Latest Entries »

Bus Sex Way

Kala itu saya pergi menggunakan Busway. Tak tahu kenapa sangat sepi, mungkin karena ini terlalu pagi. Saat aku naik hanya 2 kernet busway dan 1 penumpang yang seumuran denganku, ku dekati dia dan kami saling berkenalan, namanya adalah Prima, aku sudah horny sejak pertama kali mengobrol dengannya.

Lu tadi nyoli kagak di rumah? tanya prima

gw udah lama kgk nyoli neeh. jawabku

oo00o o, pantesan lu nganceng terus dari tadi, emang lu mau? tanggapnya

Mau apaan? aku bertanya karena bingung

Mau nyooli laah. jawabnya

Nggak gw g mau nyoli gw cuma mau disodom sama lo. ungkapku

Ya udah, gw juga mau tapi masa disini. ujarnya

Udah gpp mereka berdua cowok kan. jawabnya santai

Akhirnya kami saling berciuman sambil aku melepaskan kemeja yang melekat di tubuh prima. Setelah lama berciuman aku meraba – raba tubuhnya sambil ia mengocok batang kontolnya sendiri. kedua kernet belum menyadari atau kami yang belum menyadari. Prima melepaskan seluruh celananya dan muncullah titit perkasa yang tertanam dibalik rambut lebat tersebut. Kumulai melakukan blowjob dia terengah karena nikmat.

Ternyata kedua kernet dan supir sudah meminggirkan busnya daritadi karena mereka onani melihat kami. mereka bertiga mendekati kami. Ternyata nama mereka adalah agus, safar dan raga. Mereka bertiga melepaskan seluruh pakaian yang digunakan. Mas agus dikulum oleh mas raga, mas safar mengemut” kontol mas raga, Prima asyik bermain dengan kontol mas safar, aku sibuk mengurusi kontol Prima. Sesi sodomi dimulai, Mas agus dan mas raga sudah siap dengan posisi masing”, Mas agus mengatur posisi kontolnya agar pas masuk ke dalam lobang pantat mas raga. Mas Raga teriak dengan histeris karena sangat sakit, selagi mas raga dan mas agus sedang sodomi, Mas safar dan Prima memasang posisi masing”, Kontol Prima masuk ke dalam anus Mas safar. Bagaimana denganku, aku nganggur tak ada pekerjaan, akhirnya aku memutuskan untuk menciumi Mas Raga dan Mas Safar beserta tubuh dan kontolnya. Mereka berganti posisi Mas Agus yang kontolnya masih berlumuran pejuh disodomi oleh Mas Raga dengan sadisnya sehingga membuat Mas Agus berteriak sangat keras. Prima yang sebelumnya tidak pernah disodomi akhirnya perjakanya hilang setelah Mas Safar memulai memaju mundurkan kontolnya di lubang pantat Prima. Prima berteriak sangat keras karena beru pertama kali. Tugasku seperti biasa menciumi Prima, badan, ketiak, dan mengulum kontolnya yang berhiaskan mani, begitu juga Mas agus kuciumi bibirnya, badan, kontolnya yang berlumuran pejuh kukulum juga. Aku disuruh mereka membersihkan sperma yang terpancar dari lubang anus mereka. Dengan posisi duduk aku diperkosa oleh Prima dan saling berciuman Croooot Croooot terasa kehangatan pejuh Prima di anusku. Posisi tidur kami lakukan, aku dengan Mas Safar sambil saling berciuman agar aku tak berteriak keras. Mas Raga terlentang dihadapanku menyuruhku membersihkan pejuh yang masih melapisi titinya, lalu aku diatasnya dan masuklah kontol mas raga dengan posisi terlentang, disini aku yang memegang kekuasaan aku yang mengatur kecepatan sodominya aku naik turun dan sedikit bergoyang memutar agar lebih geli” lagi. Selanjutnya posisi sodom yang aku dan Mas Agus lakukan ialah Doggy Style, Ia menyodomku dengan cepat, aku berteriak keenakan. Akhirnya mulutku disumbat oleh kontol Prima, Mas Raga, Mas Safar secara bergantian. Terakhir mereka mengelilingiku dan aku tidur terlentang, mereka mengocok batang kontol mereka sambil saling berciuman, Cooooooooot Crooooot air pejuh mereka keluarkan di badan mereka dan beberapa ada yang jatuh di wajahku. Mereka bermandikan pejuh, dan aku disuruh mereka menjilati mereka sampai bersih dari ujung rambut sampai unjung kontol pertama Prima lalu Mas Agus, selanjutnya Mas Raga dan terakhir Mas Safar. Kami memakai pakaian lagi. dan melanjutkan perjalanan setelah terhenti 2 jam.

 

Pagi-pagi Tante Ida menelpon dari Jakarta :”Man, anak lelaki sahabat Tante di Denver nanti mendarat jam 11 siang, mau liburan di Bali, maaf ya ! dadakan ! Tante sibuk, lupa kasih tau, nanti sekalian ke kantor, Tante transfer ke rekening BCA kamu buat uang pegangan……” dan seterusnya…..ia memborong bicara, padahal aku masih ngantuk ! bayangkan aku baru tidur jam 2 dan jam 6 pagi Tante saya sudah telpon, lagi pula jadwal saya hari itu sudah padat. Inti pembicaraannya ; Tante saya sewaktu sekolah di New York punya sahabat Jepang yang menikah dengan pria Yunani tapi warga negara Amerika Serikat. Anaknya itu sekarang sudah berumur 18 tahun dan mau berlibur di Bali sendirian dan aku harus menjemputnya. Saya sempat bertanya pada Tante Ida :”Orangnya kayak apa Tante ?” jawaban Tante Ida semakin membuat jengkel :”Ya gitu deh, lucu…..peranakan Jepang Amerika, matanya sipit, terakhir ketemu dia waktu umur 10 tahun, mungkin kayak Richard Geere, tulis aja namanya dipapan biar dia nyamperin kamu !”

Jam 10 pagi saya berangkat ke Airport, dari di Ubud ke Ngurah Rai hanya satu jam, waktu itu masih ada penerbangan langsung Jkt-Dps-Hon-Lax pp dengan Garuda. Saya membayangkan duduk di pesawat nonstop dari Denver ke Denpasar selama 24 jam bisa membuat pantat mau lepas. Sambil menyetir saya berpikir menjadwal ulang janji-janji hari itu, yang jelas jadwal saya kacau balau.Dalam hati saya menyumpah-nyumpah, setiba di Airport saya menulis nama ‘Alexandre Niarchos’ di atas karton tebal. Jam 11.30 seharusnya pesawat mendarat, tetapi ada pengumuman pesawat Garuda dari Los Angeles terlambat satu jam, setelah satu jam pengumuman lagi, pesawat Garuda tersebut terlambat lagi 20 menit, setelah itu pengumuman lagi pesawat Garuda akan tiba jam 14.20 ! Betapa jengkel hati saya, sudah bikin jadwal saya berantakan, sekarang terlambat mendarat, jadwal saya semakin nggak karu-karuan. Makan siang saja sudah nggak sempat. Perut saya keroncongan, membingungkan, mau ditinggal makan sebentar lagi datang. Saya memandang karton tebal bertulis nama Alexandre Niarchos dengan kesal saya balik karton tersebut, dibelakangnya saya tulis nama ‘Gandhi’

Jam 14.30 barulah pesawat Garuda keparat itu mendarat, saya sudah malas berdiri di depan pintu menunggu tamu yang saya jemput, saya duduk minum coca cola dan merokok di sekitar gerbang penjemputan, tapi papan nama dari karton sengaja saya geletakan dengan tulisan Alexandre Niarchos di samping saya. Kira-kira 40 menit kemudian ada seorang anak bule menghampiri saya. Aje gile…mukanya memang benar persis Richard Geere waktu muda, malah lebih ganteng ! hanya rambutnya hitam legam, badannya meski atletis hanya setinggi saya juga, paling-paling 1.67 cm. Anak itu menunjuk namanya di atas papan karton, wajahnya kelihatan lega. “Saya Alexandre !” kata si bule itu. Saya pura-pura acuh dan membalik papan karton itu : “Saya menjemput ini….. Gandhi !” kata saya. (semua percakapan dalam bahasa Inggris). Bule itu kelihatan heran dan kecewa :”Tapi itu nama saya, Alexandre Niarchos ! kamu dapat papan ini dari mana ?” tanya bule itu dengan nada sedih. Saya menjawab :” Dari situ, di atas kursi” tangan saya asal menunjuk. Anak bule itu lantas pergi mencari-cari wartel, sepertinya dia menelpon Tante saya di Jakarta. Tak lama ia keluar dari wartel dan melewati saya menuju pintu penjemputan, ia berdiri lama di sana. Kemudian ia balik lagi masuk wartel dan kemudian mendatangi saya lagi “Kamu lihat nggak orang yang bawa papan tadi ?” ia bertanya, saya memandangnya seolah tanpa dosa :”Nggak, nggak liat, memang ada apa ? penjemputmu nggak datang ya ?” Bule itu menarik nafas panjang, kemudian ia duduk di sebelah saya “Ya, seharusnya ada yang menjemput, tapi pesawat Garuda terlambat, pasti dia sudah pulang ! tai..tai…sialan !” gerutunya. Saya pura-pura baik hati dan bertanya : ”Memang yang menjemput kamu tinggal di mana ? mungkin bisa saya antarkan !” Anak bule itu memandang saya dengan curiga lantas ia menjawab agak ketus :”Penjemput saya tinggal di Ubud, saya ada alamatnya, kalau dia tidak muncul sampai jam 17.00 saya musti ke sana, yang jelas bukan dengan kamu, karena saya tidak kenal kamu siapa !”

Sejujurnya saya masih menyimpan rasa jengkel, jadwal kacau, nunggu kelamaan dan kelaparan, tapi melihat anak bule ini mukanya ganteng-lucu jadi timbul rasa ingin balas dendam kejengkelan saya sekaligus timbul rasa kasihan. Setelah mendengar kata-katanya saya bilang begini :”Saya rasa saat ini kamu hanya kenal saya, apa kamu sudah kenal sopir taxi di sini ? kebetulan orang yang saya jemput juga nggak datang dan saya harus ke Ubud, kalau mau saya antar gratis, daripada bayar 100 ribu !” lantas saya diam saja seolah-olah tidak perduli dengan dia.

Jam 17.00 tepat anak itu kembali ke wartel, lantas ia keluar dan menghampiri taxi Bandara, tak lama kemudian ia mendatangi saya “Musti bayar kamu berapa untuk antar saya ke Ubud ?” ia bertanya, saya hanya menatapnya “Mau bayar boleh, nggak bayar juga boleh, sudahlah saya mau pergi sekarang, mau ikut silahkan, nggak mau ya nggak apa-apa !” jawab saya sambil ngeloyor. Baru 5 langkah berjalan anak itu mengejar saya dengan bawaannya. “Ya, saya ikut, tolong antar ! saya kasih kamu isi bensin 10 liter, tapi belinya sama-sama !” ia berseru dari belakang. Sampai di mobil, ia memasukkan barangnya dan duduk di kursi belakang, dalam hati saya “kurang ajar betul anak ini, liat cara saya membalas dendam !” Saya duduk sendirian di depan sambil menyetir, bule muda itu memandang indahnya daerah Tuban dari jendela belakang. Saya tidak langsung ke Ubud, tapi saya pergi ke Warung Made di Seminyak, langsung parkir, si bule muda pikir sudah sampai di Ubud, jadi ia ikut turun, semua barangnya diangkut. Dengan tenang saya masuk dan duduk memesan makanan dan minuman, si bule kelihatan bicara dengan seseorang di kasir, tak lama ia mendatangi saya :”Eh, ini bukan Ubud, katanya masih jauh, ngapain kita di sini ?” katanya dengan nada marah, saya memandangnya “Saya kelaparan nunggu tamu saya berjam-jam nggak sempat makan, duduk saja kita makan dulu, setelah itu baru ke Ubud !” Tiada pilihan baginya selain ikut duduk dan ikut makan, suasana Warung Made yang nyaman dan menyenangkan terlebih dengan tamu-tamu yang wajahnya ramah dan baik-baik membuat bule muda ini ikut nyaman. Ia mulai memperkenalkan dirinya :”Eh…nama saya sudah tau khan ? yang di papan nama tadi, Alexandre Niarchos….panggil Alex, namamu siapa ? dan nanti yang bayar ini semua siapa ? saya bayar makanan saya sendiri ya !” katanya terus terang. Saya mengulurkan tangan :”Nama saya Herman, kamu asal dari mana ?” tanya saya. Alex memandang mata saya :”Kenapa muka saya aneh ? saya asalnya dari Denver tapi saya kuliah di Purdue !” jawabnya, saya balas memandangnya :”Wah, Purdue ! hebat donk, fakultas apa ? ada beberapa sepupu dan keponakan saya di sana !” saya meneruskan, Alex kelihatan bangga, ia lantas mengatakan :”Kamu tau Purdue ya ? saya tehnik kimia, nama sepupumu siapa ? pasti bisa saya cari !” Tanya jawab dan obrolan singkat mencairkan suasana diantara kami, selesai makan kami melanjutkan perjalanan ke Ubud, dia pindah duduk di depan. Saya menghindari lewat pantai, sore begitu, jalan sesak dan macet, lain waktu saya akan ajak Alex jalan-jalan ke pantai Kuta.

Hari sudah gelap ketika kami memasuki Ubud, Alex menunjukan alamat, yang sebetulnya alamat saya sendiri. Mobil saya hentikan di depan Ary’s Warung, Alex memberi saya uang, tapi saya menolaknya, ia menutup pintu dan mengatakan :”Herman, sorry ya mungkin tadi saya agak kasar, tapi terima kasih saya benar-benar tulus, semoga bisa bertemu lagi !” saya melambaikan tangan dan memarkir mobil kira-kira hanya 12 meter dari Ary’s Warung. Saya ingin tahu apa yang akan terjadi, tentunya Alex mencari dan menanyakan nama saya kepada pegawai di tempat ia berhenti tadi. Ary’s Warung adalah tempat makan yang elok, ditata penuh selera, makanannyapun bagus. Sebetulnya saya tidak tinggal di situ, tetapi hampir setiap sore saya nongkrong di situ, semua orang sudah mengenal saya dengan baik.

Langkah saya santai saja, masuk Ary’s Warung, serta merta pegawai-pegawai di situ memanggil saya, “Mas Herman, ini ada bule mencari !”……..pegawai yang lain menghampiri Alex yang duduk di bar sambil menunjuk saya dan berkata padanya “Itu dia si Herman yang kamu cari !” Tak disangka tak diduga Alex seketika berdiri dan langsung menampar muka saya dengan keras :”Nggak lucu…..nggak lucu sama sekali nggak lucu, becanda kamu keterlaluan…..tai…tai…!!!!” Alex menyumpah-nyumpah bahkan saking marah dan jengkelnya ia sampai terjongkok-jongkok, saya ditampar bukan marah tapi bahkan tertawa sekeras-kerasnya, semua orang pada bingung. Saya meminta maaf padanya sambil terus tertawa, tapi Alex diam saja, kelihatan sekali ia sangat marah dipermainkan, mukanya merah padam, tapi harus bagaimana lagi ? Saya menawarkan padanya, mau tidur di rumah saya atau nginap di hotel. “Saya mau tidur di hotel dan capek, sekarang lekas tunjukan hotel saya !” katanya pendek penuh kejengkelan.

Alex saya bawa pulang ke rumah, di daerah Payangan, sebuah pondok berlantai dua, lantai bawah untuk ruang duduk, 1 ruang tidur tamu lengkap kamar mandi, ruang makan dan dapur. Lantai atas terdiri dari balkon luas dengan kamar tidur besar dan kamar mandi. “Ini hotelnya, lebih tepat disebut villa, mudah-mudahan kamu senang di sini !” kata saya dan membukakan kamarnya di lantai bawah. Alex terkesan dengan keindahan penataan gaya Bali, ia memandang sekelilingnya dengan senyuman, lantas masuk kamar dan menutup pintunya. Saya naik ke kamar saya di lantai atas, mandi, lantas menelpon beberapa klien dan menjadwal ulang perjanjian. Juga saya menelpon Kelian, Kepala Desa tempat saya tinggal meminta tolong sesuatu. Sejam kemudian saya dengar langkah di tangga kayu, Alex muncul di kamar saya, mukanya terperanjat. “Lho koq kamu juga di sini ? ini hotel atau rumahmu ? celetuknya dengan heran, saya menjawab ringan :”Ya, ini hotel atau penginapan yang saya sudah sewa 2 tahun, jadi kamu sekarang tinggal di penginapan, di hotel dan kebetulan kita satu atap!” Alex menarik nafas, tangannya diangkat ke atas, katanya :”Huh ….kalau kamu bukan keponakan Tante Ida kamu sudah saya tampar bolak balik !”

Ia berkeliling dan memeriksa kamar saya, foto-foto dan lukisan di dinding diperhatikan satu persatu, ia membuka pintu balkon yang menghadap taman di tengah kompleks rumah adat Bali itu. Saya menyetel music dari Secret Garden, suaranya lembut bahkan menyayat hati, dari lemari es kecil saya keluarkan Brem Bali dan 2 gelas berkaki. Bersamaan dengan itu terdengar suara kentong bertalu-talu dari jauh di luar rumah saya, itu tanda dari Kepala Desa yang tadi saya telpon. Saya buru-buru memanggil Alex, ia kembali dari balkon dan bertanya galak :”Ada apa ?” saya hanya menunjuk jendela persis di atas kepala tempat tidur saya “Coba kamu buka !” perintah saya, sambil mematikan lampu. Alex naik ke atas tempat tidur dan membuka jendela lebar-lebar. Jendela saya menghadap ke lembah Kadewatan. Alex memekik …….jauh di seberang lembah terlihat rangkaian huruf dari nyala obor dengan tulisan “WELCOME ALEX”. Saya menuang Brem ke dalam gelas, mengangsurkannya kepada Alex dan mengajaknya ber-toast “Selamat datang ke Bali !” kata saya, Alex menyikut perut saya, ia meneguk Brem dan berkata : “Hebat ! hidupmu indah, luar biasa indah, beruntung kamu bisa hidup seperti ini……gila….sungguh kamu gila ngerjain saya kayak begini !” lantas ia tertawa karena tidak bisa berkutik dengan perbuatan saya. Kami duduk bersila, berdiam diri di atas ranjang memandang ke lembah seberang, kamar saya kini hanya diterangi lilin-lilin, nun di seberang sana kalimat “welcome alex” mulai meredup. Saya melamun, Alex melamun, music saya ganti dengan sebuah lagu yang dikarang oleh Yang Mulia Sri Baginda Bhumipol Adulyadey, Raja Thailand, judulnya Blue Days, iramanya Blues. Arti lagu itu adalah sebagai berikut : Apalah artinya hari yang cerah tanpa mentari, atau malam yang damai tanpa rembulan, tetapi tiada lagi hari yang sendu ketika engkau hadir dalam hidupku. Mendengar syair dalam lagu itu, seketika Alex mengambil sebuah bantal dan meletakkannya dikaki saya. Matanya memandang ke langit lepas, tiba-tiba ia berbisik :”Herman, kamu pernah seks dengan lelaki ? maksud saya dengan sesama lelaki ?” saya terkejut mendengarnya, saya menjawab hati-hati : “Saya kurang jelas maksudmu” Alex mencari-cari tangan saya, lantas katanya : ”Suasana ini luar biasa indah ! romantis, ini moment paling indah yang pernah saya alami, saya nggak mau kehilangan moment ini, kalau kamu keberatan nggak apa-apa, tapi tolong bantu saya,!” saya mengulurkan tangan, Alex langsung menangkap jemari saya dan meletakkan di pipinya, saya mengusap-usap wajahnya, dagunya saya elus-elus. Alex meremas telapak tangan saya dan diciumnya, katanya : ”Saya belum pernah merasa emosi saya hanyut dalam romantisme seperti ini…..saya bukan gay, seumur hidup belum pernah berbuat atau ingin dipeluk laki-laki, tapi ini kenyataan…..tapi ini logis bahkan rational….saya ingin menikmati suasana romantis ini selengkapnya !” ia duduk dan memeluk bahu saya, cukup lama ia mendekap, kemudian ia menarik badan saya berbaring. Alex sangat sentimentil, ia betul-betul hanyut dalam suasana Bali yang menghipnotis, ia memeluk saya, mengelus-ngelus punggung dan menciumi kening dan rambut saya. Kemaluan saya langsung tegak !

Udara bertiup dingin, tanpa sadar saya mendekapnya, Alex semakin erat memeluk dan tiba-tiba ia memegang dagu saya dan mencium bibir saya sangat halus dan sopan. Saya membalas mencium pipi dan matanya, mengelus rambutnya, Alex sekali lagi mengecup bibir saya dan kami berciuman lama sekali. Tangan saya ditarik ke celananya, alat vitalnya terasa menonjol, saya mengelus-elus kepala kemaluannya yang masih lemas di balik celana, tapi daging itu semakin keras. Alex membuka celana dan tinggalah celana dalamnya, ia menjawil pinggang saya katanya :”Jangan egois, kamu buka juga !” dengan agak segan saya membuka kaos, Alex menarik celana pendek saya dan menjatuhkannya ke bawah “Ayo donk ! jangan kecewakan saya, saya serius ingin memuaskan diri, sebelum gairah ini hilang !” katanya jujur, ia lantas melepas semua pakaian di tubuhnya. Gantian saya melotot, tubuh Alex mulus bagai porselin, kulitnya khas Jepang, kuning langsat, sebuah tahi lalatpun tak ada, dadanya berkotak-kotak atletis, pentilnya kecil dan berwarna terang, seperti belum atau jarang disentuh orang. Kemaluannya disunat, bagus ! kulupnya sudah agak basah dan lengket, jembutnya rimbun dan agak lurus. Ketiaknya berbulu halus, lehernya jenjang, saya pandang wajahnya, setype dengan Richard Geere, bahkan lebih ganteng 3 kalinya, rambutnya yang jigrak juga pas betul dengan wajahnya yang teduh, damai, bibirnya tipis warna merah jambu. Semakin lama dipandang, Alex semakin tampan, saya memeluk pinggangnya dan menaruh wajah saya diperutnya. Alex menindih saya sebentar, menempelkan kemaluannya di atas perut saya, bibirnya menciumi leher dan lidahnya menari-nari lembut ditengkuk.

Pemuda peranakan itu menggauli saya dengan cara yang sangat sopan dan romantis, jemarinya meremas, menjalar dan mengelus leher, punggung, pinggul dan paha saya perlahan. Bibirnya mengecup setiap jengkal tubuh saya. Permainan pendahuluan ini begitu lama, kemaluan saya sudah tegak sedari awal, saya meremas alat vital Alex, daging kenikmatan yang tadi belum terlalu keras sekarang menegang, menjelma seolah sosis raksasa, kenyal-kenyal membal. Gairah saya menjadi penuh semangat, saya meremas dan mengocok daging itu hati-hati, sangat ingin kucium dan kukulum, tetapi merasa malu-malu. Alex sendiri mungkin begitu juga, ia ingin tapi mungkin bingung musti bagaimana. Saya percaya ia sering ngeseks layaknya anak-anak muda di Amerika, tetapi dengan lelaki mungkin ia belum pernah. Ia hanya memeluk, mencium dan mengocok kemaluan saya, jadi saya memutuskan menjadi kapten perjalanan mengarungi lautan kenikmatan.

Saya kembali duduk di ranjang, kepala Alex saya tarik dan menyuruhnya menjilati pentil saya, tubuhnya yang bersandar miring menyebabkan burungnya mudah dijangkau, saya remas sampai ia merintih pelan, kukocok-kocok dan ia mempercepat jilatan dan gigitannya di dada saya. Melihat ia sudah spanning barulah saya ciumi dan saya jilati kemaluan blasteran Yunani dan Jepang itu. Selama ini banyak teman-teman bilang orang Yunani dan Yugoslavia punya perkakas sangat besar. Kenyataannya milik Alex biasa-biasa saja, memang sangat besar untuk ukuran Indonesia, tetapi tidak terlalu Yunani. Mungkin darah Jepangnya menetralisir ukuran extra king size jadi king size belaka. Yang jelas kemaluan Alex patut mendapat anugerah “the perfect phallus” warnanya bagus….sungguh bagus….terang ! mulus ! istilah Yunani “sincere” tiada cacat, daging kenyal idaman para homo itu seperti dari plastic….…sempurna ! Kepalanya juga sempurna membulat berwarna semu kemerah-merahan sampai leher….batang hingga pahanya seperti pualam, bijinyapun bersiiiiiiiih…..apalagi pantatnya…busyet ! semok mulus dan…tiada kata-kata menggambarkannya ! Kemaluan itu akhirnya saya sedot-sedot sruput-sruput keluar masuk mulut sampai Alex hanya bisa melolong dan menggeram. Saya tarik kepalanya kuarahkan supaya ia mengemot kontol saya yang sudah tegang. Alex ragu-ragu, ia hanya mengocoknya, tapi saya mendorong lagi kepalanya dengan kasar, akhirnya ia mencium dan menjilati kepala kontol saya, mula-mula perlahan gaya amatir, tapi kemudian ia cepat menjadi pandai. Jilatan dan kulumannya mampu membuat saya meringkik, kemaluan Alex saya isap-isap semakin penuh gairah dan saya sedot-sedot. Seperti orang latah, Alex melakukan hal serupa, kontol Alex tiba-tiba mengencang dan berdenyut-denyut dalam mulut saya………crroooooooooooooooot ……… crooooot……!! Alex melepaskan pejunya dalam mulut, ia terpekik, ia menekan kontolnya dalam-dalam, tenggorokan saya seperti disodok ! kontolnya langsung saya cabut dari mulut, cairan kental Alex saya telan bulat-bulat, saya jilati dan saya klomot kepalanya sampai Alex kegelian dan mendorong kepala saya jauh-jauh ! “Kamu buas sekali ya……!” katanya terkejut melihat saya mengulum dan menjilati kepala kontolnya sampai hampir bersih. Ia berbaring mengangkang, saya terus saja berlutut sambil mengulum penisnya yang mulai melemas. Alex membiarkan saya terus mengoral kemaluannya, ia mengelus dan memijit-mijit punggung saya, lantas katanya :”Ayo saya bikin kamu juga keluar, saya nggak mau egois !” Kemudian ia menyuruh saya tiduran, ia mengepit penis saya dan menggeseknya sampai saya kegelian, setelah itu ia tiduran miring, mulutnya dihadapkan ke alat vital saya, dijilatinya dan langsung dimasukkan mulut, sisa batang saya yang ketinggalan digenggamnya dan dikocok-kocok sehingga membuat saya merasa diawang-awang, sejenak kemudian penis saya memuntahkan peju segar………Alex menjilati sperma yang meleleh di batang kontol saya sampai saya ngesot-ngesot kegelian. Dengan dagu dan pipi belepotan peju Alex menghambur memeluk saya, ia mencium saya dan berkata :”satu sama ya !”

Sambil berpelukan kami duduk berdua memandang keluar jendela, memandang Lembah Kadewatan yang agak berkabut, langit bermandikan bintang. Saya merasa kedinginan, saya menyelimuti tubuh kami berdua, sambil meneguk Brem kami terus berpelukan. Alex menciumi saya berulang kali, ia sungguh merasa bahagia. Fajar menjelang, matahari mulai naik, cahayanya kemerahan di seling warna biru tua, biru muda, terlalu indah semuanya dilukiskan, mata kami menjadi berat. Sambil bertelanjang di bawah selimut kami berpelukan dan terlelap.

Kami bangun hampir saat makan siang, selimut dan sprei acak adut, saya buru-buru menelpon klien saya dan mengajak mereka makan siang bersama. Besok saya harus membawa tour “the other side of Bali” pesertanya gerombolan the haves dari Amerika, pencinta perhiasan dan barang-barang seni bermutu tinggi. Saya menawarkan Alex, mengikuti tour saya atau pergi sendirian. Ia memilih ikut rombongan saya besok. Siangnya kami makan di Café Wayan, masakannya enak, suasananya juga ramah, klien-klien saya adalah pemesan perhiasan perak, atau lukisan. Kami makan dengan akrab dan urusan saya sekejab beres, karena dapat dikoordinasi dengan baik. Sehabis makan Alex saya pinjamkan motor teman dan ia keliling-keliling sesuka hati, sementara saya memeriksa jadwal perjalanan rombongan tour besok.

Kira-kira jam 18.00 sore Alex kembali ke rumah, ia mengajak mandi sama-sama, sayangnya saya sudah mandi. “Mandi saja sendiri, nanti malam baru kita mandi sama-sama” kata saya, Alex kelihatan agak kecewa, lantas ia bertanya : “Kita makan dirumah saja ya, aku kepingin merasakan makan di rumahmu seperti apa“ tapi terus terang saya sedang malas memasak, lebih senang makan di luar, lagipula bahan baku makanan sedang kosong. “Sudah nanti ada waktunya kita makan di rumah, sekarang kita makan di Batan Waru saja, kamu pasti suka makanannya” jawab saya. Alex sengaja saya ajak makan di sana, karena pengunjung di sana orang-orang terpelajar, sama seperti pengunjung Ary’s Warung atau Café Wayan.

Sambil makan Alex bercerita tentang keluarganya. Mereka sebelumnya tinggal di Minneapolis, katanya di sana banyak bekas GI, tentara US yang bertugas di Jepang dan membawa pulang istri dari Okinawa atau Fukuoka. Ayahnya dulu dinas di militer di Okinawa, selesai bertugas pulangnya menenteng oleh-oleh istri Jepang. Ia juga bercerita tentang pacarnya dahulu, yang orang Swedia, tapi ia sudah bosan, alasan lain juga karena ia kuliah di kota yang berbeda. Lebih lanjut ia menceritakan kuliahnya yang baru masuk, ia mahasiswa termuda, ia bercerita tentang kekasih barunya, seorang cewek Asia, mereka sering ML di pagi hari, sebelum kuliah, apartment mereka bersebelahan. Ia mengaku belum pernah ML dengan lelaki, saya adalah orang lelaki pertama baginya. Ia tidak kelihatan canggung, apalagi menyesal, ia menganggap segala sesuatu harus dinikmati secara total. Kejadian semalam baginya terlalu indah, katanya :”Suatu hari saya akan datang dengan pacar saya ke sini, Bali sungguh luar biasa, saya beruntung kamu menjadi host yang sangat baik” Alex tidak menanyakan apakah saya homo atau apakah saya punya pacar, orang bule bukan orang yang busy body, tidak mau tahu urusan orang. Malam itu kami pulang dan tidur di kamar masing-masing.

Keesokan harinya jam 08.30 saya sudah siap di depan Wantilan, seberang Puri Saren dengan 17 buah sepeda, Alex menemani peserta tour, suasana pagi sangat menyenangkan. Kami bersepeda menyusuri Jalan Suweta ke utara, menyusuri sawah mampir di rumah Made Bentul, pelukis Dewi Saraswati, mampir di rumah Wayan Repot pembuat bingkai lukisan, mampir ke pengrajin beads perak dan emas di Petulu mutar ke Andong dan makan siang di daerah Ceking, sawahnya indah berteras-teras. Setelah itu kami turun ke Selatan ke daerah Mas, kami berhenti di beberapa gallery, tapi yang terbaik adalah Gallery Ida Bagus Nyana Tilem. Di situlah patung-patung kayu terbaik yang dibuat di Bali, gallery khusus bagi mereka yang berselera tinggi. Meski harganya mahal, tetapi patung mereka fine-art, langganan mereka raja-raja, ratu-ratu, presiden, dan orang-orang hebat. Bagi kaum selera rendah silahkan pergi saja ke Pasar Sukawati.

Semua peserta tour sudah ngos-ngosan, usia mereka rata-rata 50 tahun ke atas, tetapi mereka bahagia, memborong banyak barang, kesemua itu akan diantar ke rumah saya. Jam 16.00 mereka saya ajak pulang ke rumah, cukup jauh, setiba di pondok saya, mereka saya persilahkan main-main di sungai. Seperti anak kecil mereka berebutan nyemplung ke air, pelayan-pelayan saya hilir mudik mengantarkan kopi dan aneka kue yang dihidangkan di atas rumput beralas taplak kotak-kotak merah putih. Seperti piknik saja. Jam 18.00 sebuah bis kecil datang dan membawa tamu-tamu saya pulang ke Amandari, semua mencium pipi saya mereka puas dan senang dengan perjalanan hari itu. Alex juga merasa senang, katanya :”Kamu memang host yang baik, trip tadi bagus….bagus sekali !” ia memuji, saya senang juga dan merasa lega. Malam itu saya mengajak beberapa teman dekat makan malam menyambut kedatangan Alex, ada beberapa teman Bali, rata-rata yang dulu sekolah di Amrik dan beberapa yang pernah sekolah di Eropa, ada 4 teman lain dari Jawa. Kami pergi makan di Warisan, Krobokan, jauh memang ! Tapi namanya menyenangkan tamu kemana saja boleh donk ! Pemilik Warisan adalah teman baik saya Dayu Sri, makanannya enak, suasananya juga romantis. Berbagai minuman membuat Alex sekali lagi hanyut dengan romantisme, tanpa malu-malu ia memegang tangan saya, matanya menatap mesra. Teman-teman saya pada bingung berbagai komentar diumbar antara lain :”Gile mujur amat sikh lu ! dapet brondong begini lucu” Alex sudah mulai mabuk, kemanjaan dan kekanak-kanakannya timbul. Kami pulang tengah malam, di mobil Alex ketiduran, sampai di rumah ia jalan terseok-seok dan langsung naik ke kamarku. Saya melepaskan baju dan celananya, membasuh muka, tangan, kaki dan tubuhnya, saya paling benci orang naik ranjang tanpa membersihkan badan. Tapi Alex menganggap perbuatan saya membersihkan badannya sebagai bagian dari romantism, cilaka…….gairahnya langsung naik ! Kemaluannya belum dipegang sudah ngaceng, ia menarik pinggang saya dan meloloskan kaos dan melomoti puting saya habis-habisan. Celana pendek saya ditarik paksa sampai robek, Richard Geere yunior itu menindih tanpa bicara, menggauli saya penuh semangat. Tangannya menjalar seperti gurita, lidahnya disapunya ke sekujur badan saya, liurnya yang beraroma alcohol melekat dan membasahi dada, leher dan selangkangan, perut saya habis diklomoti, mulutnya mulai menghirup dan mengisap penis saya. Alex yang kekanak-kanakan itu rupanya doyan sex ! Kemaluannya yang bagai pualam nampak bergoyang-goyang dari sela-sela paha dan pantatnya. Saya mulai bergairah, saya remas pantat yang molek itu, saya gigit sampai Alex menguik, lidah saya mulai menjulur dan mengelomot belahan pantat dan lubang anusnya yang masih sempit. Anusnya bersih dan wangi, saya sedot lubang anusnya dan saya jilati sampai ludah saya menetes dan mengalir membuat bijinya geli. Alex mendesah nikmat, ia mulai lebih berani, ia membalikkan badan menghadap muka saya dan menjejalkan penisnya yang sudah merah ke mulut saya. Sluuuuuup…….hmmmmmm sebentar saja kontol itu sudah menikmati permainan lidah saya, Alex mengejan-ngejan menahan rasa birahi yang bergolak tak karuan. Pantatnya maju mundur perlahan, ia meremas pentilnya sendiri, mengusapnya dan mencubit-cubit puting di dadanya supaya keindahan bersetubuh ini semakin menggelora. Kemaluan saya sudah ngaceng-ceng-ceng-ngaceng habis-habisan. Saya mendorong mundur Alex…..dan tabrakanlah kontol saya dengan pantatnya, tanpa ampun saya dorong kemaluan saya ke titik sasaran….lubang anus Alex yang masih perawan. Bahunya saya tekan dan saya naikkan pantat sekuat-kuatnya…….kontol saya menembus lubang pantat Alex tanpa permisi…….bleeeeeeeeeeeeeesssss ! Alex menjerit keras :”Aaaaaaaghhhh !!” pelayan saya berlari naik tangga dan mengetuk pintu, mereka terkejut dengan teriakan Alex, mereka pikir Alex terjatuh dari jendela. Alex tertawa sambil menahan nyeri, ia duduk menggantung dengan setengah kemaluan saya menancap di dalamnya. Ia berbisik :”Busyeeettt…. ternyata rasanya sakit sekali, penasaran kenapa homosex senang disakiti begini !” meski merasa kesakitan Alex bertahan ingin meneruskan sodomi session ini. Ia nekad menurunkan pantatnya dan sekali lagi ia menjerit sambil tertawa keras-keras, hal ini mengakibatkan otot cincinnya merapat dan mengempot berulang-ulang. Kontol saya jadi semakin enak, tanpa sadar saya mengangkat pantat saya dan memainkan gaya mesin jahit, tangan saya menahan tubuh Alex supaya ia tetap menempel dan tidak melepas kontol yang menancap di anusnya. Gerakan naik turun dan hujaman kontol saya hanya mampu Alex mendelik, mulutnya melongo seperti huruf O besar ! Supaya ia happy, tangan kanan saya akhirnya turun dan meremas-remas kemaluannya yang menyusut, saya gosok dan kocok, saya plintir dan telapak tangan saya basahi dengan ludah supaya bisa mengocok kemaluan Alex lebih nyaman.

Alex mulai keenakan, kontolnya mencuat dan menegang, saking enak dan geli, Alex jadi sempoyongan, pinggulnya ngelendot ke kiri ke kanan sehingga memluntir dan memutar kontol saya dalam anusnya. Goyangan dan goncangan yang saya kerahkan akhirnya membuat saya mencapai klimax, saya mendorong pantat saya tinggi-tinggi, menekan bahu Alex ke bawah, kontol saya memuncratkan peju bertubi-tubi…preeeeeetttttt…preeeeettttt pet !!! sekali lagi saya hujam kontol saya sedalam-dalamnya, Alex melolong dan menjepitkan anusnya kencang-kencang. Saking kegelian, ngilu dan nikmatnya tanpa sadar kemaluan Alex saya kocok sejadi-jadinya, Alex melenguh panjang, ia semakin menggoyang-goyangkan pantatnya, bahkan ia melonjak-lonjak di atas selangkangan saya, tool saya yang sudah muncrat rasanya seperti dicengkeram, rasanya luar biasa ketat dan licin, basah, enak nggak terkira, kontol saya nggak jadi lemes deh ! Kenceng lagi dan ngaceng seperti belum ngecret. Gantian sekarang saya mengaduh dan meronta-ronta, telapak tangan saya meremas dan mengocok kemaluan Alex simpang siur, semakin dahsyat dan…..peju Alex tiba-tiba saja menerjang wajah saya seperti mitraliur…… preeeeeeeet….creeeeeeeett….creeeeeeeeet……creeeeeeet…….ceeeeet…ceeeet…ceeeet !!! Alex memekik dan memekik keenakan, tubuhnya kejang-kejang, duburnya menyempit dan menjepit tool dalam duburnya..”Aaaaaaaaaaaggggggghhhhhhhhhhhh………….Leeeeeeeeexxx !!! ……..saya nggak kuat menahan gairah untuk meledak kedua kalinya………..srrrrrrrroooooooooottttttttt…..ssssrrrooooottt !!! peju saya membanjir dan mengalir sampai jauh seperti Bengawan Solo……..paha dan selangkangan saya basah keringat, basah air mani……lelehan peju bahkan membasahi sprei putih ranjang pengantin ! Alex terkulai lemas, kemaluan saya lunglai dan membebaskan diri dari anus perjaka negeri seberang. Kami berdua ngos-ngosan, sama-sama layu, sama-sama terjerembab setelah mengarungi puncak asmara.

Karena kesibukanku yang tiada terkira, setiap pagi Alex gentayangan sendirian, naik motor, tapi ia mengunjungi beberapa daerah sesuai advisku. Aku sendiri sebenarnya diam-diam mencari penilaian yang adil terhadap sebuah daerah. Katakan saja ia kukirim sebagai pengamat, apakah selama ini penilaianku terhadap suatu tempat cukup beralasan untuk dijual sebagai tujuan pariwisata atau kurang layak. Ada ribuan tempat di Bali yang belum dilirik orang, selama ini aku selalu sukses, tetapi aku perlu masukan dari orang lain, orang bule ! Dan Alex menjalankan tugasnya dengan baik. Saat kami makan malam kami bertukar pendapat dan aku tidak malu-malu menanyakan hal-hal yang tidak kuketahui, paling tidak pendapatnya sebagai turis muda ! Meskipun bukan the upper class of America, tetapi Alex berasal dari keluarga terpelajar, status merekapun middle up. Jadi pendapatnya turut aku pikirkan untuk menciptakan perjalanan liburan anak-anak muda ke Bali seperti dia.

Alex sangat menikmati hari-harinya, pagi ia mengamati pengrajin-pengrajin perhiasan, siang ia mengamati para seniman kayu, sore atau malam hari ia menyaksikan pertunjukan tarian. Ia keluar masuk galeri lukisan, museum dan sebagainya. Aku mengenalkan dia kepada teman-temanku seniman tulen, pelukis senior dan yunior, pemahat kenamaan, penyair dan pemotret. Ubud adalah surga para seniman, lembah pencinta seni. Margareth Mead mengatakan Ubud adalah surga para Bohemian. Sementara Bali sendiri merupakan surga yang nyata di muka bumi. Seperti siapapun, Alex jatuh cinta kepada Bali, kepada penduduknya yang ramah dan penuh persahabatan, cinta pada alamnya yang elok permai, ia terpesona bahkan tersihir dengan alunan music gamelan dan tari-tariannya yang menghipnotis.

Rencana Alex sebelumnya berlibur 3 bulan keliling Asia, ke Bali, Jakarta, Singapore, Hong Kong, Tokyo, Kyoto, Nara, Osaka dan Fukuoka. Kenyataannya ? selama 3 bulan Alex nyangkut di Bali, hatinya nyangkut dihatiku, toolnya nyangkut di anusku. Ia meniduriku penuh birahi setiap malam, menghabiskan gairah

 

Mamaku itu emang hebat. Diusianya yang sudah kepala lima dia masih tetap cantik dan sexy. Di pekerjaanpun ia tetap paten. Karirnya melesat terus. Jabatannya kini sudah wakil direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Karena hidup dengan mama sejahtera, maka aku memilih untuk tinggal bersamanya sejak ia bercerai dengan papaku setahun yang lalu.

Papaku yang cuma bekerja sebagai pegawai rendahan, mana bisa memenuhi kebutuhanku yang doyan hura-hura. Jangankan membelikanku mobil, sepeda motor aja papa gak bisa. Dua orang adikku juga memilih tinggal bersama mama. Sama sepertiku, mereka juga doyan hura-hura. Ngabisin duit mama yang aku gak tau gimana caranya, selalu saja ada. Apa yang kami minta selalu bisa dipenuhinya.

Namaku Tomi. Semester enam fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta yang beken di Jakarta. Adikku Mimi. Juga kuliah di fakultas ekonomi satu kampus denganku. Tapi dia masih duduk di semester dua. Adikku yang paling kecil, Toni. Dia masih kelas tiga SMU.

Dari kecil selalu hidup bergelimang harta, dari penghasilan mamaku, membuat kehidupan glamour sangat melekat pada diri kami. Masing-masing kami dibelikan mama mobil sebagai alat transportasi. Uang jajan tak pernah kurang. Karena itu aku dan adik-adikku tak pernah protes dengan apapun yang dikerjakan oleh mamaku. Aku dan adik-adikku selalu kompak membela mama. Termasuk saat bercerai dengan papa. Padahal sebab perceraian kedua orangtuaku itu adalah jelas-jelas karena kesalahan mama. Papa menangkap basah mama sedang pesta sex dengan tiga orang gigolo muda di hotel!

Meski begitu, aku dan adik-adikku tetap aja kompak membela mama. Soalnya belain papa juga gak ada untungnya. Lagian kelakuanku dan adik-adikku juga gak beda-beda amat sama mama. Aku dan Toni pernah bawa perek ke rumah. Si Mimi tahu tentang hal itu dan dia sih santai-santai aja. Soalnya dia juga sering bawa cowok ganteng ke kamarnya.

Setelah bercerai, rumah kami yang megah jadi seperti rumah bordil aja deh. Mama, aku, Mimi, dan Toni, rutin bawa partner sex kemari. Karena kami sama gilanya, jadi asik. Kalau waktu ada papa gak asik. Papa suka rese. Meski tak bisa memarahi kelakukan binal anak-anaknya, tapi papa suka ngomel atau ngasih nasehat. Huh, kayak pendeta aja papaku itu.

Dari banyak cowok, si Willy yang paling sering dibawa mama ke rumah. Dia tuh, kayak suami baru mama aja jadinya. Hampir tiap hari dia ada di rumah. Paling kalo mama lagi bosen dan pengen cari variasi pasangan lain, barulah dia ngibrit dari rumahku, balik ke kostnya.

Karena seringnya si Willy di rumah, aku dan adik-adikku jadi akrab dengan dia. Apalagi usianya gak jauh dariku. Dia juga masih kuliah. Umurnya hanya lebih tua dua tahun dariku. Obrolan kami nyambung. Tentang apa saja. otomotif, sport, musik, dan pasti ngesex. Hehe. Bisa dibilang, si Willy ini piaraan mama. Segala biaya hidupnya, mamaku yang nanggung.

Si Mimi paling senang dengan keberadaan Willy di rumah. Piaraan mama itu dimanfaatinnya juga buat muasin nafsunya yang binal. “Habisnya si Willy itu ganteng banget sih. Macho. Mana bodinya oke banget lagi. Belum lagi kontolnya. Gede banget Tom. Ngesexnya gila-gilaan. Pantes aja mama paling demen ama dia dibandingin ama gigolonya yang lain,” kata Mimi padaku suatu hari. Dasar nakal. Dasar maniak tuh si Mimi.

Mendengar cerita si Mimi tentang kontolnya si Willy membuatku penasaran juga. Eits. Jangan salah sangka dulu men. Aku bukan gay. Jelas-jelas aku cowok straight. Cuman, dengar ukuran kontol orang sampe 28 sentimeter kan jelas bikin penasaran. Jangankan aku, cowok lain pasti juga penasaran. Gila aja kontol bisa segede itu!

Selama ini kupikir kontolku udah paling gede. Panjangnya sekitar delapan belas senti. Susah-susah lho, cari kontol sepanjang punyaku ini di Indonesia. Ternyata punya si Willy malah lebih gila. Sampe 28 senti men, selisih sepuluh senti dari punyaku. Ambil penggarisan deh, liat dari titik 0 senti sampe 28 senti, panjang banget kan ukuran segitu.

Meski penasaran, gak mungkin kan aku permisi ke dia buat liat kontolnya. Gila aja. Gak usah ya. Pernah kepikiran buatku untuk ngintip dia saat ngentot dengan mamaku atau si Mimi. Tapi males ah. Ngapain juga ngeliat saudara kandung sendiri ngentot. Gak ada seru-serunya. Entar aku jadi incest lagi. Bikin berabe aja.

Namun, yang namanya rezeki emang gak kemana. Waktu itu malem hari. Hampir dini hari malah. Aku baru pulang. Biasalah, ngabis-ngabisin duit mama. Semua orang udah tidur kayaknya. Kerongkonganku rasanya kering banget. Haus. Aku langsung ke dapur, pengen ngambil minuman dari lemari es.

Pas aku nyampe di dapur aku terkesima. Kulihat mama sedang berbaring telentang di atas meja makan kami. Pakaian atasannya terbuka memamerkan buah dadanya yang masih kencang dan besar. Sementara bagian bawah tubuhnya tak menggenakan penutup apa-apa. Sekitar memeknya yang penuh jembut lebat kulihat belepotan cairan putih kental sampe ke perutnya. Banyak banget. Mama tak sadar dengan kehadiranku, karena saat itu ia sedang memejamkan matanya sambil mendesah-desah. “Nggg…. Enak banget Will,” katanya dengan suara mendesis. Rupanya dia baru aja dientot sama si Willy di atas meja makan itu.

Aku segera mengalihkan tatapanku dari tubuh mamaku yang mengangkang itu. Entah kenapa, kok aku rasakan aku kayaknya terangsang. Bisa berabe nih. Pandanganku kualihkan ke lemari es. Saat menatap ke arah sana aku kembali kaget. Disana berdiri si Willy. Dia tak menggenakan pakaian apapun menutupi tubuhnya. Badannya yang tinggi dan kekar berotot itu polos. Dia sedang menenggak coca cola dari botol. Mataku langsung menatap ke arah kontolnya. Gila men. Si Mimi gak bohong. Di selangkangannya kulihat sebatang kontol dengan ukuran luar biasa. Sedang mengacung tegak ke atas mengkilap karena belepotan spermanya sendiri kayaknya. Batangnya gemuk, segemuk botol coca cola yang sedang dipegangnya. Panjang banget. Kepala kontolnya yang kemerahan seperti jamur melewati pusarnya. Batang gemuk itu penuh urat-urat. Aku sampe melotot melihatnya. Kupandangi kontol itu dengan teliti. Ck..ck.. ck.. sadis.

“Baru pulang Tom?” kata Willy mengeurku. Ia sudah menyadari kehadiranku rupanya. Aku segera menolehkan pandanganku dari kontolnya. Gawat kalau ia tahu aku sedang serius mengamati detil kontolnya itu.

“He eh. Iya,” sahutku sambil mengangguk. Untung saja lampu di dapur itu bernyala redup. Kalo terang benderang, pasti Willy bisa mengetahui kalo wajahku sedang bersemu merah saat itu. Malu.

Mamaku yang sedang berbaring lemas diatas meja makan tiba-tiba melompat bangun. Ia sibuk mencari-cari roknya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang terbuka. “Eh, Tomi. Udah lama kau datang?” kata mama dengan ekspresi malu.

Baru aja ma,” sahutku. Aku beraksi seperti tidak terjadi apa-apa disitu. Segera kuambil minuman dingin dari lemari es. Tubuh Willy yang berkeringat tepat disampingku. Saat mataku melirik ke arah dalam lemari es, mencari minuman, kusempatkan untuk melirik sekali lagi ke arah batang kontol Willy. Kali ini aku bisa melihatnya lebih jelas. karena ada bantuan penerangan dari lamu lemari es. Gila! Bagus banget bentuk kontolnya, pikirku.

Setelah mendpatkan minuman dingin, aku segera meninggalkan dapur. Tinggallah mamaku dan Willy disana. Aku tak tahu apakah mereka masih melanjutkan lagi permainan cabul mereka atau tidak. Yang pasti sepanjang jalan menuju kamarku, pikiranku dipenuhi dengan kontol si Willy yang luar biasa itu.

“Gila! Gila!” rutukku dalam hati. Kok aku bisa mikirin kontol punya cowk lain sih? Ada apa denganku ini? Rasanya malam itu aku susah untuk tidur. Setelah membalik-balikkan badan beratus kali di atas ranjangku yang empuk, barulah aku bisa tertidur. Itupun setelah jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Sebentar lagi pagi menjelang.

Berjumpa dengan Willy keesokan harinya aku jadi rada-rada grogi. Entah kenapa. Mataku jadi suka mencuri pandang ke arah selangkangannya. Aku jadi menyadari, kalo ternyata saat selangkangannya ditutupi celana seperti itu, ukuran tonjolan diselangkangan itu, emang beda dengan punyaku. Jauh lebih menonjol kayaknya. Gila! Gila! Rutukku lagi dalam hati. Kok aku jadi mikirin itu aja sih?!

Si Willy sih gak ada perubahan. Ia tetap cuek aja seperti biasanya. Ia tak merasa ada yang aneh dengan kejadian semalam. Sepertinya ia tak perduli kalao aku memergokinya telanjang bulat bersama mamaku. Kayaknya, buatnya itu hal yang lumrah saja. Dasar gigolo profesional dia.

Sebulan berlalu. Dan selama rentang waktu itu, aku jadi pengamat selangkangan Willy jadinya. Entah kenapa, aku selalu berharap akan punya kesempatan lagi untuk ngelihat perkakas gigolo itu. Tapi tak juga pernah kesampaian. Sampai suatu hari.

Aku pengen berenang pagi-pagi di kolam renang yang ada di halaman belakang rumahku. Ketika aku sampai di kolam renang mataku langsung menangkap sebuah tontonan cabul. Si Mimi sedang ngentot dengan Willy. Dasar nekat si Mimi. Padahal mama kan masih ada di kamarnya pagi-pagi begini.

Adikku yang cantik dan sexy itu sedang nungging di tepi kolam renang. Dibelakangnya Willy asik menggenjot kontolnya dalam lobang memek adikku itu. Genjotannya liar dan keras. Menghentak-hentak. Tubuh si Mimi sampe terdorong-dorong ke depan karena hentakan itu. Kelihatannya si Mimi keenakan banget. Bibir bawahnya digigit-gigitnya dengan giginya. Ia menggelinjang-gelinjang sambil merem melek menikmatai hajaran kontol Willy yang luar biasa itu di memeknya.

Aku terangsang hebat. Celana renang segitiga yang kukenakan, tak lagi bisa menampung kontlku yang membengkak. Aku tak tahu. Aku terangsang karena apa? Apakah karena melihat persetubuhan mereka, atau karena serius mengamati kontol besar Willy yang keluar masuk memek si Mimi itu. Entahlah.

Tanganku langsung mengocok batang kontolku yang sudah kukeluarkan dari celana renangku. Kukocok sekuat tenaga. Cepat. Aku pengen segera menumpahkan spermaku.

“Eh, Tom. Ngapain luh?” tiba-tiba kudengar suara Mimi menegurku. Mataku yang sedang merem melek langsung menatapnya. Kulihat ia menolehkan wajahnya yang cantik memandangku yang sedang berdiri mengangang sambil ngocok. Willy tersenyum memandangku. Mereka tak menghentikan permainan mereka.

“Emang lo gak bisa liat, gue lagi ngapain,” jawabku cuek. Willy tertawa kecil mendengar jawabanku.

“Gila lo,” kata Mimi. Setelah itu ia kembali asik menikmati genjotan Willy.

Akhirnya akupun orgasme sambil emmandangi Mimi dan Willy yang terus bercinta. Tak lama setelah itu si Willy yang orgasme di mulut Mimi. Seelum spermanya sempat mencelat dari lobang kencingnya, Willy menyempatkan menyabut kontolnya yang gemuk dan panjang itu dari memek Mimi. Lalu disuruhnya Mimi membuka mulutnya lebar-lebar menyambut tumpahan sperma Willy yang deras. Aku benar-benar terbius birahi melihat detik-detik Willy menumpahkan spermanya di mulut adikku itu. Entah kenapa nafsuku terasa menggelegak melihat kontol itu menyemburkan spermanya yang deras berulang-ulang. Kupelototi setiap detik orgasme Willy itu tanpa berkedip sama sekali. Aku tak ingin kehilangan momen yang indah itu sedetikpun.

“Gila lo. Adik sendiri ngentot ditonton,” kata Mimi padaku. Saat itu kami bertiga berbaring di tepi kolam renang kelelahan. Kalau orang melihat kami saat itu, mereka tidak mengetahui kalau kami baru saja orgasme tadi. Yang melihat pasti hanya mengira kami sedang berjemur menikmati cahaya matahari di tepi kolam renang.

“Habisnya elo berdua sama gilanya sih. Masak pagi-pagi ngentot disini. Ketahuan mama gimana?’ sahutku.

“Cuek. Mama gak bakalan bangun. Sebelum ngentotin gua, mama habis dihajar sama si Willy. Jadi mama pasti sedang ngorok kecapaian,” jawab Mimi yakin.

“Bener Wil?” tanyaku.

“Yap,” sahut Willy singkat.

Dasar si Willy. Habis ngentot dengan mama, masih sanggup ngentoti si Mimi sebinal tadi. Benar-benar profesional nih cowok, pikirku. Itu pengalaman keduaku melihat kontol si Willy. Seru? Belum! Ada pengalaman berikutnya yang lebih seru dari itu.

Dua minggu kemudian. Aku baru bangun tidur siang. Sekitar jam tiga sore. Waktu itu hari Rabu, aku gak ada kelas. Karena itu biasanya habis tidur siang, sorenya aku latihan tenis. Kuubek-ubek kamarku, tapi tak kutemukan dimana raket tenisku berada. Jangan-jangan dipinjam si Toni, pikirku. Adik bungsuku itu emang doyan banget minjem barang-barangku tanpa permisi.

Aku segera menuju kamarnya yang terletak di pavilyun samping bangunan utama rumah kami. Toni emang sengaja diberikan kamar disitu. Maklum abg. Dia doyan ngeband bareng temennya. Daripada ribut dengar suara alat musik yang dimainkannya bareng-bareng temannya maka lebih aman meletakkannya disitu. Jadi suaranya tidak terlalu keras terdengar di dalam rumah. Mending suara musik yang dimainkan asik di dengar kuping. Ini malah musik yang gak jelas juntrungannya. Metal yang gak mutu. Ups, jangan salah sangka lagi. Aku bukan anti metal. Aku doyan metal. Tapi metal yang gak dimaenin sama Toni dan temen-temennya. Hehe.

Pintu kamar Toni tertutup rapat. Juga gorden jendelanya. Tumben. Pikirku. Jarang-jarang gorden kamarnya ditutup. Paling juga kalo udah malem kalo dia tidur. Dari kamarnya terdengar hingar bingar musik metal dari tape. Si Toni berarti ada di kamar, pikirku. Kugenggam gerendel pintu, kuputar. Tak terkunci. Kubuka pintu dan langsung melongokkan wajahku ke kamarnya. Aku sudah bersiap-siap untuk ngomel ke dia.

“Toni! Udah berapa kali gue bilang, jangan ambil barang-barang gue seenaknya… hahhh?!!!!,” kata-kataku terhenti segera. Mulutku menganga, tenggorokanku rasanya tercekat. Mataku melotot melihat peristiwa yang terjadi dalam kamar Toni.

Adikku itu sedang bermain cinta di kamarnya. Tubuhnya telentang di atas ranjang. Pakaian sekolahnya belum terlepas seluruhnya. Hanya resleting celananya saja yang terbuka lebar. Kontolnya yang nongol dari celah resleting itu, ngaceng total sedang dikulum oleh seseorang yang sedang menungging dalam posisi berlawanan arah dengan Toni di atas tubuhnya.

Aku sih udah tahu kalo kelakuan adikku yang masih abg ini sama bejatnya seperti aku. Aku udah sangat tahu kalo dia doyan ngesex dengan orang lain. Harusnya aku tak perlu kaget melihatnya sedang in action seperti ini. Tapi gimana aku gak kaget kali ini, yang kulihat saat ini sangat tidak biasa. Toni maen kulum-kuluman kontol bukan dengan cewek. Tapi dengan cowok men. Dan cowok yang sedang mengulum kontolnya itu adalah si Willy! Shit!

Si Tonipun edan. Masak mulutnya juga ngulum kontol si Willy? Ngawur! Yang bener aja, kontol gede si Willy itu dikuluminya dengan penuh nafsu seperti ngulum permen lolipop saja.

Toni kulihat salah tingkah setelah menyadari kehadiranku. Buru-buru dilepaskannya kontol si Willy dari mulutnya. Ia segera bangkit dan membereskan celananya. Sementara si Willy kulihat tenang-tenang saja.

“Ngapain Tom? Masuk kamar gue kok gak ngetuk pintu dulu,” kata Toni terlihat kurang suka padaku.

“Emang elo pernah ngetuk pintu kalo masuk kamar gua?” sahutku. Kupandangi keduanya dengan tatapan tajam. Willy kulihat tersenyum padaku.

“Hai Tom,” katanya melambaikan tangan seperti tak ada apa-apa.

“Ngapain elo berdua?” kataku dingin.

“Gak ngapa-ngapain. Mau ngapain elo?” sahut Toni masih salah tingkah.

“Gak ngapa-ngapain?! Jelas-jelas mata gua ngelihat elo berdua sedang emut-emutan kontol kok elo bisa ngong gak ngapa-ngapain. Elo homo?!” kataku.

“Siapa yang homo? Enak aja!” kata Toni protes.

“Kalo bukan homo, apa namanya cowok sama cowok emut-emutan kontol begitu? Nah elo, kok elo bisa…,” kataku pada Willy. Kalimatku tak kusambung. Aku menatap bingung padanya.

“Sante aja men. Ini hal yang biasa kok,” sahut Willy tanpa beban.

“Biasa???!” tanyaku bingung. Dahiku mengernyit.

“Iya. Gue sama Toni kebetulan lagi sama-sama horny. Gak ada pelampiasan, ya udah, kenapa kita gak maen berdua aja. Toh tujuannya cuman untuk melampiaskan birahi doang. Maen sama cewek juga emut-emutan kan. Gua punya mulut, Toni punya mulut, kan bisa dipake untuk ngemut. Hasilnya tetap sama kok,” sahut Willy tenang. Gigolo ganteng itu benar-benar tenang luar biasa. Sepertinya apa yang dilakukannya bersama Toni itu bukan hal yang aneh. Aku jadi terkesima mendengar jawabannya. Toni kulihat mengangguk-angguk mendengar kata-kata Willy. Duduk dengan seragam SMUnya diatas ranjang, adik bungsuku itu tak berkata apa-apa.

“Gua gak ngerti deh. Gua yang gila atau elo berdua yang gila,” kataku.

“Gak ada yang gila Tom. Apa gue pernah ngatain elo gila karena elo suka mandangin kontol gua? Gak pernah kan?”

“Maksud elo?”

“Jangan pura-pura bego. Gue tau kok elo suka curi-curi pandang lihat tonjolan di selangkangan gue. Apalagi kalo pas gue telanjang bulat. Mata elo kan sampe melotot ngelihat adik gue ini kan,” kata Willy. Ia menggoyang-goyangkan kontolnya yang sudah lemas. Memamerkannya padaku. Aku tak tahu mau bilang apa lagi. Tak kusangka Willy mengetahui kalo aku selalu memperhatikan perkakasnya selama ini.

“Sudahlah. Sekarang elo mau berdiri terus disitu sambil ngelihatin kita sekaligus melototin kontol gue, atau mau ikutan bareng kita menikmati anugerah yang kita miliki. Tom kita harus bersyukur lo, kita bertiga kan dianugerahi kontol yang punya ukuran diatas rata-rata. Gak banyak lo orang yang dianugerahi hal beginian,” kata Willy.

Benar yang dikatakan Willy. Kami bertiga emang punya ukuran kontol yang diatas rata-rata. Adikku si Tony kulihat juga punya kontol yang gede. Ukurannya gak jauh-jauh dengan ukuranku.

Akal sehatku sirna. Aku yang memang sudah cukup lama tergoda dengan kontol si Willy akhirnya pasrah saja saat Willy dan Toni membimbingku ke arah ranjang. Kubiarkan saja mereka mempreteli seluruh pakaianku. Kami bertiga telanjang bulat di dalam kamar Toni.

Willy memberikan penghormatan khusus padaku. Rasa penasaranku pada kontolnya yang gede itu dipuaskan olehnya. Willy mengangkangi leherku saat aku berbaring telentang di atas ranjang. Kontolnya yang besar ditampar-tamparkannya ke pipiku. Birahiku menggelegak. Pertama kali seumur hidupku aku diperlakukan seperti ini. Saking menggelegaknya birahiku akhirnya apa yang tak pernah terpikirkan selama ini dibenakku kulakukan. Kukulum kontol Willy sepuas-puasnya. Aku menggila. Seperti anjing ketemu tulang, kulahap kontol Willy. Aku tak ubahnya mamaku dan Mimi yang tergila-gila pada kontol gigolo ganteng ini.

Rupanya Tonipun sama tergila-gilanya seperti aku. Ia berebutan denganku mengerjai kontol besar si Willy. Seringkali kudorong wajah ganteng adikku yang masih abg itu menjauhi kontol Willy, karena aku sudah tak sabar ingin memasukkan batang gede itu dalam mulutku. Kalo sudah gitu, Toni cuman bisa bersungut-sungut padaku. Aku cuek aja. Sementara Willy tertawa melihat kami berebutan kontolnya seperti itu. “Kalian sekeluarga sama binalnya deh,” komentarnya. Ia pasti teringat pada mama dan Mimi saat mengoral kontolnya. Pasti sama maniaknya seperti aku dan Toni.

Aku jadi terlupa, bahwa aku laki-laki straight. Aku jadi menikmati permainan laki-laki seperti ini. Willy rupanya tak mau melewatkan kontolku dan Toni. Dia segera membalik tubuhnya berlawanan arah denganku. Aku dan Toni sama-sama berbaring telentang bersisian. Mulut kami bergantian mengulum kontol Willy. Sementara Willy yang menungging diatas kami menggilir kontolku dan Toni. Mulutnya ganti berganti mengulum kontolku dan kontol adikku itu. Saat mulutnya di kontolku, tangannya mengocok kontol Toni. Begitu juga sebaliknya.

Sore itu aku tak jadi latihan tenis. Kebetulan mama belum pulang dari kantor, dan Mimi tak ada di rumah, kami puas-puaskan bermain sex bertiga. Segala apa yang memungkinkan, kami lakukan bertiga. Termasuk juga saling menyodomi satu sama lain. Baby oil yang biasanya digunakan Toni untuk coli, kami gunakan sebagai pelumas agar kontol tak terlalu sulit memasuki lobang pantat. Meski dianal adalah kali pertama buatku, tapi aku ternyata bisa menikmatinya. Diantara rasa sakit dimasuki kontol dalam lobang pantat, aku merasakan juga nikmat yang luar biasa.

Saat sore menjelang, kami segera cabut menuju kost Willy. Kami tak mau terganggu dengan kepulangan mama dari tempat kerjanya. Pada mama, Willy menelpon bahwa dia tak menginap di rumah kami malam itu. Ada kerjaan, alasannya pada mama. Sementara aku dan Toni tak perlu menelpon mama. Sudah biasa kami tak tidur di rumah. Jadi mama tak akan merasa aneh. Malam itu kami puas-puaskan bermain cinta bertiga. Tak peduli, bahwa aku dan Toni adalah saudara kandung, kami juga saling menyodomi.

Setelah beberapa kali bersetubuh, akhirnya kami bisa memahami posisi masing-masing. Meskipun kami sama-sama fleksibel saat bercinta, namun Toni lebih suka pada posisi dianal, baik olehku maupun Willy. Sedangkan aku dan Willy suka keduanya, baik dianal dan menganal. Hanya saja aku lebih menikmati dianal oleh Willy daripada oleh Toni. Kontol Willy yang sangat besar sungguh membuatku keenakan. Aku sampe menggelepar-gelepar saat dianalnya.

Kalo menganal, aku lebih suka melakukannya pada Toni. Aku sangat suka melihat ekspresi adikku yang sepertinya kesakitan namun terus memaksaku untuk mengentotnya dengan buas. Sedangkan kalo menganal Willy, aku tak menemukan ekspresi itu. Willy sudah sangat profesional dalam hal ini. Ternyata dia adalah gigolo bagi wanita dan laki-laki sekaligus. Saat dientot, ekspresinya hanya penuh kenikmatan saja. Lagipula, lobang pantat Willy tak sesempit lobang pantat si Toni. Lobang pantat Willy sudah mengendor. Dia sudah sering dientot oleh laki-laki lain.

Kami bercinta tiada henti. Willy memberikan kami minuman rahasia miliknya. Minuman yang membuat tenaga kami tak kunjung sirna. Pantas saja tenaga gigolo ini bak kuda liar. Ia punya ramuan rahasia rupanya. Saat kutanyakan pada Willy, apa cairan itu dan darimana ia memperolehnya, gigolo itu tak mau mengatakannya padaku. “Ini rahasia perusahaan,” jawabnya. Aku dan Toni tertawa mendengar jawabannya.

Hari kamis esoknya, harusnya Toni sekolah. Tapi adik bungsuku itu bolos. Aku juga bolos kuliah, pun Willy. Kami seperti mesin sex. Toni tak bosan-bosannya memintaku dan Willy bergantian menghajar lobang pantatnya. Dia benar-benar ketagihan. “Pantes aja cewek-cewek suka dientot. Enak banget men,” komentarnya. Pantat Toni yang putih dan montok penuh semangat bergerak saat Willy atau aku menyodominya. Kalo kupikir-pikir, goyang ngebor Inul, kalah jauh deh dibandingin ngebornya si Toni. Membuatku dan Willy tak kuasa untuk menahan orgasme. Sperma kami tumpah memenuhi lobang pantat adikku itu.

Kamar kos Willy semerbak dengan bau sperma dan keringat kami. Bau ini malah semakin membuat kami bernafsu untuk mengentot lagi dan lagi. Setelah sore, akhirnya kami kembali ke rumah. Dan sejak itu kami menjadi rutin ngesex bertiga. Mencuri-curi kesempatan tanpa sepengetahuan mama dan Mimi. Apa yang kami lakukan adalah rahasia kami bertiga. Tak perlu orang lain tau. Termasuk juga cewek-cewek kami. Apalagi mama dan si Mimi.

Tamat

 

Daripada setiap hari sabtu dan minggu molor di kos-kosan karena gak ada kegiatan perkuliahan, Indra akhirnya mutusin ikut dalam club volly yang ada dikampusnya. Kebetulan semester ini ada rekrutmen anggota baru. Semester lalu Indra memang mutusin untuk full kegiatan akademik karena masa itu awal ia kuliah setelah lulus SMU. Saat itu ia tak ingin diganggu dengan segala tetek bengek selain kegiatan akademik. Ternyata setelah menjalaninya satu semester kegiatan akademik tidaklah berat-berat banget. Ia lebih banyak molor di kos seusai pulang kuliah plus sabtu minggu. Semula ia membayangkan kuliah di Fakultas Teknik Elektro ITB akan membuatnya sibuk dengan belajar dan belajar. Ternyata gak gitu-gitu amat rupanya. Meski tak terlalu ngotot belajar, semester ini nilai akademik Indra ternyata bagus-bagus semua. Sangat banyak kegiatan eskul di kampusnya ini. Mulai dari masak memasak sampai panjat tebing. Lengkap banget. Karena memang sejak SMU doyan volly akhirnya Indra mutusin gabung di club volly aja. Satu semester gak latihan volly membuat bodynya yang kekar dirasakannya sedikit berlemak. Itu perasaan Indra doang. Coba tanyain si Dini, selingkuhannya di kampus, ia tidak merasa tubuh Indra berlemak. Ia awam soal otot-otot lelaki. Tubuh Indra menurutnya sexy abis. Tinggi, kekar, dan proporsional. Sangat menggairahkan bagi cewek-cewek di kampus. Apalagi kalo Indra cuman pake celana renang doang saat di kolam renang, semua cewek bakalan melototin tubuh Indra yang memang oke banget. Ramping tapi penuh otot. Tapi itulah, mungkin karena ia olahragawan maka Indra lebih tahu kalau di tubuhnya yang kekar itu mulai nongol lemak-lemak. Jadi jangan protes kalau ia tetap mutusin untuk ikutan club volly. Saat nelpon ke Reny kekasihnya di Palembang sang cewek setuju-setuju aja Indra ikutan club volly. “Yang penting jangan terlalu capek sayang, nanti gak bisa belajar dengan baik lagi,” pesan mesra Reny dari seberang pulau. Sebagai informasi Indra ini asal Palembang. Turunan Arab dan Melayu Palembang. Bayangin aja gimana gantengnya tuh anak. Lulus SMU ia kuliah di Bandung. Sementara Reny sang pacar tinggal di Palembang karena gak lulus SPMB. Akhirnya tuh cewek harus kuliah di perguruan tinggi swasta disana. Niatnya tahun depan ikutan SPMB lagi supaya bisa lulus dan sama-sama kuliah di Bandung. Jadi bisa deket-deketan dengan Indra. Reny memang bertekad kuat agar lulus SPMB tahun depan. Selain pengen kuliah di PTN favorit juga supaya bisa mantau kelakuan si Indra. Reny soalnya tau banget kelakuan binal cowoknya yang ganteng ini. Gila sex. Kalo gak ngentot seminggu aja palanya bisa puyeng. Libidonya gila-gilaan. Untung aja Reny bisa nandingin gila sexnya Indra. Makanya Indra sampe sekarang masih betah pacaran dengan dia. Sebelum dengan Reny Indra udah berkali-kali gonta-ganti pacar. Reny itu awalnya selingkuhannya juga. Tapi karena ngesex dengan Reny bisa memuaskan Indra maka akhirnya Indra mutusin untuk jadian aja dengan Reny. Meninggakan pacar-pacarnya yang laen. Awal kuliah, Indra nyoba untuk setia dengan Reny. Gak mau pacaran dan cari cewek lain. Tapi mana tahan dia. Baru seminggu kuliah kepalanya udah puyeng. Apalagi kepala bawahnya. Hehehe. Begitu kenal Dini, mahasiswi fakultas ekonomi Unpad yang mojang Bandung asli itu, niatnya untuk setia pada Reny terlupakan sudah. Dini kini jadi pasangan tetap ngesexnya. Tiada hari dilewatinnya tanpa nyemprotin memek Dini pake spermanya. Meski tak sehebat Reny, namun Dini cukup bisa memuaskan kebutuhan ngesexnya Indra. Dan karena itu Indra masih tetap jadian dengan Reny. Ia masih pengen kalo balik ke Palembang bisa ngesex sepuasnya dengan ceweknya sejak SMU itu. Hari Sabtu pagi Indra udah nongkrong di gelanggang olah raga. Biasanya Sabtu dan Minggu pagi, gelanggang oleh raga ini rame dengan mahasiswa yang berolah raga. Gelanggang ini bisa digunakan untuk volly, basket dan juga badminton. Tapi nampaknya Sabtu ini gelanggang khusus dicarter oleh club volly untuk ngadain rekrutmen. Ada dua puluh laki-laki bertubuh tinggi atletis menggenakan pakaian olah raga yang seragam warnanya. Kaos lengan pendek warna biru muda dan celana pendek warna biru tua. Mereka adalah anggota inti club volly yang akan merekrut sepuluh mahasiswa baru termasuk Indra. Dengan stelan kaos lengan pendek, celana pendek dan sepatu olah raga yang berbeda-beda sepuluh calon anggota baru club volly sudah berbaris rapi. Siap mendengarkan arahan dari salah seorang anggota tim volly. Indra mengenal mahasiswa yang akan memberikan arahan itu. Adriansyah namanya, tepatnya Teuku Adriansyah. Mahasiswa teknik mesin semester V, asal Aceh. Adriansyah ini adalah ketua club volly. Anaknya bener-bener jago maen volly. Bila dia turun main membela kampus maka penonton akan bersorak-soari mendukungnya. Apalagi cewek-cewek. Selain menikmati permainannya yang oke, cewek-cewek ini juga sekaligus menikmati keindahan fisiknya. Wajahnya ganteng ditopang tubuh bertinggi berat 178 cm dan 65 kg. Siapa yang gak ngiler liatnya. “Hari ini kita mengadakan serangkaian tes. Bisa jadi kalian diterima seluruhnya. Namun bukan tidak mungkin satupun dari kalian tidak ada yang diterima. Kami hanya merekrut mereka-mereka yang benar-benar berkualitas, patuh pada aturan club, dan loyal melaksanakan perintah senior, demikian Adriansyah mengawali arahannya. Sepuluh calon anggota baru manggut-manggut. Adriansyah menyambung lagi kata-katanya,”Tes pertama adalah wawancara sekaligus tes kemampuan fisik. Disini para interviewer akan meneliti secara komprehensif kesungguhan dan motivasi kalian bergabung di club. Selain itu juga untuk mengorek informasi pengalaman yang kalian miliki di bidang olah raga khususnya volly. Karena itu seperti yang diumumkan dalam selebaran pengumuman, apabila kalian memiliki piagam, sertifikat penghargaan berkaitan dengan kegiatan olah raga silakan diperlihatkan pada interviewer nanti. Selain itu pewawancara juga akan mengetes fisik kalian. Silakan tunjukkan kemampuan fisik kalian yang prima. Tes wawancara dan fisik ini akan berakhir siang nanti menjelang makan siang. Setelah makan siang dan istirahat tes akan dilanjutkan dengan kemampuan bermain volly hingga selesai. Barangkali itu aja, ada yang pengen bertanya?” tanya Adriansyah. Semua diam. “Baiklah kalo gitu. Karena enggak ada yang ngajuin pertanyaan, maka kita mulai saja tes wawancara dan fisik. Masing-masing kalian akan dibawa oleh dua orang senior ke tempat wawancara yang tempatnya ditentukan oleh senior itu sendiri. Dimanapun tempatnya kalian tidak boleh protes. Meskipun di toilet sekalipun. Semua pertanyaan harus dijawab, semua perintah senior harus dilaksanakan dengan patuh dan tanpa protes. Ini perlu saya tekankan sekali lagi. Hasil tes wawancara dan fisik sangat menentukan lulus tidaknya kalian nanti,” Adriansyah mengakhiri arahannya. Ini sih namanya plonco dibungkus rekrutmen, batin Indra. Tapi dia cuek aja. Itung-itung latihan mental dan fisik, katanya dalam hati. Satu persatu calon peserta dibawa oleh dua orang senior ke tempat wawancara. Beneran, ada juga yang dibawa ke toilet wanita, hehehe. Akhirnya tiba giliran Indra. Yang membawanya adalah Adriansyah dan seorang senior berkulit hitam. Daniel Marantika namanya. Meski hitam orangnya ganteng banget. Hidungnya mancung, rahangnya kukuh dan tubuhnya kekar sekali. Daniel ini adalah kapten tim volly kampus saat ini. Indra merasa bangga karena yang mewawancarainya adalah sua orang yang sama-sama punya nama di club. Indra mengikuti langkah Adriansyah dan Daniel yang membawanya meninggalkan lapangan. Mereka membawanya ke salah satu ruang ganti yang banyak terdapat dipinggir lapangan. Ruang ganti itu tidak terlalu besar ukurannya. Hanya sekitar lebih kurang 3 x 3 meter persegi. Biasanya digunakan untuk tempat ganti pakaian empat sampai lima orang. Adriansyah dan Daniel mempersilakan Indra memasuki ruangan. Didalam sudah disediakan tiga kursi lipat disusun berhadapan. Indra dipersilakan duduk menghadap kedua senior itu. Sebelum memulai wawancara Indra melihat Daniel mengunci pintu ruang ganti dan mengantongi kunci itu di saku celana pendeknya. “Nama?” tanya Adriansyah mengawali wawancara. “Indra,” jawab Indra singkat. “Nama lengkap dong,” sela Daniel. “Muhammad Indra Ramadhan,” jawab Indra lagi. “Hmmm… nama yang bagus,” Adriansyah manggut-manggut, “Turunan Arab ya?” sambungnya. “Iya,” jawab Indra sambil mikir kok mesti nanya-nanya SARA sih. “Asal?” “Palembang,” “Disini tinggal sama siapa?” “Kos,” “Dimana?” “Dago,” Bergantian Adriansyah dan Daniel mengajukan pertanyaan. “Mmm udah punya cewek?” ini Daniel yang nanya. Lho, kok nanya yang beginian sih? Batin Indra. Aneh. Gak nyambung sama urusan volly. Tapi karena ingat arahan Adriansyah di lapangan tadi segala pertanyaan harus dijawab tanpa protes, maka dijawab juga pertanyaan itu oleh Indra. “Udah a’,” “Cool, dimana ceweknya sekarang?” “Di Palembang a’ dia gak lulus SPMB kemaren,” “Pacaran jarak jauh nih ceritanya. Punya labaan dong disini,” kata Adriansyah tersenyum nakal. Waduh, kok makin ngawur pertanyaannya. “Kok pertanyaannya gak soal volly a’,” tanya Indra. “Tadi kamu dengar arahan kan. Semua pertanyaan harus dijawab. Kita berdua bebas nanyain apa aja dan kamu gak boleh protes. Kalo gitu wawancaranya dihentikan aja, kamu boleh pulang,” ancam Daniel. Indra jadi serba salah. “Bukan gitu a’. Sorry kalo gitu. Apa tadi pertanyaannya? O iya labaan ya.. mmm…. ada sih. Namanya juga laki-laki a’, hehehe,” Indra nyengir grogi. Adriansyah dan daniel menatap tajam padanya. Indra makin grogi jadinya. “Pernah ngesex dong. Sering mungkin,” tanya Daniel dingin. “Ernggg… pernah a’. Aa’ berdua juga pernah kan, hehe,” Indra coba mencairkan suasana. Tapi percuma. “Yang ditanya kamu, bukan kami. Jadi gak usah bertanya soal kami,” Adriansyah berkata sama dinginnya seperti Daniel. “Pernah apa enggak?” “Pernah a’,” Indra makin grogi. “Sama dua-duanya?” tanya Daniel. “Iya,” “Berapa kali seminggu?” “Bisa empat sampai lima kali a’,” “Nafsu gede kamu ya,” “Gak juga a’,” “Kebanyakan ngesex gak loyo badan kamu? Bisa ganggu aktifitas olah raga dong,” tanya Adriansyah. Nah ini pertanyaan udah mulai ke masalahnya, fikir Indra. Semangat Indra menjawab. “Enggak lah a’. Malah semakin semangat. Yang penting stamina tetap dijaga. Saya selalu makan makanan yang bergizi dan minum susu,” “Hmmm… gitu ya,” “Iya a’,” “Gak takut pacar dan labaan kamu hamil?” tanya Daniel. Pertanyaannya kok balik-balik ke soal sex lagi sih? Fikir Indra. Tapi dia tak mau protes lagi. “Enggak a’. Kan ngesexnya tembak luar,” “Tembak luar?” “Ejakulasinya dilakukan diluar a’,” “Kurang jelas,” kata Daniel. Gimana sih? Udah segede ini masak mereka berdua gak ngerti, batin Indra. Percuma ganteng-ganteng dan body gede kayak gini kalo gak pernah ngesex. Masak gak ngerti tembak luar. Ada-ada aja. Kata Indra dalam hati. “Maksudnya gini a’, kalau sperma udah mau nyembur maka penis dicabut dari vagina. Terus spermanya disemburin di luar,” “Mmmm… disemburin dimana spermanya?” tanya Adriansyah cuek. Astaga! “Ya terserah a’. Bisa di perut. Di dada, di muka, terserah,” “Mmm gitu ya,” “Iya a’. Aa’ berdua belon pernah ya?” “Kok nanyain kita berdua?” “O iya a’. Lupa,” “Waktu dikeluarin di luar, penisnya dikocok-kocok sendiri dong,” “Ya iya dong a’,” “Sama dengan coli dong kalo gitu,” “Gak dong a’. Kalo ini kan sempat dimasukin vagina. Kalo coli kan enggak. Pake tangan doang,” “Kurangs eru ya Niel,” kata Adriansyah pada Daniel. “Iya. Tembak dalam baru asik,” “Aa’ berdua suka tembak dalam ya. Gak kuatir entar hamil?” “Ngapain takut hamil, kita tau caranya supaya gak hamil kok,” “Pake kondom ya a’,” “Buang-buang duit pake kondom,” “Hitung kalender ya,” “Kayak akuntan aja pake hitung-hitungan,” “Aa’ berdua ikutan vasektomi ya, maaf lo a’,” “Enak aja. Sialan lo,” Indra nyengir. “Abis gimana dong?” “Mau tau caranya?” “Boleh a’,” “Sabar ya. Entar pasti dikasih tau. Sekarang lanjutin wawancara aja dulu,” “Yaa…,” Indra mulai penasaran. Anak satu ini emang gila sex. Jadi kalo udah dipancing bicara soal itu maka dia akan semangat banget. “Penasaran ya,” “Iya..,” “Hehehe. Sabar ya Indra. Eh, ngomong-ngomong kamu punya penyakit dalam gak?” “Penyakit dalam? Gak ada a’. Saya sehat luar dalam,” “Korengan gak lo,” “Aa’ ada-ada aja,” “Bawa surat keterangan dokter?” “Gak ada a’. Kan gak ada disuruh bawa. Saya cuman bawa piagam dan sertifikat prestasi olah raga doang,” “Kamu harusnya kreatif dong. Meski gak disuruh, harusnya bawa. Soalnya kan itu bukti otentik mengenai keterangan kamu sehat atau enggak. Siapa tau diperlukan. Ternyata sekarang diperlukan kan?” kata Adriansyah. “Trus gimana dong a’?” “Kamu harus buktiin dong kalo kamu emang bener sehat luar dalam,” “Aa’ bisa liat kan tubuh saya gak ada koreng atau sejenisnya. Aa’ liat deh,” Indra mengangkat kaosnya ke atas menunjukkan perut dan dadanya yang putih bersih. Juga mengangkat celananya menunjukkan pahanya yang berotot itu benar-benar putih bersih. Gak ada bekas koreng. Adrianysah dan Daniel serius memandangi. “Itu kan luarnya doang, dalemnya gimana. Kita harus mastiin kamu itu emang sehat luar dalem. Kalo enggak kita gak bisa ngelulusin,” Daniel ngomong berwibawa. Indra mengkeret. Ia gak mau gak lulus seleksi hanya karena hal sepele doang. “Kalo gitu nanti saya urus surat keterangannya a’,” “Kita perlunya sekaranga,” “Saya benar-benar gak ngerti harus gimana a’. Sekarang terserah aa’ berdua aja gimana caranya,” “Kalo kita periksa mau? Gini-gini kita pernah jadi anggota PMR, jadi ngerti kesehatan tubuh manusia,” terang Adriansyah. “Terserah aa’ aja,” Indra pasrah. “Oke kalo gitu. Bawa steteskop Niel?” “Bawa dong. Ada di tas,” Daniel beringsut mengambil steteskop ditas ransel yang dibawanya. Indra bingung anak teknik kok bawa-bawa steteskop, kayak dokter aja, fikirnya. “Kenapa? Bingung ngelihat Daniel bawa ginian. Ini namanya mengantisipasi orang-orang kayak kamu,” terang Adriansyah menjawab tanda tanya Indra. Jawaban ini membuat Indra nyengir malu, Adriansyah ternyata bisa menebak fikirannya. “Sekarang buka baju biar diperiksa kesehatan kamu,” kata Adriansyah. “Berdiri disitu,” Indra berdiri lalu melepaskan kaosnya. Kemudian tegak menunggu. “Celananya juga,” kata Daniel. “Celana?” Indra meyakinkan. Ia memandang Daniel dan Adriansyah bergantian. “Iya celananya juga. Celana dalam juga. Sepatu ama kaos kaki enggak usah,” sahut Adriansyah. “Telanjang maksudnya?” “Yup,” “Buat apa?” “Siapa tau elo ambeyen,” “Enggaklah a’. Saya gak ambeyen,” “Makanya buka semua. Kalo emang gak ambeyen ngapain takut,” “Bukan takut.. tapi…,” “Malu? Ada-ada aja. Sama-sama cowok juga kok mesti malu. Atau kami perlu telanjang juga sekalian supaya kamu enggak malu?” “Enggak usah a’,” Indra segera melepaskan seluruh pakaiannya. Kini tubuhnya yang kekar telanjang bulat dihadapan Adriansyah dan Daniel. “Suka fitness ya Ndra?” tanya Daniel. “Rutin a’. Seminggu dua kali,” “Pantes. Renang juga ya?” “Iya,” “Otot lengan, dada, dan perut kamu terbentuk bagus jadinya,” kata Adriansyah. Dengan santai ia meremas otot-otot Indra, membuat cowok ini merasa risih. Adriansyah menempelkan steteskop di dada bidang Indra. Ia mendengarkan dengan serius degup jantung pemuda itu. Berdiri telanjang dihadapan dua cowok seperti itu membuat Indra deg-degan. Jantungnya berdegup kencang. “Kok degupannya keras banget Ndra. Jangan gugup dong,” kata Adriansyah. Indra nyengir. Stetoskop berpindah-pindah tempat. Dari dada kiri ke kanan. Ke perut dan sebagainya. Indra bingung kok meriksanya begitu sih? Fikirnya. Adriansyah mengehentikan pemeriksaan steteskopnya. “Ada yang perlu diperiksa lagi Niel?” tanyanya. Daniel mengangguk, ia berdiri di belakang Indra. Jemarinya mengelus punggung pemuda itu. Kemudian turun kebawah ke pinggang dan buah pantat Indra. “Kamu bungkuk deh. Nungging,” kata Daniel. “Untuk apa a’?” “Saya mau mastiin kamu ambeyen atau enggak?” jawab Daniel. Indra akhirnya nurut. Ia membungkukkan badan dan melebarkan pahanya. Daniel jongkok di belakang Indra. Membuka buah pantat Indra dengan santai. Indra menunggu apa yang dilakukan Daniel. Ia jadi inget ketika ikutan tes masuk SMU Taruna Nusantara. Dulu diapun diginiin untuk tes pemeriksaan ambeyen. Jemari Daniel tiba-tiba menyusup ke celah pantatnya. Indra memejamkan matanya. Rasanya perih. “Seret Ndri, tolong ambilin baby oil itu deh,” kata Daniel. Akhirnya Indra tahu apa guna baby oil yang sejak tadi diletakkan dekat tempat duduk Adriansyah dan Daniel. Adriansyah segera melemparkan botol baby oil itu pada Daniel. Cowok Ambon itu segera melumuri jari tengahnya dengan cairan baby oil itu. Kemudian jari itu dimasukkannya lagi ke celah lobang pantat Indra. Jari itu menusuk ke dalam. Indra membiarkan saja. Namun apa yang dilakukan Daniel kemudian membuat Indra terhenyak. Jari tengah Daniel bergerak-gerak, mengaduk-aduk lobang pantatnya. Indra merinding. Rasanya geli-geli enak. Jari tengah Daniel bergerak maju mundur di celah lobang pantat Indra. Menimbulkan gesekan yang membuat Indra keenakan. Ia memejamkan matanya. Bibir bawahnya digigitnya. “Kenapa Ndra? Enak ya?” tiba-tiba Adriansyah sudah berbisik di telinganya. Bibir cowok ganteng itu dirasakannya menyentuh daun telinganya. “He eh,” Indra menyahut lirih. Wajahnya merah. Ia ketangkap basah menikmati sodokan jari Daniel itu. “Pemeriksaannya udah selesai, kamu bebas ambeyen Ndra. Jarinya mau dikeluarin atau tetap didalam aja?” tanya Daniel dari belakang. “Biarin didalem aja a’,” kata Indra pelan. “Ya udah kalo gitu,” Daniel melanjutkan sodokan jarinya. Keluar masuk lobang pantat Indra. Sensasi yang ditimbulkan membuat Indra terangsang. Tanpa disadarinya kontolnya membesar. “Kontol kamu kok ngaceng sih Ndra?” tanya Adriansyah. Tiba-tiba tangannya sudah menggenggam kontol Indra yang gemuk dan panjang. Tangan itu licin. Rupanya Adriansyah melumuri tangannya dengan baby oil. Perlahan tangan Adriansyah meremas-remas lembut batang kontol Indra. “Ahhhhh…,” tanpa sadar Indra mengerang. Tangan Adriansyah semakin nakal. Kini mulai bergerak seperti mengocok dengan lembut. “Enak Ndra?” tanya Adriansyah lagi. “He eh,” “Mau yang lebih enak Ndra?” tanya Daniel. “Mau a’. Mau,” seminggu tak ngentot dengan Dini membuat Indra tak bisa menguasai nafsunya. Ia membiarkan saja dua laki-laki tampan dan jantan itu mengerjai daerah sekitar selangkangannya. Mulut Daniel dirasakan Indra menyentuh kulit buah pantatnya. Sesaat kemudian dari mulut itu keluar lidah Daniel. Lidah itu mulai melakukan jilatan-jilatan di sekitar pantat Indra. “Ahhhhh…,” Indra kembali mengerang. Matanya dipejamkannnya kuat-kuat. Tanpa disadarinya Adriansyah rupanya sudah jongkok dihadapannya. Tiba-tiba Indra merasakan kepala kontolnya dikulum. Seperti kuluman Reny atau Dini. Indra menggeliat. Rasanya kepalanya ringan. Tubuhnya seperti melayang. Ia sangat keenakan merasakan kuluman dan jilatan di daerah vitalnya. Lidah Daniel menyapu celah pantat, hingga buah pelernya yang menggantung. Sementara mulut Adriansyah mengulum kepala kontolnya sambil menyapukan lidahnya di dalam mulut. Indra mengerang. Sekian lama Indra terbius oleh permainan mulut kedua laki-laki gagah itu. Ia terhanyut. Ia lupa bahwa yang melakukan itu adalah laki-laki sama sepertinya. Namun pada satu waktu tertentu ia tersadar. Akal sehat menguasainya kembali. “Astaga! Ini gila!” seru Indra tiba-tiba. Ia melepaskan dirinya dari kedua laki-laki itu. Ia menjauh dari keduanya. “Kalian….. mengapa kalian melakukannya padaku… Tak kusangka kalian gay,” katanya dengan ekspresi yang campur baur. Penuh birahi dan bingung dengan apa yang terjadi. Adriansyah dan Daniel berdiri tegak menatap Indra. “Apa maksud kamu Ndra?” tanya Adriansyah. “Kalian homo. Kalian dua laki-laki homo. Aku tak mau diperlakukan seperti itu,” “Kamu ada-ada saja. Bukankah tadi kami melakukannya atas permintaanmu,” “Aku tadi khilaf. Tak sadar,” “Jangan berdalih. Kamu tidak dalam keadaan mabuk Ndra. Kamu menikmatinya, akui sajalah,” kata Daniel tegas. “Aku… aku.. tak mengertii.. aku tidak mau jadi homo seperti kalian,” Indra bingung. Adriansyah dan Daniel mendekat. Memegang tubuh Indra erat. “Tak usah bingung Ndra. Mari kami jelaskan. Duduklah dulu,” ajak Adriansyah. Indra mengikuti meskipun bingung. “Kamu salah persepsi tentang kami berdua,” kata Daniel. “Salah persepsi bagaimana? Kalian jelas-jelas gay. masak kalian mau ngemut kontol dan jilat pantatku?” “Kamu kurang memahami sex Ndra. Makanya banyak-banyak baca buku tentang sex. Bukan berarti karena kami ngemut kontol kamu terus kami jadi homo,” kata Adriansyah. “Jadi apa namanya?” “Entahlah. Yang pasti kami hanya bermaksud mengajarkan kamu melakukan sex dan dapat berejakulasi di dalam tanpa perlu takut hamil” “Maksud kalian anal sex?” “Begitulah kira-kira,” “Dengan sejenis?” “Ya,” “Itu gay sex namanya,” “Terserah kamu menyebutnya apa. Yang pasti meskipun kita melakukannya namun tidak mengurangi rasa suka kita pada cewek Ndra,” kata Daniel. “Maksud kalian?” “Kami sudah sering melakukannya berdua. Tak ada komitmen. Tak ada cinta. Hanya memuaskan birahi saja. Dan yang terpenting tidak mengganggu hubungan cinta dengan cewek kami masing-masing,” “Kalian… sering melakukannya?” “Ya… Mengapa? Ada yang aneh?” “Kalian gila,” “Terserah apa katamu,” Adriansyah tak berkata-kata lagi. Ia memandang ke arah Indra dengan tatapan tajam. Indra grogi akan pandangan itu. Ia membuang muka. Perlahan-lahan Adriansyah melepaskan pakaiannya diikuti oleh Daniel. Kedua cowok itu kini telanjang bulat dihadapan Indra, hanya sepatu dan kaos kaki saja yang tidak mereka lepas. Keduanya kemudian merapat. Lalu berpelukan erat dilanjutkan dengan saling melumat bibir. Penuh nafsu dan buas. Jemari mereka saling meraba ke semua lekuk-lekuk tubuh mereka yang berotot kencang. Indra merinding melihatnya. Kembali ia membuang muka. “Gila. Aku mau keluar dari sini,” kata Indra. Ia melangkah ke arah pintu. Diputarnya gerendel pintu namun terkunci. Ia teringat bahwa kunci itu disimpan di kantong celana Daniel. Indra mengarahkan pandangannya ke arah Adriansyah dan Daniel kembali. Mencari-cari celana Daniel yang tadi terserak setelah dilepaskan oleh cowok Ambon itu. Mau tak mau ia kembali menatap Adriansyah dan Daniel yang masih terus beraksi. Malah semakin vulgar. Mulut Adriansyah sibuk melumat puting susu Daniel yang kecoklatan, membuat cowok Ambon itu menggelinjang-gelinjang. Adriansyah semakin liar, ia melanjutkan lumatan bibirnya ke ketiak Daniel yang penuh bulu. Tanpa risih dan jijik mulut Adriansyah menyelomoti ketiak teman satu clubnya itu. Indra terhenyak. Tak pernah dibayangkannya hal seperti ini. Menonton pergumulan cabul dua laki-laki jantan. Melihat pemandangan baru ini membuatnya lupa mencari kunci pintu. Pandangannya tak lepas melihat apa yang dikerjakan oleh dua mahasiswa teknik seniornya itu. Adriansyah kemudian menungging seperti anjing, tangan dan kakinya digunakan sebagai tumpuan. Daniel berjalan ke belakang Adriansyah. Juga menungging, wajahnya tepat di buah pantat Adriansyah yang putih dan montok. Lidah Daniel kemudian sibuk menjilat-jilat pantat dan kontol Adriansyah. Kontol Adriansyah yang gemuk dan panjang ditarik Daniel ke belakang untuk memudahkannya mengulum dengan penuh kenikmatan. Seperti anak kecil mengulum permen. Keduanya benar-benar penuh gairah birahi. Mereka tak memperdulikan lagi keberadaan Indra. Warna kulit mereka yang hitam dan putih terlihat sangat kontras. Puas dengan kulum mengulum kontol dalam posisi nungging keduanya melanjutkan ke posisi selanjutnya. Adriansyah dan Daniel berbaring di lantai. Kontol Adriansyah masih di mulut Daniel. Adriansyah kemudian memutar tubuhnya. Mulutnya mencari-cari kontol Daniel. Setelah ketemu kontol yang gemuk dan panjang berwarna gelap itu langsung dikulumnya. Indra bingung. Melihat percumbuan cabul dua mahasiswa itu membuatnya terangsang. Kontolnya mengeras. Akal sehatnya hilang sudah. Tangannya mengambil botol baby oil, lalu melumuri isinya ke telapak tangannya. Duduk mengangkang di lantai dikocoknya kontolnya sendiri sambil mempelototi percumbuan Adriansyah dan Daniel. Adriansyah mendekati Indra. Ia tersenyum mesum melihat Indra yang terangsang dengan percumbuan mereka. Mulutnya langsung mencaplok kontol Indra. Daniel mengikuti. Dua laki-laki itu lalu asik mengulum kontol Indra dengan buas. Mereka saling berebutan seperti anjing berebut tulang. Sesekali celah pantat Indra yang ditumbuhi bulu halus pun mereka jilat. Indra seperti kerasukan setan. Ia mengerang-erang. Pahanya dikangkangkannya semakin lebar. Memberi kesempatan seluas-luasnya bagi Adriansyah dan Daniel mengerjai perkakas cintanya. Tangannya mencari-cari kontol dua seniornya itu. Setelah dapat tangannya langsung menggenggam kontol Adriansyah dan Daniel. Kemudian mengocoknya dengan penuh semangat birahi yang liar. Capek berebut kontol Indra dengan rekannya, Daniel bangkit. Tinggallah Adriansyah sendiri mengulumi kontol Indra. Daniel mendekatkan selangkangannya ke wajah Indra. Cowok ini langsung paham keinginan Daniel. Tanpa fikir dua kali kontol Daniel yang hitam, gemuk dan panjang itu langsung ditelannya. Mulutnya menyelomot dengan buas. Sambil menyelomot tangannya terus mengocok-ngocok kontol cowok Ambon itu dan kontol Adriansyah. Pantat Daniel bergerak maju mundur. Kepalanya menengadah. Mulutnya mengeluarkan erangan-erangan. Ia begitu keenakan. Sedotan mulut Indra di kontolnya dirasakannya seperti remasan memek. Layaknya seperti ngentot saja dirasakannya saat itu. Meski belum pernah melakukan pergumulan sex dengan sejenis tapi Indra cepat dapat beradaptasi. Ia langsung tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin karena cowok ini sudah berpengalaman bercinta sebelumnya. Pada dasarnya ia hanya melakukan apa yang biasanya diperbuatnya saat bercinta. Memfungsikan seluruh organ tubuh untuk membangkitkan birahi pasangan bercintanya. Mungkin inilah yang dinamakan insting sexual. Di selangkangan Indra Adriansyah terus mengulum dengan giat. Tak lupa jarinya mengaduk-aduk lobang pantat Indra. Tentu saja hal ini membuat Indra semakin menggila. Tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pantatnya meresapi nikmatnya sodokan jari Adriansyah yang keluar masuk lobang pantatnya. Padahal sudah tiga jari Adriansyah yang keluar masuk lobang pantatnya itu. Namun Indra tak merasakan sakit. Hanya sensasi nikmat yang dirasakannya. “Ohhh… oohhhh….. a’.. a’… enak bangethhh…,” kata Indra meracau. “Kamu suka Ndra? Suka?” tanya Adriansyah. “Sukah a’… suka bangethh.. sshhh…,” “Mau aa’ kasih yang lebih enak Ndra?” “Apa itu a’? ahhhh… sshhhh…,” “Aa’ masukin ya pantat Indra?” “Masukin apahh a’? aghhhh..,” “Kontol aa’,” “Jangan a’ sakithhh…,” “Gak sakit Ndrah, coabin deh..,” “Jangan a’,” Tapi Adriansyah gak perdulia. Ia langsung bersimpuh diantara selangkangan Indra. Paha Indra diletakkannya diatas pahanya. Tangannya mencengkeram paha Indra kuat-kuat, menahan cowok itu agar tak bergerak. Indra ketakutan melihat kontol Adriansyah yang segede terong menyapu-nyapu bibir celah pantatnya. Wajahnya dipalingkannya kebawah, mencoba melihat apa yang akan dilakukan Adrianysah. Namun Daniel yang sedang keenakan gak rela kuluman Indra pada kontolnya terhenti. Ditariknya wajah Indra agar tetap mengulum kontolnya. Jadilah Indra mengulum kontol Daniel sambil melirik dengan mata mendelik melihat apa yang akan dikerjakan Adriansyah. Kepala kontol Adriansyah menekan ke celah pantat Indra yang basah oleh keringat dan lumuran baby oil dari jari Adriansyah. Dinding bibir celah pantat Indra melesak masuk ke dalam saat kepala kontol Adriansyah mendorong masuk. “A’ ahhh…….. ahhhh…,” Indra mengerang. Tak terlalu perih memang dirasakannya karena lobang pantatnya sudah licin dan tadi juga sudah disodok jari oleh Adriansyah. Namun anal sex adalah hal baru buatnya. Desakan kepala kontol Adriansyah ke lobang pantatnya cukup membuatnya kurang nyaman. Lobang pantatnya terasa penuh. “Pelan-pelan a’,” katanya lirih. Adriansyah mencium hidung mancung Indra. “Tahan dikit ya Ndra. Entar juga enak kok,” katanya tersenyum. Kontolnya terus menekan masuk. Makin lama makin dalam. Sambil terus menggoyang pantat Daniel memperhatikan apa yang dikerjakan Adriansyah. Tangannya mengelus-elus rambut Indra yang hitam dan ikal. “A’ ohhh………… gede banget a’… ahhh………,” Indra mengerang. Adriansyah tersenyum bangga. Kontolnya emang gede. Pernah liat terong ungu? Nah segitulah ukuran kontol Adriansyah. Coba aja tes terong ungu masukin pantat, gimana rasanya. Kontol Adriansyah masuk sudah semuanya. Memenuhi rongga lobang pantat Indra. Jembut Adriansyah yang lebat dan kasar menggesek-gesek pantat Indra. “Gimana Ndra?” tanya Adriansyah tersenyum mesum. “Gila a’, kok bisa masuk ya?” sahut Indra tak percaya. Dilepaskannya kontol Daniel dari mulutnya. Kepalanya menoleh ke bawah memandang tak percaya pada lobang pantatnya yang sempit namun bisa menelan kontol Adriansyah yang gede seluruhnya. “Itulah kuasa Yang Maha Kuasa,” jawab Adriansyah sok bijak sambil nyengir. Ngawur, sedang begini kok ingat Tuhan. Indra hanya menggeleng-geleng tak percaya. “Gimana rasanya Ndra?” “Penuh a’,” jawab Indra. “Aa’ goyang ya,” kata Adriansyah. “Cobain a’,” jawab Indra. Adriansyah menarik kontolnya keluar. Tak seluruhnya. Indra mengerang. Gesekan kontol itu terasa aneh banginya. Sedikit perih namun kok enak. Adriansyah mendorong masuk lagi. Lalu tarik lagi, masuk lagi. “Ahhhhhh…. a’, gila enak a’,” kata Indra. “Enak kan, nikmatin yah,” Adriansyah bergerak terus. “A’ aohhh… a’ kali cewek ngerasain enak begini ya waktu memeknya dientot kontol,” kata Indra. “Mungkin Ndra.. ahh.. ahhh…,” “Pantes mereka doyan a’, ahhh… ahhh… ahhh….,” “Ndra kontol gue emut lagi dong,” kata Daniel. Rupanya dia keqi juga dicuekin. Indra segera menyeruput kontol Daniel lagi. Kulumannya makin semangat. Soalnya dia keenakan sih dientot Adriansyah. Jadis emangatnya makin menggelora. “Ouhh… slurrppp…slurrpp… ohhmmm….mmhh,…. aohhh… slururppp..,” mulut Indra rame dengan lenguhan, erangan dan suara sedotan. Adriansyah terus bergerak. Makin lama makin cepat, menimbulkan suara kecipak dan tepukan yang keras. Mulutnya mencari dada bidang Indra. Kemudian sibuk melumat dengan buas. Ketiga laki-laki itu begitu binal. Tubuh mereka basah bersimbah keringat. Mengkilap membuat otot-otot mereka semakin terlihat tegas lekuknya. Mereka benar-benar sudah hanyut oleh birahi yang liar. Seandainya saja cewek-cewek mereka melihat apa yang mereka kerjakan saat ini pasti akan syok. Tak menyangka kekasih mereka yang jantan ternyata begitu binal bermain cinta dengan sesama jenisnya. Mereka bercinta seperti kesetanan. Buas. Aroma keringat mereka yang jantan (bukan bau apek lho) memenuhi ruang ganti yang sempit itu. Hal ini malah membuat birahi mereka semakin menggila. Pantat Adriansyah bergerak sangat cepat. Indra mengerang antara enak dan sakit. Dalam hati Indra tersenyum, tak menyangka kalau biasanya selama ini ia yang bergerak cepat mengentot kini malah ia yang dientot seperti ini. Dan ternyata ia sangat menikmatinya. Lima belas menit berlalu. “Ndri, gantian dong,” kata Daniel. Rupanya diapun kepengen. “Ahhh… ah… ahhh.. dikithh.. lagihh.. Nielhh.. ahhh… ahhh.. ahh..,” jawab Adriansyah. Gerakannya semakin cepat dan menghentak-hentak kuat. Ini tanda-tanda orgasme akan segera datang. “Dah mau keluar a’,” tanya Indra. “He eh.. ahhh… ahhh… ahhh… ahhh..,” Adriansyah mencium dan mengulum tetek Indra dengan kuat. Lalu pantatnya menghetak keras untuk kemudian menekan kuat. Kontolnya berdenyut-denyut. Tak lama dari lobang kencingnya menyembur cairan kental dan hangat. Menyemmprot deras membasahi rongga pantat Indra. “Erghhhhh…,” Indra mendengus. Semprotan itu menimbulkan sensasi yang aneh baginya. Nikmat. Tubuh Adriansyah roboh menindih Indra. Ototnya menegang. Daniel melepaskan kontolnya dari multu Indra. Tubuh Adriansyah digesernya kesamping.

 

Pondok Jejaka

By Rangga

submitted September 22, 2003

Translate from:

Top of Form

To

Bottom of Form

Text Size:

Top of Form

 

Bottom of Form

Satu

Usaha keras Yuda selama ini akhirnya membuahkan hasil juga. Dengan wajah sumringah ia menunjukkan namanya yang mejeng diantara nama-nama lain yang dinyatakan lulus SPMB pada kedua orang tuanya. Di Fakultas Teknik Elektro salah satu universitas negeri favorit di Depok. “Yuda lulus ma, pa,” katanya pada kedua orang tuanya. “Anak mama memang pinter deh,” sahut sang mama sambil memberikan cium sayang di pipi anak bungsu kesayangannya itu. “Papa tekor nih ma,” kata sang papa. “Kenapa pa?” tanya sang mama. “Papa kan janji akan membelikan sepeda motor baru buat Yuda kalo lulus SPMB ma,” jawab sang papa. Yuda senyum-senyum kegirangan mendengar kata-kata sang papa. Sepeda motor baru yang diidamkannya selama ini menggantikan sepeda motor lamanya akhirnya jadi juga dihadiahkan oleh sang papa. Dengan kondisi ekonomi keluarga mereka yang jauh diatas rata-rata, Papa Yuda adalah salah seorang pengusaha perantauan yang sukses di Makassar, sebenarnya bisa saja sang papa membelikan sebuah mobil untuk Yuda. Namun cowok ganteng satu ini memang belum pernah punya keinginan untuk memiliki mobil sendiri. Saat ditanyakan oleh sang mama apa alasannya tidak mau memiliki mobil sendiri dengan enteng Yuda menjawab, “Lebih enak naik sepeda motor ma. Kalo membonceng cewek, lebih mesra.” Sang mama hanya bisa mencubit sayang pipi anak bungsunya ini. Sambil ngeledek, “Anak bungsu mama ini ternyata genit ya. Kecil-kecil udah playboy.” Yuda hanya nyengir lucu mendengar ledekan mamanya itu. Yuda memang anak yang unik. Diantara dua saudaranya yang lain dia memang lebih sederhana dalam penampilan. Mas Yudi dan Mbak Yenny, masing-masing kakak pertama dan keduanya, dua-duanya mengendarai mobil dalam keseharian mereka. Sejak masih tinggal di Makassar dulu dan juga saat ini, dimana keduanya sedang menimba ilmu, kuliah di Pulau Jawa. Mas Yudi kuliah di PTN Teknik yang ada di Bandung, sedangkan Mbak Yenny kuliah di PTN yang ada di Yogyakarta, tak jauh dari rumah kakek dan nenek keluarga Yuda. Meskipun berasal dari keluarga mampu, Yuda dan kakak-kakaknya memang serius dalam hal pelajaran. Karena itu wajar saja mereka semua dapat lulus di PTN favorit yang ada di Pulau Jawa. “Kapan dong pa, Yuda dibelikan sepeda motor barunya?” tanya Yuda menagih janji sang papa. “Nanti aja di Jakarta ya Yud. Supaya gak repot-repot membawanya dari sini,” “Oke deh pa. Makasih ya papa dan mama tersayang,” jawab Yuda sambil mencium pipi kedua orang tuanya bergantian. Setelah itu cowok ganteng bertubuh tinggi langsing atletis itu siap-siap ngacir meninggalkan kedua orang tuanya yang masih sibuk membolak-balik surat kabar berisi pengumuman SPMB itu. “Mau kemana sayang?” tanya sang mama. “Ke rumah Reny ma. Mau pamit sekaligus mutusin dia. Soalnya repot kan pacaran jarak jauh. Lagian di Jakarta banyak cewek-cewek manis ma, kasihan kalau Yuda cuekin mereka. Kalo disini kan Reny masih bisa ketemu cowok lain di sekolah, dia kan baru naik kelas 2,” jawab Yuda enteng. Mama dan papanya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari anak bungsunya yang ternyata berbakat playboy itu. Kedua orang tua Yuda memang tak terlalu mempermasalahkan “bakat” sang anak yang suka gonta-ganti pacar itu. Karena meskipun Yuda begitu, dia tak pernah melakukan hal-hal yang dapat merusak masa depannya. Buktinya sekolahnya tetap lancar dan cewek-cewek yang pernah dipacarinya pun masih tetap berhubungan baik dengannya. Malah masih sering berkunjung ke rumah Yuda yang terletak di salah satu kompleks perumahan mewah di Kota Makassar. Reny yang tadi disebut Yuda adalah pacarnya yang terakhir. Teman satu sekolahnya yang waktu dipacarinya masih duduk di kelas 1. Yuda memang salah satu idola cewek-cewek di sekolahnya. Gimana gak jadi idola. Anaknya pinter di kelas, penampilan fisik oke, olah raga jago, kaya tapi sederhana dan supel dalam bergaul. Oleh karena itu setiap orang yang mengenal Yuda sangat senang bergaul dengannya. Prestasinya juga membanggakan. Yuda pernah menjadi utusan propinsinya untuk menjadi anggota Paskribaka di Istana Merdeka. Selain itu, saat ia menjadi kapten kesebelasan sepak bola sekolahnya Yuda menghantarkan kesebelasannya menjadi juara pertama dalam Kompetisi Sepak Bola antar pelajar se-propinsi. Cowok yang sempurna? Kayaknya iya. Bukankah itu yang anda sukai saat membaca cerita-cerita seperti ini kan? Hehe.

Dua

Yuda disambut oleh Mas Yudi di Bandara Internasional Sukarno-Hatta Cengkareng. Sesuai dengan perintah kedua orang tuanya melalui telepon, kakak pertamanya itu ditugaskan untuk membantu Yuda dalam mengurus proses penerimaan mahasiswa baru di kampusnya. Kebetulan Yudi berada di Bandung, maka menurut kedua orang tua mereka cukuplah kakak tertua Yuda itu yang membantu, mama dan papa Yuda tak perlu harus ke Jakarta untuk mengurusi keperluan Yuda. “Bawa oleh-oleh apa Yud buat gue?” sambut Mas Yudi sambil menjawil telinga adik bungsunya itu. Wajahnya tersenyum lucu. “Dasar deh Mas Yudi, bukannya nanya kabar mama sama papa, malah nanya oleh-oleh,” jawab Yuda pura-pura cemberut. Sumpah, meski cemberut wajah Yuda tetap aja ganteng lho. Selanjutnya kedua kakak beradik yang ganteng-ganteng itu berpelukan hangat melepas rindu. Setelah acara melepas rindu usai, Mas Yudi mengajak Yuda untuk meninggalkan bandara. “Kita istirahat dulu hari ini, besok berangkat ke Depok cari kos buat kamu. Setelah itu mendaftar ulang ke kampus jelek kamu itu,” kata Mas Yuda. “Enak aja. Kampus Mas Yudi yang jelek. Wek,” jawab Yuda sambil meleltkan lidahnya. Sembarangan aja Mas Yudi ini bilang kampus Yuda jelek. Itu kan kampus paling favorit se-Indonesia. Dengan mengendarai mobil sedan milik Mas Yudi, kedua kakak beradik itu melaju di jalan raya Jakarta menuju hotel di kawasan Senayan untuk beristirahat.

Tiga

Fakultas Teknik Elektro sudah ramai saat Yuda dan Mas Yudi tiba. Setelah memarkirkan mobilnya, Mas Yudi mengajak Yuda melihat papan pengumuman yang berisi tata cara pendaftaran ulang bagi mahasiswa baru. Papan pengumuman itu sudah ramai di rubungi oleh mahasiswa baru. Untunglah kedua kakak beradik itu memiliki ukuran tinggi badan diatas rata-rata, hampir 180 cm, sehingga mereka tak perlu kerepotan untuk melihat pengumuman. “Oke deh. Kamu kan udah tau apa yang harus dibawa untuk daftar ulang. Sekarang kita cari kos dulu buat kamu. Besok kamu sudah bisa daftar ulang kemari,” kata Mas Yudi. “Oke Mas,” jawab Yuda. “Mas, bingung juga nih cari kos disini. Kita tanya orang-orang aja dulu,” ajak Mas Yudi disambut anggukan Yuda. “Liat di papan pengumuman yang deket gedung itu deh mas. Disana banyak tuh selebaran informasi tempat kos,” terang seorang cewek manis saat mereka bertanya-tanya tentang lokasi tempat kos. “Boleh kenalan kan, nama gue…,” kata Yuda pada cewek itu. Cepat Mas Yudi menarik tangan adik bungsunya yang mulai muncul tabiat playboynya itu. Urusan cari kos belum beres malah sibuk kenalan nih anak. Cewek itu hanya tersenyum malu-malu. Benar saja di papan pengumuman itu tertempel banyak selebaran informasi kos. Satu per satu pengumuman itu dibaca oleh Mas Yudi. Akhirnya matanya tertumbuk pada sebuah pengumuman yang cukup unik isinya. “Kalo elo ngerasa ganteng, enggak sombong, en berasal dari keluarga baek-baek, buruan dateng deh ke kos-kosan . Fasilitas lengkap dan dijamin bebas dari narkoba en pergaulan bebas mahasiswa-mahasiswi. Masih tersisa dua kamar kosong. Buruannnn sebelon keabisan. Untuk informasi, hubungi Ivan di nomor HP : 081XXXXXXX,” (Nomor handphone sengaja disembunyikan untuk menghindari iklan dan aksi coba-coba yang mungkin anda lakukan dengan menghubungi nomor tersebut. Kalau ternyata nomor yang ditulis beneran punya gay atau biseks gak masalah. Kalau punya lesbian gimana? Kan elo rugi pulsa. Hehehe). Mas Yudi segera menghubungi nomor hand phone itu. “Masih sisa satu kamar kosong lagi ya? Hmm.. satu setengah juta setahun. Mmm belum termasuk bayar tagihan listrik dan telepon? Ada ac ya? Boleh punya televisi dan komputer di kamar? Ada garasi buat kendaraannya ya? Oke deh kita coba liat ke situ. Alamatnya dimana? Hmm disitu ya. Oke, oke. Kami kesitu ya. Nama saya Yudi. Makasih Van. Klik,” “Gimana mas?” tanya Yuda. “Kayaknya lumayan. Ayo kita liat ke situ sekarang,” “Ayo,”

Empat

Mencari kos-kosan ternyata tak sulit. Lokasinya tak terlalu jauh dari jalan raya Depok. Kos-kosan itu berupa rumah yang terawat bersih dan rapi. Dipintu rumah terdapat tulisan . Di garasi terdapat dua buah mobil sedan dan satu sepeda motor. Sepertinya kos-kosan itu diperuntukkan untuk kalangan menengah. “Males ah disini mas. Kayaknya mewah banget,” kata Yuda saat melihat kos-kosan itu. “Kamu ada-ada aja deh. Entar papa dan mama marah ke Mas Yudi, kalo kamu mas masukin kos-kosan yang kumuh. Ayo turun kita liat ke dalam,” Tak lama setelah memencet bel, Mas Yudi dan Yuda disambut oleh seorang cowok ganteng bercelana pendek yang membukakan pintu. “Yudi ya,” kata cowok itu yakin. “Iya. Ivan ya,” “Yap betul. Silakan masuk mas,” jawabnya. Ruangan dalam kos itu bersih dan terawat baik. Ruang tengah sepertinya diperuntukkan untuk tempat ngumpul-ngumpul, ada tiga orang cowok, yang juga ganteng-ganteng sedang duduk diatas karpet menonton televisi yang sedang menayangkan acara Buser. Ketiga cowok ganteng itu mengangguk ramah pada Mas Yudi dan Yuda. Sepertinya ini kos anak baik-baik, batin Mas Yudi. Ivan mengajak Mas Yudi dan Yuda duduk di kursi tamu. “Siapa yang mau kos nih? Dua-duanya?” tanya Ivan. “Enggak, adik saya ini aja. Yuda namanya. Kalo saya kuliah di Bandung,” “O gitu. Mau liat kamarnya sekarang?” “Yang punya kos kamu Van?” “Bukan Mas. Kita berempat yang ngekos disini. Yang punya kos tinggal di Tangerang Mas. Rumah ini dikontrak per tahun. Awalnya kami ada lima orang yang ngontrak bareng-bareng. Karena yang dua udah lulus, jadi kita perlu dua orang lagi untuk ngisi kamar yang kosong mas. Kalo yang ngontrak lima orang kan biaya kontrakannya per orang jadi gak terlalu berat mas,” “Hmmm… Terus kok kamarnya tinggal satu. Katanya butuh dua,” tanya Mas Yudi lagi. “Kemaren udah ada satu temen yang baru masuk mas. Yang pake kaos biru itu,” tunjuk Ivan ke arah seorang cowok ganteng berkulit hitam manis. Kayaknya cowok itu berasal dari daerah Indonesia timur. “O gitu ya. Kita boleh liat kamarnya?” “Boleh mas,” Ivan kemudian menunjukkan kepada Mas Yudi dan Yuda kamar yang masih belum ada penghuninya itu. Didalam kamar itu sudah tersedia tempat tidur spring bed besar. Meja belajar. Dan meja kosong yang bisa digunakan untuk meletakkan televisi. Kamarnya cukup luas. Mas Yudi langsung tertarik. Sedangkan Yuda terlihat ogah-ogahan. Cowok ganteng itu sebenarnya tak mengharapkan tempat kos yang lumayan mewah seperti itu. Namun untuk menolak Mas Yudi dia merasa tak enak. Dibenaknya terfikir untuk mencari kos lain tahun depan, setelah ia mengetahui situasi di sekitar kampusnya. Tak berlama-lama Mas Yudi segera membayar uang kos itu pada Ivan. Barang-barang Yuda yang ada di mobil segera diangkat ke dalam kamar. Cowok-cowok penghuni kos itu membantu mengangkati barang-barang Yuda ke kamar. Mas Yudi semakin senang dan yakin kos itu cocok buat Yuda karena melihat keramahan penghuni kos itu.

Lima

Malam itu Mas Yudi menginap di kos Yuda, memastikan bahwa tempat kos itu memang seperti apa yang dibayangkannya. Satu per satu penghuni kos berkenalan pada Mas Yudi dan Yuda. Ivan berasal dari Aceh. Kulitnya putih dan tidak terlalu tinggi. Mungkin tingginya sekitar 168 cm. Tubuhnya langsing berotot. Katanya dia turunan Arab, pantas saja tubuhnya rame dengan bulu-bulu halus. Pada wajahnya terlihat jelas bekas cukuran. Saat ini ia duduk di Semester lima Fakultas Ekonomi. Ali, asal Magelang. Sawo matang, lebih tinggi dari Ivan dan langsing. Hidungnya mancung bagus mirip Keanu Reeves. Anaknya suka tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. Sama dengan Ivan, Ali juga kuliah di semester lima Fakultas Ekonomi. Darwin, asal Palembang. Kulitnya putih dan matanya sipit mirip turunan Cina. Tubuhnya paling kekar diantara mereka. Kekerannya itu dapat terlihat jelas karena Darwin suka memakai kaos yang berukuran ngepas pada tubuhnya. Sepertinya anak satu ini rajin olah tubuh. Tubuhnya kokoh dan tingginya sama dengan Yuda. Saat ini ia masih duduk di semester tiga Fakultas Teknik Arsitektur. Stefanus, asal Ambon. Kulitnya hitam manis. Wajahnya ganteng sekali. Bulu matanya lentik. Dia ini yang penghuni baru. Darwin yang mengajaknya pindah ke kos ini. Mereka memang sama-sama kuliah di semester tiga Fakultas Teknik Arsitektur. Meskipun tidak sekekar Darwin, namun Stefanus punya tubuh yang oke juga. Kesimpulan Mas Yudi setelah menginap malam itu adalah teman-teman kos Yuda baik-baik. Tak ada yang menunjukkan prilaku bermasalah. Tak ada narkoba disitu, merokok saja mereka juga tidak. Sex bebas juga sepertinya tidak, meskipun cowok-cowok itu sering menerima tamu cewek-cewek cantik, maklum aja deh soalnya mereka kan ganteng-ganteng wajar banyak cewek yang suka, namun mereka menerima tamu-tamu cewek itu hanya terbatas hingga teras depan saja. Tak ada satupun tamu cewek mereka yang diajak duduk di ruang tamu, apalagi sampai ngamar. Akhirnya Mas Yudi merasa tak perlu berlama-lama menemani Yuda di kos barunya itu. Keramahan penghuni kos memang membuat Yuda dan Mas Yudi dapat cepat bergaul dengan mereka. Karena itu Mas Yudi tak merasa kuatir Yuda kesulitan bergaul dengan mereka. Apalagi Yuda dan juga Mas Yudi punya bakat untuk cepat bergaul dengan orang lain. Meskipun Yuda kurang sreg dengan kos itu, ia bisa menyembunyikan hal itu sehingga tidak mengganggu komunikasinya dengan penghuni kos yang lain. Setelah membereskan segala urusan Yuda akhirnya Mas Yudi memutuskan untuk kembali ke Bandung keesokan sorenya. Sebelumnya ia sempat membawa Yuda ke Glodok dan membelikan adik bungsunya itu televisi, radio tape dan seperangkat komputer. “Sepeda motor gue gimana dong Mas?” tanya Yuda pada kakak tertuanya itu. Papanya sudah mentransferkan untuknya uang pembelian sepeda motor itu. “Entar sepeda motor kamu beli sendiri deh. Kamu bisa ajak temen-temen kamu disini untuk nolongin nyarinya, mereka kan udah paham Jakarta. Lagian kamu kan udah cocok bergaul sama mereka,” tanggap Mas Yudi. Dengan diantarkan sampai ke pintu gerbang seluruh penghuni , Mas Yudi berangkat ke Bandung sendirian dengan mengendarai mobil sedannya. Enam

Perkuliahan baru akan mulai minggu depan. Karenanya kegiatan penghuni kos lebih banyak diisi dengan hanya menonton acara televisi di rumah. Seluruh tayangan dari berbagai stasiun televisi ditonton oleh cowok-cowok itu. Saking seringnya menonton acra televisi, Yuda sampai hapal jadual acara di televisi yang selama ini tak diketahuinya. Waktu di Makassar cowok ganteng ini memang sangat jarang menonton acara televisi. Lebih sering kegiatannya diisi dengan belajar atau bawa ceweknya jalan-jalan. Penilaian Yuda pada cowok-cowok, teman-teman barunya di kos itu sama dengan Mas Yudi. Baik-baik dan tidak melakukan hal-hal aneh. VCD player saja tak ada disitu. Sepertinya cowok-cowok itu tak pernah nyetel film deh. Sesekali Ivan dan Darwin yang punya mobil, mengajak mereka jalan-jalan malam. Nongkrong sambil makan malam di luar, rame-rame. Lumayan juga buat menghilangkan kebosanan Yuda ngedekem seharian di kos. Namun dua hari setelah kepergian Mas Yudi, Yuda mulai melihat keanehan pada diri teman-teman kosnya itu. Yuda jadi bingung dan penilaiannya mulai berubah. Tempat kos itu tidak memiliki kamar mandi di dalam kamar tidur. Kamar mandi terdapat di bagian belakang rumah, dekat dapur. Jumlahnya dua. Satu kamar mandi kecil untuk buang hajat dan satu lagi kamar mandi yang berukuran besar, ukurannya tiga kali tiga meter, biasanya digunakan untuk mandi. Berkaitan dengan kamar mandi inilah keanehan yang dirasakan Yuda pada teman-temannya itu. Saat akan pergi ke kamar mandi, cowok-cowok itu dengan cuek melenggang dari dalam kamar tidurnya hanya menggenakan cawat doang. Tubuh-tubuh atletis mereka santai saja melintas melalui ruang tengah tempat anak-anak yang lain nonton televisi. Yuda benar-benar kaget saat pertama kali melihat kebiasaan mereka itu. Meskipun waktu di Makassar dulu ia sering melihat cowok hanya menggenakan cawat doang, namun itu hanya ada di kolam renang. Kalau melihat cowok berkancut di rumah Yuda belum pernah. Dan ia merasa janggal dengan itu. Cowok yang pertama kali dilihatnya seperti itu adalah Darwin. Dengan santai ia melintas memamerkan tubuh kekar berototnya yang hanya ditutupi celana dalam doang itu. Malah di samping televisi dengan menumpukan tangannya pada dinding, ia berhenti cukup lama menayakan acara apa yang sedang ditonton. Bulu-bulu halus ketiaknya yang lebat itu dipamerkannya pada para pirsawan. “Ngapain Win?” tanya Yuda waktu itu. Ia merasa risih melihat Darwin berpose santai seperti itu. “Mau mandi Yud,” jawab Darwin cuek. “Kok,” “Santai aja. Cowok semua juga kan,” jawabnya enteng. Yang laen hanya tertawa-tawa. Malah Ali nyeletuk santai, “Gede juga Win,” katanya. Setelah Darwin beres mandi dan keluar hanya dengan handuk doang. Giliran Ivan yang dengan santai melepaskan seluruh busananya di depan anak-anak. Diapun kemudian berjalan santai menuju kamar mandi dengan celana dalam mungilnya. Yuda tambah bingung. Pikirnya itu hanya kebiasaan Darwin seorang. Akhirnya satu per satu teman-temannya berbuat seperti itu. Yuda hanya bisa melotot bingung melihat mereka. Sejak hari itu, akhirnya Yuda mulai terbiasa dengan kebiasaan mandi penghuni kos . Malah kinipun dia juga ikutan cuek aja pake cawat doang menuju kamar mandi. Hanya yang masih belum dapat dimaklumi oleh Yuda adalah kesukaan teman-teman barunya itu yang lain. Yaitu mandi bareng-bareng di kamar mandi besar. Yuda sampai melongo di depan pintu kamar mandi besar yang tidak mereka tutup pintunya itu saat melihat keempat teman barunya sedang asik mandi bareng, berebut air dibawah shower sambil tertawa-tawa dan membanding-bandingkan ukuran kontol masing-masing. Tentu saja Ivan yang turunan Arab menjadi jawara dalam acara itu. Kontolnya yang masih tidur aja udah segede terong plus dihiasi jembut halus lebat keriting itu, dipamerkannya pada teman-temannya. “Kontol begini nih yang bisa bikin cewek gak bisa nafas,” katanya sambil tertawa bangga. Yuda baru sadar kalau sedang melongo melihat mereka saat tiba-tiba Stefanus, si Ambon memanggilnya untuk bergabung bersama mereka. Serta merta ditolaknya ajakan itu, segera Yuda meninggalkan mereka menuju ruang tengah pura-pura menonton televisi. Namun fikirannya melayang pada kelakuan teman-temannya itu juga pada kontol keempat teman-temannya itu yang punya ukuran lebih besar dari rata-rata, tak jauh berbeda dari kontolnya sendiri.

Tujuh

Hari itu malam minggu. Keempat teman barunya semuanya ngilang dari kos. Kata mereka ngapel ke tempat cewek masing-masing. Ditinggal sendiri, Yuda kemudian menelpon Reny ke Makassar. Dari pada belum punya cewek di Jakarta, mendingan manfaatin yang ada aja dulu, batinnya. Bosan menelpon akhirnya Yuda pergi tidur ke kamarnya. Hampir pukul sebelas malam, tiba-tiba ia dibangunkan oleh Ali. Karena lupa mengunci pintu kamarnya, Ali bisa masuk ke kamar Yuda. “Kok udah tidur sih. Malam minggu nih. Ayo ke ruang tengah. Anak-anak bawa film bagus tuh buat di tonton,” ajak Fajar. Ogah-ogahan Yuda mengikuti langkah Fajar. Di ruang tengah dilihatnya teman-temannya sudah ngumpul di depan layar televisi. Yuda melotot melihat apa yang mereka tonton. Ternyata teman-temannya itu sedang nonton film porno. Di layar televisi terpampang adegan seorang cewek cantok sedang dientot oleh dua cowok berkontol besar sekaligus. Satu melalui memek dan satu melalui lobang pantat. Di atas karpet di dekat teman-temannya itu berserakan kemasan kepingan vcd porno berbagai judul dengan jumlah yang tak sedikit. Setidaknya ada dua puluh kemasan. “Dapet vcd player dari mana nih?” tanya Yuda bingung. “Anak-anak kan pada punya televisi dan vcd player masing-masing di kamar Yud. Cuman kan lebih enak nonton bareng-bareng di ruang tengah daripada nonton sendiri di kamar. Jadi dibawa kemari deh playernya Darwin,” jawab Ivan. “Dapet film darimana? Sampe banyak begini lagi” tanya Yuda lagi. Satu persatu judul yang tertara pada kemasan vcd itu dibacanya. Ngelihat dari gambarnya kayaknya vcdnya oke-oke deh. Dan sepertinya temanya seragam. Orgy. Dengan jumlah cowok lebih banyak daripada ceweknya. “Gimana sih Yud. Masak cowok gak punya film ginian. Kita punya semua. Elo ada gak?” ini Ali yang ngomong. “Mana ada. Tinggal di Makassar semua dong. Masak gue bawa kemari,” jawab Yuda. “Kalo elo mau nyari, entar kita ajak ke Glodok deh. Disana banyak,” sambung Darwin. Eh ternyata Darwin pake kaca mata. “Kalo nonton ginian harus pake kaca mata Yud. Biar jelas kelihatannya. Gue kan udah minus setengah,” jawab Darwin menanggapi komentar Yuda karena baru mengetahui kalo cowok ganteng yang punya tubuh kekar atletis itu ternyata memakai kaca mata. Tampang Darwin jadi kayak Clark Kent deh. Ganteng, atletis, dan berkaca mata. Rambut pendeknya yang model belah samping itu membuatnya semakin mirip dengan Clark Kent. Yuda pun kemudian ikut larut pada tontonan porno itu. Anak satu ini emang udah punya bakat doyan nonton gituan sejak dari SLTP. Dapat tontonan bagus kayak begini tentu saja tak dilewatkannya. Volume suara televisi yang cukup besar, memperdengarkan erangan dan desahan aktor dan aktris porno yang sedang ngentot itu, tentu saja menambah cepat bangkitnya birahi penonton. Yuda saja berulangkali membetulkan posisi duduknya. Kontolnya yang ngaceng keras terasa mendesak di selangkangannya.

Delapan

Usai film pertama, mereka langsung nyambung lagi dengan film berikutnya. Film kedua ini bercerita tentang dua orang cewek yang dikerjai delapan cowok di sebuah bengkel mobil. Kedua cewek itu datang ke bengkel dengan tujuan untuk mereparasi mobil yang mereka bawa. Ternyata disana mereka harus melayani nafsu binal kedelapan montir ganteng dan kekar-kekar itu. Yuda merasa sangat terangsang melihat cewek-cewek itu dientot rame-rame oleh kedelapan cowok itu. Kontolnya yang sudah mengeras sangat ingin untuk segera mengeluarkan sperma. Biasanya sambil nonton film porno di kamarnya di Makassar, Yuda ngocok. Tapi kali ini tentu saja tak mungkin. Untuk pura-pura ke kamar atau kamar mandi buat ngocok tentu saja dia merasa malu. Dilihatnya keempat teman barunya itu santai-santai saja melihat adegan mesum di layar televisi. Yuda memang belum pernah mengentot dengan siapapun. Paling-paling untuk menumpahkan spermanya dilakukannya dengan ngocok di kamarnya atau di kamar mandi. “Duh jadi pengen ngocok nih,” tiba-tiba Stefanus nyeletuk. “Gue juga,” sambung Ivan. “Ke kamar dulu ah. Mau ngocok,” kata Stefanus. Teman-temannya tertawa. “Ngapain di kamar sih. Disini aja. Kok mesti malu sih. Cowok semua kan. Sama-sama punya kontol,” kata Darwin. “Iya juga ya. Ya udah deh disini aja,” Stefanus tanpa malu-malu langsung mengeluarkan kontolnya dari balik celana pendeknya. Mata Yuda langsung melotot melihat kontol Stefanus yang hitam dan besar seperti Pisang Ambon itu. Dengan santai si Ambon menggenggam batang itu kemudian mengocoknya, sambil matanya tetap menatap layar televisi. Ivan kemudian mendekati Stefanus. Duduk disebelah cowok itu, iapun kemudian mulai mengocok batang kontolnya sendiri. “Gak ikutan Yud?” tanya Ali. Yuda hanya menggeleng. Ia benar-benar tak percaya melihat teman-teman barunya yang sepertinya baik-baik itu ternyata tak malu-malu ngocok di depan orang. Tiba-tiba Darwin mendekatinya. Tubuh kekar cowok ganteng itu sangat rapat pada tubuh Yuda. “Kok malu-malu sih Yud. Keluarin aja. Atau perlu gue bantu,” katanya. Tangan Darwin langsung meremas tonjolan kontol Yuda yang tercetak membesar di selangkangannya. Di dekatnya, dilihatnya Ali juga sudah mulai mengocok kontolnya sendiri. Bibirnya tersenyum pada Yuda. “Ayo Yud,” katanya kemudian. Yuda berusaha menyingkirkan tangan Darwin dari selangkangannya. Namun cowok berotot itu tak memperdulikan. Dengan paksa ditariknya celana pendek Yuda sehingga kontol besar milik cowok ganteng itu menyembul ke luar. “Win, jangan,” kata Yuda. Tangannya menepis tangan Darwin yang mulai menggenggam kontolnya yang besar dan kemerahan itu. Namun Darwin tak peduli. Dengan lembut diremasnya kontol Yuda. “Jangan menolak. Entar gue patahin nih kontol,” jawab Darwin dingin. Yuda mengkeret juga mendengar ancaman Darwin. Meskipun tak rela, akhirnya Yuda membiarkan Darwin memainkan kontolnya. Tangan Darwin yang menggenggam batang kontolnya kemudian bergerak naik turun mengocok batang kontol milik cowok Makassar itu. “Kontol lo bagus ya Yud, besar dan merah. Merahnya kayak kontol gue deh. Liat nih,” tangan Darwin yang satu lagi langsung mengeluarkan kontolnya sendiri. Kontol yang besar dengan kepalanya yang mirip jamur, besar dan merah. Batangnya gemuk dan berurat. Yuda terperangah melihatnya. Ia sudah pernah melihat kontol Darwin saat masih tidur, rupanya kalau sudah bangun kontol Darwin benar-benar dahsyat bentuknya. Yuda kemudian melirik ke arah Ivan dan Stefanus. Mata Yuda terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh kedua cowok ganteng itu. Didepan matanya dilihatnya Stefanus sedang asik menjilat-jilat kepala kontol Ivan yang besar. Sementara Ivan merem melek sambil terus mengocok kontol Stefanus. Ivan tak menyangka Stefanus mau melakukan itu pada Ivan. “Kenapa Yud? Mau digituin juga?” tanya Darwin. Yuda menggeleng lemah. “Enak kok. Coba aja. Ali sini lo. Jilat nih pala kontol Yuda,” perintah Darwin pada Ali. Si ganteng Ali kemudian mendekati Yuda. Dengan tersenyum dipandanginya wajah Yuda. Sesaat kemudian kepalanya sudah menyusup ke selangkangan Yuda. Lidahnya tanpa permisi segera menjilati celah lobang kencing Yuda yang sudah basah oleh precum. “Ohh..,” desah Yuda tanpa sadar. Kepala kontolnya terasa hangat dan basah oleh lidah Ali. “Enak kan Yud?” bisik Darwin di telinganya. Kurang ajarnya lagi, Darwin menggelitik daun telinga Yuda dengan ujung lidahnya. Kontan saja cowok yang baru lulus SMU itu menggelinjang. Yuda pengen melawan, dan melepaskan dirinya dari kedua cowok itu. Namun saat ini ia benar-benar terangsang hebat. Tak pernah ia merasakan lidahnya dijilati seperti itu sebelumnya. Ditambah lagi dengan kocokan tangan Darwin pada batang kontolnya dan jilatan-jilatan Darwin pada telinganya. Tubuhnya menggeliat. Bulu kuduknya dirasakannya berdiri. Ia tak sanggup menahan gairahnya yang bangkit menggelora. Gairahnya mengalahkan akal sehatnya. Selama ini ia tak pernah merasa memiliki penyimpangan dalam orientasi seksual. Yuda tak pernah merasa terangsang secara seksual pada laki-laki. Saat melihat cowok-cowok itu hanya bercelana dalam saja ke kamar mandi ia tak merasa tertarik. Saat melihat cowok-cowqok itu mandi bareng telanjang bulat ia merasa jengah. Namun ternyata saat ini, ia terangsang hebat oleh perlakuan kedua cowok itu padanya. Kontolnya mengeras dan berdenyut-denyut dalam genggaman Darwin dan jilatan lidah Ali. Diantara rangsangan yang dialaminya, Yuda merasa bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Kedua cowok itu terus mengerjai Yuda. Sementara itu Ivan dan Stefanus malah semakin meningkatkan aktifitas mereka. Keduanya sudah telanjang bulat dan saling menjilat kontol temannya. Mereka melakukan 69 diatas karpet. Suara kecipak dari mulut mereka terdengar keras. Keduanya rupanya sedang asik melakukan seruputan batang kontol. Diselengkangannya, Ali semakin agresif memuluti batang kontol Yuda. Batang kontol Yuda asik dikulum dan dihisapnya. Darwin tak lagi melakukan kocokan pada kontolnya. Tangan cowok itu bergerilya meremas pahanya, sambil mulutnya asik menetek di dada Yuda yang sudah telanjang. Kaos yang dipakai oleh Yuda tadi sudah dilepaskan Darwin. Dan Yuda rela saja ditelanjangi oleh cowok ganteng itu. Kelakuan Ali semakin binal. Paha Yuda kini dikuaknya lebar-lebar. Mulut dan lidahnya menyerbu buah pelir Yuda. Dan yang lebih nakal lagi sesekali lidahnya menjilat dan menyedot celah pantat Yuda. Cowok Makassar itu benar-benar keenakan. Ia belum pernah ngentot dengan siapapun. Diperlakukan Ali seperti itu tentu saja membuatnya tergila-gila. Apa yang dilakukan Ali padanya tak dihiraukannya lagi. Termasuk saat cowok asal Magelang itu mulai menyodok-nyodok celah lobang pantatnya dengan jari. Saat Ali berkonsentrasi di daerah celah pantat dan buah pelir Yuda, Darwin menggantikan posisi Ali memuluti batang kontol Yuda. Cowok ganteng yang sangat jantan itu dengan lahap menghisap batang kontol Yuda. Tanpa ragu atau merasa jengah melakukannya pada makhluk yang sama-sama sejenis dengannya. Darwin sangat menikmati kontol Yuda yang besar dalam mulutnya. Saking seriusnya memuluti batang Yuda tak diperdulikannya lagi ludahnya yang sudah membanjir, meleleh dari batang besar itu.

Sembilan

“Van, entot gua dong,” tiba-tiba terdengar Stefanus ngomong dalam desahannya. Seperti tadi, Yuda kembali kaget. Tak disangkanya pergumulan para cowok ganteng dan jantan ini akan sampai ke sana juga. Dikiranya tadi para cowok ini hanya sekadar saling membantu mengeluarkan sperma dengan melakukan kocokan kontol atau melumat kontol temannya. Rupanya tak hanya itu. rupanya tempat kos para homo. Tempat para cowok bermain cinta dengan sejenisnya. Pantas saja dalam selebaran pengumuman kos mereka terdapat kata-kata dijamin bebas dari narkoba en pergaulan bebas mahasiswa-mahasiswi. Rupanya mereka melakukan pergaulan bebas tidak dengan mahasiswi disini. Tapi dengan sesama mahasiswa. Cowok bercinta dengan cowok. Tak perlu cewek disini. Lalu mengapa tadi mereka mengaku ngapel ke tempat ceweknya pada Yuda tadi? Apakah itu hanya sekadar kebohongan semata? Yuda tak tahu jawabnya. Yang pasti saat ini Yuda sedang menungging pasrah di lantai dengan bertumpu pada kedua tangan dan kakinya. Dibelakangnya Ali sibuk menjilati lobang pantatnya. Sementara dibawahnya Darwin terus menyelomoti batang kontolnya. Tepat dibawah muka Yuda, paha mulus dan berotot milik Darwin mengangkang lebar. Kontol besarnya berdiri tegak bergoyang-goyang. Berkali-kali Yuda melirik batang besar segeda timun itu. Ia merasa tergoda untuk merasakan batang itu dalam mulutnya. Namun perasaan jengahnya masih ada. Ia masih merasa aneh bila kontol milik cowok lain masuk ke dalam mulutnya. Akhirnya dibiarkannya saja kontol itu tetap mengacung tegak disana. Diantara merem meleknya ia masih sempat memandangi Ivan dan Stefanus yang kini sedang asik bersenggama melalui anus. Duduk diatas pangkuan Ivan yang juga duduk di sofa, dengan penuh semangat Stefanus menggoyangkan pantatnya naik turun dengan cepat dan keras. Mengeluar masukkan kontol Ivan yang sebesar terong dalam lobang pantatnya yang penuh bulu itu. Yuda benar-benar tak percaya, kontol Ivan yang sebesar terong itu bisa masuk seluruhnya dalam celah lobang pantat Stefanus yang sempit. Dalam pandangan Yuda, sepertinya Stefanus sangat menikmati entotan kontol Ivan dalam lobang pantatnya itu. Erangan-erangannya menunjukkan ia sangat keenakan saat Ivan yang memeluk pinggangnya dengan erat itu menggoyang-goyangkan pantatnya membalas goyangan Stefanus. Selangkangan Stefanus yang meski hitam namun mulus itu terlihat sangat kontras dengan batang kontol dan selangkangan Ivan, si Arab, yang putih mulus berbulu lebat itu. Racauan Stefanus dan Ivan diantara erangan mereka, menjawab pertanyaan Yuda tentang cowok-cowok itu. “Gimanah Vanhh. Enakhh.. sshhh…,” kata Stefanus. “Ouhh… enak banget. Ahhh… ahhhh..,” “Enak mana sama memek Fanny, cewek elo? Ohhh…,” “Enak ini dong… ahhh… lebih sempit. Lebih njepit…shhh… lebih keras cengkeramannyahhh.. ouhhhh… ada kontol ama pelernya lagihhh… ihhh… gue kocok nih kontol elohhh… ohhh..,” racau Ivan. Ternyata mereka ini bukan homo tulen rupanya. Penghuni ini rupanya rombongan cowok biseks, yang bisa menikmati memek cewek tapi lebih doyan silit cowok yang memang lebih menjepit dan memiliki kemampuan mencengkeram.

 

Beginilah nasibku. Aku jelas-jelas bukan homo. Apalagi banci. Butuh uang untuk hidup membuatku terjebak dalam dunia pelacur waria kayak gini. Setiap hari pakai baju perempuan, nongkrong di pinggir jalan menanti laki-laki yang memiliki orientasi seksual menyimpang atau sekadar pengen coba-coba, membookingku.

Si Misye, alias Misno, teman sekamar sekaligus seprofesiku jelas waria asli. Bencong tulen. Teteknya aja gede kayak cewek. Akibat suntikan silikon. Kalo tetekku? Sumpelan kain isinya. Hehehe. Dan aku jelas gak mau nyuntik silikon kayak dia. Karena aku jelas laki-laki tulen. Kalo gak kerja malam kayak gini, sehari-hari penampilanku ya lelaki, asli.

Padanya sering aku katakan, gak akan bakalan mau melakukan hal seperti ini kalau bukan karena duit. Aku adalah lelaki normal dan pengen kawin dengan perempuan asli. Aku juga bilang, tak akan pernah mau ngentot dengan laki-laki manapun jika tidak berpenampilan sebagai waria. Misye manggut-manggut mendengar kata-kataku yang penuh semangat kalau sedang membicarakan hal ini. Dia selalu berkomentar bahwa dia menghargai prinsipku itu. Dia berharap suatu saat, aku bisa punya pekerjaan yang layak dan tak lagi menjadi waria bohongan seperti sekarang. sedangkan tentang dirinya, dia pernah bilang, “Biarlah aku saja yang begini Bang,” katanya. “Udah kadung,” dia terlihat sangat sedih saat mengucapkan kata-kata itu.

Kalo aku lagi bokek berat, karena semalaman gak ada yang booking, si Misye sering ngasih duit ke aku. Sebagai imbalannya, aku bersedia ngentotin dia sampe lemes. Ini kulakukan hanya sekadar membalas kebaikannya saja. Masak udah ditolong, aku gak memberikan kesenangan padanya? Aku tak mau menjadi orang yang tak tahu membalas budi. Dan Misye tahu pasti, kalau apa yang kulakukan padanya bukan karena aku menikmatinya. Tapi hanya sekadar balas budiku saja padanya.

Bukan ge er, aku idola para waria di kosku lho. Gimana gak jadi idola. Wajahku lumayan ganteng. Bodyku cukup kekar. Kontolku gede kayak terong ungu. Mereka sampe pernah berantem, pake jambak-jambakan segala lagi, gara-gara ngerebutin aku. Pengen aku sekamar dengan mereka. Malah mereka bersedia aku gak usah patungan bayar sewa kamar. Tapi aku tetap setia sama si Misye. Karena dialah orang yang pertama kali nolongin aku waktu aku terdampar di Jakarta sini. Dan selalu nolongin aku sampe sekarang. Jadi meskipun waria yang laen nawarin hal yang lebih dari yang bisa diberikan Misye padaku, aku tetap menolak ajakan mereka. Aku menjaga perasaan si Misye yang sensitif banget.

Misye suka cemburu bila aku deket-deket dengan waria yang lain. Apalagi kalo isengku kumat, godain waria-waria itu. Dia bakalan diemin aku deh seharian. Sedangkan soal profesiku sebagai pelacur waria dia tak pernah cemburu. Dia malah sangat mendukung sekali. Aneh ya? Dia itulah yang ngajarin aku gimana caranya bersolek bak wanita sejati. Padahal, dulunya aku mana ngerti make up wanita. Di kampung kerjaanku ya nyangkol di sawah. Kalo gak percaya, pegang saja telapak tanganku ini, kasar.

Aku lagi di booking nih sekarang. Sama anak ABG. Andre namanya. Katanya, dia masih kelas tiga SLTP. Ngakunya belon pernah ngesex. Sedangkan kawan-kawannya udah pernah ngesex. Jadinya dia sering diledekin karena masih perjaka. Makanya dia pengen ngelepasin perjakanya malam ini. Edan juga anak-anak ABG zaman sekarang ya.

Awalnya dia pengen booking perek, katanya padaku. Tapi ternyata perek-perek sekarang tarifnya mahal. Duitnya gak cukup. Akhirnya pas ketemu waria dia ditawarin ngesex cuman dua puluh ribu perak. Jelas aja Andre girang banget. Kemudian dia nyari-nyari waria yang cocok dengan seleranya. Eh ketemu denganku. Langsung deh dia kepincut liat tampangku yang manis. Hehe.

“Berapaan Mbak?” tanyanya padaku. Awalnya aku geli juga lho dipanggil Mbak kayak gini. Tapi sekarang udah biasa.

“Dua puluh ribu aja Mas. Kalo sekalian kamar jadinya lima puluh ribu,” jawabku dengan suara yang dilebut-lembutin. Harus gitu. Kaget dong dia kalo aku pake suara jantanku yang asli. Andre setuju. Kemudian aku duduk di boncengan sepeda motornya. Dengan petunjukku dia melaju ke kos-kosanku dan Misye.

Misye sedang gak ada di kamar. Dia emang gak pernah gunain kamar kami untuk ngentot dengan pelanggan. Cuman aku aja. Soalnya buatku duit tambahan tiga puluh ribu untuk kamar cukup lumayan. si Misye biasanya sewa kamar hotel murahan untuk prakteknya.

Begitu kamar sudah kukunci, kusuruh dia membuka seluruh pakaiannya. Andre mengikuti apa yang kukatakan dengan segera. Sudah tak sabar lagi dia rupanya. Kontolnya gede juga untuk ukuran abg seperti dia. Bodynya pun bagus. Ramping dan atletis, kayak aku.

“Mau diisep dulu, atau langsung ngentot?” tanyaku padanya.

“Isep dulu aja Mbak,” jawabnya malu-malu.

Aku langsung berjongkok diselangkangannya. Kontolnya kumasukkan dalam mulutku. Dia terhenyak. Kaget mungkin. Berarti dia jujur belon pernah ngentot. Sesaat kemudian dia sudah mengerang-erang keenakan dan ngecret. Wajahku belepotan spermanya yang kental. Setelah itu dia terduduk lemas diatas ranjang.

“Istirahat dulu? Atau mau dilanjutin?” tanyaku santai.

“Istirahat dulu deh Mbak. Capek banget,” jawabnya tersipu malu.

Aku menyuguhkannya air minum kemasan. Dia segera menghabiskannya.

“Bawa kondom gak?” tanyaku.

“Bawa Mbak. Bawa,” jawabnya cepat. Dia langsung mengambil kondom yang disimpannya dalam saku celananya. Ada tiga bungkus.

“Banyak banget,” kataku.

“Persediaan Mbak,” jawabnya lagi, juga tersipu malu.

Setelah lima menit, kutanya lagi dia. Apakah dia sudah siap untuk melanjutkan atau belum. Dia menjawab sudah. Aku langsung naik ke atas tempat tidurku. Menungging. Rok sepanku ku angkat ke atas. Kuturunkan celana dalam wanita, warna merah jambu, yang kukenakan sebatas betisku. Pantatku langsung terpampang didepan matanya.

Kulihat dia terpana. Pantatku putih bersih. Segala bulu, baik jembut, dan bulu pantat selalu kucukur bersih. Tapi pasti yang membuat Andre terpana bukan itu. Tapi kontolku yang besarnya minta ampun. Jauh lebih besar dari punya dia.

“Mbak, kontolnya gede banget ya,” katanya lirih. Benar saja dugaanku.

“Namanya juga waria Ndre, jadi ya punya kontol,” jawabku santai. “Dimulai dong, masak cuman diliatin doang,” kataku lagi. Pahaku lebih kulebarkan lagi. Lobang pantatku yang merekah dapat dilihatnya lebih jelas lagi.

Andre mendekatkan kontolnya yang sudah keras ke lobang pantatku. Lalu kontolnya pun terbenam erat disana. Selanjutnya ia mulai menggenjot maju mundur. Mula-mula genjotannya pelan. Lama-lama semakin cepat. Dan bertambah cepat. Akhirnya diapun ngecret lagi. Dia roboh diatas tubuhku. Bersimbah keringat.

“Mas, nanti sekali lagi ya,” katanya dengan suara lemas padaku. Apa katanya Mas? Kok jadi berubah gitu sih? Pikirku. Tapi apa peduliku. Sama aja. Mau Mas atau Mbak.

“Boleh. Kamu cepet amat ngecretnya ya. Minum irex mau?” tanyaku.

“Emang Mas punya?” tanyanya.

“Ada,” sahutku.

Dia minum irex yang kusediakan. Mudah-mudahan bisa membantunya.

Setelah tenaganya pulih kembali, dia mengajakku ngentot sekali lagi. “Tapi kali ini Mas buka baju semua,” pintanya. Buka baju semua? Kalo buka baju semua aku jadi laki-laki dong. Tetekku gak ada. Rambut panjangku juga wig. “Make up nya juga dihapus aja,” katanya lagi.

“Kenapa rupanya?” tanyaku.

“Gak papa. Cuman kalo pake pakaian waria gitu, Mas jadi aneh,” katanya.

“Gak usah deh. Gini aja,” jawabku. Aku berusaha menolak.

“Kalo Mas mau, entar Andre tambahin lagi deh. Jadi seratus ribu,” rayunya.

Aku jadi tergoda mendengar rayuannya soal nambah bayaranku. Segala prinsipku hilang dari benakku. Akhirnya meski kurang sreg, kuikuti apa maunya. Kubuka seluruh pakaianku. Wig kulepas. Make up ku hapus. Kini aku berdiri sebagaimana layaknya lelaki telanjang bulat. Kami berdiri berhadapan. Sama-sama telanjang bulat.

“Gini lebih bagus,” katanya. Jemarinya mengelus dadaku yang lumayan bidang. Selanjutnya dia menyelomoti pentil dadaku dengan buas. Anak ini punya bakat homo, pikirku. Dia lebih bernafsu kini dibandingkan saat dia mengentotku dengan pakaian waria tadi. Mulutnya menjelajahi seluruh bagian atas tubuhku. Turun hingga akhirnya di batang kontolku yang membonggol.

“Masshhhh… besar banget,” katanya dengan suara bergetar. Lalu kontolku dimasukkannya ke dalam mulutnya. Dugaanku sepertinya gak salah. Andre ini punya bakat gay juga. Aku sih santai saja. Kubiarkan dia berbuat sesukanya padaku.

Mulutnya bergerilya. Batang kontolku, kepala kontolku, dan juga dua buah pelirku habis dilumatnya. Aku mengerang-erang. Rasanya begitu enak. Seperti saat Misye mengerjai kontolku sebelum kemudian aku mengentot dia.

Lama juga Andre mengerjai kontolku. Dia sangat suka rupanya. Setelah merasa puas, barulah dia berdiri kembali. Berdiri berhadapan denganku. Diciuminya bibirku yang tipis. Kami saling melumat cukup lama. Kemudian dia mendorong tubuhku sehingga jatih telentang diatas ranjang. Tubuhku ditindihnya. Kontol kami yang sama-sama keras saling berhimpitan. Dia mengajakku bermain kontol. Pantat kami kemudian bergerak-gerak, mengadu batang kontol kami.

Puas bermain kontol dia segera bangkit dari menindihku. Pahaku dikangkangkannya lebar-lebar. Kedua pahanya diselipkan dibawah pahaku. ABG ini kulihat berubah jadi liar sekarang. Kontolnya langsung dibenamkannya di lobang pantatku. Jembutnya yang lebat, terasa menggelitik celah lobang pantatku.

“Lho? Gak pake kondom Ndre?” tanyaku.

“Gak usahh ahh. Ahhh… ahhh…,” sahutnya dengan wajah menyeringai.

Dan kemudian pantatnya mulai menggenjot. Sangat keras. Sangat cepat. Menghentak-hentak. Ranjangku yang kecil berderak-derak keras. ABG ini berubah jadi perkasa. Tidak seperti tadi, yang sebentar saja langsung ngecret. Aku tak tahu, apakah ini pengaruh irex? Atau memang gairahnya yang seperti ini.

Kubalas genjotannya dengan tak kalah liar dan perkasa. Aku kan harus memuaskan pelangganku. Jadilah kami berdua mendengus-dengus bak banteng liar. Sementara pantat kami bergoyang berbalasan dengan keras. Mulut kami saling melumat dengan buas. Ahh.. ahh… rasanya begitu bersemangat. Sangat nikmat. Tanpa kami sadari tubuh kami sudah basah kuyup, bersimbah keringat.

“Ohhh Mashhh.. Mashhhh… enak banget Masshhh ohhhh…..,” racau Andre.

“Kerasshhh Ndreehhh lebih kerasshhh ahhh.. ahhh.. ahhh..,” kataku bersemangat. Tanganku ikut membantu gerakan pantatnya agar semakin keras dan cepat menggenjot. Soalnya aku sangat keenakan dengan kontolnya yang besar mengaduk-aduk lobang pantatku.

“Ohhh fuckk.. enaknya ahhh.. ahhh… ahhh..,” kata Andre.

“Ndrehhh kontolmu enak sekalihh ahhh ahhh.. ahh.. enak Ndrehhh ahh..,”

“Mas sukah kontolkuhh? Suka Masshh? Ahhh.. ahhh.. ahhh..,”

“Yahh.. ah..yah… yahh.. aooohhhh..,” aku mengerang keenakan. Bener-bener enak men.

Dan pergumulan cabul kami akhirnya berakhir setelah Andre orgasme didalam saluran pelepasanku. Orgasmenya bener-bener dahsyat. Badannya yang ramping berisi sampe kejang-kejang di atas tubuhku. Kemudian dia ambruk disebelahku. Telentang dengan nafas tersengal-sengal. Akupun turut ambruk menelungkup. Entah kenapa, rasanya pergumulanku dengannya barusan ini sangat berbeda dari yang pernah kurasakan. Luar biasa menggairahkan.

Oh, tubuhku rasanya letih nungging dientot oleh Andre. ABG itu apalagi. Dia pasti kelelahan banget setelah mencumbuiku dengan buas. Kami beristirahat sejenak. Menenangkan diri.

“Gimana Ndre? Enak?” tanyaku pelan pada Andre, setelah kelelahanku kurasakan mulai hilang.

“Gila Mas, enak banget. ini pertama kalinya buat Andre. Luar biasa banget Mas,” katanya.

“Masak sih pertama? Kayaknya udah pengalaman banget deh,” godaku.

“Enggak Mas. Suer ini yang pertama. Tapi kalo ngelihat cowok ama cowok ngentot Andre memang udah pernah,” katanya.

“O ya? Kapan? Siapa?” tanyaku. Bocah itu kulihat tercenung sejenak.

“Mmmm, nyeritainnya bingung Mas. Malu,” jawabnya.

“Kok malu?” tanyaku.

“Abis orang deket Andre juga sih,”

“Orangnya kan gak ada disini. Mas juga gak kenal kok. Lagian mana mungkin Mas bakalan ngasih tau ke orang-orang,” rayuku. Aku agak penasaran juga, siapa sih orang yang pernah dilihatnya itu.

Dia berpikir sejenak. Namun kemudian akhirnya dia bercerita juga. mendengar ceritanya aku kaget juga. orang yang pernah dilihatnya itu ternyata kakak kandungnya sendiri dengan sepupunya. Nama kakaknya itu Randy dan sepupunya itu Thomas. Yang lebih gilanya, kakaknya itu saat dilihatnya ngentot dengan sepupunya yang umurnya sebaya Andre itu, saat kakaknya itu akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi. Gila ya.

“Andre bener-bener gak ngerti Mas, kok Mas Randy bisa ngelakuin hal itu. Andre juga bingung, kok Andre bisa menikmati apa yang mereka lakukan. Sejak itu Andre jadi kepikiran terus Mas. Makanya Andre pengen nyobain,” katanya.

“Jadi, cerita ke Mas tadi boong ya,”

“Boong? Cerita mana Mas yang boong?” tanyanya bingung.

“Tadi katanya pengen cari perek. Tapi kaena kemahalan gak jadi,”

“Iya Mas. Boong. Andre cuman pura-pura doang. Niatnya sejak awal ya nyari kayak Mas ini,” sahutnya malu-malu. Ketangkap basah ketahuan rahasianya olehku.

“Jadi kok tadi milihnya saya?’ tanyaku.

“Abisnya Mas manis sih. Andre liat Mas kalo tampil sebagai laki-laki juga tetap manis,” sahutnya lagi.

“Masak kelihatan sih?” tanyaku.

“Iya Mas,”

“Mmm gitu. Jadi gimana nih? Mau udahan atau lanjut lagi?”

“Kalo lanjut lagi, nambah biaya lagi gak Mas?” tanyanya malu-malu.

“Hehehe. Kenapa? Duitnya kurang?’

“Gak sih. Pengen negesin aja,”

“Kalo untuk Andre gak usah nambah lagi deh. Mas juga suka kok ngentot sama Andre. Tapi ada syaratnya,”

“Apa Mas?”

“Mas boleh juga ngebool Andre,” kataku.

“Mmmm boleh Mas. Boleh. Andre juga pengen nyoba,” katanya tersipu.

“Kalo gitu kita mulai aja,” kataku.

Bocah itu langsung bersiap ambil posisi. Dia mengangkang lebar-lebar telentang. Aku segera bersimpuh diantara selangkangannya.

Bocah ini masih perjaka ting-ting duburnya. Aku agak kerepotan juga melakukan penetrasi padanya. Tapi dia bener-bener berkemauan keras pengen mencoba dianal olehku. Meskipun kulihat dia sangat kesakitan, dibiarkannya saja aku menembus lobang pantatnya yang sempit dengan kontolku yang besar.

Setelah berulang-ulang menekan kontolku memasuki lobang pantatnya, akhirnya masuk juga seluruh batang kontolku. Setelah itu aku mulai bergerak. Andre mengerang-erang. Entah erangan kesakitan atau keenakan. Aku tak peduli, mau dia kesakitan atau keenakan. Genjotan pantat terus kulanjutkan. Gerakan pantatku menggila. Aku benar-benar keenakan dengan dubur si Andre yang ganteng ini.

Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Saat dientot oleh pelangganku, motivasiku hanya uang. Aku tak pernah menikmatinya. Kalaupun harus ngentotin lobang pantat, paling aku hanya melakukannya dengan Misye. Itupun karena faktor hutang budi. Dan juga tak kunikmati. Tapi saat ini entah kenapa aku begitu menikmatinya. Aku begitu bersemangat menghajar dubur Andre.

“Hahhh… hahhh… hahhhh…. hahhhh…hahhhh..,” aku mendengus-dengus. Spermaku akan muncrat sebentar lagi.

Saat spermaku kurasakan menyembur dari lobang kencingku, tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar. Si Misye nongol di pintu. Dia terkejut melihatku. Aku lebih terkejut lagi. Tak kusangka Misye sudah pulang.

“Bang Poltak! Ngapain?!!!!” serunya keras. Nama asliku disebutnya keras. Bukan Popy, nama banciku.

Aku tak tahu harus ngomong apa. Tubuhku rasanya lemas karena orgasmeku. Pantatku menekan keras di buah pantat Andre. Bocah yang sedang merasakan semburan spermaku inipun terlonjak kaget. Wajahnya melongo memandang Misye yang kaget melihat kami sedang tindih-tindihan seperti itu.

Kami hanya saling pandang-pandangan untuk waktu yang cukup lama. Sama-sama melongo. Kalo aku melongo dengan ekspresi keenakan karena orgasme. Tak ada yang berbicara. Tapi aku yakin, Misye pasti bingung sekali melihatku. Saat tampil sebagai laki-laki normal seperti saat ini aku menggagahi seorang laki-laki. Hal yang selama ini selalu aku katakan padanya, tak akan mungkin pernah akan aku lakukan. Aku bener-bener bingung diantara kenikmatan yang sedang menjalar di seluruh tubuhku.

Tamat

 

Cerita ini adalah Prequel dari cerita Menjelang Pernikahan Mas Randy.

Sepulang dari kantornya di bilangan Sudirman, Randy menyempatkan menjemput Tania, calon istrinya, yang bekerja di kawasan Kuningan. Mereka memang janjian untuk ke club kebugaran sepulang kerja. Melatih otot-otot tubuh sambil menantikan kemacetan di jalanan Jakarta usai.

Keduanya memang rajin ke club kebugaran. Karenanya tubuh mereka jadi terbentuk dengan baik. Randy, tinggi atletis. Sementara Tania ramping dan sexy. Semua orang mengatakan mereka pasangan yang serasi. Layaknya Dewa dan Dewi di cerita dongeng saja.

Club kebugaran tempat mereka terdaftar menjadi member terlihat ramai seperti biasanya. Anggotanya banyak para eksekutif muda. Seperti juga Randy dan Tania, mereka melatih otot disini sambil menantikan jalanan yang macet usai. Jam pulang kantor pasti selalu macet di jalan raya.

“Hai pengantin baru. Selamat datang,” sambut Chandra. Instruktur fitness di club kebugaran itu. Si Chandra ini memang bodynya oke banget. tampangnyapun ganteng dan jantan. Tapi kok bisa feminin luar biasa. Suaranya saja terdengar kenes saat menyambut Randy dan Tania.

“Ihhh Chandra. Masih calon. Minggu depan baru sah,” sahut Tania sambil tersenyum mesra pada Randy. Pipi Chandra dicubitnya genit.

“Idihhh… main cubit-cubitan dengan gue ya. Entar ada yang marah lhooo..,” katanya genit. Matanya mengerling nakal pada Randy.

“Dasar genit,” kata Randy. Dia memang suka juga menggoda si Chandra. Soalnya dalam pandangannya Chandra itu lucu sekali. Penampilan fisiknya yang macho dan jantan gak sepadan dengan gayanya yang feminin. Bukan hanya Randy, hampir semua member club kebugaran itu suka menggoda Chandra. Kalo kumatnya udah latah, maka yang mendengar bisa terkikik-kikik. Tuh anak suka ngomong jorok sesukanya kalo latahnya kumat. Kalo si Chandra jelas doyan digodain. Apalagi kalo yang godain cowok. Makin semangat dia.

Randy dan Tania segera menuju ruang ganti pakaian. Tania ke ruang ganti cewek, sementara Randy ke ruang ganti cowok. Di ruang ganti, Randy bertemu dengan dua instruktur pria yang sudah dikenalnya lama. Sejak dia bergabung di club itu. Mereka adalah Rio dan Panca. Mereka ini sebaya dengan Randy, sekitar dua puluh tujuh tahunan. Sebagaimana layaknya orang yang rajin fitness, tubuh keduanya atletis sekali. Mereka ini tidak seperti si Chandra. Sepanjang Randy mengenal mereka, Rio dan Panca terlihat sangat laki-laki seperti dirinya juga. Karenanya ia suka ngobrol dengan mereka.

Saat Randy masuk, keduanya sedang telanjang bulat. Bersiap-siap bertukar pakaian olah raga. Rupanya mereka juga baru datang. Di ruang ganti ini, biasa saja mereka bugil seperti itu. Memamerkan organ tubuh mereka sampai yang paling pribadi sekalipun. Namanya ruang ganti.

“Baru datang Ran?” tanya Panca. Tubuhnya yang telanjang menghadap lurus ke arah Randy. Kontolnya yang besar terlihat menggantung lemas ke arah bawah, diantara rimbunan jembutnya yang lebat.

“Yoi Ca. Elo berdua juga baru datang ya?” tanya Randy sambil mulai melepaskan seluruh pakaian kerjanya.

“Iya. Makanya juga baru tuker pakaian,” ini Rio yang menyahut. Tubuh ketiganya kini sudah sama-sama telanjang. Untuk urusan telanjang begini, Randy boleh berbangga, karena ukurannya kontolnya gede sama seperti kedua instruktur itu.

Ada beberapa teman fitness mereka yang kalo sudah telanjang begini suka menyembunyikan alat vitalnya. Soalnya banyak juga yang ukuran kontolnya gak sesuai dengan bodynya. Tubuh kekar atletis, sementara kontol kecil. Memang tidak ada yang mengejek. Tapi, wajar aja kan kalo jadi kurang pede.

“Rand, kita diundang gak pesta pernikahan elo?” tanya Rio.

“Diundang dong. Semua member dan instruktur yang gue kenal pasti gue undang. Santai aja men,” sahut Randy. Ketiganya sudah siap mengegnakan pakaian olah raga.

“Rand, bikin pesta bujangan dong. Masak hari ini gak ada pesta bujangannya,” kata Panca.

“Iya Rand. Gak seru dong,” sahut Rio mendukung usul Panca.

“Boleh aja. Mau dimana bikinnya?”

“Di rumah elo dong. Kamar elo kan pavillyun tuh. Kan bebas disitu,” kata Panca lagi. Mereka memang pernah diajak Randy ke ruamhnya. Ngobrol-ngobrol sambil mabok.

“Kayaknya gak mungkin deh. Rumah gue dah mulai rame nih,”

“Kalo gitu gimana kalo di kontarakan kami aja? Gue sama Panca kan ngontrak bareng-bareng Erwin dan Yuda. Ini kalo elo setuju,” Rio menawarkan. Panca ngangguk-ngangguk setuju. Hendar dan Yuda itu juga instruktur di club ini. Dan Randy juga kenal. Mereka berempat memang berasal dari luar Jakarta. Sama-sama bekerja di tempat yang sama, mereka sepakat ngontrak rumah bareng-bareng. Menjadi instruktur fitness, sebenarnya pekerjaan sampingan mereka. Masing-masing punya pekerjaan tetap sendiri-sendiri. Rio bekerja sebagai pelayan di restoran fast food. Panca, perawat di sebuah klinik spesialis kanker. Sedangkan Erwin teller di bank asing. Kalau Yuda itu sebenernya intel di kepolisian. Tapi kalo orang tidak terlalu dekat dengannya, hanya tahu kalau dia bekerja sebagai wartawan lepas sebuah surat kabar.

Randy memang dekat dengan mereka berempat. Karena obrolan mereka nyambung. Dan orangnya gak ada yang sengak.

“Gak mungkin dong disitu. Kedengaran tetangga kan berabe. Kontrakan kalian kan di kompleks perumahan. Padat lagi penduduknya,”

“Kalo gitu gimana dong?”

“Gini aja. Kita sewa aja satu kamar hotel. Gimana?”

“Waduh, jadi gak enak nih Rand. Biayanya gede banget,”

“Santai aja. Gue kan punya banyak fasilitas diskon kamar hotel yang gue dapat dari perusahaan gue,” jawab Randy. Panca dan Rio ngangguk-ngangguk.

“Boleh kalo gitu. Kapan waktunya?” kata Panca.

“Terserah kalian aja,” sahut Randy.

“Besok aja, malam sabtu Rand. Kalo malam minggu kan jatah elo sama Tania,” sahut Panca nyengir,

“Oke deh,” sahut Randy. “Ada kenalan cewek yang bisa diajak gak?’ tanya Randy lagi.

“Ada dong. Elo santai aja. Hehehe,” kata Rio.

“Kalau gitu, ini gue kasih duit dua juta dulu, buat elo kasih panjar ke cewek-cewek yang elo bawa. Trus besok sore elo bawa tuh cewek ke hotel. Kalau udah sampe hotel, elo telpon gue. Biar gue hubungi manajer hotelnya. Supaya dia nyediain minum dan makanan buat kita. Gimana?” kata Randy sambil menyerahkan duit pecahan seratus ribu ke Panca. “Kekurangannya besok gue tambah,”

“Sip men,”

Malam itu Randy melatih tubuhnya dibimbing Panca. Sedangkan Tania dibimbing Chandra. Usai fitness Randy mengantarkan Tania pulang, sebelum kembali ke rumahnya sendiri. Sambil pulang ia menyempatkan berbicara sama Tania, bahwa besok ia tak bisa menjemput karena pengen ngajakin teman-temannya instruktur fitness itu minum-minum. Tentu saja ia tak mengatakan mereka akan mengadakan pesta bujangan. Bisa berabe kan.

Besoknya, setelah memastikan Tania pulang ke rumah dengan aman, Randy meluncur ke club kebugaran. Dia melatih tubuhnya sebentar, kemudian melanjutkan dengan renang sambil menunggu Erwin dan Yuda yang dapat jatah bertugas malam ini selesai kerja. Sementara Panca dan Rio sedang mempersiapkan segala sesuatu seperti yang dikatakannya kemarin.

Pukul sembilan malam, club kebugaran itu tutup. Randy, Erwin, dan Yuda, segera meluncur ke hotel yang mereka tetapkan sebagai tempat pesta bujangan itu.

“Candra gak masuk ya hari ini?” tanya Randy sambil menyetir mobilnya dalam perjalanan.

“Kenapa Rand? Kangen?” goda Yuda.

“Enak aja. Kalo dia ada malah berabe. Untung tadi dia gak ada. Kalo ada trus pengen ikut, kan enggak enak kalo gak dibawa,” kata Randy.

Kamar yang dipesan adalah suit. Jadi ukurannya luas dan bentuknya mirip seperti apartemen. Begitu masuk ke dalam kamar hotel, botol-botol bir, dan minuman keras sudah banyak terhidang di atas meja. Mereka sudah mempersiapkan untuk mabok gila-gilaan rupanya. Televisi layar lebar juga ada lengkap dengan VCD playernya. Setumpuk VCD bokep bajakan sudah disediakan juga didekat televisi itu.

“Ceweknya mana?” tanya Randy. Soalnya yang lain sudah tersedia, tinggal ceweknya yang belon ada.

“Sabar boss. Mereka sedang bersiap-siap di kamar,” sahut Panca.

“Rand, elo bakal dapet surprise malam ini,” kata Yuda terkekeh-kekeh.

“Surprise? Kalian nyiapin apaan?” tanya Randy penasaran.

Lampu kamar diredupkan. Lalu irama musik lembut dihidupkan. Dari dalam kamar bermunculannya tiga orang wanita berpakaian sexy. Baju ketat dan rok yang sangat pendek. Mereka kemudian menggerak-gerakkan tubuh dengan erotis. Tubuh meraka benar-benar sexy. Lekuk-lekukya sangat jelas. Buah dada mereka montok-montok. Para lelaki itu tertawa-tawa sambil minum bir menonton pertunjukan itu.

Para penari mulai melepaskan tubuh atas mereka. Memamerkan buah dada mereka. Randy sangat tergoda melihat tontontan itu. Bergelas-gelas bir dan minuman keras diminum oleh Randy. Para penari terus menari. Tapi belum sampai membuka bagian bawah mereka.

Kepala Randy sedikit puyeng karena setengah mabok. Penari-penari itu sudah semakin binal. Buah dada mereka digosok-gosokkan ke wajah laki-laki yang menonton. Randy keenakan. Puting susu yangd ekat diwajahnya langsung dikulumnya.

“Sekarang pertunjukannya dimulai Rand,” kata Erwin berbisik pada Randy.

“Ngapain mereka?” tanya Randy setengah mabok.

“Mereka bakal buka rok dan celana,” sahut Rio.

“O, ya. Sip,” sahut Randy.

Pelan-pelan penari itu melepas rok mereka. Celana dalam mereka yang mungil terlihat jelas. Randy yangs etengah mabok mencoba memperjelas pandangannya. Dia melihat semua penari itu memiliki jembut yang lebat sekali. Sampai melewati garis celana dalam mereka.

“Memek mereka gundukannya gemuk banget ya. Pasti enak nih,” kata Randy. Dalam tatapan setengah maboknya ia melihat penari-penari itu memang memiliki gundukan yang cukup besar ditengah selangakangan mereka. Para instruktur fitness teman Randy tertawa-tawa saja.

Tiba-tiba dari dalam kamar muncul si Chandra. Ia hanya menggenakan celana dalam yang sangat minim. Gundukan kontolnya yang besar terlihat jelas.

“Ngapain Chandra disini?” tanya Randy bingung. Yuda, Panca, Rio, dan Erwin tak memperdulikan pertanyaan Randy.

Chandra mendekati penari-penari itu. ia ikut bergerak-gerak erotis di deat mereka. Gundukannya yang besar di gesek-gesekannya ke gundukan para penari itu yang juga cukup besar.

“Emang si Chandra doyan cewek?” tanya Randy.

Pelan-pelan para penari yang cantik dan sexy itu melepaskan celana dalam mereka yang mungil dan berwarna-warni. Chandra yang berada ditengah-tengah penari itu, juga terlihat akan membuka celananya. Begitu celana itu terlepas, dan para penari itu berdiri tegak mengangkang di depan semua penonton, Randypun terperanjat.

“Lhoo.. lhooo.. cewek kok ada kontolnya?” tanyanya bingung. Para penari dan Chandra kini berdiri mengangkang berkacak pinggang. Celana dalam sudah turun sampai paha mereka. Semua selangkangan mereka memiliki kontol dalam ukuran yang cukup besar. Yang paling besar diantara mereka adalah kontol Chandra.

“Mereka waria ya? Kalian mengundang waria ya?” tanya Randy bingung.

“Hehehehe. Ini surprise dari kita buat elo Rand. Sekali-kali elo nyobain yang berbeda dong. Masak gitu-gitu mulu,” kata Erwin tertawa pada Randy.

“Lagian mereka kan sexy-sexy. Liat tuh,” kata Panca.

“Kecuali si Chandra,” celetuk Yuda. Chandra cemberut. Cowok-cowok yang lain tertawa-tawa, kecuali Randy. Sedangkan para penari yang cantik-cantik itu tersenyum-senyum nakal. Mereka beneran cantik lho. Kalo gak buka celana dalam seperti sekarang ini, gak ada yang bakalan tau kalo mereka itu ternyata waria.

Para penari dan Chandra melanjutkan gerakan erotis mereka. Pinggul mereka sengaja digeol-geolkan, membuat kontol mereka jadi bergoyang-goyang. Randy terus melotot dengan bingung diantara kondisinya yang setengah mabok itu. Para penari mendekat ke arah penonton. Begitu sudah dekat, mereka kembali menggoda para cowok yang menonton itu dengan gesekan tubuh telanjang mereka. Panca, Rio, Erwin dan Yuda tertawa-tawa kegirangan. Tangan mereka asik meremas-remas pantat para penari yang putih-putih dan montok. Panca yang dapet jatah digoda Chandra terlihat cuek. Tangannya dengan nakal meremas-remas pantat cowok feminin itu. malah kontol si Chandra pun ikut diremas-remasnya.

Randy melongo melihat kawan-kawan instruktur fitnessnya itu. Tak menyangka dengan apa yang disaksikannya. Ia sendiri sibuk menghindar dari seorang penari waria yang menggodanya.

“Rand, ayo dong. Kok malu-malu gitu sih?” kata Erwin tertawa.

“Enak aja. Gue geli lagi. Elo-elo kok pada asik gitu sih? Kalian homo ya?” tanyanya.

“Panca homo? Dia mah playboy Rand,” kata Chandra tertawa-tawa. Dengan kontolnya Chandra kini menampar-nampar lembut pipi Panca. Sementara Panca tersenyum-senyum pada Randy. Jemarinya sibuk meremas pantat Chandra. “Pantat elo bagus banget sih Chand,” katanya.

“Iya dong. Makanya elo doyan kan?” sahutnya centil.

“Gila lho. Pesta bujangan gue kok elo bikin ginian sih?” Randy mulai tak suka. Ia berdiri dari tempat duduknya, bersiap meninggalkan kamar. Langkahnya sempoyongan menuju pintu kamar hotel itu.

“Santai dong Rand,” kata Yuda. “Jangan terlalu konservatif lah. Zaman udah era digital begini, masak elo kolot gitu sih? Ini cuman untuk happy-happy doang men. Just for fun. Yang homo itu cuman si Chandra doang. Kita-kita jelas enggaklah. Santai dong Rand,” ia menjajari langkah Randy menuju pintu. Dipegangnya tangan Randy mencegah cowok itu membuka pintu kamar hotel.

“Enak aja nyantai. Gue cowok normal. Enak aja elo ajak maen dengan yang ginian. Lepasin tangan gue!” katanya marah.

Yuda segera mencabut kunci kamar hotel dari gerendel pintu. “Apa-apaan si lo Yud? Kalo elo homo, jangan tularin ke gue,” katanya lagi.

“Terserah elo deh mo ngomong apa. Yang penting elo kalo mo keluar jangan lewat pintu. Lewat jendela aja kalo berani. Biar elo jatuh dari lantai enam ini. Sekalian mati, hehehe,” kata Yuda. Ia kembali mendatangi waria yang tadi menggodanya.

“Siniin kuncinya Yud. Kalo enggak gue….,” Randy mengancam.

“Kalo enggak kenapa? Lho mo mukul gue? Pukul aja kalo elo berani,” tantang Yuda. Mendengar tantangan Yuda, Randy jadi mengkeret juga. kalaupun dia bisa ngalahin si Yuda, dia masih harus berhadapan dengan yang lain juga. Percuma juga dia melawan. Yuda dan yang lain tertawa melihat Randy.

“Rand, masak sih orang kayak elo takut mencoba sesuatu yang baru? Si Yuda kan udah bilang, kita ini bukan homo. Ini cuman untuk senang-senang aja kok. Kita pengen bikin elo senang-senang menjelang kawin dengan mencoba sesuatu yang gak biasa. Kalo dengan cewek elo kan udah biasa. Pesta bujangan elo perlu dibuat luar biasa. Makanya kita undang mereka-mereka ini,” kata Rio.

“Iya Rand. Jangan takutlah. Bukannya elo main-main dengan waria kayak gini terus elo jadi homo. Tanya aja tuh si Jenny, berapa banyak cowok normal yang pernah maen dengan dia. Tanya juga apa mereka jadi homo setelah maen dengan si Jenny,” sambung Panca.

“He eh Mas. Malah yang udah kawin juga banyak kok,” kata Jenny mengiyakan Panca. Jenny ngomongnya lembut banget kayak cewek beneran. Gak ada suara laki-lakinya sama sekali deh.

Randy jadi makin keqi. Dia paling gak suka kalo dibilang takut. Tapi saat itu dia emang jengah banget.

“Kalo gitu elo duduk disitu aja deh Rand. Nonton kita-kita aja. Kalo mau tidur juga terserah. Kami pengen lanjutin lagi nih,” kata Erwin kemudian. “Sel, sepong kontol gue dong,” kata si Erwin pada Selly alias Sofyan yang sedang berdiri di dekatnya. Selly jelas aja siap dengan melayani permintaan Erwin itu. Ia segera jongkok diantara paha Erwin yang mengangkang. Tangannya dengan cepat membuka resleting celana instruktur fitness itu.

“Ihhh gede banget deh,” kata Selly begitu melihat kontol Erwin. Langsung aja kontol itu dimasukkannya ke dalam mulutnya.

Yang lain juga ikutan. Masing-masing kontol mereka mulai dioral oleh para penari itu.

“Elo mau disepong juga Ca?” tanya Chandra nakal pada si Panca.

“Iya dong. Entar si Randy bilang elo homo deh. Masak dioral sama gue,” kata Chandra menyindir.

“Terserah deh dia mau bilang apa. Abis yang laen udah dapet jatah semua sih. Terpaksa deh gue sama elo,” sahut Panca santai. Tak berlama-lama Chandra langsung mulai menyelomoti kontol Panca yang segede terong itu.

Randy tak tau mau berbuat apa. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Berusaha tidur. Namun percuma saja. Ia terganggu dengan suara-suara oral disekitarnya.

“Oooooohhhh……enak banget Jennn…,”

“Yahhh… yahhh….ergghhhhhhh..,”

“Gila Chand, gilahhhh…… ssshhhhhh… sshhhh…,”

“Ohhh.. ohhh…ohhh….ohhhh…,”

Teman-temannya itu menyengajakan suara-suara desahan mereka keras-keras. Niatnya membuat Randy terangsang. Dan Randy memang tak sanggup untuk tidak terangsang. Meskipun ia berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari mereka, namun tetap saja sekali-sekali ia melirik. Melihat apa yang dilakukan oleh delapan orang yang sedang beradegan mesum itu ia mulai tergoda. Sekuat tenaga ditahannya godaan itu.

Lima menit berlalu. “Aduhh.. aduhh.. enak banget…ahhh.. ahh… Jen gak tahann.. gue pengen entot elo,” kata Rio. Ia segera menarik tubuh ramping Jenny ke atas ranjang. Dekat dengan posisi berbaring Randy saat itu. “Kalo gak suka, jangan liat Rand,” katanya.

Jenny disuruhnya mengangkang di tepi ranjang. Waria itu segera melebarkan pahanya. Randy melotot melihat kontol Jenny yang membengkak. Para penari itu sudah menyediakan KY rupanya. Rio langsung melumuri kontolnya dengan KY, begitu juga lobang pantat Jenny. Karena telah dilumuri KY, Rio tak kesulitan melakukan penetrasi di lobang pantat waria itu. sebentar saja ia sudah asik bergoyang pantat. Menganal Jenny dengan ganas.

“Rio, lemparin KY nya ke gue,” kata Panca. Rio segera melempar KY dalam tube itu pada temannya si Panca. Randy kaget, si Panca mau ngembat si Chandra?

Chandra langsung menungging berpegangan pada kursi. Panca melumuri kontolnya sendiri dengan KY, juga lobang pantat Chandra. Kemudian ia berdiri di belakang Chandra, mulai menganal cowok itu. Randy bengong melihat dua laki-laki yang sama-sama kekar itu asik bergoyang pantat dengan nikmat.

“Ohhh…ohhh.. enak banget Chand… sempit banget,” racau Panca.

Erwin dan Yuda pun mulai ikutan. Randy akhirnya jadi penonton pertunjukan cabul itu. Suara-suara persenggamaan mereka semakin merangsang birahinya.

Menit-menit berlalu. Tubuh-tubuh mereka yang sedang mengentot mulai keringatan. Genjotan pantat mereka semakin cepat dan menghentak-hentak.

“Sel.. Sell.. ssshhhh… tukeran dongg sshhhh… Gue kan pengen ngerasain si Erwin jugaahhhh… sshhhh,” kata Chandra.

“Dasar gatel deh elohh sshhhh… sshhhh… ahhh.. ahhh… ya udah. Tukeran sini,” sahut Selly. Pertukaran pasangan pun dimulai. Kini Chandra dientot oleh Erwin, dan Panca menggumuli Selly. Yuda dan Rio pun bertukar pasangan. Pesta sex terus berlanjut.

Kalau Randy pengen keluar sekarang dari kamar itu sebenarnya bisa. Dari tadi juga bisa. Karena celana Yudi sudah tak lagi dikenakannya. Randy bisa mengambil kunci kamar hotel dari saku celana instruktur fitness itu. tapi Randy jadi tak ingin lagi keluar kamar itu. Entah kenapa ia menjadi menikmati tontonan di depan matanya itu. Ia kini duduk menonton. Ranjang tempatnya duduk yang bergoyang-goyang karena gerakan tubuh Rio dan Windy, penari waria yang satu lagi, membuat birahinya semakin bergejolak.

“Beneran gak pengen nyobain nihh? Ssshhh?” tanya Rio padanya. Randy jadi tergoda pada tawaran Rio itu. “Kalo mau nih gue kasih nyobain sshhhh.. shhh.. ahh. Ahh.. ahh..,” kata Rio lagi.

Randy menimbang-nimbang beberapa saat. Akhirnya iapun kalah dengan nafsunya sendiri. Ia tak sanggup lagi menahan birahinya. Dilepaskannya pakaiannya. Rio tersenyum senang melihat reaksi Randy.

“KY tadi mana? Kasihin ke Randy deh shhh.. shhh… shhh..,” katanya pada yang lain.

Chandra melemparkan KY yang kebetulan ada didekatnya pada Randy. Sigap Randy menangkap tube KY itu.

“Lumuri dulu di kontol elohh.. sshhh…shhh..,” kata Rio dengan tetap terus bergoyang pantat.

Terburu-buru Randy melakukan apa yang disuruh Rio. Setelah selesai ia berdiri di samping Rio. Rio melepaskan kontolnya dari lobang pantat Windy. Randy mulai melakukan penetrasi pada waria itu.

“Ssssssshhhhhh ahhhh….,” erang Randy saat kontolnya menembus lobang pantat Windy yang sempit.

“Gimana Rand?” tanya Rio.

“Oooohhhhh…. sempit bangethhh….,” katanya.

“Enak kan?” tanya Windy genit.

“Sssshhhhh… ohhh…. enak… banget Windd..,” katanya. Pantatnya segera bergerak begitu kontolnya amblas dalam lobang pantat Windy.

Rio tersenyum melihat reaksi Randy. Teman-temannya yang lain juga. Rio kemudian mendekati mulut Windy.

“Wind, oral gue deh,” katanya.

Windy langsung menggenggam kontol Rio. KY yang melekat di kontol Rio dibersihkannya dengan sprey ranjang itu. setelah kontol itu bersih ia mulai melumat dengan penuh semangat. Windy keenakan. Ia menikmati sekali dientot Randy dan mengoral Rio.

Randy mengerang-erang. Mulutnya meracau-racau. Ia sangat keenakan atas sensasi mengentot lobang pantat waria itu.

“Riohhh.. sshhhh….shhh… oral gue donghhh sayhhh shhh…,” kata Windy.

“Boleh,” sahut Rio. Ia segera membungkukkan tubuhnya. Mulutnya langsung melahap kontol waria itu yang sudah keras mengacung. Randy terhenyak. Ia kaget melihat Rio yang jantan itu santai saja melakukan oral pada kontol Windy. Namun karena ia sedang keenakan, keheranannya itu dilupakannya saja. Ia terus mencari kenikmatan dari lobang pantat Windy. Ia terus bergerak pantat dengan cepat.

“Rand, coba lihat ke belakang deh,” kata Rio. Randy menoleh ke belakang. Dan ia kaget kembali. Di belakang ia melihat sudah terjadi pertukaran posisi lagi. Panca kini menggumuli Jenny. Sementara Sally malah asik mengentot Chandra. Gila tuh. Apa gak salah? Pikir Randy. Yang lebih mengagetkannya adalah melihat Yuda yang sedang asik menggempur lobang pantat Erwin dengan kontolnya. Kedua lelaki kekar dan jantan itu terlihat keenakan sekali. Erwin malah menggerakkan pantatnya tak kalah keras membalas hentakan pantat Yuda.

“Mo nyobain kayak Yuda dan Erwin gak?” pancing Rio.

“Gila lo,” sahut Randy. Dia terus menggenjot lobang pantat Windy dengan kecepatan penuh.

“Enak lagi. Ya enggak Yud?” kata Rio dengan suara agak keras. Tujuannya agar Yuda mendengar apa yang dikatakannya.

“He eh. Enak banget Rand. Entar dehh.. elo cobain jugah hhh sshhh… shhh…,” sahut Yuda yang sedang in action menganal Erwin menanggapi kata-kata Rio.

“Ahh.. ahhh.. ahh.. ahhh… enggak dehhh ahhh.. ahhh… elo ajahh.. ahhh…,” kata Randy.

“Gak nyesel Randhh? Hhhh sshhhh… shhh……,” tiba-tiba Windy yang sedang dientot Randy ngomong. “Sayang lohhh…? hhh… shhh… shhhh….,”

“Hahhh… hahhh… ahhh… ahhhh… enggakk ahhh… ahhh… ahhh… ngentothh eloh ajahhh.. ahhh…cukuphhh… shhh….. shhh…..,” sahut Randy pada Windy.

“Ngentothhh cowokkhhh shhhh…. shhh… sshheruhhh lohh.. hhhh… hhhh,” sambung Windy lagi menggoda. Pantatnya sengaja diputar-putarkannya. Randy mulai tak bisa mengontrol diri lagi. Batang kontolnya dirasakannya mulai berdenyut. Orgasmenya akan segera datang.

Tak lama spermanyapun menyembur deras dalam lobang pantat Windy. Waria itu mendesis-desis menikmati semburan sperma kental hangat itu dalam lobang pantatnya.

“Udahan Rand?” tanya Rio.

“Hohhh… hohhh… yahhh… hohhh…,”

“Cepet banget sih? Kok tumben? Keenakan ya ngentotin lobang pantat Windy? Hehehe?” goda Rio yang terus mengoral kontol si Windy.

Randy pura-pura tak mendengar kata-kata Rio itu. Ia langsung merebahkan tubuhnya telentang disamping Windy.

“Riohhh… gantiin Randy dong shhh.. shhh…,” kata Windy.

“Kenapa Wind? Masih nanggung?”

“He eh. Belon orgasme nih gue. Si Randy cepet banget keluarnya,” sahut Windy.

“Abis pantat elo binal banget sih,” kata Rio cengengesan. Windypun ikutan cengengesan. Sementara Randy tersengal-sengal dengan tubuh bersimbah keringat disamping Windy.

“Erwin aja deh gantiin elo. Gue pengen ngembat si Yuda aja,” kata Rio. “Win, Win sini Win. Entot si Windy nih,”

“Hohhh… hohhh…. tanggung nihhh… ohhhh… kontol Yudah enak banget hhh… hhh..,” kata Erwin. Dia tak rela melepaskan kontol Yuda dari pantatnya sekarang. soalnya dia sedang keenakan dientot ama cowok ganteng bertubuh kekar itu.

“Gue ajahhh…,” celetuk Panca yang sedang menggumuli Jenny.

“Trus guehh…? Ssshhh…sshhhh… Beresin dulu guehhh.. hhh.. ahhh.. ahhh…,” kata Jenny. Diapun tak rela Panca menghentikan anal padanya. soalnya dia sedang keenakan dientot Panca sambil ngocok kontolnya sendiri.

“Hehehehe… suka ya ama kontol guehhh…?” kata Panca ge er. Jenny cuman mesem.

Akhirnya tak terjadi pertukaran pasangan lagi. Mereka terus melanjutkan aksi ngentot itu hingga semuanya orgasme. Setelah itu semuanya orgasme, mereka beristirahat sejenak dengan nafas yang tersengal-sengal.

Malam itu pesta sex berlanjut terus dengan selingan nonton bokep dan mabok. Randy tetap bertahan tak bersedia untuk ngentot atau dientot dengan teman-temannya yang instruktur fitness itu. Hanya pada para waria penari itu ia mau melakukannya. Pada Chandra yang juga pengen merasakan kontol Randy dalam lobang pantatnyapun ia tak mau. Namun sesungguhnya dalam batin Randy rasa penasaran ingin menggagahi laki-laki macho dan kekar itu telah tumbuh. Randy tetap menjaga wibawanya dihadapan teman-temannya itu. Ia tergoda melihat mereka saling melampiaskan birahi dengan penuh kenikmatan.

Rasa penasaran itu akhirnya dilampiaskannya beberapa hari kemudian pada Thomas, adik sepupunya yang masih ABG. Thomas yang datang beserta papa dan mamanya karena akan mempersiapkan pesta pernikahan Randy akhirnya jadi tempat Randy melampiaskan rasa penasarannya itu.

Saat itu Thomas sedang sendiri di rumah. Bermain gim di kamar Andre, adik kandung Randy. Sedangkan seluruh keluarga Randy beserta mama dan papa Thomas sedang pergi. Andre sendiri belum pulang dari sekolah.

Cara yang paling klasik digunakannya untuk merangsang bocah imut itu. diajaknya Thomas nonton VCD di kamarnya. Film yang diputarnya adalah bokep. Setelah Thomas dilihatnya mulai terangsang diajaknya melakukan coli bersama. Dari mulai coli masing-masing hingga berlanut dengan saling mencolikan. Akhirnya coli itupun berujung pada persenggamaan diantara mereka berdua. Dan tanpa sepengetahuan mereka, Andre mengintip apa yang mereka lakukan di dalam kamar itu!

Tamat

 

Acara pemberkatan pernikahan Mas Randy akan dilangsungkan di gereja pukul sepuluh pagi ini. Andre melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, masih pukul delapan, tapi mamanya sudah sibuk menyuruhnya dan Thomas untuk bersiap-siap sejak pukul tujuh tadi. “Ayo jas hitamnya dipakai sekarang. Kalian kan pengiring pengantin prianya. Kalo gak siap-siap dari sekarang entar repot deh. Ayo dong, dipakai jasnya sekarang,” kata mamanya tadi, dengan suaranya yang nyaring.

Sebenarnya Andre malas menggenakan pakaian jas. Badannya suka cepet keringetan. Tapi karena dia dan sepupunya, si Thomas, ditugaskan untuk menjadi pengiring pengantin pria, mau gak mau pakaian jas warna hitam dipakainya juga.

Andre mematut-matut dirinya di depan cermin besar dalam kamar. Meski gerah, penampilannya jadi oke sekarang. Dia merasa semakin ganteng dalam setelan jas hitam itu. akhirnya dia senyum-senyum sendiri. Ge er dengan penampilannya.

Model jas Andre persis sama dengan yang dikenakan Thomas. Bahan, warna dan modelnya sama. Papanya dan Om Darwin juga sama jasnya dengan yang dikenakan Andre. Hanya Mas Randy yang berbeda. Jas Mas Randy bentuknya seperti tuxedo yang bagian belakangnya lebih panjang dari depannya.

Andre tersadar kalau Thomas tak ada lagi didekatnya. Karena kegeeran sendiri mengagumi penampilannya dia tak sadar sepupunya itu sudah meninggalkannya sejak tadi.

Andre meninggalkan kamar, mencari sepupunya itu. Sepupu yang pernah dipergokinya sedang ngentot dengan Mas Randy, kakaknya, beberapa hari lalu. Andre jadi teringat kembali peristiwa itu. “Ihhh.. ada-ada aja deh Mas Randy itu. Si Thomas laki-laki diembat juga. Si Thomas juga edan. Masak dia mau ngentot dengan Mas Randy sih?” katanya dalam hati. Tapi meski gitu Andre bingung juga pada dirinya sendiri. Karena waktu ngelihat mereka ngentot, dia terangsang juga.

Semua orang seisi rumah sedang sibuk sendiri. Andre nanya ke mamanya dan tantenya dimana Thomas berada malah kena marah. Akhirnya dia mencari Mbok Jum, pembantunya.

“Thomas kan tadi dimintai tolong Mas Randy buat ngerapihin pakaiannya Mas,” kata Mbok Jum. “Coba liat di kamarnya Mas Randy deh,” petunjuknya.

Minta tolong ngerapihin pakaian? Masak Mas Randy gak bisa sendiri? Pikir Andre. Sedangkan dia yang masih duduk di bangku kelas 3 SLTP aja bisa beresin pakaian sendiri. Pikiran kotor pada kakaknya itu langsung muncul. Jangan-jangan mereka lagi entot-entotan kayak kemarin lagi. Bayangan pergumulan Mas Randy dan Thoimas kembali muncul di benaknya.

Bergegas, Andre menuju kamar Mas Randy. Sasarannya, tempat biasanya dia ngintip. Eng ing eng. Begitu matanya dapat melihat pemandangan dalam kamar, kepalanya menggeleng-geleng. Dugaannya benar. Pemberkatan tinggal hitungan beberapa jam saja, tapi kakaknya itu masih menyempatkan juga untuk mengentoti sepupunya, si Thomas. Di dalam kamarnya. Diatas ranjangnya yang sudah dihias menjadi ranjang pengantin!

“Dasar edan,” guman Andre. Matanya melotot melihat apa yang sedang dilakukannya kakaknya itu dengan sepupunya. Keduanya mengentot diatas ranjang dengan pakaian lengkap. Sepatu hitam berkilat masih melekat di kaki mereka. Hanya saja pipa celana panjang mereka berdua dilepas dari kaki yang sebelah kiri. Soalnya kalau enggak di lepas, mana bisa mereka mengangkat kaki kiri lebar-lebar ke atas seperti aksi mereka saat ini.

Mas Randy berbaring di belakang Thomas. Kaki kirinya terangkat ke atas menekuk sejajar dengan kaki Thomas yang dipeganginya dengan tangan kirinya. Pantatnya bergerak-gerak cepat maju mundur. Kontolnya yang besar dan mengkilat karena basah, keluar masuk lobang pantat Thomas yang sempit. Keduanya mengerang-erang dan meracau tertahan. Mungkin takut suara erangan mereka terdengar keluar. Kalo kedengaran emang bahaya. Soalnya isi rumah kan lagi rame.

“Mas Randyhhh oohhh.. Mashhhh enjot yang kerasshh Mashhh…,” kata Thomas.

“Iyah Thomasshhh hehhh heehhhh… rasakan inihh…,”

“Ohhhh… enak banget Masshhh… ohhh…. Mas Randyhh doyan yahhh sama pantat Thomashhsshhhh.. ahhh… ahhh.. doyan yahh..?”

“Doyan banget Thomasshhh.. doyan bangethhh…Mas Randyhh mau entotin Thomasshh tiap hari dehh.. ohhhh..,”

“Ohhhh…ohhh… terus Mbak Taniahh ssshhhh gimanahh ? Ssshhh..,”

“Mbak Taniah kalo malem.. ohhh… Thomashhh siang-sianghhhssss..,”

“Thomasshhh pengennyahh malemmm shhh..,”

“Iya Thomas malem jugah ahh ahhh ahhh, kalo Mbak Taniah udah tidur ah ah ah,”

Andre jadi terangsang dengar percakapan dan lihat pergumulan mesum kakak dan sepupunya itu. sama seperti ketika ia pertama kali melihat pergumulan cabul itu. Resleting celana panjang hitamnya diturunkan. Dikeluarkannya kontolnya dari balik celana dalam putihnya. Kontol itu digenggamnya dan dikocok-kocok perlahan.

“Mashhhh ohhhh Masshhhhh……kontol Mas Randyhh gede bangethhhh ohhhh jembutnya juga lebathhh shhhh..shhh… Thomas suka bangethhh sshhh..,”

“Kontol Thomassshhh juga Mas Randyhh sukahhh..ssshh ahhh ahhh ahhh,”

“Tapihhh ahhh shhhh kan masih kecilll sshhhh dan jembutnya tipisshhhh….,”

“Entar kan gedeh sshhh..shhhh..ahhh ahhhh ahhhh ahhhh,”

“Kontol Thomasshhh enakhh Mashh? Ahhhh… ahhh… ahhhh..,”

“Enak banget hhhhhhaahhh.. ahhh….ssshhhh… apalagihhh… ahhh… kalo udahhh sshhhh gedehhh.. ahhh…a ahhh…,”

“Oooohhh Mashhhh…Mashhhhh kerashhh Mashhh.. lebih kerassshhhhh.. ohhhh..,”

Suara hentakan pantat Mas Randy semakin keras terdengar oleh Andre. Begitu juga nafas mereka berdua yang mendengus-dengus tertahan dengan keras. ABG ganteng ini jadi semakin terangsang. Kocokan tangan dikontolnya semakin cepat.

Kembali ke dalam kamar. Thomas tiba-tiba melepaskan kontol Mas Randy dari lobang pantatnya. “Kenapa Thomashhh? Ada apahh?” tanya Mas Randy bingung.

“Shhh… entot Thomas sambil berdiri Mas. Gendong Thomas ya Mas? Thomas pengen dientot sambil digendong Mas Randy. Kayak dulu Mas Randy sering gendong Thomas,” kata bocah ABG itu tersenyum sayang pada kakak sepupunya yang ganteng dan jantan.

“Thomas makin pinter ya. Sampe punya ide begitu. Ya udah sini Mas gendong,” sahut Mas Randy sambil tersenyum juga. Ia segera berdiri dan siap menggendong adik sepupunya yang langsing namun cukup atletis itu.

Dari tempatnya mengintip, Andre bisa melihat Thomas melingkarkan lengannya ke leher kakaknya. Wajah mereka beradu rapat. Bibir mereka menempel, berciuman. Telapak tangan Mas Randy memegang buah pantat Thomas yang putih kemerahan. Buah pantat itu diturunkannya pelan-pelan ke bawah. Kontol Mas Randy masuk sedikit demi sedikit ke lobang pantat Thomas yang terkuak. Membentuk bulatan berwarna kemerahan.

“Ohhhhhhhhh… Mashhhhhhhhhhh………….,” erang Thomas seiring kontol Mas Randy menembus lobang pantatnya.

Setelah kontol itu masuk semua dalam lobang pantat Thomas, hingga jembut Mas Randy yang lebat menempel di buah pantat Thomas, dimulailah persenggamaan kembali. Tangan Mas Randy menggerakkan buah pantat Thomas naik turun sambil pantatnya juga bergerak-gerak perlahan. Kontol Mas Randy bergerak keluar masuk lobang pantat sepupunya itu.

Andre semakin terangsang melihat posisi kakaknya dan sepupunya itu. gerakan pantat dan tangan Mas Randy semakin cepat. Dengusan nafas mereka semakin cepat dan keras terdengar. Andre tak pernah melihat kakaknya itu mengentoti Mbak Tania seliar ini. Apa yang pernah dilihatnya dilakukan oleh Mas Randy saat mengentot Mbak Tania di kamar itu tak lebih dari sekadar saling menindih dan menggerakkan pantat saja. Hingga sperma Mas Randy menyembur di memek Mbak Tania. Gak lebih.

Tapi Mas Randy mengentot Thomas begitu berbeda. Kakaknya itu kelihatan sangat bernafsu. Ia sangat menikmati sekali bersenggama dengan sepupu mereka yang ganteng itu.

Andre tak tahan lagi menahan orgasmenya. Apa yang dilihatnya sangat menggairahkan buatnya. Kontolnya segera menyemburkan sperma. Menempel di dinding dan sedikit di jas hitamnya. “Hohhh…hohhh…hohhhh…,” dengus nafas Andre saat orgasmenya datang. Matanya terpejam. Mulutnya menganga. Tubuhnya keringatan.

Sementara di dalam kamar, persetubuhan masih terus berlangsung. Mas Randy rupanya ingin menyetubuhi Thomas lebih intens lagi. Tubuh Thomas kini dirapatkannya ke dinding. Punggung Thomas menekan di dinding itu. Dengan begitu Mas Randy dapat menyodok lobang pantat Thomas semakin cepat dan keras. Nafas Mas Randy terengah-engah saat menggenjot pantatnya dengan cepat dan keras.

“Ohh.. ohhh…ohhh…ohhh…ohhh… Thomasshhhhh..Masshhh Randyhhh samapaihhh…ahhh…ahhh..,” erang Mas Randy tertahan. Pantatnya mengehntak keras menekan kontolnya dalam-dalam ke lobang pantat Thomas. Tubuhnya bergetar. Pantatnya mengempot. Spermanya menyembur dalam lobang pantat Thomas. Andre yang masih tetap mengintip, melihat pantat kakaknya itu mengkilap karena keringat. Mulut Mas Randy melumat bibir Thomas dengan buas. Setelah beberapa saat berciman keduanya tertawa kesenangan. Puas dengan persetubuhan yang baru saja mereka lakukan.

Lalu Mas Randy menggendong tubuh Thomas ke atas ranjang. Membaringkannya disana, bersisian dengannya yang juga berbaring telentang dengan nafas terengah-engah. Mereka tetap saling emmandang dan tertawa-tawa. Thomas mengangkat kedua pahanya ke atas. Dia sibuk emmeriksa lobang pantatnya yang belepotan sperma Mas Randy. Dengan jari-jarinya dilumurinya sperma Mas Randy merata ke seluruh pantatnya, juga ke buah pelir dan batang kontolnya. Daerah yang dilumurinya sperma itu terlihat mengkilap jadinya.

“Mas Randy, Thomas masih sempat gak buat ngentotin Mas Randy sekarang?’ tanyanya. Mas Randy melihat jam tangannya.

“Masih dong Thomas. Baru jam setengah sembilan kok. Mau dimulai sekarang?” tanya Mas Randy.

“Kalo Mas Randy ngijinin,” katanya.

“Diplomatis banget sih ngejawabnya,” Mas Randy tertawa. “Mau gaya apa? Dimulain aja sekarang. kalau liat-liatan terus, entar waktunya habis,” kata Mas Randy.

Thomas berpikir sejenak. Memikirkan model persenggamaan yang akan dilakukannya bersama Mas Randy. Andre yang sedang mengintip jadi gak sabaran. “Ngapain sih Thomas mikir gitu aja lama,” gerutunya.

“Thomas pengen Mas Randy ngerokok sambil dientotin ama Thomas?”

“Haa?” Mas Randy terkejut. “Kok gitu sih?”

“Iya, pengennya gitu. Ayo dong Mas,” kata Thomas dengan kekakanakan.

“Dasar deh. Thomas kebanyakan nonton bokep ya. Samapai fantasinya sejauh itu,” sahut Mas Randy. Tapi tak urung dilakukannya juga kemauan adik sepupunya itu. Mas Randy memang perokok. Segera dinyalakannya rokok dan diselipkannya di bibirnya yang tipis. “Trus gimana nih?” tanya Mas Randy. Andre sudah tak sabar pengen ngelihat model entotan versi Thomas ini.

“Mas Randy duduk di kursi situ,” katanya. Mas Randy kemudian duduk di kursi yang ada di kamarnya. Thomas melebarkan kedua paha Mas Randy ke kiri dan ke kanan, diatas pegangan kursi itu. Paha Mas Randy jadi mengangkang lebar. Belahan pantatnya jadi terkuak lebar. Mempertontonkan lobang pantatnya yang berbulu, menantang birahi Thomas. Mas Randy menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian meniupkan asapnya yang tebal ke wajah ganteng Thomas.

Thomas langsung mencium bibir Mas Randy. Berbagi sisa asap yang masih mengepil dari mulut kakak sepupunya yang ganteng itu. kemudian dia menatap belahan pantat Mas Randy yang menganga. Dalam pandangannya belahan pantat Mas Randy jadi begitu indah.

Sekejap kemudian wajahnya sudah bersarang di belahan pantat itu. menjilat-jilat dan menyeruput lobang pantat itu dengan buas.

“Hsssshhhhhh… Mas Randyyhhhh… Thomas suka banget dengan lobang pantat Mas inihhh sshhhhh…..sruppp..,” katanya sambil terus bekerja keras mengerjai lobang pantat Mas Randy. Andre yang mengintip, kembali bangkit birahinya melihat aski sepupunya itu. Tangannya kembali mengocok kontolnya.

Mas Randy terus merokok sambil merem melek keenakan dikerjai Thomas. Kontolnya berdiri tegak ke atas. Ia terpaksa mengangkat jasnya ke atas agar tak kena dengan kontolnya sendiri. Ia kuatir precumnya akan menodai jas pengantinnya itu.

Setelah beberapa menit Thomas merasa cukup mengerjai lobang pantat Mas Randy. Ia kemudian berdiri di hadapam kakak sepupunya yang terus merokok.

“Bagi rokoknya dong Mas,” kata Thomas.

“Ehhh.. anak kecil mau merokok. Gak boleh. Yang boleh Thomas isep cuman rokok Mas Randy ini aja,” katanya sambil mengacung-ngacungkan kontol besarnya yang tegak. Thomas tertawa lucu mendengar kata-kata Mas Randy. Mulutnya mencium lagi bibir Mas Randy. Sekaligus menghirup asap rokok dari mulutnya.

Kemudian ia menekuk kakinya sedikit. Kontolnya diarahkannya ke lobang pantat Mas Randy. Kontol itu kemudian amblas ke dalam lobang pantat Mas Randy membuat pria yang akan segera menikah ini mengerang tertahan.

Thomas mulai menggenjot pantatnya maju mundur. Kontolnya keluar masuk lobang pantat Mas Randy. Sementara di luar kocokan kontol Andre mulai bertambah cepat. Ia mendesah-desah keenakan.

Pantat Thomas pun bergerak semakin cepat. Ia melenguh-lenguh keenakan. Mas Randy mengerang-erang sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Akhirnya entotan Thomas mencapai akhir juga. pantatnya bergerak sangat cepat dan menghentak-hentak beberapa kali untuk kemudian terhenti mendadadak. Pantatnya itu menekan kuat ke selangkangan Mas Randy. Spermanyapun menyembur deras membasahi seluruh lorong lobang pantat Mas Randy.

“Mas Randy mau dikeluarin sekali lagi?” tanya Thomas lirih. Wajahnya merah bersimbah keringat.

“Iya.. iya…ahh..,” kata Mas Randy. Meski merasa tubuhnya lemas, Thomas segera mengocok kontol kakak sepupunya itu dengan tangan kanannya. Kontolnya masih tetap bersarang dalam lobang pantat Mas Randy. Nafas Mas Randy tersengal-sengal. Asap rokok menghembus cepat dari mulut dan hidungnya.

Andrepun mengocok kontolnya semakin cepat. Orgasmenya akan datang sekali lagi.

“Ohhhhh…ohhhhh….ohhhh….oohhhhh…..yahhh….Thomasssshhhhhhhhh…ahhhhhhh..,” erang Mas Randy panjang. Suaranya ditahannya sekuat tenaga. Tubuhnya kelojotan. Thomas segera menundukkan kepalanya. Tubuhnya membungkuk. Andre tak percaya Thomas bisa membungkuk seperti itu. padahal kontolnya masih tertanam di lobang pantat Mnas Randy. Menunduknya Thomas ini untuk memasukkan kepala kontol Mas Randy dalam mulutnya. Ia tahu kakak sepupunya itu akan segera orgasme. Kalu ia tak menutup kepala kontol itu dengan mulutnya, maka sperma Mas Randy akan menyembur ke atas dan membasahi jas hitam mereka.

Sperma Mas Randy menyemprot deras di dalam mulut Thomas. Sepupunya yang masih ABG itu berusaha sebisanya menelan seluruh sperma itu. Namun karena sperma yang muncrat terlalu banyak, Thomas tak bisa menelan seluruhnya. Sebagian meleleh keluar dari mulut Thomas, mengalir turun dari batang kontol Mas Randy ke bawah, membasahi jembutnya yang hitam dan lebat.

Di luar Andrepun orgasme kembali. Spermanya kembali membasahi dinding yang ada didepannya. Menambahi jumlah sperma miliknya yang tadi juga sudah menempel disitu.

Setelah memastikan orgasme Mas Randy usai, Thomas melepaskan mulutnya dari kakak sepupunya itu. keduanya kemudian saling memandang dan tersenyum. Untuk kemudian tertawa dengan wajah masih memerah dan bersimbah keringat.

“Sssshhhhh…enak banget Thomasshhh..,” kata Mas Randy sambil menghembuskan asap rokok terakhirnya. Puntung rokoknya dibuangnya ke asbak rokok yang tadi diletakkannya di bawah kursi. “Kamu makin pinter aja Thomasshh,” katanya mencubit pipi asik sepupunya itu.

Beberapa saat mereka tetap dalam posisi seperti itu. Thomas belum mau juga mencabut kontolnya dari lobang pantat Mas Randy. Nafas mereka masih terengah-engah.

Setelah lima menit berlalu, Mas Randy beringsut. Thomas mencabut kontolnya dari Mas Randy. “Kita harus mandi lagi nih Thomas,” kata Mas Randy. Keduanya kemudian melepaskan jas hitam mereka. Dari luar Andre bisa melihat kemeja putih, dalaman jas mereka, basah kuyup. Kaos dalam mereka terlihat jelas jadinya.

“Mas Randy, harus buru-buru nih. Udah hampir jam setengah sepuluh,” kata Thomas.

“Iya. Makanya cepetan mandi,” kata Mas Randy.

Kemeja basah mereka letakkan di kipas angin yang dihidupkan. Paling tidak kemeja itu akan sedikit kering jadinya oleh angin yang berhembus dari kipas angin. Dengan tubuh telanjang bulat Mas Randy dan Thomas segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar mandi kakak Andre itu.

Suara shower segera terdengar dari dalam kamar mandi. Andre segera berlalu dari tempatnya mengintip. Tak ada lagi yang perlu diintipnya di kamar Mas Randy. Kakak dan sepupunya itu pasti sedang kelabakan sekarang, emmebereskan diri untuk bersiap-siap mengikuti acara pemberkatan. Andre meninggalkan kamar kakaknya itu tanpa merasa perlu untuk membersihkan dulu spermanya yang menempel di dinding. Dibiarkannya saja begitu.

Pemberkatan pernikahan Mas Randy dan Mbak Tania dimulai tepat pukul sepuluh pagi. Kakaknya dan sepupunya, Thomas, dilihat Andre sudah rapi kembali saat mereka bersiap berangkat ke gereja. Didalam mobil saat berangkat ke gereja Andre sempat meraba punggung sepupunya itu. dirasakannya punggung Thomas masih lembab. Rupanya kemejanya dan juga jasnya tidak kering sempurna.

“Elo kemana tadi? Gue cariin gak ketemu?” Andre menyempatkan bertaya pada sepupunya itu dalam mobil.

“Mas Randy minta tolong dirapihin pakaiannya tadi,” sahut Thomas tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ia merasa Andre tak tahu apa yang terjadi padanya dan Mas Randy.

“Oooo. Ada-ada aja Mas Randy, udah segede itu gak bisa rapihin pakaian sendiri,” celetuk Andre mendengar jawaban Thomas. Sepupunya itu tak menjawab lagi. Diam saja, dan pura-pura memandang lurus ke arah depan. Ke jalan raya yang padat kendaraan. Sementara Andre tertawa sendiri dalam hati.

Tamat

 

 

Bottom of Form

“Ndre, abis sekolahan langsung balik ya, jangan kemana-mana lagi” pesan Nyonya Vera pada anaknya, Andre, yang masih duduk di kelas 3 SLTP melalui hand phone.

“Kenapa emangnya Ma?” tanya Andre.

“Thomas gak ada temennya tuh di rumah. Mama dan dan Tante Serly mau belanja untuk kebutuhan pesta Mas Randy nih,”

“Lho, kan ada Papa dan Om Darwin di rumah,” sambung Andre lagi.

“Papa dan Om Darwin katanya akan ke rumah Om Dani, membicarakan persiapan untuk resepsi, Pokoknya kamu cepat ulang ya. Thomas kan deket sama kamu. Kalian bisa maen gim di rumah. Pokoknya cepat pulang deh, Mama udah mau pergi nih, entar kesorean, bla…bla…..,” kata-kata Mamanya udah gak didengerin Andre lagi. Dia agak kesal juga, rencananya untuk maen dengan teman-temannya sepulang sekolah, gagal total.

Mau gak mau dia memang harus pulang nemenin Thomas, sepupunya. Meski kesal, Andre gak mau pusing denger omelan Mamanya karena dia tidak mengikuti apa yang dipesankan oleh Mamanya tadi. Maka, begitu bel tanda usai pelajaran berbunyi Andre segera pulang.

“Pak Darman, langsung pulang aja deh,” katanya pada sopir yang menjemputnya.

“Gak maen dulu Mas?” tanya Pak Darman, sopirnya.

“Mau maen gimana Pak, bisa kena omelan Mama entar. Thomas di rumah gak ada yang nemenin,” jawabnya kesal.

Tak bertanya lagi Pak Darman segera melajukan mobil menuju rumah keluarga Andre di kawasan Pondok Indah.

Thomas adalah anak semata wayang Om Darwin, adik Papanya dengan Tante Serly. Mereka baru tiba Hari Minggu kemaren dari Surabaya. Dalam rangka pernikahan Mas Randy Hari Minggu depan dengan Mbak Tania, Mama meminta Tante Serly untuk membantunya mempersiapkan acara pernikahan itu. Karena itu Om Darwin dan keluarga akhirnya datang ke Jakarta. Om Darwin terpaksa harus cuti seminggu karena itu. Sedangkan Thomas izin dari sekolah. Karena di Surabaya tidak ada yang menjaganya.

Thomas sebaya dengan Andre. Biasanya kalau keluarga ngumpul memang mereka selalu bersama-sama. Soalnya sepupu yang lain sudah lebih tua dari mereka. Rata-rata sepantaran dengan Randy, kakak Andre satu-satunya. Andre dan Randy memang terpaut jauh umurnya. Hampir 12 tahun.

Tak lama mobil yang membawa Andre tiba di rumah. Pak Darman segera memarkirkan mobil ke dalam garasi.

“Lho, Mas Randy ada di rumah ya Pak Darman?” tanya Andre pada sopirnya. Soalnya di garasi dia melihat mobil kakaknya itu parkir.

“Gak tau Mas Andre, tadi waktu Bapak pergi ke sekolah, Mas Randy gak ada tuh di rumah,” jawab Pak Darman.

Tak bertanya lagi Andre segera masuk ke rumah. Menuju kamarnya. Biasanya Thomas sedang main gim disana. Di kamarnya dia tak menemukan Thomas. Kamarnya kosong tak ada orang. Yang ditemukannya adalah peralatan gimnya yang berantakan. Mungkin tadi Thomas sempat bermain gim di kamar.

Setelah melemparkan tas sekolahnya ke ranjang dan membuka sepatu sekolahnya, Andre keluar kamarnya untuk mencari Thomas. Dia menuju dapur, pikirnya siapa tau Thomas sedang makan disana.

Di dapur juga tak ditemukannya Thomas. Yang ada hanya Mbok Jum, pembantu rumah, yang sedang mencuci piring.

“Liat Thomas Mbok?” tanya Andre.

“Tadi makan disini, lima belas menit lalu bareng Mas Randy. Mungkin ke kamarnya Mas Randy. Soalnya tadi Mas Randy ngajak Mas Thomas liat pilem di kamarnya. Katanya ada pilem bagus, baru dipinjemnya,” jawab Mbok Jum.

“Mas Randy gak ngantor Mbok Jum?” tanya Andre lagi.

“Katanya udah ambil cuti Mas, sejak hari ini sampe dua minggu ke depan,” jawab Mbok Jum.

Andre segera menuju kamar Mas Randy. Kamar kakaknya itu terpisah dari bangunan induk rumah. Letaknya dibelakang, seperti pavillyun. Kalau Mas Randy mau pergi atau pulang tanpa melalui bangunan induk rumah juga bisa. Karena ada jalan yang menghubungkan kamarnya dengan garasi.

Pintu kamar Mas Randy tertutup. Gordyn biru menutupi jendela kaca kamar itu. Lagi nonton pilem apa sih? Kamar kok sampe di tutup-tutup kayak gitu? Tanya Andre dalam hati. Andre segera mendekati pintu kamar. Saat tangannya bermaksud memutar gerendel pintu, tiba-tiba didengarnya suara erangan dari dalam kamar itu.

Itu kan suara erangan Mas Randy, gumam Andre dalam hati. Pikiran mesum muncul di kepalanya. Jangan-jangan Mas Randy lagi ngentot sama Mbak Tania nih. Kesempatan lagi orang gak ada di rumah. Soalnya memang sering Andre memergoki Mas Randy ngentot dengan Mbak Tania di kamar itu. Malah, bukan hanya dengan Mbak Tania. Beberapa kali Mas Randy juga pernah membawa perempuan lain selain Mbak Tania, untuk ngentot di kamar itu. Biasanya atraksi ngentot yang dilakukan Mas Randy bertepatan pada saat Mama dan Papa Andre sedang tidak ada di rumah.

Andre segera menuju celah tempat biasanya dia mengintip Mas Randy. Celah itu adalah jendela kecil yang ada di kamar Mas Randy. Jendela kecil itu memang tidak pernah di kunci oleh Mas Randy, paling hanya di rapatkan saja.

Andre tak pernah ketahuan mengintip dari celah itu. Soalnya Mas Randy kalo ngentot suka gila-gilaan. Tak peduli dengan sekitarnya. Kadang Andre berfikir, jangan-jangan bukan dia saja yang sudah tau kegiatan mesum yang sering dilakukan Mas Randy di kamar itu. Pembantu rumah bukan tak mungkin sudah mengetahuinya juga. Soalnya kalau sudah orgasme Mas Randy suka menjerit tak terkontrol. Membayangkan apa yang akan dilihatnya di dalam kamar, membuat kontol Andre yang lumayan gede itu segera ngaceng.

Dari celah jendela itu, Andre memandang ke dalam kamar Mas Randy. Pandangannya langsung berumbuk pada tubuh telanjang Mas Randy yang sedang telungkup menindih seseorang. Pantatnya memompa maju mundur dengan cepat. Tubuh Mas Randy yang putih bersih dan kekar itu, basah oleh keringat yang membanjir.

Astaga!!!!!!! Andre terhenyak. Seperti disambar geledek, ia kaget dan tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

Bukan Mbak Tania yang sedang di tindih oleh Mas Randy. Bukan pula perempuan lain. Tubuh putih bersih yang sedang telungkup diatas ranjang dan sedang ditindih rapat oleh Mas Randy itu adalah tubuh Thomas, sepupunya!

Sepupunya yang ganteng dan bertubuh langsing atletis itu dilihatnya sedang meringis-ringis sambil mengerang-erang kuat. Sementara diatasnya Mas Randy terus memompa pantatnya dengan gerakan menghentak-hentak kuat. Menimbulkan bunyi tepukan yang cukup kuat akibat pertemuan buah pantat Thomas dan paha Mas Randy yang kokoh.

Andre melotot tak berkedip melihat aksi kakak dan sepupunya itu. Kontolnya dirasakannya semakin ngaceng. Tubuhnya bergetar menahan gairah. Tangannya mulai meremas selangkangannya sendiri. Andre terangsang melihat aksi persetubuhan itu.

Diatas ranjang Mas Randy masih terus memompa pantatnya. Mengeluar masukkan kontolnya yang besar ke lobang pantat Thomas. Sementara kedua tangan Thomas melingkar kebelakang, memegang bongkahan pantat mas Randy, meremas-remas.

“Ohhhh…ohhhhh…Thomasshhhhhh….enak bangethhhhh…….sempithhhhhh…bangethhhhh….lobang pantathhhmuhhhh……,” racau Mas Randy.

“Mas Randyhhhhh….goyang yang keras Mashhhhh….yang keras Mashhhhhhh…..oh..gituhhhhh Mashhhhhh……,” racau Thomas.

“Kamu suka Thomashhhhh….kamu sukahhh…….kamu sukahh kontolku dalam pantamuhhh…ohh….sepupu mungilkuhhh…yang tampanhhh…ohhh….,” racau mas Randy.

“Sukahhh….ohkkkk…..sukahhh…bangethhhhhhh….Mashhhhhh…….kontol Mash Randyhhh…gedeh Mashhhhhh….rasanya pol di dalam Mashhh……okhhhhhh…….,” racau Thomas.

“Kamuh kesakitanhhh akhhhhhh….kesakitankahh……Thomashhh…,” racau Mas Randy.

“Gakjhhhh…gakhhhhh lagihhh Mash….enakhhhh….enak…..terusin Mashhhhhh…terushhhhhh…,” racau Thomas.

Andre semakin gila mendengar percakapan mesum kakak dan sepupunya itu.

“Enak bangethhh…ohhh….enak bangethhhh…..enak banget…Thomasssshhhhh…,” racau Mas Randy.

“Enak manah…enak manah….sama memekhh Mbak Taniah…ohhhhh….enak manahh Manasssshhhh?” racau Thomas.

“Enak pantat kamu Thomas, ahhhhh, enak pantat kamu sayang…ohh..oh…oh…oh…,” racau Mas Randy.

Demikianlah seterusnya. mas Randy terus memompa kontolnya di lobang pantat Thomas, hingga akhirnya dia menumpahkan spermanya di lobang pantat itu.

Setelah Mas Randy usah dengan hasratnya gantian Thomas yang menyetubuhi Mas Randy. Mas Randy telentang mengangkang di ranjang sedangkan Thomas menggenjotnya dari atas menelungkup. Sambil ngentot mereka berciuman mesra.

“Ohh…Thomasshhhhhhhh…enak banget Thomashhhhh….aku gak pernah nyangkahhhh….dientot ternyata enak bangethhhhhh…ohhh…,” racau Mas Randy keenakan.

“Mas Randyhhhh…lobang pantat Mashhh sempit banget..njepit kontolku Mash…enak bangethhh…,

Setelah beberapa saat akhirnya Thomas orgasme juga. Tubuhnya segera roboh diatas tubuh Mas Randy. sementara di luar kamar Andre juga memuncratkan spermanya. Banyak sekali.

Tamat

Ini hanya sekadar cerita selingan. semoga yang baca seneng. kalau tidak ada alur dalam cerita ini ya maklumi aja deh. cerita ini cuman sekadar bantu yang baca untuk membangkitkan birahinya sambil coli. hehehe

 

Kejantanan Kakak Kelas

Desahan nikmat terdengar dari dalam kamar itu. Gany sedang asik mengisap kontol Randy, kakak kelasnya. Memang sudah Gany menyukai kakak kelasnya yang jago dalam sepak bola dan mahir di pelajaran fisika dan matematika. Dengan alasan ingin belajar fisika, Gany berhasil mengundang Randy ke rumahnya yang saat itu sepi sepulang sekolah dan dengan taktiknya sebagai homo tulen sejati sekarang ia sedang menikmati kontol Randy keluar masuk mulutnya.

Randy berbaring terlentang di atas ranjang, celananya sudah berserakan di lantai, kemeja seragamnya tersibak memperlihatkan badannya yang liat dan bukti seorang pemain sepak bola. Kontolnya 16cm dengan diameter yang pas dengan panjangnya. Dan kontol itulah yang sudah lama diincar Gany dan sedang dinikmati sekarang.

“yeaahh . . . . iseeepp . . . .ouhhh . . . suck it! Suck my cock u little cocksucker,” racau Randy

Gany tak hanya mengisap keluar masuk kontol itu. Ia juga mengulum dan menjilati kedua biji Randy. Saat menyapukan lidahnya di biji Randy, tangan kananya mengocok batang kontol Randy agar tetap ereksi. Puas memainkan lidahnya di kedua biji itu, Gany menyapukan lidahnya ke batang kontol Randy mulai dari pangkal kontol terus naik ke atas dan akhirnya menjilat kepala kontol tersebut dan mengkilik lobang pipis dengan lidahnya.

“kontolnya mantap a! nikmat! Pasti pejunya juga mantap! Mmhhhh,” kata Gany lalu kembali mengemut kontol itu.

“lu rasain ajah ntar! Cepet isep lagii!! Mmhhhh! Yeeaahhhh!” kata Randy sambil mendesah nikmat.

Gany kembali mengenyot kontol Randy sesaat lalu stop.

“kenapa brenti?” tanya Randy heran. “loe mau ngapain?” tanyanya lagi begitu melihat Gany menelanjangi dirinya sendiri.

“pengen dientot sama aa,” kata Gany lalu mengambil baby oil dari laci disamping ranjangnya.

“lu pengen gwe sodomi?’ tanya Randy meyakinkan.

“iya! Aa pasti suka degh! lobangku lebih sempit dan hangat daripada memek perempuan,” kata Gany.

“oke ajah gwe! Kan seperti yang gwe bilang sebelum mulai. Asal gwe enak dan gwe nggak bakalan ngisep punya lu gwe mau ajah,” kata Randy.

“tenang ajah! Aa cukup jadi pejantan tangguh ajah,” kata Gany

Gany lalu kembali mengisap kontol Randy sekilas lalu mengoleskan baby oil ke sekujur kontol Randy. Lalu Gany juga membasahi lobang pantatnya dengan baby oil tersebut.

Gany lalu berbaring terlentang dengan kaki mengangkang terbuka dan menyuruh Randy memposisikan dirinya diantara kedua kaki terbuka Gany.

“kontol lu kecil ya Gan! Mungil banget biar kata udah nganceng juga,” kata Randy.

“emang! Gwe nggak peduli euy! Nggak bakalan gwe pake juga,” sahut Gany.

Randy lalu mengarahkan kontolnya yang berlumur baby oil itu ke lobang pantat Gany dan mulai menekan masuk. Inci demi inci kontol itu mulai merodok masuk ke pantat Gany.

“ooohhhh!! Bener!! Lobang lu lebih mantap dan sempit!!” kata Randy saat kontolnya sudah bersarang di lobang pantat Gany.

“entot a! yang mantap!” pinta Gany binal.

Randy mulai menarik keluar kontolnya hingga tinggal kepalanya ajah dan lalu kembali membenamkan ke dalam lobang pantat Gany. Terus berulang keluar masuk keluar masuk.

“sshhhh . . . . ooohhhh . . . .hmmmm . . . .fuck yeahh . . . hoshsss ssshhhh”

“yeaahhh!! Fuck me hard stud! Ooohhhhhh!! Fuck me with ur big stud cock!! Oouugggg!!”

“oohh yeaahhh! Like my cock huh? Yeeaahhhhh!! Rasaiin niih!!”

mereka ganti posisi. Gany terlungkup dan Randy menindih diatasnya dan kontolnya terus keluar masuk lobang Gany.

“KKEEEELLLLUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAARRRR!!” seru Randy saat kontolnya memuntahkan pejunya di dalam lobang pantat Gany. Peju yang banyak itu meleleh keluar dari lobang pantat Gany

Randy mengistirahatkan tubuhnya diatas tubuh Gany.

“gimana a? enak nggak?” tanya Gany.

“enak juga,” jawab Randy singkat.

(saran/kritik/kenalan : myself22@ymail.com )

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.