuk gw pun lepas dengan keadaan gw telanjang gw jatuh dibadan mas herri dan muka gw dan muka dia berhadapan dan paling gw kaget bibir gw dan bibir mas Herri saling nempel. Gw diem sejenak sampai gw terasa kalau kontol gw konak dan gw langsung bangun dari tubuh mas herri dan ngedumel ”Ngapain sih mas ngelakuin kaya gini nyari bahaya aja tau gak sih!”seru gw kesel sambil ngambil handuk gw dan gw handukan ”maff den saya cuman becanda!” seru mas herri sambil menyeluput lidah dibibirnya ”becanda loe mas gak lucu!”seru gw sambil naik ke kamar gw dan mas herri nyusul ke kamar gw sambil mohon maaf karena bercandaanya bikin gw kesel. ”Den rio maffin saya den!saya cuman becanda doang!”seru mas herri sambil narik tangan gw dan berlutut kaya mau sungekman, tindakan mas Herri ne gak wajar buat gw dengan sungkeman kaya gini biasanya mas herri tahu kalo gw cuman boongan doang kalo marah ke dia tapi ne kaya beneran. ”Mas Her… apa apaan sih, awas agh..” “Maffin Mas herri dulu den!” Seru mas herri sambil megang paha gw yang terselimuti handuk dan tiba tiba aja handuk gw melorot dan kontol gw yang konak ada didepan muka Mas Herri. Mas herri yang ngeliat keadaan kontol gw yang konak tanpa gw kira kontol gw dipegang dan disepong sama Mas herri dengan cepat dan seluruh batang juga kepala kontol gw juga biji peler gw juga. Gw kaget, ”Mas jangan, apa apa sih agh… agh…. mas!” seru gw tapi gw menikmati apa yang dikasih mas Herri saat itu sampai akhirnya gw menikmati sepongan Mas herri ke kontol gw dan ini pertama kali gw disepong dan ngelakuan seks sejenis dan saat mas Herri menikmati komtol gw, gw langsung ngelepas kontol gw dari mulut Mas herri ”kenapa den?aden suka kan!” ”egh…”anguk gw ”trus kenapa aden lepas, aden gak mau!” ”Kunci kamarmnya mas!” Seru gw dan mas herri kaya nerima perintah dan langsung dilakukan dan tubuh gw langsung ditindih oleh tubuh mas herri yang cukup atletis dengan otot tangan yang mulai terbetuk dan muka mas herri berhadapan dengan muka gw ”Ini yang mas Herri tunggu dari dulu!” ”Apa mas?” ”Mau menikmati tubuh aden yang bersih ini!” ”Nah mas sekarang Rio udah ada di depan mas herri sekarang lakuin lah!” seru gw mancing mas herri sambil memejam kan mata. Langsung mas herri mencium bibir merah gw dengan nafsu dan gw pun menikmati ciuman sejenis ini dan gw juga binggung kenapa gw dapet menikmati ciuman ini padahal gw lagi suka sama temen cewek di sekolah gw, tapi gw buang rasa itu dan gw menikmati permainan ciuman mas herri. Bekas kumis yang dicukur menyentuh kulit pipi gw dan gw bertambah nafsu dan gw peluk erat tubuh mas herri yang masih pake kaos dan celana. Tubuh gw dicium sama Mas herri mulai dari kepala, leher, pentil gw, ketek, perut, sampe ke kontol gw dan biji gw sampai dubur gw pun dijilatin sama Mas Herri. ”Mas kenapa mas jilatin ketek dan dubur Rio, agh…. agh…” ”Enak banget den!Mas suka sama bau badan den Rio!” ”agh… mas… herr!!agh… trus mas Rio suka!”seru gw ke mas Herri yang lagi nyepong kontol gw yang cukup panjang sekitar 17 cm dan gedenya tiga jari tangan gw. ”sluprs… sluprs… sluprs…”suara sepongan mulut Mas herri yang didalamnya ada kontol gw ”Mas buka bajunya dan celananya dong agh…. agh…. Rio juga mau liat!agh… agh…” akhirnya Mas herri buka baju dan celana yang dipakai sambil nyepong gw dan mas Herri langsung ngasih kontolnya ke arah gw dan gw sama Mas Herri main 69 dan saat gw liat kontol Mas Herri yang gedenya kaya botol coca cola dan panjangnya kira kira 20 cm hal itu bikin gw panik dan takut karena ini pertama kali gw nyepong kontol. ” Kok diliatin aja den!isep aja nanti juga suka malah nambah!”seru Mas Herri sambil nyepong lagi ”Iya mas…agh… agh…!!” gw beraniin diri nyepong kontol gede ini saat gw jilat ada rasa asin diujung lobang mungkin itu namanya percum dan gw menikmati aroma jantan Mas Herri dan langsung gw embat kontol gede itu ”Sluprs… Slurps…. sluprs…. ” suara mulut gw ngejilat kontol gede Mas Herri dimulut gw tapi gak masuk semua soalnya gede banget gw gak tahan banget akhirnya gw emut kepala yang merah keunguuan dengan nafsu dan Mas herri semakin cepat nyepong kontol gw terkadang emut biji peler gw dengan rakus, ”mas… agh… egh…. Rio… agh… gak tahan mau keluar agh… mas…. Rio keluar….!Agh… agh….” Air mani gw masuk kedalam mulut Mas Herri dan masuk kedalam tubuh Mas Herri semua. Mas herri masih aja nyepong kontol gw yang mulai lemes dan masih ngeluarain air kenikmatan gw masih nyepong kontol Mas Herri yang gede itu didalam mulut gw dan Setelah kontol gw lemes Mas herri maksain kontol gw trus bangun dengan nyepong dan nyedot nyedot sampai akhirnya kontol gw bangkit lagi dan lebih kenceng dan Mas Herri semakin beringas nyepongnya dan Saat gw nyepong kontol Mas Herri tiba tiba aja kontol Mas Herri berdenyut kecang dan panas. Crot.. crot.. crot… crot… air mani Mas Herri masuk kedalam mulut gw dan banyak banget sampe gw kesedek dan gw lepasin kontol Mas Herri yang lagi ngeluarin air mani yang masih banyak dikasur gw namun langsung gw buru buru gw sepong kontol Mas Herri dan air mani yang asin sedikit manis masuk kedalam mulut gw dan gw telen semua, awal rasa yang aneh muncul tapi itu gw buang jauh jauh dengan terus menikmati kontol Mas Herri yang masih konak aja padahal udah keluar. “Mas udah agh… agh… Rio mau pergi agh.. agh… mas lepasin kontol gw agh…!” seru gw ke Mas Herri dan Mas Herri begitu kecewa disuruh ngelepasin kontol gw dar mulut dia. ”kenapa Den?aden gak mau!” ”Gak mas, gw udah ada janji sama Abi juga sama temen temen gw mau jalan!kalo mau nanti aja kalo gak kapan deh lagi!”seru gw sambil bangun dan duduk disamping Mas Herri dan memeluk tubuhnya sambil megang kontol yang masih tegak berdiri dan sambil mencium leher Mas herri. ”Ya udah den, tapi aden harus ngeluarin dulu air kenikmatan punya aden di badan Mas sambil aden ngocok!boleh kan den!” seru Mas Herri ke gw dan gw menganggukkan kepala berarti setuju dan gw coli didepan muka Mas Herri terkadang gw masukin kedalam mulut Mas Herri dan Mas Herri gak mau ngelepasin dan malah coli pake mulut hot Mas Herri dengan beringas Mas Herri nyoliin kontol gw dengan mulutnya dan Crot… crot… crot… crot…. semburan air kenikmatan kedua gw semua ditelan sama Mas Herri dan gw langsung ninggalin Mas Herri sambil coli sendiri ditempat tidur dan gw mandi bersihin badan. Sekitar 10 menit gw didalam kamar mandi dan udah wangi gw keluar kamar mandi dan gw masih ngeliat Mas Herri masih menikmati air mani yang masih ketinggalan di seprai gw. ”Den udah selesai!wangi banget den, bikin tambah nafsu!”seru Mas Herri sambil mendekat dan mencium aroma tubuh gw ”Eit… Gw udah bersih jangan loe kotorin lagi ntar malah bau kenikmatan!”seru gw sambil megang kontol mas Herri dan langsung menuju lemari dan gw berpakaian lalu gw ngambil hp. ”Mas kunci mobil dimana?”Seru gw sambil ngaca, dan jawab Mas Herri ”Ini disini ambil dong!”Kata mas Herri sambil nunjuk kearah kontol gede yang ada gantungan kunci mobil gw, dan gw dateng sambil jongkok dan ngemut kontol mas Herri dan gw dapetin kunci mobil gw ”Dasar Mas Herri!Mas tolong bersihinnya jangan sampe ada bau kenikmatan yang tertinggal nanti Mama dan Papa tahu apa yang kita lakuin!” ”Oke deh!” Setelah semua yang gw dapetin udah ada ditangan gw langsung caou pergi ketempat temen gw yang entah siapa yang akan gw datengin,sebenernya gw boong sama Mas herri mau pergi sama temen tapi karena gw takut ada kejadian yang bikin gw tambah kacau dan malah bikin gw tambah parah gw langsung ngejauh dari rumah. Gw keluar cuman dengan celana jeans kaos juga jaket yang gak pernah gw tinggalin, gw langsung ketempat temen gw yang didaerah depok yang rumahnya diperumahan yang cukup wah untuk didaerah depok.Setelah gw pikir pikir kenapa gak ketempat Abi aja kan rumahnya di perumahan itu juga akhirnya gw ketempat Abi. Jarak dari rumah gw kedepok sekitar satu jam karena daerah depok dengan rumah gw begitu jauh dan macet pula, dalam perjalanan gw nonton tv dimobil saking bosennya gw nonton akhirnya gw buka album film gw dimobil pas gw bongkar bongkar kaset X2 itu ada ditempat album lagu. CD X2 itu punya Abi temen Tim Basket gw, Abi itu idola cewek disekolah selain gw!hehehehe Saat gw inget Abi gw inget dengan lekuk tubuh atletis yang udah berbentuk dan aroma tubuhnya yang hot banget bikin gw konak dan tambah nafsu lagi. ”Loh kok gw mikirin tuh anak!wah gw mulai jadi nafsu sama cowok ne!!Dasar mas Herri bikin terkomtaminasi ne pikiran gw!” Akhirnya gw bisa nemuin juga CD yang dicari Abi tempo lalu didalam mobil gw,dan pesen si Abi CDnya gak boleh dibuka tapi karena udah gak ada kerjaan didalam mobil yang lagi macet diluar gw setel. Pas gw masukin dan mulai On muncul dimonitor gw Welcome Boys in The world G!, Gw sempet binggung apa maksudnya pas kelanjutannya tahu tahunya film bokep homo.Di CD seorang siswa SMU sedang ditelanjangin sama seniornya di kamar mandi sekolah dengan paksa dan tanggannya di ikat dan mulutnya diciumin oleh 3 Senior yang ganteng ganteng dan celana nya dirobek oleh senior dan kontol sang junior langsung disepong dan pantat junior di jilatin lalu di entot dnegan penuh nafsu biadab oleh seniornya namun junior menikmati permainan kasar sang Senior dan akhirnya ikatan junior dilepas dan mereka berempat menikmati permainan 4 in 1 dan gw dimobil konak mampus ngeliat kejadian yang ada didepan mata gw, sambil nyetir gw ngelus ngelus kontol gw yang udah konak dari tadi.Gak terasa gw udah masukin kota depok, kota yang penuh kemacetan dan nafsu birahi yang akan gw dapetin nanti sama Abi karena gw udah tahu kalo Abi suka sama cowok juga, gw sengaja gak hubungin Abi biar jadi suprise tuk cowok kedua yang akan gw nikmati tubuhnya. Walau gw bukan homo dan Gay tapi gw menikmati air kenikmatan dan sepongan juga menyepong yang udah diajarin sama Mas Herri. Saat sampe kedepan pintu masuk perumahannya Abi gw di stop mau ditanya mau kemana!Biasa perumahan sekarang kaya gtu dan gw bilang mau kerumah Abi di blok ….. No …. dan satpamnya ngijinin gw masuk dan sebelum masuk gw liat satpam yang nanyain gw itu ganteng banget dengan celana ketat yang satpam pakai bikin gw tambah horni! Mobil gw taruh didepan rumah Abi yang tanpa pagar besi hanya pekarangan aja yang ada didepan mata gw, saat gw mau pencet bel tiba tiba aja pembantu Abi ngeliat gw dan nanya ke gw, karena udah kenal Bi Ani namanya langsung nyuruh gw masuk, ”Masuk aja den Rio kedalam, den Abinya lagi dikamar!” ”Makasihnya bi!” Akhirnya gw masuk kerumahnya Abi dirumahnya itu gak ada siapa siapa keculi bibi dan Abi dikamar, seperti dirumah gw Abi keluarga sibuk juga jadi gw sama dia bisa dibilang CS-an. Saat gw naik kekamar Abi, gw langsung buka pintu kamar Abi dan gw ngeliat Abi lagi asik tidur dengan menggunakan selimut dengan bertelanjang dada.Otak kotor gw langsung naik dan gw kunci kamar Abi dan buka baju juga celana gw dan gw telanjang didepan Abi tapi gw gak langsung tancap gas, gw ngerjain Abi dengan Miss call dia biar bangun dan gw ngumpet di bawah ranjang dia. ”Tut… tut… tut… tut…!”suara di Hp gw ”Bi ada telepon tuh angkat gih ! ”seru seseorang didalam selimut dan gw kenal banget dengan suara itu, gw kaget banget dengan apa yang gw denger saat itu Abi sama Samuel lagi ada dikamar dan lagi telanjang! ”Agh… sam paling juga anak anak yang lagi liburan diBALI ! ” kata Abi males ngkat telpon dari gw, tapi Abi bangun sambil narik selimut dna selimut itu jatuh kebawah. ”Siapa Bi !” “Rio!” “Rio!angkat gih tumben tuh anak telpon!” Seru Samuel sambil meluk Abi dan mencium leher Abi ”Hallo !Kenapa Io ?Loe gak iku sama anak anak keBALI ! ” ”Gak Abi, gw boleh sama nyokap gw!Oh iya CD yang loe yang ilang dimobil gw udah ketemu tahu tahunya ada ditempat kaset gw!” ”CD apa sih Bi?”tanya Sam ke Abi sambil berbisik ”CD bokep homo yang gw sengaja taruh dimobil Rio biar bisa kita nikmatin dia!”Seru Abi sambil mencium bibir Sam yang ganteng mampus ”Hallo Bi, loe lagi ngomong apa sih!” ”Agh… engak!Eh Io sekarang loe ada dimana?” ”Gw ada di rumah loe tepatnya didepan kamar loe!” Seru gw ke Abi, dan abi kaget banget dna panik ”Sam!Abi ada diluar ne kita harus beres beres!” ”Agh.. loe becandaan aja!yang bener loe!” seru sam ”Io, loe becandakan?” ”gak lah gw udah nugngu loe lama banget ne!” ”Sam dia gak becanda!cepet!”Akhirnya Abi dan Sam panik bukan kepayang dang gw keluar dengan telanjang bulat dari bawah tempat tidur. ”Sam!Bi!Loe ngapain?udah kita terusin aja!” ”Io!”seru Sam dan Abi kompak ”Iya gw, loe mau ini kan!”Seru gw sambil ngasih kontol gw yang udah konak kedepan muka Sam dan Abi yang masih ada ditempat tidur ”Io!apa apaan sih loe!”Seru Abi keras dengan muka memerah, tapi gw tangepin dengan dingin. Gw langsung rebahan ditempat tidur yang bau air kenikmatan itu ”Udah lah bi!kalo loe gak mau Sam juga mau kan?”kata gw sambil ngedepin mata dan ngocok kontol gw yang udah konak, tanpa berpikir panjang lagi gw langsung nyepong kontol Sam yang ada didepan mata gw dan sam menikmati sepongan gw sambil mintil mintil pentilnya!Abi yang kaget masih aja diem dan langsung bangun dari tempat tidur dan gak tahu dia pergi kemana gw masih asik sama Sam yang kontolnya hampir sama dengan gw hanya Sam lebih gede karena Sam anak Indo Jerman, lagi asik nyepong kontol Sam. Sam ngajak 69 dna gw makin semangat ngelakuin sepongan yang tadi diajarin sama Mas Herri gw rasain kontol Sam mulai ngeluarin percum yang nikmat banget dengan lahap gw jilat semua. Tiba tiba aja Abi dateng dan langsung ngejilatin pantat Sam yang kebetulan diatas gw dengan lahap dan kadang gw sama Abi ciuman juga dan nyepong kontol Sam bareng, jari Abi masuk kedalam pantat Sam ”Aduh…. au… au… enak Bi!trus…agh… sluprs… sluprs….” Abi masih asik cium gw dengan penuh nafsu dan jari jemarinya lagi asik masuk kedalam lobang kenikmatan Sam, Jari abi keluar masuk didalam lobang Sam sampai akhirnya Abi ngejilat lobang Sam sampai becek dan dengan cepat kontol Abi yang cukup gede diantara gw dan Sam masuk kedalam lobang kenikmatan dan Sam menjerit kecil sambil nyepong kontol gw yang ada didalam mulutnya ”Agh… pelan pelan Bi…agh… agh…. !” Seru sam sambil nyepong kontol gw semakin cepat dan gw pun ngelakuin hal yang sama dengan kontol putih milik sam, kontol Abi yang sedang masuk sedang penitrasi dengan lobang Sam saat sudah santai Abi mulai ngentot dengan perlahan lahan dan eluhan sam bikin tambah nafsu gw untuk nyepong dan goyangan dari pantat Abi ke lobang Sam bikin gw pengen nyepong kontol Abi. ”Bi, kontol loe dong !agh… agh… !trus sam sepong trus !!agh… ” seru gw ke Abi, abi yang masih enak ngentot ngeluarin kontol gedenya dari lobang kenikmatan dan langsung gw sepong sekaligus dua kontol gede dan abi narik kontolnya dari mulut gw dan masukin ke kelobang Sam dan sam pun ngerintih tapi itu bikik suasan tambah Hot dan seterusnya Abi, Sam dan gw ngeseks.Abi semakin beringas ngentotnya dan Sam semakin hot nyepongnya keringat yang keluar bikin nafsu untuk terus menikmati permainan seks sejenis ini. “agh…. agh… lebih cepet bi!agh…!”seru Sam sambil terus nyepong kontol gw dengan lahap dan rakus kaya makan es krim. ”sial pantat loe sumpah gokil enak banget!agh…. sempit agh….” kata Abi sambil geplak pantat Sam dengan kasar dan sam semakin cepat nyepong kontol gw dan gw semakin horni banget. ”Sam gw mau keluar ne!agh… agh… terus Sam agh…” ”Sabar Io, gw dikit lagi juga keluar!”kata Abi ”Bareng bareng aja bro gw juga dikit lagi, agh…. enank banget Io mulut loe agh….” Dan sekitar 3 menit, Crot… crot… crot… crot…. air kenikmatan masuk semua kedalam mulut dan tubuh Gw, Sam juga Abi, Sam masih nyepong kontol gw, dia gak mau ngelepasin iar kenikmatan yang jatuh dan gw pun begitu Kontol Abi masih ada didalam Pantat Sam dan dikocok didalam, air kenikmatan Abi keluar dari pantat Sam dan kena kemuka gw dan langsung gw jilat dengan lidah gw dan wao… nikmat banget!Abi langsung narik kontolnya dari pantat sam lalu abi maju kedepan mulut sam untuk disepongin dan Sam pantatnya turun langsung gw jilat pantat yang udah dibobol Abi, air kenimatan keluar dan langsung gw jilat!agh…. nikmatnya. Sampe gw lupa kalo gw lakilaki normal yang sangat menikmati permainan seks sejenis!agh… Setelah puas Gw, Abi dan Sam tidur ditempat tidur yang udah gak tahu lagi seprai juga selimut pada kemana udah acak acakan kamar Abi. Gw tidur dipundak Abi sambil nenen di dada Abi. Sam yang ada ditengan masih asik maenin kontol Abi yang gede dan kontol gw. ”Io, kok loe mau ngelakuin hal ini!” ”Gw gak tahu juga Abi, gw jadi nafsu sejak gw nonton CD yang loe kasih!”Seru gw dan gw langsung cium Abi dengan penuh kasih sayang ”Bi, loe hebat banget!entotan loe hot banget!agh….” ”Pantat loe juga sempit!gw suka sama pantat loe!hunny!” Akhirnya gw, sam, abi tidur dikamar karena cape banget maen Three Some walau gw pemula gw cukup handal.Saat gw sadar dari bangun gw kaget dikamar udah gak ada siapa siapa, pas gw duduk ditepat tidur gw denger ada yang lagi mandi.Gw langsung samperin dan Abi sama Sam lagi asik mandi sambil tiduran di bath up yang gak ada air hanya air pancur yang bikin berisik dan gw langsung nimbrung didalam gw masuk kedalam bath up yang sudah penuh dengan Badan Abi juga Sam. Abi dan Sam lagi asik main 69 didalam Bath up. ”Io, udah bangun loe!sini kontol loe gw mau sepong!” langsung gw kasih kontol gw yang mulai menegang dan disepong sama Abi, gw remes kepala Abi kadang gw cium dia dan sepong kontol Sam. “Io!itu hp loe bunyi!” “udah biarin aja!” “agh…. Agh…. Siapa sih!”terus Bi terus agh….!” ”udah liat dulu aja!”seru Abi, akhirnya gw keluar dari kamar mandi dengan badan yang basah. Hp gw masih bunyi dan pas gw liat no bokap. ”Hallo Pa!Kenapa?” “Kamu dimana Io!” ”Rio lagi ada di depok dirumah temen,kenapa Pa?” ”Oh… kamu bisa pulang sekarang gak soalnya papa sama tamu papa mau sampe kerumah sekitar 2 Jam lagi, sekrang Papa ada dibandara jeput Teman Papa!Kamu bisa beli makanan kecil atau buah!soalnya kata bibi buah kita dirumah abis!” ”Ya bisa pa!” seru gw, tiba tiba Abi dan Sam keluar dari kamar mandi dan langsung ngerayangin gw, Abi ngejilat tubuh gw dan nenen ke dada gw. Sam lagi asil maenin kontol gw. ”Duh…”seru gw karena pantat gw di tusuk pake jari Sam ”Kenapa Io?” ”Agh… gak apa apa Pa, Rio cuman kepentok!” “Ya udah kamu cepet pulangnya!” “Baik Pa!” Kata gw, Abi sama Sam emang gila banget gw lagi nelpon aja masih sempetnya dia make gw!terlebih Sam gokil gw nahan desahan kenikamatan, Abi masih ngulik ngulik pantat gw dengan lidahnya! ”Friend gw harus balik duluan ne!bokpa gw nyuruh gw balik!agh…” ”Tapi gw lagi asik sama pantat loe Io!please baliknya nanti aja, tuh liat Sam lagi nyepong kontol loe!” ”Duh sorry banget ne, coz ada tamu nanti yang dateng kerumah gw dan makan malam bareng!agh… sam udah sam….takut keluar ntar!” ”Agh… biar aja keluar io!” Seru sam yang makin asik nyepong kontol gw tapi karena gw udah ada keperluan gw lepasin kepala Sam dari kontol gw dan Abi dari pantat gw. Langsung gw ambil baju dan celana gw lalu gw pake, tapi pas mau keluar Abi dan Sam udah nunggu di depan pintu dan ngasih ciuman perpisahan. Saat gw turun dari kamar Abi ada Bokapnya lagi nonton TV dan gw sekalian pamit! ”Om… saya pulang dulu!” ”eh… nak Rio, oh iya hati hati!” ”Baik om!” Langsung gw masuk kedalam mobil dan tancap gas ke rumah sebelum balik kerumah gw ke supermarket beli buah dan makanan kecil di depok. ”Hallo Bibi!ini Rio bi!” ”Oh iya kenapa den!” ”Bi, siapin makanannya juga ruang makan, tamu papa sejam lagi mau dateng tolong siapinnya bi!Oh iya jangan lupa kamar tamunya beresen!” ”Baik den, Oh iya Nyonya sudah dateng dari tadi.Aden lagi dimana?” ”Bilang saja sama mama kalo saya masih dalam perjalanan mau kerumah!” ”biak den!” Pas gw dateng Mas herri lagi siap siap buka pintu rumah gw, ”Dari tadi dicariin tuh den!sama nyonya!dari mana sih!” ”ada deh!oh iya papa belum dateng!” ”belum!ya udah gw masuk dulu mau mandi udah bau ne!eh kamar udah bersih belum ?awas loe kalo masih ada kenikmatan didalam kamar gw, entar gw entot sampe gak kuat lagi loe!” ”mau dong di entot sama aden!hehehe, udah beres kok den!wangi lagi!” ”ntar kalo gw udah nafsu gw babat loe!ya udah loe jagain ne mobil!” ”beres” Akhirnya gw masuk kedalam rumah dan nyokap gw udah rapi siap menanti temen bokap yang mau dateng ”Rio, kamu dari mana aja sih!” ”dari rumah temen kok ma!ne ada pesenan dari papa!Tadi Rio abis mampir ke Supermarket!Rio mandi dulunya ya ma udah bau ne!” ”ya udah sana, pakai pakaian yang rapihnya Io!” ”beres Ma!”akata gw sambil naik keatas, sampai gw dikamar. Gw liat kamar gw udah beres, bersih juga wangi dan gw langsung beres beres badan yang udah kotor ngeseks melulu padahal ini seks pertama gw. Didalam rumah Papa udah dateng dengan Temennya, ”Mama ne Pak Setyo Kuncoro, Dia ini Pemilik perkebunan sawit yang terbesar di Kalimantan dan papa lagi ngebahas kerja sama perusahaan kita dengan Pak Setyo ini” ”Hallo, Wah masih muda udah jadi pemilik Perkebunan Kelapa Sawit, yang terbesar lagi!Hebat ya!” ”Duh, Pak Anto Permana ini berlebihan!Pak Anto jangan panggil saya Bapak saya masih 26 tahun kok!jadi panggil saya Setyo saja kan kita tidak lagi dikantor!” ”Ah… bapak bisa aja!ups maff, nak setyo bisa saja!” ”Wah masih muda banget!Saya kagum dengan Nak setyo ini semoga aja anak kita bisa kaya nak setyo ini ya Pa!” ”Iya ma,Oh iya Rio dimana Ma?” ”Rio lagi dikamar lagi siap siap!” ”Oh… Nak setyo mari saya kasih tahu kamar tidurnya dan silahkan beres beres dulu biar kami persiapkan jamuan makan malam dulu!” ”Oh iya pak!Terima kasih, mari bu!” ”iya Nak setyo!” Setelah gw selesai mandi dan berpakaian gw langsung turun, saat turun gw liat cowok ganteng, putih, tinggi, rambutnya mohak orang kerja gtu rapi banget mukanya rada rada mirip Evan Saders VJ MTV itu badanya juga mirip Evan gila Hot mampus.Gw langsung tanya dia siapa takutnya temen kerja papa, tapi kok masih muda banget takut salah gw. ”Maaf mas!Mas ini siapanya?” ”Oh… nama saya Setyo!egh… kamu anak Pak Antonya!” ”Oh iya mas saya anak Pak Anto, mas ini temen papa!” ”Iya!” Tiba tiba bokap dateng dan langsung ngenalin gw ke Mas Setyo, ”Rio!Ne temen Papa namanya…!” ”Mas Setyo kan Pa !” ”Loh kok mau tahu!” ”Iya lah tadi aku udah kenalan sama Mas Setyo!” ”hahahahaha……” semua tertawa.Gw, Nyokap, Bokap dan Mas Setyo langsung ke arah ruang makan. ”Nak Setyo mari kita makan, pasti sudah lapar kan dari Kalimatan jauh!” ”Agh… Ibu bisa aja!” ”Oh iya Io, Mas Setyo ini Pemilik Perkebunan Kelapa Sawit yang terbesar di Kalimantan loh!Hebat kan Mas Setyo!” ”Wah… hebat banget!” ”Agh… Bapak ini muji saya terus, saya jadi malu pak.Toh Perkebunan itu kan juga yang punya Papa saya, saya cuman nerusin saja pak!” ”Tapi hebat loh mas!” ”Ya sudah, ngobrolnya nanti saja setelah kita makan dulu. Kasihan Mas Setyonya udah laper tuh!” Akhirnya keluarga gw dan Mas Setyo makan malam bersama, setelah makan malam Papa,Mama dan Mas Setyo ngobrol tentang masalah bisnis walau santai mereka sangat profesional. Gw jadi kagum dengan cara Nyokap dan Bokap gw dalam bisnis makanya gw mau jadi kaya mereka bisnis men!Cukup lama juga mama, papa ngobrol dengan Mas Setyo. Kira kira saat jam 10 malam obrolan mereka selesai mungkin harus istirahat karena Mas setyo harus rapat dengan rekan rekan Papa dikantor untuk ngebahas masalah proyek. ”Rio, kamu belum tidur!Jangan tidur malem malemnya!” seru nyokap ke gw sambil menuju kamar tidurnya bersama Papa ”Oke ma!Pa” ”Nak Setyo sudah malam, kami tidur duluan!Mari selamat malam!” ”Oh… iya pak!” seru mas Setyo sambil melangkah ke arah gw yang lagi asik nonton Box Office di TV ”Rio, udah kelas berapa sekarang?” ”Saya kelas 3 SMU mas!” seru gw sambil serius nonton tv ”Oh… jurusan apa?” ”IPS mas!” ”Nanti mau ngambil jurusan apa dikuliah nanti,Trus mau kuliah dimana?” ”Mau ngambil Ekonomi, Bisnis Manajemen!Paling mama suruh aku masuk UI biasa lah mas kalo orang tua pengennya masuk yang bonafit gtu kalo kuliah!”kata gw sambil natap mas setyo yang duduk diatas kursi ”bagus lah kalo gtu!” ”Oh iya mas, mas dulu kuliah dimana?” ”Mas dulu kuliah di UI juga jurusan sama kaya kamu nanti!” ”wah bisa bantu saya dong mas!”Kata gw semangat sampai gw duduk disamping dia, Mas setyo orangnya cool banget, seru, pinter juga frendly banget terlebih dia ganteng dan aroma parfumnya itu bikin gw mau nyepong kontolnya!Udah pake baju dan celana jeans yang pas di badan, keliatan semua otot atletis Mas setyo bikin gw nafsu banget. Untung aja gw masih inget kalo dia orang penting dan gak mungkin kalo di homo atau gay, gila aja punya perusahaan besar gtu!Tapi itu gak bikin masalah kali aja mas Setyo Biseks.amin ”Mas hanya kuliah di UI aja?” ”Gak, setelah selesai S1 Mas setyo langsung ngambil S2 di UI lagi!” “wah Mas Setyo pinter!Mas jadi lama di Jakarta dan Depok juganya?” ”Iyalah, Setelah ngambil S2 baru megang perusahan papa!” ”Wah hebat banget!”seru gw kagum dengan apa yang didapat oleh Mas Setyo ”Mas bisa gaknya saya kaya Mas!” ”Bisa

Memberikan sinyal rangsangan seksual kepada sesama lelaki merupakan kenikmatan dan kebahagiaan tersendiri bagi seorang homo tulen bin sejati seperti diriku. Tak perduli apakah rangasangan seksual tersebut menjelma menjadi permainan entot mengentot atau hanya cukup menyebabkan kontol penerima sinyal menjadi ngaceng berat, hal itu tak menjadi persoalan karena untuk selanjutnya toh pengalaman tersebut akan menambah perbendaharaan fantasiku ketika aku ngloco sendiri maupun ngloco bareng dan akan menambah dahsyatnya muncratan pejuhku. Sinyal rangsangan seksual tersebut akan sangat cepat ditanggapi bila kita berhadapan dengan kelompok lelaki muda usia, pre adolescent, dimana produksi hormon lelaki jantan melimpah ruah setiap hari sedangkan saluran pelampiasannya terbatas karena norma yang berlaku dimasyarakat maupun keterbatasan dana sehingga akses untuk ngentotin memek menjadi terbatas pula. Pagi buta di KRL menuju Jakarta merupakan titik kumpulan gerombolan lelaki muda usia yang menjadi penglaju, commuter, pencari sesuap nasi di belantara ibukota maupun dengan alasan lain seperti sekolah, pekerja kasar dan lain lainnya. Aku ikut dalam arus penglaju tersebut, hari itu aku memakai slack kaos ketat low hang sehingga celah pantatku mengintip keluar, tanpa CD tentunya, baju putih kancing atas terbuka tiga buah karena anak kancingnya hilang entah kemana tipis transparant sehingga pentilku yang merah jambu tercetak samar dibalik baju dan sesekali mengintip keluar dari pinggir baju yang terbuka. Bertatapan mata dengan sekelompok anak muda yang memperhatikan penampilanku yang agak seronok, aku tersenyum sambil mengelus kontolku yang tercetak tegas di celana slack ketat yang aku pakai, mereka tidak menunjukkan tanda penolakan terhadap isyaratku… aku lanjutkan dengan beberapa kali mengusap pentil merah jambu yang tampak samar dibalik baju putih transparan yang aku pakai, mereka masih saja mencuri pandang terhadap aksiku dan masih juga tidak menunjukkan tanda penolakan. Berdesakan dipinggir peron menunggu tibanya KRL, disekitarku beberapa anak sekolah teknik yang terkenal badung, sambil merokok bercanda sesamanya terkadang saling dorong atau saling tarik seakan tidak ada persoalan dengan sekitar, memakai seragam sekolah dengan back pack, baju putih dan celana abu abu ketat kepaha mereka yang relatif kekar. Aku merapat kekelompok anak muda tersebut, sedemikan berdesakan di peron sehingga terkadang kontolku dengan mudah aku gesek gesekkan ke daging buah pantat yang masih kencang dan terkadang daging buah pantatku pula yang tergesek gesek kontol anak muda tersebut, aku ngaceng didalam celana slack kaos sehingga tonjolan kontolku membentuk tenda dan kontol anak muda tersebut juga terasa mengeras didalam celana seragamnya yang ketat, maklumlah hari masih sangat pagi matahari belum keluar dan biasanya kontol lelaki muda belia sedang keras kerasnya ngaceng berat pada saat itu. “Ngentot ah, Gue ngaceng berat neh” kata anak muda dibelakangku kepada teman disebelahnya “Gue juga, tadi nggak sempat ngloco” jawab temannya “Hmm…” aku tersenyum mesum KRL tiba diperon segera diserbu calon penumpang yang sudak nggak sabaran menunggu dari tadi, sradak sruduk sradak sruduk akhirnya KRL dalam sekejap penuh bahkan sampai keatas atap gerbong. Penuh sesak dengan berbagai rupa manusia dan berbagai rupa keperluan untuk segera ke Jakarta, panas berkeringat berdesakan dan aku tak dapat tempat duduk berdiri di gang berdesakan dan masih diantara kumpulan anak muda tadi. Kembali lobang pantatku disodok kontol dan aku respons dengan sedikit geolan pada pantatku, sebuah isyarat seksual, akh… sementara kontol ngacengku semakin ngaceng menyodok sela paha anak muda didepanku, dia diam saja. Sementara dua orang teman mereka duduk dipegangan tangan pada kursi gerbong mengapit kami yang berdiri dan mata tak berkedip mulut sedikit ternganga tonjolan kontol mereka juga segera membesar memandang aktifitas erotik kami persis didepan mata mereka, penumpang lain dalam gerbong tersebut larut dalam kesibukannya masing masing, ada yang kembali berusaha memejamkan mata sejenak sebelum tiba di Jakarta, ada yang membaca koran pagi yang udah lecek akibat desak desakan tadi, ada juga yang memandang hampa keluar jendela gerbong atau ada juga yang heboh sendiri menata kembali barang bawaan maupun barang dagangannya karena habis brantakan. KRL mulai bergerak lambat menuju Jakarta, udara di dalam gerbong mulai terasa mengalir walaupun masih panas oleh hawa manusia yang berjubel. Kembali terasa pepetan anak muda dibelakangku, kontolnya terasa semakin mengeras didalam celana seragamnya, aku goyangkan sedikit pantatku yang disodok olehnya, geol dan tangannya mulai meraba daging buah pantatku dan tangan anak muda yang sela pahanya aku jejelin kontolku mengelus kepala kontolku yang merekah sambil mengelus kontolnya sendiri. Laju KRL semakin kencang bergoyang kekanan kekiri berirama, suara celoteh penumpang masih saja ramai didalam gerbong sementara hunjaman tonjolan kontol anak muda di lobang pantatku semakin liar juga dan desahan nafasnya terasa dekat sekali mendengus dengus di belakang kupingku. “Hhh… sshhh… hhh… sshhh” “Mmm…” aku menggumam menikmati sentuhannya “Pantat loe kenyal bangeth… hhh… sshhh” “Mmm…” aku masih menggumam “Locoin kontol gue ye ampe mancrut.. sshhh” “Mmm…” gumamku Tanganku kebelakang merayap kearah tonjolan kontolnya dan membuka ritsleting celana seragam dan ploph! kontol anak muda sedang naik birahi melompat tegak ngaceng keluar dari sarangnya, aku elus mesra kepala kontolnya yang merekah membesar kaya helm Nazi, aku genggam gemes batang kontol yang berdenyut denyut, menjalar kearah jembutnya yang tipis baru tumbuh dan ke biji pelernya yang gede yang masih tersimpan didalam celananya. Dia semakin mendekatkan tubuhnya sehingga tonjolan kenyal otot dadanya bersentuhan dengan punggungku, masih mengikuti irama goyangan gerbong KRL kekanan kekiri kontolnya aku masukkan kecelah daging buah pantatku dan keluar masuk penuh nafsu kontol ngaceng keras milik lelaki muda belia menonjok nonjok celah pantatku sampai crroooth… crroooth… crroooth… arrgghhh… dia menumpahkan pejuhnya yang banyak kental anget membasahi bagian celah pantat celana slackku. Sementara anak muda yang sela pahanya menjepit lepas kontolku sambil mengusap usap kedua kontol, kontolku dan kontolnya kini berbalik arah menghadapku dengan kontolnya sudah tegang memerah berkilat keluar dari celana seragamnya dan tangannya meloco kontol yang membara itu, tanganku mengusap memilin pentilnya yang melenting menonjol tercetak dibaju seragamnya yang basah berkeringat crroooth… crroooth… crroooth… shhh… ohh kembali pejuh kental anget membasahi bagian depan celana slackku, kedua temannya yang duduk di pegangan tangan kursi KRL juga terangsang berat dari tadi melihat permainan kami bertiga didalam gerbong KRL tersebut, terbukti tampak noda pre cum diujung tonjolan kontol di celana abu abu mereka, keduanya juga segera mengeluarkan kontol mereka sambil mengerang perlahan kedua kontol itu memuncratkan pejuhnya juga kearah sisi kiri dan sisi kanan celana slackku hingga depan belakang kiri kanan celanaku berlumuran pejuh anak muda siswa sekolah teknik dipagi hari didalam gerbong KRL. Kereta mulai perlahan memasuki stasiun, mereka turun sambil tertawa tawa melihat diriku yang berlumuran pejuh masih ngaceng berat belum sempat muncrat, tapi aku tak perduli karena aku telah merasa berbahagia penuh kenikmatan dapat memuaskan lelaki muda pada hari itu dan yang lebih penting lagi sensasi tonjokan gesekan dan lelehan pejuh kontol mereka dan desahan erotik yang terbangkit oleh karenanya terekam dengan baik didalam memori perbendaharaan fantasiku. Di bawah tatapan aneh mata kondektur KRL aku turun di pemberhentian stasiun berikut dengan kontol masih ngaceng dan celana berlumuran pejuh… arrggh, ngloco dulu ah!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.