Ketika aku masih kelas satu SMP, dan masih tinggal dengan orang tuaku, aku sekolah seperti biasa dan mempunya kawan sepermainan yang akrab, walaupu pada waktu itu aku merasakan ada getar-getar yang aneh dalam diriku untuk memperlakukan kawanku lebih hanya sekedar kawan, namum aku tidak bisa mengekspresikan arti dari perasaan itu apa, dan aku harus berbuat apa, aku sendiri tidak mengetahui. Kami berkawan secara wajar, walaupun dia sering menginap dirumahku, mandi bersama, makan bersama dan tidur bersama tapi tidak sampai melangkah lebih jauh, hanya kalau mandi kita saling membandingkan milik kami masing-masing, dan mengatakan kalau lagi berdiri seberapa sih dan sebagainya, tapi tidak ada niat untuk melangkah lebih dari itu.

Sampai suatu hari aku mengenak kakak kelasku yang bernama Jono, walaupun dia bukan satu sekolah denganku, akan tetapi karena dia sudah kelas tiga SMP, maka ku anggap dia adalah kakak kelasku dan aku mengenal dia karena dia adalah keponakan dari Pak Karto, orang yang sering dimintai tolong oleh keluargaku untuk membereskan atau membetulkan rumah yang kadang bocor pada waktu hujan, mengapur dinding, membersihkan selokan dan sebagainya. Mulanya sih biasa saja ketika untuk pertama kalinya Jono datang kerumahku bersama dengan pamannya, dan mengerjakan pekerjaan yang sudah diorder oleh ibuku, karena biasanya Pak Karta kalau datang pasti berdua dengan temannya yang bernama Pak Suroso, karena hari itu Pak Suroso berhalangan sehingga Pak Karto mengajak keponakannya yang bernama Jono itu untuk membantunya dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah dua tiga kali Jono ikut membantu Pak Karto, akhirnya aku mengenal dia dan mulai ngobrol bersama disaat sedang istirahat siang, sampai akhirnya Jono sering main kerumahku walaupun tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakannya, itung-itung dia menyelam sambil minum air, kalau ada pekerjaan ringan yang harus dikerjakan, ya dia kerjakan sendiri, akan tetapi kalau tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan ya dia bermain-main denganku, mulai dari ngobrol, dengar radio bersama, sampai baca buku komik dan sebagainya.

Sampai suatu siang ketika suasana rumah dalam keadaan sepi, dan hanya kami berdua yang ada dirumah, dan pada waktu itu Jono juga mengenakan celana kolor (celana olah raga SMP) saja tanpa celana dalam, iseng-iseng aku menyentuhnya sambil melorotkan celananya hampir separohnya sehingga kelihatan bulu jembutnya yang sudah rimbun, walaupun punyaku juga ada, akan tetapi tidak selebat Jono. Dan rupanya dia mempertahankan dengan gigihnya sampai terjadi kerjar-kejaran didalam rumah, karena mungkin itu juga merupakan pengalaman pertama kontolnya dipegang oleh orang lain, akhirnya dia sambil berlarian didalam rumah dan kulihat kontolnya dalam keadaan ngaceng sehingga membentuk tenda dicelana kolornya itu, karena aku terus mengejarnya, akhirnya dia menyerah dan sambil telentang dilantai akhirnya bisa juga kupelorot celana kolornya dan segera kupermainkan kontolnya yang ngaceng itu, kuelus, kugosok dan kukocok sampai dia terangsang, akhirnya dia tak tahan dan segera lari kekamar mandi dan kuiikuti dari belakang, kemudian dia segera melorot celana kolornya dan segera mengocoknya sendiri sampai keluar pejuhnya. Dan kejadian dikamar mandi itu berakhir dengan biasa-biasa saja. Sampai dia pulang menjelang sore dan aku tinggal seorang diri dirumah, sedangkan aku sendiri yang pada waktu itu belum mengenal apa yang disebut dengan onani, akhirnya jadi mengetahui kalau kontol yang ngaceng itu dikocok terus akan menyemburkan pejuh. Aku masuk kedalam kamarku dan kulepas semua pakaianku dan aku mulai merangsang diriku sendiri sampai kontolku benar-benar tegang, kemudian kukucok pelan-pelan dan aku mendapatkan rasa kenikmatan, akhirnya kukocok lebih keras lagi dan lebih cepat lagi sampai kurasakan ada sesuatu yang mau keluar dari kontolku, kucoba untuk kutahan agar tidak keluar dengan cara kuhentikan kocokanku itu, akan tetapi rasa nikmat itu lebih mendorongku untuk makin mempercepat kocokanku sehingga akhirnya cret- cret- cret dan menyemburlah pejuhku hingga kemana-mana, ada yang didadaku, diperutku dan ada juga yang nyiprat sampai kehidungku bahkan sprei tempat tidurku penuh dengan bercak-bercak basah disana-sini. Sejak kejadian itu aku jadi ketagihan untuk melakukan onani hampir setiap pagi sebelum bangun tidur dan kadangkala siang hari sepulang sekolah aku melakukannya lagi, bahkan ketika mandi sorepun kadang aku melakukannya lagi.

Sedangkan Jono yang sering main kerumahku, selalu kami berusaha untuk mencari kesempatan untuk saling mengocok kontol kami masing-masing, mulai dikamar kosong, digudang dan pernah juga diatas atap rumah dibawah genteng ketika dia dapat tugas untuk membetulkan genteng yang pecah, akupun juga ikut-ikutan naik bukan untuk membantunya akan tetapi untuk iseng memegang kontolnya, kalau dia lagi mood ya terjadilah dimanapun juga.

Pada suatu sore, kami nonton film barengan, dan pada salah satu adegan film tersebut ada orang yang sedang bergumul dalam keadaan telanjang walaupu tidak kelihatan seluruh badan akan tetapi hanya sebatas pinggang saja, membuat kontolnya ngaceng ketika kuraba didalam gedung itu, dan dia membisikkan ketelingaku

Aku pengin kayak yang di film itu” katanya Aku diam saja sambil tanganku terus mengelus-elus kontolnya sampai dia berkata “Jangan sekarang, nanti keluar dicelana, sebabnya aku udah terangsang nih” katanya lagi

Aku menarik tanganku dan kami mengikuti cerita film selanjutnya sampai film berakhir tidak ada yang kami lakukan, kami pulang kerumahku dan seperti biasa kami mencari kesempatan untuk bisa saling mengocok, kalau biasanya kami duduk berdampingan dalam keadaan telanjang sambil mengocok kontol lawannya, namun dari pengalaman nonton film tersebut, kami mulai melakukan persetubuhan dengan cara aku ditindih oleh Jono sambil mengesek-gesekan kontolnya yang beradu dengan kontolku, kemudian dia segera merubah gerakannya dengan aku yang diatas, sambil mendesis dia mengatakan agar aku menciuminya. Dan itu kulakukan untuk yang pertama kalinya aku menciumi bibirnya, pipinya, kemudian putingnya dan dia makin mendesis hingga dia mengatakan

“Isep dong, kontolku” pintanya

Walaupun aku belum pernah melakukannya, akan tetapi kucoba juga, ketika pertama kali kontolnya masuk kemulutku, ada rasa asin, anyir dan bau selakangan seperti baunya selakanganku yang sering kucium juga baunya.

Rasanya aneh, jijik dan sebagainya sampai akhirnya aku terbiasa dengan kontol didalam mulutku dan segera kumasuk keluarkan kontolnya dan tidak berapa lama kurasakan ketegangan kontolnya meningkat yang berarti dia sudah mulai mencapai puncaknya, kemudian segera kukeluarkan dari mulutku dan ketika sudah keluar dari mulutku, pada waktu masih didekat pipiku kurasan semburan pejuhnya sehingga pipiku kena pejuhnya. Dalam hati aku berkata “Untung nggak keluar didalam mulut”

Sejak kejadian itu setiap kali kami bertemu selalu melakukan kontak sex dengan berbagai cara, dan saling mencumbu, saling menghisap dan bahkan yang pertama kali memasuki lubangku yang masih perawan itu juga Jono.

Dari bulan kebulan dan dari tahun berganti tahun setelah dia lulus dari SMU,dia coba-coba untuk mencari pekerjaan di Jakarta, nggak tahu dia bekerja dimana, akan tetapi bila dia pulang kerumah, dia pasti mampir kerumahku dan selalu mengulang saat-saat indah itu setiap kali ada kesempatan untuk melakukannya. Terakhir kali kudenganr dia telah menikah dengan seseorang dan telah mempunyai dua orang anak, ketika aku beberapa kali berjumpa dengannya setelah dia menikah, kamipun masih sering melakukannya, sehingga dia pernah berkata

“Eh koq kamu masih seneng ya sama kontolku, padahal sudah jadi dua anak dan setiap kali kupakai sama istriku”

“Ya nggak masalah, asal masih bisa nyemburkan pejuh dan kamu juga menikmatinya, khan ?” jawabku

Dia tidak menjawab, akan tetapi hanya tersenyum penuh arti sambil mengelus bahuku yang ada dipangkuannya karena aku sedang menghisap kontolnya, dan perlu diketahui bahwa dia hanya mau melakukan semuanya ini hanya denganku saja, sedangkan dengan orang lain dia selalu straight dan nggak pernah macam-macam, karena pernah aku sekali kemess tempat dia bekerja, ternyata satu kamar ditempati oleh empat orang yang semuanya cowok dan aku sempat merasa cemburu juga, tapi dia bilang

“Memangnya aku sudah gila, melakukan seperti itu”

Pernah suatu hari aku pergi ke mess tempatnya dia bekerja dan ketika aku datang teman-temannya sedang ada didalam kamar semua, sehingga aku nggak bisa berbuat banyak, tapi mungkin teman-temannya mengerti atau merasa nggak enak sendiri karena pada saat aku datang diam saja nggak berbicara banyak, sehingga satu persatu meninggalkan kamar itu entah kemana. Dan tinggallah aku berdua dengan Jono, dan kesempatan itu aku pergunakan untuk segera mengelus-elus kontolnya sampai tegak dan pada waktu itu dia hanya pakai celana pendek saja, pada saat itu aku punya inisiatif untuk menutup pintu kamar, akan tetapi dia mencegahnya.

“Nggak usah ditutup, nanti mereka malah curiga” katanya

Pada waktu aku mau membuka retsleting celananya, dia juga mencegahnya katanya

“Kalau buka celana nanti sulit nutupnya kalau ada yang masuk”

“Terus gimana caranya” tanyaku

“Lewat lubang kaki aja” jawabnya

Kemudian segera dia mengeluarkan kontolnya lewat lubang kaki, karena kebetulan celananya agak gombor kemudian diambilnya bantal dan ditutupkannya diatas pahanya karena posisinya pada waktu itu duduk sambil selonjor, kemudian aku segera rebah dipangkuannya sambil menghisap kontolnya yang sudah tegang itu dan tidak berapa lama kemudian nyemburlah pejuhnya dalam mulutku dan segera kutelan semuanya. Tidak berapa lama kemudian setelah kutelan pejuhnya ada kawannya yang nyelonong masuk, akan tetapi semuanya sudah berakhir dan tidak seorangpun mengetahuinya apa yang telah kami lakukan, beberapa saat kemudian akupun mohon pamit padanya dan baru kali itu aku bermain dalam suasana yang tidak tenang dan penuh dengan rasa was-was serta takut kalau ketahuan orang.

Dan kali terakhir aku berjumpa dengannya dan melakukan isep-isepan adalah diruang tamu rumahnya yang pada siang itu dalam keadaan sepi. Dan sejak saat itu kami tidak pernah berjumpa karena kami mempunyai kesibukan dan kegiatan sendiri-sendiri yang waktunya selalu tidak pernah bisa bersamaan.

Itulah yang menjadikan pengalaman pertamaku mengocok kontolku sendiri, menghisap kontol, dan dimasuki lubangku oleh Jono kakak kelasku pada waktu masih di SMP.